Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Rapat Keluarga Darurat 2


__ADS_3

"Aku harus pergi ke kerajaan Nebula!"


Kalimat yang berlabuh dari mulut Zeeta, membuat kedua orang tuanya melotot tak menduga.


"Ne-Nebula?" tanya Alicia.


"Kau... jangan-jangan... pada Pangeran cilik itu—?!" Hazell telah berburuk sangka duluan. Alicia dan Zeeta menatap diam dirinya.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Tiada waktu bagi dia untuk memikirkan atau bahkan mengenal hal itu, bukan?" tanya Alicia.


"Hmm? Apa maksud kalian?" tanya Zeeta. Ia sama sekali tak mengerti keduanya.


"A-aaah... ka-kau benar. Syukurlah.... Huuh~" Hazell menyeka peluh di keningnya.


Alicia dan Hazell kembali duduk di kursi takhta, sementara Zeeta berdiri di hadapan mereka, usai pelukan yang diakhiri dengan sedikit kecanggungan itu.


"Jadi, kenapa tiba-tiba seperti ini? Bukankah Nebula sudah tidak berpenghuni lagi?" tanya Alicia.


"Soal itu... aku harus mengundang Pangeran itu dulu lalu kembali bicara bersama dengan kalian. Tapi yang pasti, tujuanku ke sana ada hubungannya dengan kami, sebagai Benih Yggdrasil."


Alicia merasa tujuan Zeeta akan berakhir dengan ketegangan. "Sebelum itu, kau harus ceritakan dulu pada kami, mengapa kami sama sekali tidak bisa merasakan mana-mu?" tanya Alicia, "bagaimana kami bisa mengetahui jika kau baik-baik saja atau tidak?"


Zeeta mengangguk. "Uhm. Aku akan menceritakannya."


Zeeta kemudian mulai berkisah tentang dirinya yang berlatih bersama para Elf dan juga Ozy, tanpa meninggalkan satu pun detail. Ia bahkan bercerita tentang Rune apa saja yang sudah bisa ia kuasai.


"Aku mengetahui ini dari Ozy, bahwa aku bisa mengetahui kondisi teman-temanku saat itu, karena aku memiliki kekuatan bulan. Dulu, hanya terkadang saja aku bisa merasakannya. Tetapi, begitu aku mulai biasa menggunakan mana alam, aku bisa merasakan mana orang tertentu yang kupikirkan, meski jaraknya seperti harus menyeberangi lautan atau melintasi gunung."


"Se-sejauh itu...?" Hazell tak percaya mendengarnya.


"Meskipun terdengar hebat, yah, ini berarti Ibu atau Lucy pun bisa melakukannya."


Alicia memegang dagunya. "Kalau begitu, saat ini pun Lucy...."


"Ya. Dia tahu aku sudah pulang dan dia juga tahu aku bisa menggunakan Rune."


Alicia mengernyitkan kening. "Kenapa? Meskipun dia bisa tahu baik-tidaknya seseorang seperti dirimu, kenapa dia bisa tahu kaubisa menggunakan Rune?"


"Soal itu...."


.


.


.


.

__ADS_1


"A-APA?!" baik Hazell dan Alicia sama-sama terkejut. Peluh jatuh dari pelipis mereka.


"Yang benar saja, Zee!" pekik Alicia.


"Uhm. Ibu juga pasti tahu, nama asli Lucy adalah Marianna Aurora. Seorang Elf di sana, Aria, menceritakan semuanya padaku. Lalu anaknya yang bernama Hugo, sampai saat ini masihlah hidup. Ada suatu hubungan antara Grandtopia dan Lucy, dan kalian pasti sudah bisa menebaknya."


"Aku tak pernah menyangka ini!" seru Alicia, "ibu—nenekmu selalu bilang bahwa kejadian 250 tahun yang lalu ini—kejadian yang melibatkan Lucy—hanyalah kecelakaan tabu bagi keluarga kerajaan. Dia juga selalu melarangku menggali lebih jauh tentang hal ini....


"Kalau begini masalahnya, mana bisa Ibu membiarkanmu mengatasi masalah seperti ini! Ibulah yang harus—"


"Tidak, Bu. Akulah yang harus menyelesaikannya. Wasiat yang dibebankan padanyalah yang membuatnya seperti ini. Aku tidak bilang bahwa aku salah sepenuhnya, tetapi akulah yang menjadi pusat mengapa Lucy jadi seperti itu.


"Kendati demikian, aku masih belum tahu apa yang harus kuselesaikan dengannya. Aku tidak tahu jawaban apa yang bisa kukeluarkan untuk mengatasi ini. Jujur saja, sebelum aku keluar dari Grandtopia, aku takut.


"Aku takut semua yang diucapkannya mudah memengaruhi tekadku. Karena ... karena aku ... aku...." Tangan Zeeta bergemetar hebat.


Alicia segera mendekapnya dan mengelus kepalanya. "Cukup, Nak. Ibu tidak ingin mendengarmu mencela dirimu sendiri. Ibu tahu apa yang kamu pikirkan.


"Dengarlah. Meskipun Lucy itu adalah leluhurmu, tidak bisa dipungkiri dia telah mengorbankan semuanya demi balas dendam.


"Apapun yang dia katakan padamu, kamu TIDAKLAH SAMA sepertinya!


"Zeeta ... selama ini ... apa yang telah Arthur ajarkan padamu?


"Ingatlah sekali lagi."


"Aku ingat." Zeeta mengatakannya dengan senyuman. "Begitu, ya.... Pantas saja, sesuatu di dalam diriku tahu jawaban yang ingin kudengar, tetapi sebenarnya itu tak harus diucapkan.


"Ayah, Ibu, mungkin, setelah semua latihan yang kujalani ini, aku masih belum mampu mengatasi masalah yang menghalangiku saat ini. Kalian—tidak—bahkan kerajaan mungkin akan menjadi bayaran jika aku kalah.


"Tetapi, aku sudah memiliki banyak kekuatan, tidak hanya dari hasil latihan, kekuatan itu juga berasal dari orang-orang di sekitarku.


"Aku tidak begitu yakin sampai aku melawannya secara langsung, tapi kurasa aku tahu apa yang harus kulakukan padanya!"


Tidak tersenyum, tidak emosi. Zeeta meneguhkan jawaban yang telah ia dapatkan setelah berbicara dengan orang tuanya. Ini bukanlah sesuatu yang harus diungkap, tetapi kedua orang tuanya paham apa yang dipikirkannya.


Hazell menghela napas, lalu berkata, "Aku mengerti. Itu berarti sudah tiba waktunya bagimu untuk menerima sebagian kekuatan dari keluarga Levant."


Zeeta tidak mengerti. Ia mengerutkan dahi.


"HAH?! Ka-kau masih ingin membuatnya semakin—" ucapan Alicia diputus Hazell.


"Tidak. Ini hanya sebagai jimat perlindungan. Selama ini, aku tidak mampu melakukan apapun yang pantas disebut sebagai seorang ayah. Tapi, biarkan aku melindungi putriku dengan kekuatan ini." Hazell melepas jubah dan mahkota rajanya.


Alicia tersenyum, sementara Zeeta masih buntu dengan apa yang terjadi.


"Berikan padaku antingmu sebentar," sambung Hazell. Zeeta menurutinya segera.

__ADS_1


"Zee, sebaiknya kita menjauh." Alicia menggandeng Zeeta ke sudut ruangan.


"Haaaaaa...." Aura merah gelap bercampur jingga menyelimuti tubuh Hazell. Perlahan tapi pasti, aura tersebut masuk ke dalam anting sedikit demi sedikit.


"A-apa ini? Mana Ayah sangat kuat, panas, dan begitu menyengat, seakan-akan ia mampu membakar kami hanya dengan tekanan mana-nya!


"Ta-tapi ... meskipun itu yang kurasakan, alirannya sangat tenang sekali. Kendali terhadap mana-nya begitu tepat hingga membuatnya menghindari ledakan dadakan yang pastinya mampu menghancurkan sekerajaan ini!


"Hebat sekali!"


.


.


.


.


"HAA!!" Hazell mengusaikannya dengan membuat Alicia dan Zeeta terpaksa menutup mata karena silaunya cahaya yang timbul dari auranya tersebut. Keduanya kemudian mendapati anting biru bertanda bulan milik Zeeta kini berwarna merah kejinggaan.


"Apa yang Ayah lakukan?" tanya Zeeta, yang memasang kembali antingnya. Zeeta berpikir akan terjadi sesuatu jika ia memasangnya lagi, tetapi harapan itu segera pupus.


"Tenang saja! Ini hanya perlindungan seorang ayah pada putrinya! Dengan begini, kapanpun kaupergi ke Nebula, atau bertemu dengan Lucy, ayah pasti melindungimu!" senyuman menyilaukan nan menghangatkan dari ayahnya mengetuk pintu hati Zeeta dan berhasil menyelimutinya.


"Uhm! Terima kasih, Ayah!" Zeeta memeluk ayahnya dengan erat.


Kedua orang tuanya saling menatap, menanggapi tindakan Zeeta. "Baiklah, Zee. Kami akan menunggu di sini. Segera carilah Pangeran Klutzie dan bicarakanlah pada kami, alasanmu ingin pergi ke sana," balas Alicia.


Zeeta melepas dekapannya. "Uhm!" Aku pergi du—


"E-ehem ehem. Dengan ini, saya permisi, Yang Mulia."


Setelah memberi hormat ala bangsawan, Zeeta segera menuju tempat dimana Klutzie berada.


"Dasar.... Kau boleh mampir ke desa Lazuli dulu, loh!" Alicia tersenyum menanggapi kecanggungan anaknya itu. Ia kemudian melirik Hazell. "Huumm.... Menanamkan Roh Api Ifrit, ya...."


"A-apa? Apa yang salah?!" Hazell merona merah.


"Tidak, aku hanya tak habis pikir betapa overprotektif-nya dirimu, melebihi rasa khawatirku sebagai ibunya."


"Te-tentu saja! Dia adalah anak kita yang paling kubanggakan, paling kusayangi, dan paling cantik sedunia! Tak mungkin kubiarkan dia berkelana tanpa perlindungan seorang ayah!


"Terlebih ... aku juga tak bisa membiarkanmu sendirian di sini...."


Alicia menyeringai. "Hehe."


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2