Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Menuju Tanah Kematian


__ADS_3

“Apa yang kalian inginkan dari kami? Bukankah kalian membenci dan telah membalaskan dendam?”


.


.


.


.


Itu adalah ucapan yang pertama kali dilontarkan Morgan ketika dia keluar dari Hutan Peri bersama Sylva dan Falmus. Dia tampak begitu enggan untuk menemui Manusia-Manusia itu. Namun, kala itu, dia tidak menyadari ada sosok yang begitu dia kenal dan pernah sangat benci dalam hidupnya.


“Langsung pada intinya, Morgan,” ujar Scarlet, “kami ingin ke Tanah Kematian.”


Mendengar suara Scarlet, Morgan langsung terbelalak dan melihat kepada sumber suara. “Ka-kau! Bagaimana bisa?!”


Scarlet melemparkan senyum lima jarinya. “’Gimana? Sudah sering kubilang, jika aku ini hebat, bukan?”


“Ti-tidak mungkin!


“Aku yakin sekali saat itu kau—!”


“Sudah-sudah,” tukas Scarlet, “yang lalu biarlah berlalu. Kalian sepertinya sudah menerima pelajaran dan pembalasan dari leluhurku.


“Yang lebih penting, mengesampingkan masalah pribadi Aurora dengan kalian....” Mata merah Scarlet langsung menatap lurus Morgan. “Jika kalian diam saja, Jötunnheim benar-benar akan terbuka.”


“Jötunnheim?!” Morgan terkejut, tidak dengan tiga peri di dekatnya. “Dalam waktu dekat ini apa saja yang terjadi dengan para Manusia? Kenapa tiba-tiba Jötunnheim bisa—“


“Kalau mau ikut campur, maka bantulah kami.”


“Kuhhh....” Morgan dilanda dilema.


Scarlet menunggu jawaban Morgan sambil menyilangkan tangan.


“Uhm....” Suara Porte memecah suasana. “Aku sebenarnya tidak begitu mengerti dengan siapa kalian bicara, Nyonya Scarlet, Putri Zeeta, tapi....


"Jika Peri-Peri itu memang benar-benar berada di hadapan kita sekarang....” Porte membungkuk setengah badan. “Kumohon bantulah kami, Peri!


“Putriku ... putri sematawayangku... jiwanya telah direbut bersama dengan Putri Azure....


"Jika... jika....


“Jika permasalahan kita bisa ditangguhkan—atau apapun yang kalian ingin lakukan—kumohon bantulah kami!”


Tangis jatuh ke tanah, Morgan dan tiga Peri lain menyadarinya.


Falmus kemudian maju, membelakangi Morgan dan Sylva. “Kaupikir kami bisa seenteng itu melupakan apa yang telah leluhur kalian lakukan pada kami?


“Seberapa banyak jiwa yang telah kalian renggut dari—“


“TUTUP MULUTMU, FALMUS!” tukas Zeeta, memelototi Falmus. “Kalau ingin bicara masalah merenggut nyawa, kalian pun tak ada bedanya!


"Terlebih, tidakkah kautahu, bahwa leluhurku yang menyerang kalian itu, sama saja seperti ibu bagi kalian?


“Hah... apa maksudmu?!” Falmus dan Sylva terkejut.


“Oh...? Jadi kau tutup mulut masalah ini dari mereka, Morgan...?” Scarlet juga memberi tatapan yang sama layaknya Zeeta. “Setelah semua yang kau perbuat pada Marianna, hingga menyebabkan akhir seperti ini bagi rekan sebangsamu, kau masih tutup mulut?


“Aku tidak mengerti lagi apakah itu nyali atau kebodohan darimu.”


“Apa maksudnya ini, Morgan?!” tanya Falmus.


“A-aku...!” saat Morgan baru ingin bicara, seekor Peri datang lagi dari belakang. Dia datang sambil dibopong oleh dua Peri lain.


“Ka-kau…?” Scarlet dan Zeeta kaget melihat siapa yang datang.


.


.


.


.


“Apa yang terjadi padamu, Feline?!” tanya Scarlet.


Bagaimana Scarlet dan Zeeta tidak terkejut, begitu keduanya menyaksikan seperti apa kondisi Feline yang sekarang. Rambut dan mahkota merah mudanya lenyap—memaksanya untuk tampil “menyedihkan” dengan tambahan banyaknya bekas luka di tubuh dan hanya tersisa dua helai sayapnya—dari sebelumnya berjumlah delapan. Meski begitu, sayap itu tak mampu dikepakkan lagi.


“Tidak perlu ditanya lagi,” jawab Feline, "aku sudah lelah dengan semua ini dan aku sudah dengar semua percakapan kalian.


“Biar aku yang mengantar kalian.”


Semua Peri yang ada di situ kaget. Tidak mengecualikan Zeeta dan Scarlet.


“Fe-Feline?! Kenapa?!” tanya Morgan.


Feline tersenyum, lalu menjawab, “Tiga ribu tahun hidup dalam ‘keisengan’ sudah membuatku lelah.


“Kali ini aku ingin melakukan apa yang Yggdrasil pilih—yaitu menjadikan Zeeta sebagai titik dari semua ini.


“Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada Galdurheim, atau apa yang akan menantiku ke depannya... bahkan jika itu adalah kematian.

__ADS_1


“Aku juga telah melihat beberapa situasi dari orang-orang yang kalian kirim untuk mengamankan Batu Jiwa. Meski beberapa dari mereka sangat terpojok, tetapi Tanah Kematian memang harus diutamakan, karena....”


Scarlet dan Zeeta mengernyit. “Ya, kami tahu.” Mereka mengucapnya bersamaan.


Feline tersenyum. “Kalau begitu tidak usah buang-buang waktu lagi. Morgan, ini bukanlah perintah, tetapi permintaanku sebagai temanmu.


“Sudah waktunya Peri untuk berubah. Sementara dunia akan mengalami perputarannya sekali lagi bersama dengan gadis ini, Peri juga tidak bisa selamanya diam di tempat yang sama.”


“Ra-Ratu! Ini terlalu mendadak!” Sylva mencoba mencegah Feline. “Aku—tidak—kami sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi di sini!


“Apa itu Galdurheim? Jötunnheim?


“Morgan juga begitu!


“Apa yang sebenarnya terjadi?!”


Feline menepuk kepala Sylva, “Sylva. Aku ini bukan lagi Ratumu. Tetapi....


“Terima kasih karena saat itu sudah membantu Zeeta. Aku juga tidak begitu mengerti mengapa… aku yang sangat membenci Manusia justru membantunya kala itu.


“Aku bisa saja membiarkannya mati dan langsung memutar dunia ini menjadi gelap tanpa adanya harapan, namun... harus kuakui, jika jauh di dalam hatiku, aku ingin Yggdrasil mengakuiku sebagai makhluk sihir pelindungnya.


“Sisanya akan diberitahu Morgan. Jika dia tetap tidak memberitahunya, paksa saja dia.


“Itu saja.”


Setelah mengucapkan semuanya, Feline dibawa duduk di bahu Zeeta. “Kuharap kau tidak keberatan memberiku tumpangan?” tanyanya.


“Jika kaumau, aku bisa sedikit memulihkan tenagamu,” balas Zeeta.


“Terima kasih, tapi tidak. Aku akan menggunakan itu nanti.”


Scarlet dan Zeeta mengernyit.


“Kauyakin?” tanya Zeeta.


“Ya. Dengan begitu, aku juga berharap nantinya ada sosok pemimpin Peri yang bisa membuat halaman baru untuk mereka.”


“....” Zeeta bungkam sesaat. “Kalau itu maumu, baiklah.


“Apa yang harus kita lakukan?”


Sebelum menjawab, Feline berpindah tempat menuju balik kerahnya Zeeta. “Pergilah ke titik dimana dua jiwa itu direbut. Aku akan membuka gerbangnya di sana. Tapi… adakah cara agar kita tidak membuang waktu seharian hanya untuk terbang ke sana?”


Zeeta dan Scarlet memandangi Porte. “Apa kau membawa petanya?” tanya Scarlet.


“Y-ya, aku membawanya,” jawab Porte.


Kemudian, Porte menyibak petanya kepada hadapan Scarlet. Scarlet, saat melihat titik terakhir dimana Mellynda dan Azure berada, memusatkan pandangannya di sekitar area itu, lalu memejamkan matanya.


Zeeta menunggu aba-aba dari Scarlet, sementara Peri-Peri lain di belakang mereka kebingungan hendak apa mereka sebenarnya. Pun dengan Porte.


“Sudah kudapat! Zeeta!” pekik Scarlet tiba-tiba. “Porte, pegang tanganku!”


“Ba-baik!”


“Sip, kita berangkat!” seru Zeeta, yang mengejutkan Feline.


“Ja-jangan-jangan?!” Feline tidak menyangka sama sekali bagaimana nenek dan cucu ini bisa sepemikiran. “Sudah kuduga, Aurora memang gil—!” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, keempatnya hilang mendadak dari Hutan Peri, memberikan tanda tanya besar bagi para Peri, namun tidak untuk Morgan.


“Yang benar saja! Jaraknya seharian, lo! Dan mereka... berteleportasi sejauh itu? Itu tidak mungkin dilakukan sebab ketika berpindah antar ruang-waktu, tubuh mereka bisa terpecah belah jika pengendalian mana—“ Morgan terhenti. Ia mengingat lagi perubahan besar yang terjadi pada Zeeta begitu dia pulang latihan dari Grandtopia. “Sepertinya aku juga memang sudah harus berubah....”


......................


Disaat yang sama, Illia yang ditemani Albert juga sedang menuju lokasi Mellynda dan Azure dengan sebuah mobil kepemilikan Albert. Namun, mobil ini bukanlah mobil yang biasa dipakai oleh bangsawan atau rakyat biasa untuk kebutuhan sehari-hari—lebih tepatnya sebagai pengganti atau pilihan lain selain memakai kereta kuda.


Mobil itu—dengan jenis sedan—sudah diutak-atik oleh pemiliknya sendiri—dimana kini mobil itu tidak berjalan di tanah dengan kecepatan tinggi, melainkan udara. Bannya sendiri berposisi horizontal, putarannya memberikan tekanan udara yang mendorong mobilnya dapat terbang. Selain itu, untuk laju kecepatan di udaranya, Albert memakai mana-nya sendiri.


Secara efektivitas, ini sama saja dengan sihir terbang, tetapi ada tambahan modifikasi lainnya—baik itu dari segi mesin ataupun sihir—yang memungkinkannya melaju lebih cepat di udara. Semua modifikasi tersebut tidak mungkin diwujudkan apabila tidak menggandeng para pengrajin sekerajaan, termasuk Axel.


Tiga puluh menit lamanya Albert dan Illia sudah mengudara. Sejak berangkat, ekspresi Illia tidaklah berubah. Stres, lesu, dan sedih. Ia tampak menahan tangisnya sambil terus memegangi keningnya—pertanda ia sangat memikirkan anaknya.


Menyadarinya melalui kaca tengah, Albertpun berusaha untuk menenangkan Illia. “Nyonya Scarlet turut ikut menjemput jiwa Mellynda. Terlebih, mengingat Mellynda adalah teman bangsawan pertama Putri Zeeta, beliau pasti tidak akan tinggal diam.


“Mari lakukan apa yang bisa kita lakukan saja dan berdoa.”


Tanpa mengubah posisinya, Illia menjawab, “Uhm. Aku mengerti dan menghargainya, tapi Albert... jiwa anakku sudah direbut. Masih ada kemungkinan dia tidak akan kembali lagi.”


Albert tidak bisa menyangkalnya. Merasa tidak mampu untuk mengucapkan apapun lagi, ia hanya bilang, “Aku akan menambah kecepatannya.”


“Lakukanlah.”


......................


[Dini harinya....]


‘SHWIP!’


Scarlet, Zeeta, Porte, dan Feline sampai di titik Mellynda dan Azure berada. Porte yang melihat tubuh kaku keduanya langsung berlari menghampiri mereka.


“Gawat! Kekakuannya…!” seru Porte, yang berlutut sambil menopang kepala Mellynda terbujur kaku.

__ADS_1


“Tidak menjadi masalah!” balas Feline, yang menjadi buah pertanyaan bagi mereka. “Zeeta, mendekatlah pada keduanya!”


“Uhm.” Zeeta kemudian mendekat. Begitu mendekat, Feline meminta lagi pada Zeeta.


“Arahkan kedua tanganmu pada jantung mereka!” pinta Feline, “ingat. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan tanganmu!” Setelah dilakukannya, Feline menyentuh tubuh Zeeta dengan kedua telapaknya lalu menutup mata kencang-kencang. “Bersiaplah untuk guncangan, semuanya! Apalagi kau, Zeeta!”


Begitu mendadaknya permintaan Feline, yang sayangnya, beberapa saat setelah itu, sesuatu seperti teriakan menggetarkan Bumi. Teriakan itu tidak hanya menggetarkan Bumi, tapi juga memaksa Porte dan Scarlet jatuh ke tanah sambil memegangi kepala. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa persiapan. Mereka juga tidak begitu menangkap percakapan yang terjadi antara Zeeta dengan Feline.


“A-apa ini...?!” tanya Zeeta, yang terpaksa harus mendengarkan teriakan itu dengan sangat jelas.


“Flakka!” balas Feline, yang terlihat seakan sedang kesulitan menahan sesuatu. “Aku memaksa ... jiwa mereka tetap berada di tubuhnya dan itu membuat mereka ... sangat marah!”


“Apa katamu?!


“Bukankah Flakka hanya penjemput jiwa? Aku tidak tahu mereka bisa sekuat ini!”


“Ti-tidak. Ini hanya terjadi pada kita yang ada di sini. Tenang saja…. Aku sudah membayar mereka dengan harga yang setimpal.”


“Setimpal…?” Zeeta mengernyit, namun.... “Ughk!” dia merasakan pusing yang sangat menusuk. Tapi beberapa saat kemudian, rasa tersebut menghilang.


“A-aku akan mengumpulkan lagi kekuatanku.... Tunggulah beberapa saat. Janganlah kaulepas dulu tanganmu dari mereka.” Feline kemudian bersembunyi di balik kerah Zeeta.


Sebelum benar-benar bersembunyi, Zeeta menyadari bahwa rambut Feline tidak lagi merah muda, kulitnya pun mengalami penuaan. Ia semakin merasa ada yang disembunyikan oleh Feline, namun itu bukan sesuatu yang berniat mencelakakan mereka. “Ya....” Hanya itulah yang diucapkan Zeeta.


Tak lama kemudian, Scarlet mampu berdiri. “Adu-du-duh....” Ia memegangi kepalanya. Disaat yang bersamaan, ia mendengar jeritan Zeeta.


“Tu-Tuan Porte, apa yang terjadi padamu?!” teriak Zeeta


Scarlet terbelalak dan melihat apa yang terjadi, yaitu telinga dan hidung Porte bersimbah darah.


“Cih!” umpat Scarlet, yang langsung menyembuhkan Porte. “Aku seharusnya menduga ini akan terjadi!


“Manusia selain keturunan Aurora akan mengalami hal seperti ini bila terlibat dengan Flakka. Seharusnya aku memberinya medan penghalang terlebih dahulu, tapi Si Feline itu….” Sambil menyembuhkan Porte, Scarlet celingak-celinguk. “Eh? Dimana Feline?”


“Ah.” Zeeta menjawab Scarlet. “Dia sedang mengumpulkan tenaganya lagi dan itu butuh waktu sesaat.”


"Oh....”


......................


Selama menunggu kepulihan Feline, Porte telah sembuh dan sudah diberi medan penghalang oleh Scarlet dan itu sudah berlangsung selama enam menit. Belum ada tanda-tanda Feline pulih kembali.


“Lama sekali...,” ujar Scarlet, “dia yang bilang kita tidak boleh berlama-lama, tapi nyatanya....”


Kemudian, Zeeta tiba-tiba mendapatkan telepati dari Reina.


“Kekuatan yang disimpan Feline di dalam Hutan Peri sudah mencapai tetes terakhirnya. Dia tidak akan pulih jika terus dibiarkan,” ujar Reina.


“Tetes terakhir? Bukankah dia memiliki wadah yang cukup besar untuk menyimpannya?” tanya Zeeta. "Lagi pula, dia berniat menggunakannya untuk memulihkan kekuatannya lagi," sambungnya.


“Aku melihat wadah yang menyerupai bola kacanya sudah hancur setengah dan 'itu' sudah habis.”


“Oh... Aku memang ingin tahu apa yang terjadi tapi kita tidak memiliki waktu. Terima kasih informasinya, Reina!”


“Zeeta.”


“Iya?”


“Pohon Chronos mungkin tak bisa mencapai Tanah Kematian. Kumohon, jangan lakukan hal gegabah atau apapun yang....”


.


.


.


.


“Kembalilah dengan selamat."


Zeeta tersenyum, tetapi tidak menjawabnya. Dalam kondisi masih memegang area jantung Mellynda dan Azure, Zeeta memejamkan mata, lalu memfokuskan diri untuk berimajinasi memulihkan kekuatan serta penampilan Feline.


Tidak lama kemudian, Feline muncul dari dalam kerah Zeeta. “Seharusnya aku menerima bantuanmu sejak awal. Terima kasih, Zeeta,” ucapnya.


“Uhm. Sama-sama.” Zeeta menyuguhkan senyum manisnya.


Scarlet yang tidak begitu mengerti apa topik keduanya, tidak mengomentarinya. “Cepatlah Feline!” serunya, “enam menit sudah berlalu!”


Porte yang tidak bisa melihat keberadaan Feline, hanya bisa terdiam.


“Ya, aku tahu. Tapi tunggu sebentar lagi,” balas Feline, “aku akan mengikat sebagian jiwa mereka yang telah kembali ini dulu agar tidak direbut Flakka lagi.”


“Se-sebagian jiwa mereka telah kembali?” tanya Zeeta. “Apa itu artinya mereka sudah....”


Sembari bersihir dengan menaruh kedua tangannya di tubuh Zeeta, Feline menjawab. “Bodoh. Tanganmu ada di jantung mereka. Apa itu sudah kembali berdetak?”


“Ti-tidak....”


“Yang kulakukan sebelumnya adalah merebut jiwa mereka dari genggaman Flakka agar tidak dibawa menuju Lembah Jiwa. Sederhananya, mereka sedang dalam kondisi mati suri—itupun kalau kita berhasil merebutnya kembali.”


Feline menyudahkan sihirnya dengan mengangkat kedua tangan dari tubuh Zeeta. “Sudah selesai. Zeeta, bawa aku menuju pagar desa itu. Kalian juga ikut. Waktunya kita masuk ke Tanah Kematian.”

__ADS_1


__ADS_2