Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keluarga Berkekuatan Matahari, Levant 2


__ADS_3

[Kediaman Levant di atas pulau layang....]


Di dalamnya, keluarga ini tetap disibukkan oleh kondisi kekeluargaan mereka. Bukan tentang masalah keuangan ataupun kesehatan, tetapi karena garis keturunan. Penyebab kembalinya Karim Levant—kepala keluarga sebelum putranya, Lowèn Levant, menggantikan posisinya menjadi manusia biasa—adalah karena sumpah yang berkaitan dengan garis keturunan mereka.


Menurut Lowèn, sumpah tersebut adalah kutukan yang memaksa mereka tak bisa membantu ataupun menyelamatkan orang-orang yang disayangi. Zeeta adalah salah satunya. Namun, fakta tentang sumpah ini tidaklah diketahui anak kembarnya, Edward dan Ella. Keduanya sama-sama sudah memiliki tanda hitam di punggung—yang bermakna sumpah itu telah mengikat mereka juga.


Berdasarkan pengungkapan Lowèn pada bangsawan utama lima tahun silam, diwaktu setelah Karim kehilangan kekuatannya, syarat terikatnya sumpah ini kepada para Levant adalah harus berusia dua belas tahun.


Itu berarti, saat Karim kehilangan kekuatannya, dua orang cucunya sudah terikat oleh Sumpah Levant.


Sumpah ini juga memaksa para Levant hanya bisa beraksi saat kerajaan benar-benar dalam bahayanya. Seperti ketika Aurora kedatangan Lucy a.k.a Marianna dan peperangan singkat yang terjadi antara mereka dengan pasukan Hollow.


Lowèn juga sempat menuturkan pada para bangsawan utama, bila sumpah ini pun memiliki keterkaitan dengan sejarah terbentuknya kerajaan.


Dan saat ini, bangsawan sepenting dan sekuat Levant, di tengah-tengah gentingnya situasi untuk menghadapi Ragnarok yang mungkin datang kapan saja, keluarga ini berkumpul karena permintaan Karim.


......................


"Ayah, kami sudah berkumpul," ucap Lowèn, yang baru saja datang sekeluarga.


Karim yang sedang ditemani istrinya, Agatha, segera menyambut kedatangan mereka. "Duduklah," pintanya.


"Apa Kakek baik-baik saja?" tanya Ella. Ia khawatir dengan kakeknya yang terus saja terbaring di atas kasur. Ia tahu kakeknya seperti ini setelah kekacauan yang melibatkan "bencana alam" lima tahun yang lalu.


Si Kembar ini juga tak mengetahui alasan sebenarnya mengapa kakek mereka terus seperti ini. Terkadang ia baik-baik saja, tetapi mereka sadar bahwa kakeknya tidak gagah lagi seperti biasa.


Meskipun mereka telah bertanya pada orang tua dan neneknya, jawaban mereka adalah, "Ini karena ia kalah kuat dari kakak sepupu kalian, Azure. Tapi, jangan salahkan dia sebab kakekmu tahu bayarannya seperti ini."


Demikian, mereka tak mencoba menggali lebih dalam lagi tentang kakeknya.


"Katakan padaku seperti apa situasi dan kondisi Aurora saat ini. Sejak beberapa hari yang lalu, aku selalu mendengar kebisingan yang heboh di seluruh kerajaan."


Lowèn menatap istrinya, Claudia, untuk sesaat. Keduanya mengangguk, lalu menceritakan semuanya.


.


.


.


.


"Waktunya sudah tiba!"


Saat inilah, anggota keluarga Levant yang lain menatap takut dan buntu arah harus berbuat apa.


Karim menunjuk lukisan yang ada di depannya. Sebuah lukisan besar berposisi vertikal. Lukisan itu menggambarkan pohon raksasa yang dikelilingi oleh rerumputan. Menurut mereka, tak ada yang spesial dari lukisan tersebut, bahkan warnanya saja biasa dan umum.


"Dengarkan aku, Lowèn, Edward, Ella." Karim menatap lurus bergiliran nama yang disebut.


"Kami mendengar, Kek," balas Edward.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi dalam kerajaan, atau seperti apapun situasi yang sedang berlangsung, tetaplah di sini. Lindungilah kediaman ini.


"Waktunya sudah akan tiba."


Ketiganya mengernyit. Namun, kernyitan Lowèn memiliki makna yang berbeda. "Aku mengerti. Kalau begitu, kukan sampaikan ini pada kakak."


"Eh...?" Si Kembar kebingungan. "Kenapa paman Hazell jadi ikut dibawa-bawa?" tanya mereka bersamaan.


Lowèn melirik Karim. Ia menunggu keputusan ayahnya.


"Pergilah, Nak," balas Karim, "biarkan Agatha dan Chloe yang memberitahu mereka."


"Sesuai permintaanmu, Ayah." Lowèn lantas angkat kaki dari kamarnya.


Si Kembar saling tatap. "Apa ini ...? Apa ada yang kalian sembunyikan dari kami?" tanya Edward.


"Aku takkan diam saja kalau ini ada kaitannya dengan kak Zeeta," sambung Ella, "dia sedang—"


"Tugas kalian adalah untuk membunuh Zeeta," tukas Agatha, yang langsung direspon terbelalak oleh keduanya.


"HAH...?!" Edward yang tersulut emosi, berdiri.


"A-apa maksudnya ini, Nek Aga?!" bentak Ella, "apa Nenek serius dengan ucapan tadi?! Tentunya Nenek tahu, 'kan kalau kak Zeeta sekarang sedang—"


'DWWAAMMM!!'


Ledakan besar menggugurkan suasana tegang di dalam kamar. "Apa itu tadi?!" tanya Ella.


Agatha menggertak gigi. "Apa memang tak ada cara lainnya, Sayang?!"


"A... apa maksudnya itu...?" suara gemetar dapat terdengar dari Edward.


"Hei, Mama!" seru Ella, "apa Mama juga merahasiakan sesuatu dari kami?!"


Claudia menatap mata putrinya yang emosi. "Itu benar."


"KENAPA?!" tangis langsung menetes deras usai Ella berteriak. Karim bahkan dibuat terkejut karenanya.


"Selama lima tahun ini, aku dan Edward selalu berlatih dan terus saja berlatih supaya bisa membantu kak Zeeta yang selalu ada di garis depan!


"Tentunya kalian sadar, bukan, kalau dia hampir tak pernah bisa meluangkan waktunya bersama kita!


"Bahkan bersama bibi dan paman!


"Yang dia lakukan tak pernah jauh dari rekan-rekan garis depannya, seperti Crescent Void, Roh Yggdrasil, pangeran Nebula, dan mereka yang lain!


"Seharusnya kalian juga sadar betapa sifat riang kak Zeeta sudah tak pernah kita lihat lagi! Dia selalu menyembunyikan bebannya di balik senyuman!


"Lantas, apa-apaan dengan ucapan tadi?!"


Karim menarik napas supaya bisa lega mengucapkan apa yang hendak dikeluarkannya. Namun, angin mendadak menerjang mereka semua—meskipun ada jauh di dalam bangunan.

__ADS_1


"Aku adalah Roh Kuno Angin, Zephyr! Dengarkanlah pesan Roh Kuno Air, Undine, yang sedang ada di medan pertempuran!


"Bagi kalian yang bisa mendengar suara ini, jangan biarkan mana dua Zeeta itu saling berseteru! Jika tidak, Ragnarok akan datang!"


Semua yang ada di sana terbelalak dan terbungkam seribu kata.


"Dua ... Zeeta...?" Karim tak tahu tentang ini.


Edward dan Ella yang mendengar kata-kata "medan pertempuran", tak peduli dengan ibu dan kakek-neneknya, langsung meninggalkan mereka.


"Tu-tunggu! Edward! Ella! jerit Claudia yang sia-sia.


"SUMPAH SIALAN!!" kini Karim-lah yang menjerit. Istri dan menantunya kaget melihatnya menangis.


"Oh leluhurku...! Mengapa kalian mengikat kami dengan sumpah seperti ini...?


"Kami akan kehilangan keluarga yang sangat kami cintai bila kami tunduk pada sumpah ini!


"Tapi kami tak bisa membantahnya, sebab kekuatan ini diperlukan...!


"Bila dahulu kalian tahu tentang waskita Yggdrasil, sebenarnya kalian ini adalah sekutu ... ataukah musuh?!"


......................


Sama dengan yang terjadi pada keluarga Levant, mereka yang saat ini sedang ada di dekat Zeeta pun mendengar suara Zephyr.


Namun, sayangnya, kondisi mereka tak pasti. Darah yang terus bercucuran, meski mata mereka masih terbuka, dan ada yang masih berusaha untuk bangun.


Penguasa Kekelaman tentu saja mendengarnya. Ia menyeringai. "Dengar itu? Keberadaan kita benar-benar mengancam dunia! Ahahaha!


"Pastinya seluruh Galdurheim mendengar kabar angin dari Zephyr. Itu berarti, bila Ragnarok benar terjadi setelah kau dan aku saling beradu sihir, maka ...."


Seringai Penguasa Kekelaman perlahan meluntur karena dirinya tak mendapatkan respon apapun dari Zeeta. Tubuhnya kini sama seperti ketika ia dirasuki oleh Ifrit saat berhadapan dengan L'arc atau saat meminjam kekuatannya kala melawan Belle.


Zeeta sedikit melayang di atas tanah. Tanahnya terbakar dan menghitam karena aura merah menyalanya. Kepalanya ditumbuhi sepasang tanduk, anting bulannya pun berubah merah.


Tak hanya memengaruhi dirinya sendiri, Catastrophe Seal yang kini melayang di dekatnya pun mengalami perubahan. Sabit besar itu diselimuti dua bara api—biru di bilah dan merah di sisa bodinya.


"Kau mau pamer dengan kekuatan itu? Percuma! Kau takkan bisa menandi—"


'SRRRAAANGGG!!!'


Penguasa Kekelaman terbelalak. Bunyi bilah tajam yang seakan membelah sesuatu terdengar sangat nyaring di telinga kiri. Saat ia menoleh, ia kaget karena tanahnya sudah menjadi jurang.


Tidak lama kemudian....


'BWHUUMMM!'


Api biru menyusul dengan ledakannya yang tinggi dan memaksa Penguasa Kekelaman merintih kepanasan. Ia segera menjauh dan menggertak gigi. "Sialan! Sejak kapan dia mengayunkan sabitnya?!"


Saat ia sudah menjauh, ia tersenyum. "Tapi ... jangan kira aku takkan memberikan perlawanan!"

__ADS_1


Penguasa Kekelaman mengaktifkan Catastrophe Seal miliknya. Itu berwarna hitam gelap, bahkan seakan tak memiliki kepadatan—layaknya asap hitam yang digenggam.


"Bersiaplah untuk balasannya, Zeeta!" ia berkuda-kuda, hendak mengayunkan dari bawah ke atas sabitnya.


__ADS_2