Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Zeeta vs. Marianna 1/4


__ADS_3

“Aku mulai, Mary!” Zeeta melesat lebih cepat berkat kuda-kudanya. Seperti menghilang sesaat di udara, ia kemudian muncul lagi tepat di depan Marianna dengan sabit yang siap mencabiknya.


‘ZRSHT!’


Darah mengucur dari lehernya, yang anehnya tidak tertebas meski dengan Catastrophe Seal. Zeeta mengernyitkan mata. Mata pisaunya sudah pasti mengenai lehernya. “Kau memusatkan sirkuit sihirmu untuk bertahan dalam waktu sesingkat itu?


“GILA SEKALI!”


Marianna membalas serangan Zeeta dengan upper-cut kanannya. Sebelum mengenainya, Zeeta mengubah sabitnya menjadi tameng. Meski dengan bantuan tameng, setelah menerima upper-cut itu, Zeeta terpental jauh ke langit.


Tidak membiarkan dirinya terbuka untuk serangan dalam waktu lama, seraya mengembalikan tamengnya menjadi cincin, Zeeta menghentikan pentalannya dengan memaksa tubuhnya melayang, lalu langsung melesat kembali menuju Marianna dengan serangan berbeda. Ia kemudian segera mengubah cincin Catastrophe Seal-nya menjadi tongkat sihir, lalu menembakkan bermacam jenis sihir padanya.


Serangan pertama dilancarkan sambil menukik. Sihir api ditembakkan dari ujung tongkat—membakar tubuh hingga area di sekitar Marianna. Kobaran api meluas dengan cepat dengan api merah dan api biru di bawahnya. Begitu ia dekat dengan jangkauan terbakarnya Marianna, Zeeta terbang ke belakang Marianna lalu membalik tubuhnya untuk langsung ke serangan selanjutnya. Air. Ia langsung mengurung Marianna dengan gelembung air dan segera membekukannya.


Zeeta mendarat dengan melakukan jongkok dan membuat sihir di kaki untuk membantunya memperlambat laju mundur kala pendaratannya. Kemudian, ia segera bersiaga untuk menyerang Marianna lagi dengan ancang-ancang pada tongkat sihirnya. “Tadi itu sihir yang cukup kuat yang biasanya kupakai untuk melawan Phantasmal...," gumamnya, "aku ragu dia akan terpengaruh dengan sihir seperti ini, tapi....”


Gelembung beku itu tak membutuhkan waktu lama untuk retak dan Marianna yang ada di dalamnya lekas membalas dengan cakaran atas yang menebas reruntuhan di bawah kakinya dengan cakupan lebih besar dan luas. Ia melakukan serangan yang lebih destruktif dan besar daripada saat ia melawan Azure.


Telah bersiap, Zeeta langsung merubah tongkat sihir menjadi sabit dan menebasnya. Dengan hentakkan kaki kanan hingga membuat pijakannya hancur dengan maksud memberi momentum supaya tebasannya lebih kuat, sabit itu melayang ke arah cakaran. Teradunya dua elemen sihir yang berbeda—menyebabkan dampak layaknya tornado dengan warna merah-hitam dan biru-putih—yang langsung meledak dan memisahkan jarak keduanya.


Dampak bentrokan elemen mereka, menyebabkan gempa di luar dimensi. Bahkan rakyat jelata yang tidak memiliki sihir sekalipun merasakan gempanya. Gempa itu membuat burung-burung terbang ketakutan—berpindah dari satu hutan ke hutan lain. Sang Penjaga Hutan, si Dryad Maisie, pun merasakannya. Ia tampak cemas.


Dikala yang sama, Scarlet sedang membopong Azure. Dia langsung terbelalak dan lekas kembali menuju istana. “Hazell harus segera mengumpulkan mereka!” batinnya.


Sementara itu, makhluk sihir lain yang telah beraliansi dengan Aurora, seperti Naga, Dwarf, dan Half-Elf yang berada di ruang bawah tanah Bengkel Axel, juga merasakan gempanya. Dua Naga yang ada di situ—Elbrecht dan Myra—memberi wajah cemas yang sama, pun dengan para Dwarf.


Elbrecht dan Myra sedang duduk di sebongkah batu di dekat air terjun. “Di titik yang sekarang, ramalan Feline telah salah,” ujar Elbrecht, sambil menyilangkan tangan. “Tetapi, kesalahan itu masih bisa menyambung e kemungkinan yang lain.”


“Ya,” balas Myra, “masih terlalu cepat untuk mereka bersuka cita. Kemunculan Scarlet tiba-tiba, juga membuatku tidak terlalu yakin dengan masa depan yang cerah untuk kerajaan ini.”


“Benih Yggdrasil yang terakhir juga belum menunjukkan batang hidungnya. Untuk saat ini, kita tidak perlu ikut campur.


“Ketika ‘saat itu’ tiba, dan aku yakin itu pasti tiba, disitulah peran kita yang sebenarnya akan berjalan.”


“Uhm.”

__ADS_1


......................


Di bagian lain Grandtopia, tempat dimana Ozy tidak bergerak sejak ia ditekan oleh gravitasi, namun lebih memilih untuk duduk sila di sana, ia malah tampak kebingungan. “Kenapa dia membawanya ke dimensi lain? Kupikir rencananya langsung mengalahkannya dengan Rune itu...


“Kuharap, ini tidak membawanya ke masalah yang runyam….”


.


.


.


.


.


“Tetua!” panggil Reina dengan wajah panik.


“Apa?” tanya Hugo.


Hugo terdiam, tetapi Elf yang lain tidak. “Apa maksudmu?” tanya mereka.


“Sejak dia membawa Marianna ke dimensinya... aku sama sekali tak bisa melihatnya. Apa gempa ini karena pertarungan mereka?”


“Tenanglah, Reina,” ujar Hugo, “ini bukan pertama kalinya kautak bisa melihat waskita.


“Saat dia mati, dan tiba-tiba hidup lagi, apa kaulihat waskita itu?”


“Ah....” Reina tersadar. “Tidak... yang kulihat bukanlah itu, tetapi masa depan dimana Zeeta hanya terluka lecet di lengannya.


“Kenapa sangat berbeda jauh...?”


“Waskita hanyalah sebuah kemungkinan, selalulah ingat itu, Reina. Sama halnya dengan ramalan. Yang bisa mengubah-atau-tidaknya hal itu hanyalah orang-orang yang ada di dalamnya.


“Entah sekuat apa katalismu untuk melihat waskita, bahkan jika itu Rune atau Pohon Chronos, takdir bukanlah sesuatu yang bisa dipastikan dalam satu kali intipan.

__ADS_1


“Melihat waskita boleh saja, dan aku tak melarangnya. Tetapi, jika dalam proses melihatnya kau terus menerus terganggu, masih ada hal lain yang bisa kaulakukan.”


“Contohnya...?”


Hugo menyeringai. “Bodoh. Carilah jawaban itu sendiri. Kau takkan bisa berkembang jika terus diberitahu.”


Reina termenung. Tetapi renungan itu tidak berlangsung lama, karena mereka sekali lagi merasakan gempa.


......................


Setelah cakaran atas itu beradu dengan sabit Catastrophe Seal dan menyebabkan ledakan hingga menyebabkan dampak di luar dimensi, keduanya melakukan pertarungan jarak dekat. Meski hanya sebuah tangan, tetapi itu tidaklah lemah untuk bisa ditebas begitu saja dengan sabitnya. Dimulai dari kecepatan lambat, dimana Zeeta selalu mengincar titik sirkuit Marianna yang berada di pangkal pundak kanannya, perlahan-lahan mereka seperti kehilangan tangan mereka karena kecepatan tinggi yang dikeluarkan keduanya—hanya saja dengan kilau cahaya dari masing-masing senjata.


"HRAAAAAHHHH!!!" keduanya saling menjerit, mengerahkan seluruh tenaganya.


Pukulan vs. sabit. Karena keduanya amat sangat kuat, ditambah kecepatan yang tidak masuk akal, pukulan atau sabitan yang saling menangkis satu sama lain ini membawa kehancuran reruntuhan di sekitarnya. Terkadang itu hancur lebur dengan pola tangan, meledak seperti ada bom, atau reruntuhan itu hancur dengan pola sabit yang melubangi.


Tetapi, tidak hanya reruntuhan saja yang rusak, mereka pun perlahan ikut terluka. Marianna terluka sayatan di pipi, leher, dan beberapa di tangan kanannya, sementara Zeeta berluka lebam di bahu hingga merobekkan pakaian baru yang diberikan para Elf untuknya.


Merasa membutuhkan jeda, keduanya melakukan hal sama—yaitu memberi serangan keras pada titik vital—yang sama-sama ditangkis hingga menyebabkan dentuman yang memberi dampak sekali lagi pada dimensi luarnya.


Zeeta dan Marianna saling memberi jarak dengan napas yang terengah. Meski begitu, Zeeta mendapati musuhnya masih bisa beregenerasi. Ia pun mengatur napasnya lalu menyembuhkan lukanya. Ia kemudian menancapkan sabitnya, lalu melihat kedua tangannya.


Bergemetar.


Ia tidak pernah melakukan serangan secepat tadi dalam hidupnya—hingga menyebabkan syok untuk tubuhnya. “Ayolah Zeeta...! Kau pasti bisa melakukan ini....” Dia menutup matanya untuk menenangkan diri. “Sudah waktunya ‘tuk serius. Aku belum menggunakan Rune-ku sama sekali sejak tadi..., karena jika langsung kulakukan....


“Maaf, Ozy... tapi aku sudah berbohong padamu. Aku memang memiliki rencana untuk mengalahkan Mary, tapi aku juga harus melakukan sesuatu padanya yang telah kehilangan jati dirinya.


“Tertipunya dia oleh Peri, tidak bisa kubiarkan begitu saja. Kepolosannya dimanfaatkan oleh mereka hingga menyebabkan perubahan yang cukup besar untuk Aurora.


“Begitu juga dengan Clarissa. Jika sejarah yang kami tahu benar adanya, itu berarti sejak sebelum ia berkuasa, Manusia tidak bisa menggunakan sihir. Namun, kakek Galkrie memerlihatkan hal itu pada kami.


“Kupikir, Peri-Peri itu tidak akan melakukan kejahilannya sebegini dalam, kecuali jika mereka memiliki dendam kesumat dengan Aurora. Jadi ... aku tidak akan membiarkan Mary mati di tanganku jika ia masih dalam kondisi tersakiti seperti ini.”


Zeeta membuat lingkaran mirip seperti lingkaran sihir, tetapi itu hanyalah lingkaran biasa dengan gabungan beberapa Rune di tengahnya. Itu adalah Bind Rune.

__ADS_1


"Ini akan sakit, jadi GERTAKKANLAH GIGIMU, MARY!!"


__ADS_2