
Galdurheim semakin kacau balau. Jumlah korban jiwa hanya gara-gara serangan dari satu orang sangatlah besar. Tidak bisa dihitung dengan jari. Mungkin saja ratusan atau bahkan ribuan.
Para Raksasa dan Naga yang baru saja hadir ke Galdurheim dan menyaksikan sendiri seperti apa kekuatan seorang Manusia tersebut, terpaku melotot. Mereka pun melihat sendiri seperti apa Manusia-Manusia yang terhantam oleh sihir gravitasi itu hancur tak bersisa. Kendati beberapa diantara mereka adalah makhluk yang sangat menginginkan balas dendam terhadap Manusia, mereka seperti dipaksa untuk melihat adegan tak sedap di mata ini.
Demikian pula pada Raksasa pemimpin Tanah Terlarang, Æsir. Sebelumnya ia sudah dengan percaya diri menyuruh Zeeta fokus pada dirinya yang lain dan dia akan membantu siapapun yang akan menghadapi Jormungand. Ia melihat bagaimana Jormungand yang tak bisa ditandingi oleh mereka, bisa ditekan dan dipaksa jatuh ke tanah oleh sebuah sihir. Mereka semua tahu bahwa Jormungand memiliki ketahanan—atau kemampuan untuk menetralisir segala macam sihir.
"Inikah kekuatan dari manusia yang diramalkan akan menghancurkan dunia...?" batin Æsir. "Kami harus bisa menahan Jormungand sampai dia selesai, atau bahkan harus mengalahkannya. Ancaman paling besar di Ragnarok kali ini adalah...."
"ALTEEERRR!"
Luna menjerit dengan penuh derita. Dia tak menyangka kalau Wadahnya tega melakukan hal seperti ini. Zeeta yang polos, penuh ceria, dan cengeng, tidak ada pada dirinya.
"Agh, kau berisik sekali, Luna!" Alter mulai terlihat lagi setelah asap yang mengepul mulai pudar. Baik Zeeta ataupun Luna kaget ketika melihat kondisinya. Alter kehilangan separuh tubuhnya dan tubuh bagian tengahnya nyaris terbelah dua. Kulitnya melepuh, rambutnya pun hilang, matanya seakan ingin copot. Kendati demikian ada Rune Othala yang sedang meregenerasi dirinya.
"Sejak datang ke sini, tujuanku tidak pernah berubah, yaitu untuk menghancurkan dunia ini bersama dengan dirimu, Zeeta!"
"Aku sungguh membencimu! Kenapa kautega melakukan ini!? Kenapa kau mengkhianati kepercayaan mereka terhada—"
"MEREKALAH YANG MENGKHIANATIKU!
"Aku kehilangan orang tuaku dan kehilangan desa Lazuli! Aku tak memiliki keluarga!
"Kendati demikian, ada dua orang yang selamat dari pembakarannya Bastanil, Danny dan Gerda. Setelah mengetahui keselamatan mereka, aku bisa menjalani hari-hariku di penjara bawah tanah Rowing, bertemu kak Azure....
"HANYA UNTUK MELIHAT MEREKA MENGACUNGKAN SIHIR-SIHIR MEREKA PADAKU!
"Aku sudah berjuang semampuku, melakukan semua yang diinginkan dan diharapkan, namun....
"Luna ... kau mengkhianatiku!
"Setelah aku berhasil mengalahkan Jormungand dan menghidupkan lagi Yggdrasil... kau mengurungku di dimensi tak terbatas. Tak ada konsep waktu ataupun ruang di sana. Kau melakukannya setelah sepupu-sepupuku, Danny, Gerda, Mellynda, dan kak Azure gagal menghujani sihir mereka untuk membunuhku.
__ADS_1
"Kaukira ... kaukira seberapa besar pengorbananku untuk dunia?! Seberapa besar kusampingkan segala keinginanku demi dunia?!
"Aku benci dunia ini dari lubuk hati. Aku juga membenci diriku sendiri karena pernah mencintainya. Segala yang terjadi di dunia ini, takkan terjadi bila seorang Zeeta tak terlahir di dunia ini."
Alter menyelesaikan regenerasi Rune-nya. Ia pun sudah memegang Catastrophe Seal bentuk sabit di tangannya. Beberapa saat kemudian, dia mendapati Zeeta tak bergeming dari tunduknya.
Zeeta bertemu dengan Ifrit di dimensi yang segalanya hitam dan tak berujung. "Seperti itulah akhirmu." Ifrit berucap, di hadapan Zeeta. "Maukah kau mengembannya?"
Zeeta memantapkan keputusannya, wajahnya pun serupa dengan tekadnya.
"Jika Rhongomyniad bisa mengusaikan segala kekacauan ini, maka aku bersedia!"
Alter mendapati tanah di bawah kaki Zeeta berkilau emas. "Cih! Berani-beraninya kau mendapatkannya saat berbicara denganku!" dia segera menerjang dengan cepat, namun Luna menghalanginya.
'TSRASH!'
Luna menciptakan barrier hexagonal tepat di depan tubuh Zeeta. "Takkan kubiarkan!" cakar mungilnya menahan barrier itu agar tetap terwujud.
"Minggir, dasar pengkhianat!" Alter menambahkan sihir kegelapan yang semakin tebal pada sabitnya.
"Guh!" Luna kesulitan. Ia merasakan kuatnya sihir Alter.
Tiba-tiba....
'DAARR!'
Seseorang menembakkan sihir api pada Alter. "Bicaralah denganku sekarang juga, Alter!" Danny adalah orangnya. Dia datang dengan luka yang cukup parah. Kedua tangannya mengucurkan darah, dia bertelanjang dada dengan kondisi yang cukup bobrok. Demikian pula pada wajahnya, dimana matanya membengkak sebelah. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh lecet dan lebam.
Alter tidak senang sama sekali. "Orang lemah tidak seharusnya ikut campur!"
"Tapi, sebagai orang yang mencintai seorang Zeeta Aurora XXI, aku ingin bicara denganmu!"
"Ap—?!"
__ADS_1
"Lihatlah sekelilingmu, Alter. Apakah kami terlihat bisa memenangkan ini?"
Alter melihat wajah lelah dan berkeringat dari rekan-rekan Zeeta. Baik itu dari Elf, Raksasa, ataupun dua Naga yang masih dalam mode manusianya. Demikian pula pada Æsir yang tetap saja kewalahan melawan Jormungand. Daerah sekitarnya berubah jadi lautan racun yang melemahkan mereka.
"Rencanamu berhasil. Benar-benar berhasil. Kami sudah bertemu dengan Keenai dan L'arc. Kau benar-benar membenci Aurora sampai mengerahkan hampir semua rekanmu ke sana. Jika kak Azure tak ada, kami sudah dilahap habis oleh mereka.
"Banyak teman-teman kami yang tewas karena sihirmu. Kami seharusnya menjadi salah satu dari mereka, tetapi senjata suci ini melindungi kami. Harapan kami hanya tinggal Zeeta seorang. Apakah ketika dia berhasil memegang Tombak Sucinya dia benar-benar mampu mengalahkan semua musuhnya?"
Alter menggeram. "Tentu saja dia bisa! Oleh karena itu kuakan membunuhnya sekarang juga!"
Danny menutup matanya. Ia turun dari langit kemudian berjalan perlahan dan tertarih menuju Alter. Disaat dunia sedang kacau, dihujani oleh hantaman-hantaman sihir, seorang Danny Bloomy ... memeluk Zeeta Alter. Dekapannya erat dan begitu lembut.
Mata terbelalak tidak diperlihatkan hanya dari Alter, namun juga Luna. "A-apa yang kaulakukan?!"
"Sudah kubilang. Aku mencintai seorang Zeeta Aurora. Kendati kau dan Zeeta memiliki sejarah yang berbeda, kau tetaplah seorang Zeeta. Apa aku salah?
"Kita sudah melalui berbagai kesulitan bersama. Aku ... tidak, kuyakin diriku di duniamu juga sudah mencintai Zeeta sejak mereka masih kecil.
"Kau telah membimbingku ke dunia yang cerah, dimana masa depan yang ingin kautuju begitu menyilaukan. Aku ingin mewujudkan itu bersamamu.
"Benar katamu, seorang Danny adalah orang yang lemah. Karena itulah ia bertekad untuk menjadi kuat agar bisa berdiri di samping gadis yang dicintainya dan melindunginya. Tentu saja, dia sadar bahwa kekuatannya sama sekali tak sebanding dengan gadis itu, namun....
"Danny ingin melindungimu dari segala kesedihan ataupun kemarahan yang selalu menghantuinya. Danny tahu Zeeta adalah gadis yang kuat, tetapi juga lemah. Danny....
"Aku ingin melindunginya, tetapi tampaknya aku sudah gagal...."
Alter merasakan tangis mengucur di lehernya. Bahkan Danny pun sesenggukan.
"Maafkan aku.... Maafkan ketidakmampuanku ini, Alter. Tapi ... aku ingin kautahu bahwa aku mencintai Zeeta."
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alter mendengarkan pengakuan cinta dari seseorang. Apa lagi, dia adalah pria yang berada di sisi berlawanan dengannya. Gadis berambut hitam itu menggeram dan berusaha menahan tangisnya. "Sudah terlambat, Danny! Sudah terlambat...." Alter merasakan Danny kehilangan kesadarannya. Ia tiba-tiba melemas begitu saja. Alter segera menidurkan Danny dan mengusap tangisnya.
Disaat yang sama, Zeeta juga sudah memegang sebuah tombak emas berkilau. Dia pun menangis, kemudian mengatakan, "Ayo akhiri ini semua, Zeeta!"
__ADS_1
Alter menoleh pada sumber suara. Ia mendapati sosok berkilau—amat berkilau di hadapannya. Gadis itu terlihat begitu gagah, kendati tangis membasahi pipinya. Dia benar-benar adalah kebalikan dari dirinya. "Tentu saja, Zeeta!"