
[Kekaisaran Seiryuu, beberapa menit sebelum bertemunya dua Zeeta....]
Masyarakat kekaisaran sedang menyaksikan "kekuatan" sang Kaisar, Zero Akihiro, yang telah mampu menangkap seseorang yang mengancam tempat tinggal mereka. Semuanya bersorak-sorai sebab kriminal tersebut hendak dieksekusi melalui mulut seekor Naga.
Jika harus lebih spesifik, "kekuatan" itu adalah dari putrinya sendiri, Hitomi Reiko. Dengan memanfaatkan kondisi mata yang telah dilukai oleh Tellaura, Hitomi Reiko bisa menang dari Penguasa Kekelaman, kendati hanya beberapa puluh menit saja.
Masyarakat, termasuk Putra Mahkota, Arata Akihiro, yang memang berbaur dengan rakyatnya sendiri, seakan semut yang dihempaskan air—berhamburan ke segala penjuru—saat Undine melepaskan kekuatannya pada Penguasa Kekelaman untuk membalaskan perbuatannya pada Kura-Kura Kolosal, Bon.
Ada dari mereka yang tewas karena terhimpit banyaknya jumlah massa dalam waktu yang sama, ada yang karena tidak bisa berenang, terkena hentakan kuat pada bagian tubuh spesifik seperti kepala, dan lain-lain. Yang jelas, setelah kedatangan Undine, segalanya jadi buruk.
Demikianlah menurut kakak dari Hitomi Reiko, sang Putra Mahkota tersebut. Dirinya saat ini tengah kesulitan bernapas, setelah berhasil berenang dan menyelamatkan dirinya dengan naik ke sebuah bongkahan batu besar.
"Kita adalah negara yang kuat! Negara yang ambisius!"
Arata terngiang-ngiang oleh pidato ayahnya sebelum semua kekacauan terjadi.
"Negara yang kuat...?" sambil mencengkeram erat kedua tangannya, dia menggertak gigi. "Apanya yang negara kuat?! Di mana kalian para Naga yang selalu kami sembah dan percaya?!
"Apa kekuatan kalian yang telah diberikan tak bisa menaklukan hal seperti ini? Mengapa banyak orang tewas tak berdaya hanya karena terjangan air seperti ini?!
"Kalian adalah ras terkuat!"
Dengan terus menyakiti dirinya sendiri, mulai dari kepala, tangan, tubuh bagian depan, dan lain-lainnya, Arata menangis.
"Aku bahkan tidak tahu ayahandaku masih hidup atau tidak!
"Kekuatan apa yang sebenarnya kalian berikan padaku untuk selama ini, ayahanda, tuan Carlou?!"
Namun tiba-tiba saja, ditengah-tengahnya ia meracau, Penguasa Kekelaman tertusuk oleh bilah runcing berupa es yang melubangi perutnya.
"Apa yang—?!" Arata kalang kabut. Ia terbelalak dengan mata yang mengikuti ke arah mana Penguasa Kekelaman itu terhempas. Tidak lama setelah ia terbelalak, tanpa pikir panjang, dirinya segera mengeluarkan seluruh tenaganya yang tersisa saat itu juga. Emosinya pun memuncak.
'BWUUMM!'
Dengan tekanan pada kakinya, serta kemampuan bela diri yang diselimuti oleh Ki-nya, Arata melompat lambung. Lompatannya menyebabkan batu yang dipijaknya hancur lebur.
Di udara, ia mengaba-abakan tangan kanannya. Matanya yang masih membelalak itu, tampak berbeda. Kornea mata yang seharusnya bulat seperti Manusia pada umumnya, tidak berlaku padanya di momen ini. Matanya runcing—seperti seekor Naga. Bagian putih matanya juga mengalami perubahan—bukan putih, melainkan hitam.
Di momen yang sama pula, Putra Mahkota berambut putih tersebut mengingat ucapan ayahnya kala ia masih kecil. Saat itu, dirinya sedang dilatih di dalam dojo.
__ADS_1
......................
"Ingatlah ini, Arata!" Zero melantangkan suaranya. "Kunci dari memakai Ki bukanlah untuk memukul atau menendang pada titik-titik tertentu saja.
"Memakai Ki tidak sesederhana itu!"
"Pukulan atau tendangan yang memiliki Ki, atau bahkan serangan semacam sihir dari Ki, semua kekuatan yang kaudapatkan di dalam tubuhmu tidak boleh dikeluarkan sekaligus!
"Jika kau melakukannya, tenaga-tenaga yang berpusat di balik perutmu itu akan balik menyakiti dirimu sendiri."
Arata kecil yang sudah memiliki sedikit bentuk otot di beberapa bagian tubuh seperti lengan dan perutnya, mengernyit. "Ehh...? Jadi, aku harus bagaimana?"
"Alirkanlah.
"Alirkan tenaga yang telah kaukumpulkan, layaknya kau mengaduk air. Sampai air itu kembali tenang, airnya tak mengalami hentakan apapun. Lakukanlah seperti itu!
"Namun, jika kau tidak bisa dan mendapatkan hentakan dalam mengalirkan Ki dari perut ke tubuh yang kauingin gunakan, bayangkan saja hal yang terburuknya."
"Si-siap! Aku akan berusaha untuk mewujudkannya, Ayahanda!
"Tapi ... bagaimana caraku melakukannya?"
......................
"Aku ini anak gagalmu, ayahanda. Seperti apapun kulatih diriku sendiri, aku selalu menemui tembok besar.
"Kegagalanku terhadap ekspektasi besarmu itu membuatku jadi bahan olokan, menjatuhkan nama besarmu, hingga akhirnya membuatku jadi bahan percobaanmu sendiri.
"Tak terhitung olehku sudah berapa banyak Naga yang telah kauberikan kekuatannya padaku. Apa yang kauharapkan dengan semua itu?
"Awalnya aku hanya bisa mematuhimu, sebab menurutku itu adalah jalan terbaik setelah ibu meninggal. Aku juga tak pernah tahu penyebab ibu meninggal!
"Dokumen istana, pelayan dan penjaga istana, prajurit, bahkan hingga rakyatku sendiri, mereka semua seakan tutup mata dan telinga.
"Namun ... setelah Hitomi menunjukkan kekuatan dan rencananya padaku, aku mulai tahu perlahan-lahan apa yang sebenarnya ingin kauraih bersama tuan Carlou, ayahanda.
"Dominasi dan kekuasaan abadi di seluruh dunia, mengisinya dengan kekuatan yang kalian sebut mutlak dari para Naga itu.
"Tetapi, kehadiran Zeeta membuat kalian kalang kabut. Rencana Hitomi yang ingin meluluh-lantakkan dunia ini dengan menghadirkan dunia Raksasa, juga diluar dugaan kalian.
__ADS_1
"Tapi kalian tahu...? Aku tidak suka dengan semua itu. Jujur saja, aku muak dengan semua hal ini, sampai-sampai cita-citaku yang ingin menjadi Kaisar hebat seperti ayahandaku sendiri, berubah jadi ingin hidup santai.
"Jika pukulanku yang masih belum bisa mengendalikan Ki dengan benar ini bisa mengalahkan Zeeta yang ada tepat di depan mataku ini, bahkan jika nyawa adalah taruhannya...."
......................
"AKU RELA MEMBERIKANNYA!
Dari kepalan hingga siku kanan Arata, muncul semacam aura berwarna biru-merah-ungu yang menjadi satu. Langit gelap malam yang diterangi bulan, sesaat dialihkan oleh silaunya lengan tersebut.
'DHUWAK! BWHAM! WOOSH...!!'
Pukulannya memberikan suara dentuman keras. Bahkan air di sekitarnya segera surut karena tercipta sebuah retakan lebar. Disaat yang sama juga terdengar suara retakan, namun tidak pasti suara itu berasal dari tanah atau dari Penguasa Kekelaman. Sayangnya, cipratan air yang cukup banyak karena pukulannya sendiri membutakan Arata.
.
.
.
.
Saat airnya sudah surut secara keseluruhan, termasuk cipratan airnya, Arata bisa tersenyum lebar.
Leher Penguasa Kekelaman terputar sembilan puluh derajat ke lengan kanannya. Terdapat juga bekas luka parah yang merusak pipi dan melepaskan gigi-giginya. Tak terlihat pula tanda-tanda pergerakan darinya.
Tapi kemudian....
Di hadapan Arata, artinya di dekat kepala bagian kirinya, muncul lingkaran bertuliskan Rune Hagalaz.
"A-apa ini?!" seru Arata.
Seakan disuguhi jumpscare, saat itu juga Arata melihat leher Penguasa Kekelaman tegak seperti sedia kala, demikian pula dengan luka di pipi kiri, serta gigi-giginya yang lepas.
Memutar perlahan seolah tokoh horor, Penguasa Kekelaman memandangi sesaat Arata meskipun tanpa mata. Ia perlahan-lahan tersenyum. "Sayang sekali, ya!" serunya meledek.
"Ma-makhluk apa kau ini sebenarnya?!"
__ADS_1
Tanpa bisa mengetahui jawabannya, tiba-tiba Arata terhempas dengan lengan kanannya yang terputus....