
Beberapa menit sebelum Siren menginjakkan kakinya di wilayah Aurora, para bangsawan utama dan sekutunya sedang membahas alasan mengapa mana Zeeta tidak kembali seperti semula, padahal sudah lewat dua hari sejak pembangunan Aurora selesai.
Seperti biasa, Ashley sebagai seorang Grand Duchess dan sekaligus guru sihir Zeeta, ia menerka satu alasan yang memungkinkan. Karena rasa percayanya pada seluruh lawan bicara sudah terbentuk, juga karena semua yang hadir di situ sudah mengetahui kondisi Zeeta, maka Ashley hendak mengatakan yang sebenarnya.
"Ini bukan karena dia lemah setelah pembuatan medan penghalang," ungkap Ashley, "kurasa ini ada hubungannya dengan guncangan, mana yang terasa jahat, serta panas yang tiba-tiba kita semua rasakan beberapa hari yang lalu.
"Bukankah begitu, Luna?"
Luna yang sejak awal duduk di "takhta"-nya sendiri, bangun dari posisi tidur menyampingnya. "Benar," sahutnya.
Semua orang di sana terkejut. "Mengapa? Apa alasannya?" tanya mereka.
"Ini bukan waktu yang tepat bagiku untuk mengungkap semuanya, tapi akan kubagikan apa petunjuknya." Luna mengatakannya dengan tatapan tajam.
Semua orang lantas mengharapkan jawaban serius dari Roh itu.
"Phantasmal," sambung Luna. "Kalian sudah pernah mengalami sendiri bagaimana kekuatan sebuah Phantasmal. Tentu saja, yang akan jadi lawan kita selanjutnya bukanlah Phantasmal yang menjadi Hollow, tetapi sesuatu yang lebih mengerikan dari itu.
"Namun, mencemaskan hal seperti itu tidak akan membawa kita menjadi lebih aman."
"Lalu apa maksud Anda, Roh yang Agung?!" bentak Claudia tiba-tiba, dengan urat kepala yang timbul di sudut keningnya. "Apa Anda juga akan mengatakan ancaman ini harus diatasi oleh Zeeta... seorang diri?!"
"Chloe... tenanglah!" Lowèn merangkul bahu istrinya.
"Sejujurnya, aku punya dua berita buruk untuk kalian." Luna tidak menghiraukan amarah Claudia.
"Satu; Morgan sudah mengetahui keberadaan Benih Yggdrasil yang kedua. Dua; Benih Yggdrasil itu dikalahkan oleh Phantasmal yang kusebut tadi."
Setiap orang di sana merasa tak percaya dengan yang mereka dengar. Mereka juga menganga dan menjatuhkan peluh dari kening.
"Roh yang Agung ... sebenarnya, dunia sihir ini sedang terancam oleh apa...?" tanya Agatha.
"Meskipun kau bertanya, aku takkan menjawabnya." Jawaban Luna membuat semuanya terkejut dan mengerutkan alis. "Aku sebagai Roh, adalah sosok yang akan membimbing Zeeta, bukan untuk kalian.
"Walau aku lebih kuat dari Zeeta, ia tetap kuhormati sebagai manusia yang ingin menjadi lebih kuat dan membuktikan bahwa ia bisa memenuhi kepercayaan yang terlalu besar baginya dari semua orang.
"Aku tahu semua yang berkumpul di sini sudah membentuk ikatan yang mampu memukul mundur sebuah Hollow tanpa bantuan Zeeta dan aku.
"Tapi, itu takkan mengubah jawabanku. Aku takkan memberitahu kalian. Namun, bila Zeeta ingin mengatakannya, maka kuserahkan itu padanya.
"Itu karena ... jawaban itu menyangkut soal siapa jati dirinya."
......................
Zeeta yang menyelam ke dalam danau yang memisahkan wilayah penduduk dan istana, menemukan sebuah batu raksasa yang menyerupai pintu, dimana di tengahnya terdapat lambang bulan—sama dengan yang ada di anting kirinya—pun dengan waktu bersinarnya yang menyesuaikan perputaran bulan.
Ketika Zeeta berenang semakin mendekat ke pintu tersebut....
"Jangan!"
Zeeta dihentikan oleh sebuah suara. Ia menoleh ke sekelilingnya, namun tiada siapapun selain hewan dan tumbuhan. Yang membuatnya semakin kebingungan adalah, meskipun akar yang melilit istana sangatlah besar, tetapi mengapa tak ada secuil pun akar yang timbul baik dari dasar danau atau dari bawah daratan istananya?
Disaat yang sama, Zeeta yang mananya tersambung dengan medan pelindung sensor, juga merasakan kehadiran Siren. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat ini sampai masalah ibunya selesai.
"Kak Zeeta, ada apa tiba-tiba menyelam?" tanya Ella ketika Zeeta baru menginjakkan kaki di tanah.
"Bodoh, dia ingin mencari informasi untuk membebaskan bibi kita, tahu!" bentak Edward.
__ADS_1
"Edward! Jangan sebut adikmu dengan 'bodoh'!" Zeeta justru balik membentak Edward. "Aku tidak menyukai, tidak mengizinkan, ataupun ingin dengar lagi ucapan itu kalian pakai untuk sebutan satu sama lain. Paham?!"
"I... iya...." Keduanya menjawab bersamaan.
"Jawaban bagus! Nah, ayo kembali. Kita kedatangan tamu." Zeeta mempersilakan sepupunya kembali naik ke awan buatan sihirnya.
"Tamu...? Siapa?" Si Kembar saling bertatapan, tak paham apa maksudnya.
......................
"Entah kenapa... aku tiba-tiba bosan," kata Danny, yang masih ada di kediaman Ophenlis.
"Cih... aku benci mengakuinya, tapi aku juga sama denganmu," balas Gerda, "apa boleh buat, kita disuruh menunggu sebelum Luna menyuruh kita datang...."
"Meski begitu... Zeeta hebat, ya," timpal Mellynda, "kerajaan Aurora seperti berubah seratus delapan puluh derajat."
"Ini bukan waktunya kalian memikirkan diri sendiri atau memuji Zeeta! Aku justru khawatir dengannya!" sangkal Azure. Ia juga terlihat menggoyangkan kaki kirinya ke atas-bawah.
[Sementara itu, di sepuluh kilometer dari kerajaan Aurora....]
"Apa kau bodoh?" tanya sosok bertelinga dan ekor rubah... berwarna perak.
"Si-siapa kau...?!" Siren segera mengambil jarak.
"Apa kau bodoh?!" rubah berwarna perak itu mengulangi ucapannya. "Kaubisa membentuk diri menjadi manusia, mana mungkin aku tidak bisa!"
"O-oh, ternyata... Luna, kah...." Siren terlihat lega. "Lalu, apa maksudmu aku ini bodoh? Aku hanya ingin membawa Lutz agar bisa disembuhkan!"
"Aurora baru saja tenang. Zeeta tidak bisa direpotkan lagi oleh masalah kecil seperti ini." Ucapan Luna justru menyulut emosi Siren.
"Masalah kecil?! Lutz hampir mati, lho!"
"Lalu kauingin aku membiarkan dia mati?!"
"Cih... ini merepotkan. Phantasmal itu menyerap setiap kekuatan yang ada hubungannya dengan Roh...." Luna tampak menggigit kuku ibu jari kirinya.
"Eh? Kenapa kaubisa tahu jika musuh itu Phantasmal?"
"Masalah itu pikirkan nanti saja! Kau merasakan sendiri jika mana dariku ataupun Zeeta berkurang—sama sepertimu, 'kan? Itu artinya, kau tidak bisa bergantung pada kami."
"Tidak mungkin...."
Luna berpikir lebih keras lagi untuk menemukan jalan keluar lain dari masalah ini.
"Ah!" Luna tampak mendapatkannya. "Anak itu mungkin saja bisa!"
[Beberapa saat kemudian....]
Danny, Mellynda, Gerda, dan Azure dipanggil oleh Luna. Ia juga sempat menjelaskan secara singkat pada mereka tentang apa yang terjadi pada Roh Yggdrasil dan Wadahnya itu. Dan kini, wajah keempat anak tersebut begitu merasa tidak nyaman. "Apakah kita harus menyelamatkan orang tak tahu diri ini...?" begitulah yang mereka pikirkan. Namun....
"Azure, tolonglah dia," pinta Luna.
"Sebelum itu, Roh Siren, beritahu aku," sahut Azure dengan wajah yang tak senang. Ia masih sangat ingat rupa bocah lelaki tak tahu diri yang tiba-tiba ingin menikahi Zeeta tanpa memahami situasi. "Untuk alasan apa kau dan anak ini diam-diam mengamati Zeeta? Aku takkan menerima jawaban semacam 'ini untuk penilaian calon tunangannya'! Jawab aku sejujur mungkin!"
Siren terpejam sesaat. "Jika bisa membantu Lutz sembuh, maka...." iapun membulatkan tekadnya.
"Itu karena keinginan pribadi Lutz," jawab Siren dengan mata lurus memandang Azure. "Dia ingin menguak semua rahasia dunia sihir ini. Kami hanya kebetulan merasakan keberadaan Benih Yggdrasil lain saat kami berkelana."
__ADS_1
"Untuk apa dia ingin menguak rahasia itu? Jangan bilang dia ingin menjadi nomor satu?"
Siren mengedipkan matanya beberapa kali, seolah tak percaya ia bisa menebaknya. "Y-ya, itu benar...."
"Jangan bercanda...."
"Eh?"
"Anak itu hanya akan menjadi Bastanil Rowing yang selanjutnya! Dia adalah bangsawan yang hanya peduli pada dirinya sendiri! Meski kau memilihnya sebagai Benih Yggdrasil dan sudah sering bersamanya....
"'Menjadi nomor satu' adalah jawaban teregois dari semua makhluk! Kenapa bangsawan selalu begini?!"
"Jangan merasa kau paling benar, Nak," sanggah Siren, yang merasa tak senang sama sekali. "Jika dia memang Manusia yang seperti itu, takkan mungkin dia kupilih sebagai Benih Yggdrasil. Kami tidak hanya memilih Wadah hanya dari kapasitas atau kuat-lemahnya mana seseorang.
"Aku takkan repot ke kerajaan orang lain jika aku bisa menyembuhkannya dengan kekuatanku sendiri. Aku tidak peduli apa masalahmu dengan bangsawan, tapi masalah nyawa sudah berbeda lagi, Nak.
"Kauingin bilang nyawa Lutz tak berguna, hmm?"
"Siren. Tenanglah. Dia masih anak-anak." Luna menengahi.
"Cih." Azure mengalah karena menghargai Luna. "Keluarkan dia. Aku hanya perlu menyembuhkannya, 'kan?" Siren segera mengiyakannya.
Setelah meletakkan Klutzie yang terbalut perban di seluruh tubuh, Azure mengeluarkan sebuah Buku Sihir yang tebal halamannya. Tepat ketika dia mengeluarkannya, Siren terkejut dengan mana yang mengalir dari buku itu.
"Mana ini...?" batin Siren.
Buku Sihir Azure, yang bersampul hitam keunguan dan terdapat bola kristal hijau di tengahnya, terbuka pada sebuah halaman spesifik, yang tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari sana—sebuah kepompong hitam kemerahan yang menelan Klutzie.
"Hei," bisik Danny pada Gerda.
"Cih, apaan, sih?" tanya Gerda, yang juga berbisik.
"Ini pertama kalinya kita melihat Kak Azure bersihir, 'kan?"
"Ya, lalu?"
"Yah... aku hanya merasa sihir kegelapannya tidak mengancam ... justru, lebih ke melindungi...."
"Tentu saja, bodoh! Kita semua kan tujuannya ingin melindungi Zeeta!"
"Tidak... kurasa tidak hanya karena itu...."
"Ah, diamlah dan perhatikan saja!"
"Ba-baiklah...."
Setelah memakan waktu lima menit, kepompong itu menetaskan Klutzie, lalu kembali ke Buku Sihir Azure, dan hilang begitu saja.
Siren tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Kenapa anak biasa sepertinya bisa sihir seperti ini? Dia juga bahkan tidak ada hubungannya dengan mana alam atau makhluk sihir apapun!" batinnya.
"Terlebih... luka bakar separah itu bisa sembuh dalam waktu lima menit...? Apa anak-anak lainnya punya potensi sama dengan dia?
"Kalau begini, mungkin saja Suzy bisa...."
Azure bertolak pinggang lalu melemaskan lehernya. "Luna, kembalilah dan beritahu Zeeta. Sebaiknya kita perlakukan mereka sebagai tamu. Aku tidak ingin Zeeta terlibat dengan masalah mereka, karena pasti Peri bajingan itu akan memata-matai kita lagi."
"Oh, tenang saja. Dia sudah bersiap, kok," jawab Luna.
__ADS_1
"Sialan.... Aku sangaaaaat tidak ingin Zeeta bertemu dengannya, tapi apa boleh buat...."