Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keputusan Azure


__ADS_3

Ini terjadi ketika Azure baru saja dibawa pergi oleh Lucy dan setelah ia berbincang dengan Luna. Ketika ia sadar, Azure mendapati dirinya di sebuah kamar, lengkap dengan kasur, bantal, dan selimut, serta sihir yang menyejukkan ruang berupa butiran-butiran putih yang terus jatuh dari langit-langit kamar.


Tempat ini terlalu nyaman untuk dijadikan tempat sandera, begitulah pikirnya. Di sudut kamar, terdapat pintu. Meskipun dia tidak tahu ke mana pintu itu mengarahkannya, kepalanya dipenuhi dengan pikiran “segera keluar dari sini”. Mau tidak mau, ia membuka pintu itu. Begitu dia membukanya, Azure segera terbelalak. “Di... dimana ini?” gumamnya.


“Oh, kau sudah siuman?” Lucy menunggu di sisi pintu.


“Ka-kau?!” Azure segera memberi jarak darinya.


“Aku tahu kau takut padaku, tapi untuk saat ini aku takkan melakukan apapun padamu. Jika kauingin pergi, maka pergilah sekarang. Tapi ....”


“Apa? Jangan bilang kauingin menggunakanku sebagai alat balas dendammu, karena aku juga bernasib sama denganmu, begitu?!”


Lucy terdiam sesaat....


“Tidak. Bukan itu. Aku hanya ingin kau mendengarkan dan jadi rekan bicaraku. Sejak berhadapan dengan mereka, rasa dendamku entah kenapa merasa terangkat sedikit.


“Apa kaupunya keberanian untuk itu? Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau tidak ingin melakukannya.”


Azure melihat kembali apa yang ada di seberang pintu itu. Itu adalah padang bunga yang tampak sangat indah sekali dengan berbagai macam bunga yang tumbuh. Lily, mawar merah dan biru, dan berbagai bunga hias lainnya.


“Kauingin bicara tentang apa?” tanya Azure.


“Aku ingin tahu kenapa kaubisa melepas dendammu begitu saja.”


Azure mengerutkan alisnya. “Hah? Melepaskan dendamku?”


“Oh? Kau balik bertanya, itu tandanya kauingin jadi rekan bicaraku? Syukurlah. Ayo, sembari bicara mari nikmati pemandangan ini.”


Dengan berat hati, Azure mengiyakannya.


......................


Azure dan Lucy duduk melonjorkan kaki. Tangan Lucy menahan beban tubuh dengan ditarik ke belakang.


“Jadi, apa maksudmu?” tanya Azure.


“Aku tahu kau kehilangan seluruh keluargamu karena keegoisan bangsawan. Aku tahu kau juga pernah memiliki rasa dendam yang amat sangat kuat pada bangsawan itu, dan jika kau tidak membuatnya merasakan hal yang sama denganmu, kau takkan puas.


“Lalu kenapa… kenapa kaubisa melepas rasa dendam itu setelah bertemu Zeeta?


“Keluargaku dibunuh oleh keluarga kerajaan. Tidak hanya keluargaku, kerabat-kerabatku yang hubungan darahnya hanya sedikit dari kami juga dieksekusi. Aku tidak mengerti sampai saat ini kenapa mereka tega melakukan itu. Tidak bisakah suatu masalah diselesaikan dengan damai, tanpa adanya eksekusi itu...?


“Terlebih ... keluargaku dibantai di depan mataku sendiri....”


Azure mencoba menjawab pertanyaan itu semampunya. “Aku tak tahu apa yang kukatakan ini bisa dimengerti olehmu. Apa yang membuat kita berdendam mungkin adalah hal yang sama, tetapi ada satu yang berbeda dari hidup kita.


“Yaitu penyelamat."


Lucy sedikit terkejut mendengar ini.

__ADS_1


“Zeeta menyelamatkanku tanpa ragu, disaat dia tidak tahu siapa dia sebenarnya, apa tugasnya, dan bahkan siapa orang tuanya. Meskipun dia orang yang cengeng dan mudah menyerah, dia adalah orang yang kuat.


“Dia sebenarnya juga hampir saja merasakan apa yang kita rasakan ini, dan mungkin saja ... karena hal itulah, awal dari ramalan Ratu Peri mulai tumbuh.


“Rasa sakit, pedih, dan sepi yang ditimbulkan dari dendam memang membuat seseorang jadi sangat kuat. Tetapi disaat yang sama, dendam juga membuat orang itu jadi monster yang tak peduli dengan siapa yang ia bunuh.


“Aku bersyukur karena bisa bertemu dengannya dan aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku akan melindunginya.”


Lucy tersenyum hangat. “Begitu ya.”


“Ah … rasa hangat di hatiku ini…. Sejak kapan aku tidak pernah lagi merasakannya…?” batin Lucy.


“Sebagai balasan karena sudah menjawab pertanyaanku, aku akan memberimu dua pilihan. Pergi dari sini dengan damai, atau tetap bersamaku dan kulatih sihir kegelapan itu.”


Azure lagi-lagi mengerutkan alis. “Ha-hah?! Berlatih denganmu?!”


“Aku takkan melakukan apapun selama tujuh tahun. Itulah yang kujanjikan pada orang-orang itu. Tapi perlu kautahu, ada banyak ancaman lain yang lebih berbahaya dariku. Aku tidak tahu kapan mereka akan bergerak, tapi lebih baik ada persiapan, bukan?”


“Kkkhhh.... Apa buktinya kalau kaubisa kupercaya?!”


“Tentu saja padang bunga ini.”


“Hah?” Azure sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya ini. Tujuh keliling lautan dunia pun mungkin belum mampu membuatnya paham.


“Aku takkan repot-repot mengubah hamparan tanah kering jadi padang bunga begini.”


“Eh...? Padahal banyak anak kecil yang menelan bulat-bulat kalau orang yang ada di hamparan bunga begini bukan orang yang jahat....”


“Berlagak seperti itu takkan menghapus apa yang sudah kauperbuat! Kau ini maunya apa?!” akhirnya Azure terpaksa mengeluarkan emosinya karena ketidakjelasan sifat dan kelakuan Lucy.


Lucy tersenyum kecut, lalu bangun dari duduknya, mengambil sebanyak lima langkah ke depan lalu berbalik badan. “Dunia yang kaulihat terlalu kecil untuk kau nilai.


“Azure, apa kautahu kenapa sihir ada di dunia ini?


“Apa kautahu kenapa Yggdrasil ada di dunia ini?


“Kenapa ... manusia jarang berdamai dengan makhluk sihir lain?


“Kau tentu sadar, atau kau setidaknya tahu. Hanya Zeeta seoranglah Manusia yang tidak menimbulkan perang antar ras setelah mempertemukan mereka satu sama lain.”


Azure tidak mengerti ucapannya. “Apa maksudmu?”


“Manusia berperang dengan Peri, Raksasa, dan makhluk sihir lain disaat Yggdrasil masih ada. Kautahu itu, bukan?”


“Ya,” jawab Azure singkat.


“Lalu apa yang menyebabkan perang itu?


“Dunia ini menyimpan banyak rahasia yang menakutkan jika diungkap. Aku adalah bagian darinya. Kalian tidak tahu siapa aku, tetapi aku tahu kalian. Yah, meskipun beberapa dari kalian sadar siapa aku, tetapi kalian tetap tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi....

__ADS_1


“Atau bahkan mencoba untuk mengerti.


“Singkirkan. Eksekusi. Hukuman.


“Manusia adalah makhluk yang bodoh. Tetapi kenapa justru mereka yang paling terampil dalam menggunakan sihir? Azure, Roh Yggdrasil itu bilang padamu kalau sihir kegelapanmu bahaya, tetapi dia juga mengajarimu cara untuk menggunakannya di pihak kebaikan.


“Sadarlah, Nak. Kegelapan hatimu tidak sedangkal itu. Sama seperti anak itu.”


Azure bergidik kesal mendengar semua yang diucapkannya masih tak membuatnya paham sepatah kata pun. “Apa yang ingin kaukatakan?!”


“Kemarilah. Aku akan membukakan padamu salah satu rahasia dunia di seberang kerajaanmu.” Lucy mengubah hamparan bunga di bawah kakinya menjadi “layar” yang menampilkan suatu kejadian.


......................


[POV Azure.]


Aku masih tidak mempercayai sepenuhnya apa yang diperlihatkan dia padaku. Tetapi aku pun merasa


dia tidaklah berbohong.


Dunia ini sama sekali tidak aman. Dunia ini benar-benar dalam bahaya, dan Zeeta-lah kunci untuk menutup bahaya itu.


Jika apa yang diceritakan Zeeta pada kami tentang motif Ratu Peri Feline menipu kerajaan Aurora selama 300 tahun adalah karena bahaya ini ... aku tak bisa memilih salah satu pihak saja.


Tapi.... Itu membuatku berpikir lagi.


Belahan dunia sana bukanlah dunia yang hijau, ceria, dan penuh gelak tawa, serta hiruk pikuk kehidupan hewannya. Hitam kelabu, dipenuhi dengan makhluk berbahaya yang memantik api kebencian, ketakutan, dan keputus-asaan ke manapun mereka berjalan, semakin mendekat ke Aurora perlahan-lahan.


Kalau kuingat lagi, bentuk kehidupan di belahan dunia sana mirip sekali dengan apa yang pernah menyerang Aurora.... Ya, mereka seperti Phantasmal—Hell Hydra—yang pernah dikalahkan Zeeta dengan Catastrophe Seal-nya.


Tapi ... kenapa dia memerlihatkanku ini? Apa yang dia inginkan dariku? Terlebih, aku merasa aneh dengan gelagatnya, tetapi dia tetaplah seorang pembunuh. Dia ingin menyampaikan sesuatu yang tersirat padaku ... tapi ... apa?


....


....


....


Tidak. Aku harus memantapkan hatiku. Apapun jalan yang kupilih, ini kulakukan demi melindungi Zeeta, dan melindungi dunia yang ingin dia lindungi! Bahkan jika itu membuatku dikira sebagai komplotannya!


......................


Lucy menengok ke Azure yang memegang punggung tangannya. “Biarkan kulatih kegelapanku denganmu!” seru Azure.


“Heee....” Lucy tersenyum. “Kau mungkin bisa menjadi pembunuh, sama sepertiku, lho....”


“Jangan samakan aku denganmu. Sudah kukatakan, meski kita memiliki alasan dendam yang sama, kehidupan kita saling bertolak belakang!”


Lucy tersenyum puas mendengarnya. “Baguslah. Tidak usah buang waktu lagi, ayo mulai latihannya!”

__ADS_1


__ADS_2