Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Cahaya yang Akan Bersinar Hingga Ujung Dunia 1


__ADS_3

Kediaman Levant yang melayang di udara, di kamar Karim, dirinya sedang memegang lukisan pohon raksasa yang tampak wajar-wajar saja. Tidak ada yang terlihat aneh atau mencurigakan, baik dari warna lukisan atau gaya gambarnya. Zeeta duduk di sebelah kanan kakeknya dan ikut memegang.


Kemudian, anting bulan Zeeta bersinar biru dan lukisan itu seakan meresponnya. Ia ikut bersinar sesuai warna yang terdapat di sana, seperti hijau pada rumput dan dedaunan, cokelat pada batang, ranting, dan tanah, serta birunya langit yang ditemani putihnya awan. Melindungi matanya dari silau, Zeeta menutup matanya rapat, dan ketika ia membuka matanya....


"Di... di mana ini...?!" Zeeta tiba-tiba mendapati dirinya berada di dekat sebuah hutan. Anehnya, walau di hadapannya ada hutan, ia berdiri di atas pasir. Ia juga sadar, bahwa tubuhnya di sini tampak tembus pandang.


"Sudah kuduga." Luna, yang sejak awal duduk di bahu Zeeta, akhirnya bersuara.


"Luna? Kautahu tentang ini?"


"Yah, sedikit."


"Zeeta," tutur Karim yang berdiri di samping cucunya, "secara turun-temurun, Levant menjaga Sumpahnya dengan cara ini. Namun, hanya beberapa orang saja yang mampu melihat pemandangan ini."


Zeeta tidak mengerti. "Aku tidak paham. Bukannya itu malah terdengar berkontradiksi?"


"Mereka yang mampu melihat pemandangan ini adalah mereka yang pernah dipilih oleh Roh Kuno Api, Ifrit."


"Ifrit...? Kenapa namanya terseret dengan pemanda...?" Zeeta lantas mengingat, bahwa ayahnya—Hazell—memercayakannya Ifrit di anting bulannya. "Jadi, ayahku pun melihat pemandangan ini?"


Karim mengangguk.


"Apa memangnya yang ada di sini?"


"Lihat saja sendiri." Tidak lama setelah Karim mengatakannya, Zeeta dan Luna melihat seorang Dryad—seorang wanita berambut hijau dan tubuh yang diselimuti oleh sinar yang sewarna dengan rambut—keluar dari hutan, kemudian disusul oleh wanita lain berambut merah setengkuk dan bermata hijau. Ia berpakaian serba hitam yang terbuat dari gabungan kulit hewan dan beberapa kain.


"Usir dia sekarang juga, Dryad!" seru Si Wanita, "Pria itu benar-benar berbahaya! Walau kauyakin dia tidak akan membahayakan hutan dan penduduknya, tapi—"


"Kekuatan ramalan milikmu itu pun berbahaya bagi kami, asal kautahu, Lynn."


"Kekuatan ramalan...?" Zeeta mengernyit, yang kemudian melihat sekitarnya. Ia mendapati Yggdrasil, pasir, serta hutan. Didengar dari konteks bicara dua orang itu, maka.... Zeeta lantas terkesiap. Dia masih ingat pemandangan ini dengan SANGAT jelas. "Kakek...?!" jeritnya, "jadi, ini adalah Fyrriheim?!"


Namun, jawaban yang dikira ternyata melenceng. Karim menggeleng, lalu menjawab, "Ini benar-benar Bumi tiga ribu tahun yang lalu."


"TI-TIGA RIBU?!"


......................


Wanita berambut merah itu terbungkam setelah Dryad itu menyindirnya.


"Semua seperti yang sudah kujelaskan. Pria bernama Gala itu diberikan sihir oleh Yggdrasil semalam. Kuputuskan untuk melindungi dia di hutan ini."


"Tapi, Dryad! Ramalanku—"


"Berikan dia waktu istirahat dan berpikir saja, apa kau tidak bisa? Bukankah kau sama-sama seorang Manusia sepertinya?"


Lynn merenung kembali. "Haahh... baiklah. Tapi, jika ada apa-apa, aku angkat tangan. Aku sudah mengingatkanmu."


Lynn kembali masuk ke hutan. Di dalamnya, ada Gala yang sedang menunggu bersandar di sebuah pohon. "Tenang saja. Aku akan segera pergi."


Lynn tidak mengatakan apapun dan terus berjalan.


Tidak lama kemudian, Dryad datang dan mengundang Gala semakin masuk ke dalam hutan. Dryad itu membiarkan Gala bebersih diri dari semua noda di tubuhnya, baik darah, pasir, debu, dan lain-lain, di sebuah sungai yang mengalir tenang. Mereka juga mengiringi kegiatan tersebut dengan berbicara dan saling membelakangi punggung.


"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Dryad.


Gala terdiam sesaat sambil memandangi telapak tangannya. "Aku ingin mencari tempat untuk menguburkan darah putriku. Setelah itu....


"Mungkin aku akan berkelana untuk mencari arti hidupku."


"Bukankah kau akan membalas dendam pada Raksasa, Naga, dan Peri yang membuat kelompokmu mati?"

__ADS_1


"Setelah membalaskan dendam, lalu apa? Sekalipun aku bisa membangkitkan mereka, aku hanya akan membuat hidup mereka semakin sengsara."


"Apa kauyakin? Bahkan dengan sihirmu, kaubisa melakukan lebih baik dari dirimu yang kemarin."


Gala terdiam lagi. Kini ia memandangi pantulan dirinya di air yang menunjukkan setengah rambut bagian atasnya berubah perak. "Aku ... tidak tahu. Aku ... tidak tahu, Dryad...."


"Kalau begitu, tinggallah di sini untuk sementara."


"Tidak! Aku tidak bisa! Aku hanya akan membawa kesialan bagi—"


"Jangan pikirkan apa kata Lynn. Dia mungkin memang memiliki suatu kekuatan, tetapi kau juga tidak memiliki tempat untuk berteduh dan istirahat. Aku akan melakukan sesuatu pada Raksasa dan Naga, selama itu, carilah jawabanmu sendiri."


"....


"Terima kasih.... Izinkan aku terima tawaran itu."


Dryad tersenyum. "Ya. Sama-sama."


.


.


.


.


Kemudian, malam menghampiri, Gala tidur di bawah pepohonan, tanpa alas apapun, atau bahkan selimut. Ia tidur dalam posisi duduk meringkuk dan bersandar, sambil tetap memeluk wadah darah beku berbentuk memanjang milik putrinya. Ia akan menguburkannya esok.


Zeeta, Luna, dan Karim yang menjadi penonton, melihatnya. Bagaimana seorang Lynn datang diam-diam dan berdiri tepat di hadapan Gala. Ia menatapnya dengan penuh benci bahkan hingga menggertak gigi. "Kenapa kau memilih cara itu?! Kau melibatkan semua Manusia di Bumi ini! Andai kau tak ada, maka—"


Lynn terbelalak seraya terkesiap. Ia mundur beberapa langkah. Mata hijaunya melihat Gala yang terlelap menitikkan air matanya, mulutnya pun mengigau, "Flare ... Ars... maafkan aku.... Semuanya... maaf...."


"Tch...!" Lynn mengurungkan niatnya yang hendak melukai Gala. Ia pergi begitu saja.


......................


Dryad yang pada awalnya membiarkan Gala seperti itu, akhirnya tidak tahan. Ia bicara dengan Manusia itu, setelah dua hari membiarkannya tidak makan, minum, dan hanya fokus mencari tempat manapun yang bisa dijadikan "kasur nyaman" untuk putrinya. Tubuh Gala tampak bobrok, kurus, dengan janggut-kumis yang memanjang lebat, serta kantung mata panda.


"Cukuplah, Gala!" bentak Dryad. "Kenapa dirimu harus repot-repot meminta izin dari penduduk hutan ini dikala AKU SUDAH MENGIZINKANMU untuk tinggal di sini?!"


Gala merespon Dryad lambat. Bola matanya memutar untuk menatap lawan bicaranya juga berdurasi serupa. "Bila ... bila tidak ada yang bersenang hati menerima kami ... dia tidak akan tenang... aku yakin itu... dia ... ketakutan... aku mendengar suaranya...."


Dryad mengernyit. "Suara, katamu?" ia juga tampak tidak senang. "Izinkan aku melihat darah putrimu."


Gala memberikannya dengan tangan yang sangat bergemetar hebat. Dryad tidak tega melihatnya, sampai harus memaksa dirinya agar tetap tenang dengan menggigit bibirnya.


"Segeralah kuburkan dia, Gala. Entah dimanapun, dia pasti mengerti. Suara itu pasti—"


"Aku tidak membual, Dryad."


Dryad tampak gundah. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ia tidak yakin.


"Kalau kau ingin mengusirku, aku akan segera pergi seka—"


"Ada tempat yang mungkin cocok untuk menguburkannya, tetapi itu bukan di sini."


Secercah cahaya tampak di masing-masing mata Gala. "Benarkah?"


"Tempatnya jauh, jadi kumohon istirahatkan dirimu dan makanlah dulu."


"Tenang saja, aku bisa sendiri! Segera beritahu a—" mendadak Gala terjatuh begitu saja.

__ADS_1


Zeeta merenung dengan wajahnya yang serius. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, Karim dan Luna menyadarinya. Namun, karena Zeeta tidak mengatakan apapun, maka keduanya diam dan tetap memerhatikan sejarah yang terjadi secara live ini.


.


.


.


.


Keesokan paginya, Gala terbangun, dan di sebelahnya terdapat berbagai macam buah-buahan serta sebotol air. Dia sadar dirinya berada di atas tumpukan dedaunan dan ada sebuah selimut rajutan. Kebingungan dengan segala di sekitarnya, ia mengingat-ingat lagi apa yang terjadi. Begitu ia mengingat, ia segera mengambil beberapa buah dan memakannya dengan lahap. Saat ia makan itulah, Lynn menghampirinya.


"Setelah makan, aku akan menemanimu ke tempat yang disebut Dryad." Lynn bertolak pinggang.


"Benarkah? Terima kasih." Gala lanjut makan.


"Asal kautahu saja, meskipun aku mengiyakan Dryad, bukan berarti aku segan untuk membunuhmu!"


"Bunuh saja aku sekarang kalau kau memang ingin."


"Ap...? Kau... meremehkanku?"


"Kau tidak bisa bersihir, 'kan? Jangan harap bisa membunuhku tanpa sihir."


"Cih... seharusnya aku membunuhmu saat itu...."


"Daripada wanita sepertimu bicara tentang 'bunuh-bunuh', duduklah." Gala lalu melempar satu buah yang ada di dekatnya pada Lynn. "Tidak mungkin kumakan semuanya sendirian. Kau juga butuh energi untuk menemaniku."


"Siapa yang sudi!" Lynn membanting buahnya ke tanah hingga hancur. Tidak peduli, ia segera mengangkat kaki dari sana.


Gala segera memakai sihirnya untuk mengembalikan lagi buah hancur itu seperti sedia kala, kemudian memakannya. "Dasar. Padahal lezat."


Lynn yang melihatnya dari sudut mata, segera menggertak gigi. "Dasar pria yang aneh!"


.


.


.


.


Beberapa belas menit kemudian, Gala bangun, membungkukkan setengah badannya lalu bilang, "Dryad dan semua penduduk hutan, aku sungguh berterima kasih pada kalian. Terima kasih sudah membiarkanku berteduh di bawah pohon sejuk ini, terima kasih telah membiarkanku hidup walau aku adalah mangsa yang empuk.


"Terima kasih atas makanan yang telah kalian bagikan ... dan tentu saja, terima kasih Lynn."


Gala segera keluar dari hutan untuk mencari Lynn. Tidak begitu sulit baginya, sebab sihir membantunya. Begitu ia keluar, Lynn telah menunggu sambil menyilangkan tangan dan tampak sangat jutek sekali.


"Maaf membuatmu lama menunggu," ujar Gala," jadi, kemana kita akan pergi?"


Lynn menyadari ada yang bertambah dari penampilan Gala, yaitu tas selempang keranjang. "Kau...? Sejak kapan membuat itu?" Lynn menunjuk tasnya.


"Oh ini? Kelompokku dulu sering membuatnya. Selama perjalananku ke sini, aku mengambil ranting-ranting yang berserakan dan menyihirnya menjadi seperti ini. Sayang kalau berserakan begitu saja. Apa kau juga mau kubuatkan?"


"TIDAK, TERIMA KASIH!"


"O... oke...."


"Hmph. Bersiaplah. Tujuanmu adalah Ujung Dunia."


"Ujung Dunia?"

__ADS_1


"Ya. Inilah yang membuatku enggan mengizinkanmu hidup di hutan itu, kau hanya akan—argh! Sudahlah, ayo!"


Gala mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba memahami namun gagal. "Ba-baiklah...." Ia hanya pasrah dan mengikuti Lynn dari belakang.


__ADS_2