Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sang Roh Yggdrasil, Luna


__ADS_3

Pukul sebelas malam, melalui lingkaran sihir berwarna biru terang, Zeeta muncul di tengah-tengah reruntuhan bangunan penduduk Wilayah Timur. Tak ada seorang pun yang hadir di sana. Dalam kesunyian malam dan tiupan angin dingin, membuat Zeeta termenung... meskipun banyak orang sudah mengatakan padanya jika nyawa-nyawa itu tidaklah sepenuhnya ada di tangan Zeeta, tetap saja ia merasa bertanggung jawab. Jika ... jika saja ia lebih dewasa dan lebih kuat, mungkin ia bisa menyelamatkan semua orang. Penduduk desa Wilayah Timur yang menjadi korban Hell Hydra tidaklah sedikit, banyak orang yang pasti berduka atas kematian mereka. Lantas, ia terpikir lagi... apa yang seharusnya ia lakukan sebagai Tuan Putri jika masalahnya seperti ini?


Roh Rubah yang selama ini duduk di atas kepala Zeeta, akhirnya melompat turun dan menatap Zeeta. Ia kemudian bertanya, "Apa yang kaupikirkan ketika kau tetap tidak mampu melindungi orang yang berharga untukmu?"


Zeeta menatap reruntuhannya kemudian menjawab, "Aku merasa lemah."


"Meskipun kau memiliki kekuatan yang luar biasa besar?"


Zeeta mengangguk.


"Lantas, apa orang-orang yang tewas hari ini adalah orang berharga bagimu?"


Pertanyaan Roh Rubah itu membuat Zeeta menatapnya heran. "Apa maksudmu?"


"Kau tidak tahu wajah atau bahkan nama mereka. Kau baru menjadi Tuan Putri beberapa hari yang lalu. Lantas, mengapa kau merasa bertanggung jawab?"


Zeeta menatap tanah, kemudian menatap bulan. Ia duduk di tanah lalu memegang anting bulannya dengan jemari. "Bukankah jawabannya sudah jelas? Mereka adalah rakyatku. Apa artinya Tuan Putri jika aku tidak bisa melindungi rakyatku sendiri?" Zeeta memasang senyumnya. "Karena itulah, aku ini masih lemah."


Roh Rubah itu menyipitkan matanya. Ia tahu jika senyum itu adalah senyum yang dipaksakan. "Oh. Lalu, apa yang ingin kaulakukan setelah ini?"


"Aku perlu berbicara dengan guru Ashley. Aku akan menggunakan kekuatanku."


"Apa kauyakin?"


"Tentang apa?"


"Hal yang hendak kaulakukan bisa membuatmu ditakuti rakyatmu sendiri."


Zeeta sedikit tersentak mendengarnya. Kemudian, iapun bertanya pada Roh itu, "Aku tak bisa menyalahkan mereka, bahkan aku sendiri takut dengan kekuatanku. Bagaimana denganmu?"


Roh Rubah itu tersenyum lalu menjawab, "Bodoh. Aku ini lebih kuat darimu. Aku memilihmu karena aku memutuskan untuk menuntunmu. Tenang saja, tenang saja. Kau akan baik-baik saja selama aku ada bersamamu."


Zeeta memiringkan sebelah alisnya. "Menuntunku?"


Roh Rubah itu melompat naik ke bahu kiri Zeeta. "Yggdrasil tidaklah seburuk yang kaukira. Tapi, apa yang hendak dilakukan Ratu Peri tidak sepenuhnya benar. Karena itu aku akan menuntunmu. Jika Peri-Peri atau ras lain ingin menyakitimu, aku akan melindungimu. Jadi, tenang saja dan lakukan apa yang harus kaulakukan saat ini." Ia menekan pipi Zeeta dengan cakar mungilnya.


Zeeta tersenyum kemudian menjawab, "Uhm. Aku akan berjuang!"


Mereka pun kemudian memutuskan untuk memakai teleportasi menuju rumah sakit, dengan sihir terbang. Dikala mereka terbang, Zeeta kembali bertanya. "Hei, apa kaupunya nama?"


"Nama? Hmmm.... Pada dasarnya, aku adalah bagian kecil dari Yggdrasil, tapi jika kau memanggilku dengan nama itu ... dunia akan segera heboh dan akan sangat merepotkanmu," jawab Roh Rubah. Ia menyilangkan cakar depannya.


"Oh.... Jadi...?"


"Berikanlah aku nama!"


"Eeeh?!"


"Ada apa dengan responmu itu? Aku tersinggung, lho!" Roh itu memukul-mukul pipi Zeeta.


"Aduh... adududuh.... Baiklah-baiklah! Biar kupikirkan dulu nama yang bagus untukmu!"


"Ya. Berikanlah nama yang cocok untukku!" Roh itu kembali menyilangkan cakarnya.


Lama Zeeta terdiam sambil terus terbang menuju tujuannya hingga ia mengingat satu hal penting. "Kau itu ...," kata Zeeta.


"Hmm?" Roh Rubah itu menoleh.


"Jantan atau betina?"

__ADS_1


"Eh?" Roh Rubah itu mengerenyitkan dahi.


"Eh?" Zeeta juga melakukan hal yang sama.


"Aku ini ... Roh, lho...."


"Uhm. Aku tahu, tapi kau juga rubah, 'kan?"


"Eeii! Masa bodoh dengan jantan atau betina! Aku ini Roh! Roh adalah Roh!" ia menjambak rambut Zeeta, kesal karena kepolosannya.


"Aduh! Iya iya aku paham, jangan jambak aku, nanti jatuh!" Zeeta benar-benar tampak seperti bintang yang sedang jatuh dari langit.


Setelah Roh itu tenang, Zeeta sudah menentukan namanya. "Oke, namamu adalah...," Zeeta sengaja memberi jeda.


"Namaku adalah....?" mata Roh itu berkilauan. Ia berharap banyak.


"Luna!" Zeeta menjawabnya sambil tersenyum.


"Luna?! Wogh, gemanya terdengar pas untuk tubuh mungilku!" Roh itu tampak puas. Ia melompat-lompat karena kegirangan.


"Kau suka?" tanya Zeeta, yang tak melepas senyumnya.


"Ya, terima kasih, Zeeta!" Roh itu menempelkan pipinya ke pipi Zeeta.


......................


Rumah Sakit Guinerva, tempat dimana Ashley dirawat secara intensif. Di sana, para prajurit kerajaan menjaga ketat seluruh area rumah sakit dengan terus berpatroli dengan menggunakan bantuan alat sihir yang berbentuk seperti televisi yang akan menerima sensor mana atau pun keberadaan seseorang. Alat-alat sihir tersebut dipasang layaknya benteng kecil—sesuai dengan arah kemana para prajurit berpatroli. Jumlah alat sihir itu terlihat sekitar dua puluh lebih. Zeeta yang berada tepat di atas rumah sakit itu, untuk saat ini terpatung.


"Haaah...." Zeeta menghela napasnya. "Mulai lagi, deh.... Kuyakin jika aku turun, semua orang akan segera ribut...." Perlahan, Zeeta mendaratkan dirinya ke tanah.


Ketika Zeeta sudah masuk jarak sensor alat sihir tersebut, mereka segera membunyikan alarm mereka, dan memantulkan sinar dari layar untuk memusatkan perhatian para prajurit. Zeeta yang tahu apa yang akan terjadi hanya berdiri di tempat, menunggu para prajurit mengomelinya. Tapi, ketika para prajurit itu menjemput Zeeta, mereka segera membawanya masuk ke rumah sakit tanpa menanyakan satu hal pun padanya. Ia hanya disambut lalu segera diantar ke sebuah ruangan, yang tidak lain adalah ruang Ashley. Di sana, ia bertemu kakeknya dan Albert. Mereka tampak menginginkan penjelasan darinya.


Zeeta juga mendapati Ashley yang sedang diinfus, diselangi oksigen, dipakaikan elektrokardiograf, serta beberapa bagian tubuhnya dililit oleh perban. Zeeta bisa merasakan, meski gurunya sudah terhindari dari genggaman kematian, ia takkan bisa memakai sihir selama beberapa bulan atas rusaknya beberapa bagian krusial untuk mengalirkan mana dari dalam tubuh.


Zeeta mengatur napasnya, memejamkan mata, lalu menjawab Luna, "Maisie sudah menyelamatkan guru.... Jika aku berusaha, kuyakin aku bisa!"


Luna lalu turun dari bahu Zeeta, kemudian mengundang dua pria itu untuk pergi bersamanya. Walaupun di benak pria-pria itu ada pertanyaan besar tentang siapa makhluk bertubuh rubah mini dan berpigmen tak wajar ini, mereka yakin jika ia adalah sekutu mereka dan memutuskan untuk mengikuti kemana ia pergi.


Setelah ia dan Ashley sendiri di ruang itu, Zeeta mendekati Ashley. Ia kemudian memejamkan matanya. Tiba-tiba, lampu di ruang itu, seolah ada yang memainkannya—hidup dan mati secara cepat—yang pada akhirnya memutuskan untuk mati. Butiran-butiran mana warna-warni muncul setelah ia merapatkan kedua tangannya dan mengarahkannya tepat pada dada Ashley. Anting bulannya bercahaya.


"Fokuskan pikiranmu untuk membayangkan tubuh guru yang sehat dan tetap bisa mengeluarkan mana-nya, Zeeta...," batin Zeeta, dikala ia menyihir tubuh Ashley. "Ini akan berbeda dengan saat dirimu menyembuhkan kak Azure. Guru Ashley butuh lebih fokus daripada itu!"


Beberapa menit kemudian, Zeeta membuka matanya. Disaat yang sama, lampu ruang itu kembali hidup. Kemudian, Zeeta mendengar suara langkah kaki yang berjalan tergesa-gesa, lalu mendobrak pintu ruang itu.


"Siapa yang berani mengganggu pengobatan Grand Duchess?!" teriak orang itu. Ia adalah pria yang memakai jas ala dokter dan di lehernya tergantung sebuah stetoskop. "Eh? Tuan Putri?!"


"Ah... ahahahah, maaf karena sudah lancang...." Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pria itu segera melompat dan bersujud. "MAAFKAN AKU, TUAN PUTRI!" teriaknya, "AKU SUDAH TIDAK SOPAN DI HADAPAN ANDA! APAPUN HUKUMANNYA, AKAN SAYA TERIMA DENGAN LAPANG DADA!"


"Ehh...? Ti-tidak apa, aku tidak mempermasalahkannya! Selain itu, tolong angkatlah kepalamu!"


"Hei." Suara Ashley terdengar.


Zeeta dan dokter itu segera berkeringat dingin.


"Sudah berapa lama aku terbaring di sini?" tanya Ashley.


Dokter itu segera bangun dari sujudnya, kemudian membungkukkan setengah tubuhnya, menarik tangan kirinya ke belakang seraya menjawab, "Sembilan jam, Grand Duchess."

__ADS_1


"Begitu, ya." Ashley menutup matanya sesaat. Ia lalu melihat tubuhnya yang dililit perban serta alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya. "Tak kusangka, lagi-lagi aku mengulangi kesalahanku. Kepercayaan diriku yang tinggi sering membuatku seperti ini.... Apa aku ... sebaiknya mundur dari Grand Duchesss saja, ya?" ia terlihat murung.


Zeeta kembali mengingat ketika ia bertemu dengan Clarissa yang menyuruhnya untuk berjuang. Ia pun membuat keputusan, lalu memerintah dokter itu, "Anu, bisakah kautinggalkan kami untuk sementara? Kami perlu bicara."


Melihat wajah Zeeta yang tatapannya serius, membuat hati dokter itu tergerak. "Tidak apa, Yang Mulia." Dokter itu pun mengangkat kaki dari ruang.


"Jadi ... apa yang ingin kaubicarakan dengan wanita tua ini, Zeeta?" tanya Ashley.


Zeeta lantas menceritakan secara mendetail apa yang terjadi selama beberapa jam ini, sejak Ashley tersungkur dari garis depan.


Luna, sementara Zeeta sedang menggunakan waktu untuk pembicaraan intens dengan Ashley, mengajak Karim dan Albert ke atap rumah sakit. Ia berniat untuk menceritakan siapa dirinya, niat Ratu Peri pada kerajaan Aurora, serta identitas Zeeta sebagai Benih Yggdrasil.


......................


Karim tersungkur dan membasahi pipinya dengan derasnya air mata, sementara Albert mencengkeram kedua tangannya kuat-kuat sampai menimbulkan urat di punggung tangannya. Mereka sepakat untuk mengucapkan satu kalimat tanya, yaitu "kenapa? Kenapa harus seperti ini?"


"Pada akhirnya, Zeeta hanyalah anak kecil. Ia tidak akan bisa mengambil keputusan berat. Ia tidak yakin apakah ia harus mengorbankan sesuatu yang penting untuk menyelamatkan sesuatu yang berharga," ujar Luna, "dunia sihir ini terlalu kejam untuknya. Jika dia bukanlah sosok yang kuat, kerajaan ini sudah hancur setelah Raksasa itu mendatangi kerajaan ini."


"Lalu ... menurut Anda, apa yang harus kami lakukan, Roh yang Agung?" tanya Karim.


"Panggil saja aku Luna, tanpa honorifik," balas Luna, "aku tidak peduli apa yang akan kalian lakukan, tapi aku tetap akan menuntun Zeeta."


"Menuntun...?" Albert tidak mengerti.


"Takdir anak itu dipermainkan sejak awal oleh Ratu Peri. Sebagai sosok yang menghidupi seluruh makhluk di dunia ini, aku menganggap keberadaan Zeeta adalah permata diantara emas.


"Aku akan menuntun Zeeta. Apapun yang ingin ia lakukan, akan kubantu untuk mewujudkannya, bahkan jika itu adalah kehancuran dunia.


"Sebagai Manusia yang sudah memiliki banyak dosa, kalian tentu tahu setidaknya satu kemungkinan alasan Zeeta menghancurkan dunia, bukan?"


Dua pria itu memalingkan wajah.


"Ya. Keburukan dan kebusukan dari dunia. Tidak hanya dari Manusia saja, semua makhluk seperti itu. Tidak ada yang bisa memberat-sebelahkan siapa yang salah jika dunia berakhir di tangan anak itu. Namun...." Luna yang menjeda ucapannya, membuat dua pria itu mendelik ke Luna kembali.


"Dunia ini juga memiliki keindahannya. Ia harus melihat keindahan itu dengan mata kepalanya sendiri. Karena ia adalah bagian dari Manusia, aku akan menyerahkan pertumbuhannya ke tangga kedewasaan pada tangan kalian. Jangan anggap hanya karena aku ada di sisi Zeeta, berarti aku ada di pihak kalian seratus persen."


Karim dan Albert mengubah posisi tubuh mereka menjadi bertekuk lutut di hadapan Luna.


"Tenang saja, tenang saja. Selama ada aku, Zeeta akan baik-baik saja. Untuk saat ini, fokuslah pada keinginan utamanya, yaitu untuk menyelamatkan ibunya dari istana." Luna mengatakannya seraya berjalan pergi dari sana.


Dua pria itu memroses kembali ucapan Luna barusan, kemudian berteriak dengan gegernya. "Ra-Ra-Ratu Alicia... masih hidup?!" tanya mereka bersamaan.


"Eh? Aku tidak bilang?" tanya Luna. Mereka mengangguk dengan cepat. "Tehee~" Luna menjulurkan lidah dan menyipitkan mata kirinya.


......................


Ashley yang berwajah masam sebelumnya kini telah bercahaya kembali setelah mendengar Ratu Alicia masih hidup dan tujuan Zeeta selanjutnya adalah menyelamatkan ibunya. Namun, bersama dengan rasa bahagianya, perasaan syukurnya membanjiri hati Ashley sehingga membuatnya menangis dengan deras.


Zeeta tersenyum hangat melihat respon Ashley. "Sebelum fokus pada ibuku, kuingin memperbaiki keadaan Wilayah Timur dan pertahanan kita dulu. Apa Guru mau membantuku?"


Ashley mencabut infus dari lengan dan selang oksigennya. "Tentu saja! Lusa, kita akan mulai bertindak!"


"Fufufu, aku tidak mengira Guru bisa sesemangat ini!"


"Apa kau bercanda?! Andai saja Scarlet masih ada di sini, ia juga pasti akan bahagia!"


Zeet terpelatuk mendengar nama Scarlet. "Uhm. Guru benar." Zeeta kembali tersenyum.


Scarlet Aurora XIX... satu-satunya keluarga kerajaan yang meragukan Ratu Peri. Andai ... andai Scarlet masih hadir di sisinya, apa yang akan ia katakan atau lakukan pada Ratu Peri...? Begitulah yang hadir di dalam pikiran Zeeta.

__ADS_1


......................


Takdir Zeeta sudah diatur oleh Ratu Peri sebagaimana keinginannya untuk membangkitkan Yggdrasil. Mungkin sudah ratusan tahun direlakannya untuk menunggu momen ini, lantas apakah Ratu Peri akan diam saja jika tahu sebuah Roh Yggdrasil yang selama ini ingin ia bangkitkan justru berpihak pada Zeeta...?


__ADS_2