Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kepercayaan Diri


__ADS_3

Mentari pagi.... Kehangatan dan cerah lembutnya akan membawa dunia menuju hari yang sibuk. Tumbuhan dan bunga-bunga menyambutnya dengan kesegaran dan kecantikan masing-masing. Hewan-hewan mulai beraktivitas dengan meminum air di sungai, mengasuh anak-anaknya, atau menikmati kehangatan mentari lebih lama dengan menetap lebih lama di sarang. Sementara di suatu desa Manusia yang semalam baru saja diterjang badai api-petir tak wajar—yang juga dialami oleh banyak orang termasuk Aurora—pagi mereka disambut oleh keluhan demi keluhan, tangis anak-anak, atau kehilangan arah tentang apa yang harus dilakukan pada rumah mereka yang hancur yang berada di luar jangkauan kerajaan-kerajaan dan sumber daya alam yang hancur berantakan. Malah, banyak dari mereka yang menganggap bahwa suatu keajaiban mereka bisa hidup setelah bencana seperti itu. Tetapi siapa pula yang menyangka....


“Selamat pagi, semuanya,” sapa seorang wanita berkacamata dan rambut cokelat kehitaman yang disanggul, pada kerumunan desa. Isak tangis anak-anak terhenti melihat kedatangan sekaligus terpana oleh busana yang dikenakannya. “Apa aku bisa bertemu dengan kepala desa ini?” sambung wanita itu bertanya.


Seorang wanita berambut pirang panjang sebahu dengan usianya yang paruh baya, berpenampilan garang, ditambah sepuntung rokok yang menyala di mulutnya, maju dari kerumunan. “Apa maumu?” tanyanya, yang kemudian meniupkan asap rokoknya. “Dengan pakaian seperti itu ... apa kau dari kerajaan? Jika begitu enyahlah!” dengan tatapan sinisnya, Wanita itu mengusirnya. “Kami tak butuh bantuan dari kalian.”


“Aku datang dari negeri timur. Konsep kerajaan tidak berlaku di negeri kami. Pakaian ini hanyalah hobi dan pekerjaan untuk majikanku,” balas Wanita Berkacamata.


“Hobi?!” Wanita Perokok itu melihat dari bawah ke atas. “Untuk sebuah hobi dan pekerjaan, tubuhmu cukup terlatih tidak hanya pada lengan dan kaki. Katakan saja apa maumu!”


Ketika Wanita Perokok itu menyadari bentuk tubuhnya, Wanita Berkacamata itu mengernyitkan mata.


...“Katakan saja langsung pada intinya, Pelayan bodoh. Mereka adalah aset penting untuk tujuanku nanti, buatlah mereka percaya pada kita.”...


“Baik, Nona.


“Namaku adalah Xennaville. Aku bekerja sebagai maid untuk Nonaku Asteria. Beliau memintaku untuk membantu kalian untuk membangun desa.” Wanita itu mengangkat rok panjang maid-nya dengan kedua tangan sepanjang betis.


Urat kepala muncul pada Wanita Perokok. Ia kemudian berteriak pada maid di hadapannya. “MEMBANTU, katamu?! Kaupikir kami sebegitu lemahnya hingga harus dibantu?!”


Xennaville melihat kanan dan kiri sebelum ia membalas ucapan Kepala Desa di depannya. “Tidak, tapi aku tahu keselamatan kalian tidak dari keajaiban, melainkan sebuah bantuan dari Peri ... dan seseorang yang menyembunyikan identitasnya.”


“Ghk?!” Wanita Perokok itu kaget. Penduduk di belakangnya pun ikut kaget—tak tahu menahu tentangnya.


Xennaville kemudian membisiki Wanita Perokok itu hingga membuatnya terbelalak. “Spirit Stone, katamu?! Apa kau sudah gila?!” Wanita itu menginjak puntung rokoknya. Ia kemudian menarik kerah maid yang lebih tinggi darinya itu. “Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa tahu tentang batu itu, tetapi yang pasti, kutahu tujuan kalian tidaklah mulia!


“Apa kalian ingin menghancurkan dunia, hah?!”


Penduduk merasa cemas dengan gelagat keduanya.


Xennaville kemudian menepis tangan Kepala Desa, membenarkan kerahnya, juga posisi kacamatanya. “Jadi, menilai dari hubunganmu dengan dua Peri di belakangmu itu, pasti kau pun tahu bagaimana situasi Hutan Peri dan seorang Tuan Putri di kerajaan di dekatnya tentang suatu ramalan yang spesifik.


“Inginkah kalian berakhir di tangannya?”


Si Kepala Desa menundukkan kepala dan mencengkeram tangannya. “SEMUANYA!” pekiknya, yang menarik mata seluruh penduduknya. “Larilah! Larilah sejauh mungkin dan jangan membalikkan mata ke belakang, apapun yang terjadi!


“Lupakan dulu tentang rumah, sekarang larilah!”


Tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi, penduduk lari. Beberapa diantara masih tinggal untuk bertanya, “Bagaimana denganmu, Bibi Jeanne?”

__ADS_1


“Tentu saja Kepala Desa harus melindungi penduduknya, bukan? Sekarang, pergilah, dasar bodoh!”


“Ba-baik!”


Membiarkan penduduk di hadapannya berhamburan, Xennaville mundur beberapa langkah lalu mengangkat tangan kanannya. “Apa boleh buat. Jika ucapan tidak mempan, kuhanya perlu mengambilnya dengan paksa.” Parasol hinggap pada tangannya.


“Kutak tahu siapa dan mengapa majikanmu yang ingin mencari Spirit Stone, tetapi kutahu Tuan Putri di kerajaan itu mempelajari Rune dari rasku. Lagi pula, satu-satunya makhluk lama yang hingga saat ini bisa memakai Rune, hanyalah kami.


“Manusia yang telah mempelajari Rune dari rasku, pasti bisa dipercaya!”


Menanggapi Jeanne, Xennaville menunduk. “Sayang sekali, Jeanne. Rune memang kuat, tetapi itu pada sihir. Meskipun aku hanya Manusia, tidak berarti aku tak bisa mengalahkan Raksasa yang bisa ber-Rune sepertimu.” Parasol yang digenggamnya terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang pada akhirnya menjadi sebuah sarung tangan berduri. Ia berkuda-kuda setelahnya.


"Bah! Manusia, katamu? Lucu sekali!"


“Negeri timur memiliki kekuatannya sendiri yang disebut Ki, dan kautak bisa memandangnya sebelah mata!”


......................


Disaat yang sama, bersamaan dengan munculnya mentari ke daratan, Marianna pun menyatakan selamat tinggalnya pada Hugo. “Nah, Hugo,” ujarnya, “pergilah jauh dariku sekarang juga. Aku tak bisa lagi menahannya.” Tangan kanannya perlahan berubah menjadi tangan monsternya, diikuti dengan bagian putih mata yang menjadi hitam. “Ingatlah pada janji kita semua, Hugo.”


Dengan mata yang berkaca-kaca, dengan perasaannya yang dibohongi, Hugo membalik tubuhnya, menyelimuti tubuhnya dengan akar yang sebelumnya dia pakai untuk datang ke tanah ini. Akar itu kemudian membawanya masuk ke dalam tanah yang akan mengantarnya pada Hutan Sihir Agung.


Tekanan mana yang meningkat tajam membawa gidik bagi siapapun yang bisa merasakannya, seperti Azure, Zeeta, dan Volten Sisters, juga Elf lain yang erat hubungannya dengan Marianna. Selain Hugo, Volten Sisters, Aria, Lloyd, juga Reina, Elf-Elf yang merasakan jahatnya tekanan mana Marianna segera pingsan.


Ketika itu, Azure yang berada di Nebula sedang duduk silang mengawasi dua “pasien” yang belum sadarkan diri—Ashley dan Luna, ditambah Zeeta yang kehabisan mana-nya. Mereka ditelentangkan sejajar, sementara Klutzie yang duduk di sebelah Suzy yang terlelap, sedang memberitahu ayah serta rakyatnya apa yang terjadi saat ini di kerajaan mereka. Namun, masih dalam pembicaraannya, ia terhenti oleh Zeeta yang mendadak terbangun.


“Zeeta, aku tahu apa yang kaurasakan, tapi jangan gegabah! Mana-mu harus pulih terlebih dahulu!” seru Azure sebelum Zeeta mengucapkan apapun.


“Aku tahu dan aku tidak akan gegabah! Tolong bantu aku berdiri!” pinta Zeeta. Ketika dirinya telah dirangkul, “Kak Volten Sisters!” panggilnya.


Mereka yang dipanggil sudah dalam posisi siapnya, tetapi kemudian....


‘BLAARRR!’


Tanah tersapu, debu berterbangan, memaksa semua yang ada di jaraknya menutup mata dengan atau tanpa lengan. Lalu beberapa saat kemudian, mereka semua kecuali Zeeta terbelalak, seakan-akan melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Marianna kini menyerupai Hugo yang merupakan Dark Elf dengan hanya telinga kirinya saja yang runcing. Kedua matanya hitam sementara iris matanya yang tetap merah kecokelatan. Tangan kanan monsternya semakin membesar dari sebelumnya. Jika harus berpikir secara logis, tangan itu tidak mungkin membuat Marianna bisa mempertahankan keseimbangannya.


“Sudah kuduga... besarnya mana ini... telah ia sembunyikan selama ini dariku. Tapi ... ada yang berbeda. Tekanan mana-nya terasa lebih jahat dari sebelumnya.... Benarkah Zeeta percaya diri bisa mengalahkannya?” batin Azure yang kemudian melirik Zeeta.


“Apa makhluk itu...? Manusia...? Monster...?” ayah Klutzie, Eizen Gustav, pucat ketakutan.

__ADS_1


Melihat reaksi mereka yang baru pertama kali melihat makhluk seperti Marianna sekarang, Zeeta langsung bertindak. “Kak Volten Sisters, bawalah pergi semua orang Nebula ke Aurora sebelum semuanya terlambat!”


“Serahkan pada kami!” balas ketiga Elf bersaudari bersamaan. Ketiganya membentuk formasi seperti bentuk segitiga pada kerumunan rakyat Nebula dan bangsawannya, juga tak lupa Ashley dan Luna.


“Tunggu, apa yang akan kaulakukan, Tuan Putri?!” tanya Klutzie.


“Melakukan apa yang harus kulakukan padanya! Percayalah saja padaku!” balas Zeeta.


Sebuah cahaya putih bersinar di tanah di bawah rakyat Nebula berdiri. Saat itu, Zeeta berpesan pada ketiga Elf itu. “Jika Roh Yggdrasil itu sudah sadarkan diri, katakan padanya, ‘ini adalah masalah Manusia yang harus diselesaikan mereka sendiri. Tak perlu khawatir padaku.’”


Mengernyitkan alis sebelum menjawab, Jourgan mengatakan, “Baiklah.”


Tak lama kemudian, semua yang berada di formasi segitiga itu hilang, menyisakan Azure dan Zeeta di hadapan Marianna yang sudah bukan dirinya lagi.


“Kak Azure, sebelum memulainya, biarkan kuberitahu kau satu hal,” ucap Zeeta.


“Apa? Bahwa kau tak bisa mengalahkannya?” tanya Azure yang sangat yakin mustahil bagi Zeeta mengalahkan Marianna yang sekarang.


Zeeta melirik heran Azure. “Ayolah, Kak!" ia tak habis pikir. "Kau masih saja meragukanku?! Baiklah, kalau begitu ‘kan kubuktikan!” ia memakai Catastrophe Seal mode tongkat sihir di tangan kirinya. Kemudian dia menulis tiga rangkai Rune, yaitu Laguz, Nauthiz, dan Uruz. Tiga rangkaian Rune itu mengitari Marianna yang dimulai dari Laguz, langsung memberi efek padanya.



...Laguz...



...Nauthiz...



...Uruz...


Laguz mengecilkan ukuran tangan monster Marianna, Nauthiz membuatnya jatuh melemas, kemudian Uruz yang memunculkan kristal es di bagian depan tubuhnya lalu meledak.


Melihatnya dengan mata kepala sendiri, membuat Azure tak percaya. Bukankah Zeeta kehabisan mana? Bagaimana dia mampu melakukannya?


“Aku datang sejauh ini untuk menuntaskan tragedi yang berkepanjangan darinya, Kak Azure. Jika aku tidak yakin aku bisa mengalahkannya, aku tidak akan berdiri di sini sekarang.


“Meskipun begitu, kedatangannya lebih awal dari perhitunganku setelah melihat waskita dari Rune Kaunaz. Kendati diriku hanya melihat sebagian kecil, luka yang kuterima darinya nanti bukanlah tidak fatal.

__ADS_1


“Oleh karena itu, ulurkanlah waktu untukku agar waskita itu bisa kuubah. Aku akan mendukungmu dengan Rune-ku juga!”


__ADS_2