
Langit jingga yang lebih cemerlang dari sebuah lukisan, awan yang bak digambar dengan kapur, rerumputan dan dedaunan berwarna hijau toska, serta angin yang berhembus sejuk, menyambut kedatangan Zeeta di tempat yang sama sekali belum pernah ia datangi sebelumnya.
Setelah ia membuka pintu batu di kedalaman danau dengan anting bulannya, ia mendapati dirinya sedang berhadapan dengan istana yang amat sangat besar, indah dan cantik dengan motif-motif dan hiasannya, disertai kekhasan yang melambangkan pola bulan di beberapa bagian tembok istana dan towernya. Istana itu berwarna dominan kelabu, dengan diselingi garis-garis bercahaya biru cerah. Ia tampak sangat megah, tetapi juga kuno layaknya istana abad pertengahan, juga modern disaat yang sama dengan berbagai macam tambahan yang membuatnya sedap dipandang.
Tetapi sayangnya, ada tiga hal yang sangat mengganjal baginya. Kemana semua orang? Kenapa istananya ada di dalam pelindung lagi sementara halaman luarnya, yang luasnya kurang lebih sama dengan luas istana, dibiarkan begitu saja...? Yang lebih penting, dimana orang tuanya?
"Aneh... padahal tadi aku ada di dalam air, bahkan alat sihirnya paman Axel hilang begitu saja," gumam Zeeta. Ia melihat pakaiannya kembali menjadi gaun tuan putri. "Tak bisa kubayangkan kalau tinggal di dalam sini... bisa-bisa aku tersesat...."
Zeeta mulai mengambil langkahnya dengan wajah murung. "Dimana dirimu, ibu...?"
Seseorang berlari secepat mungkin seakan ia dikejar sesuatu. Ia menarik gaunnya setinggi mungkin, tak peduli apa statusnya. Ia datang dari sebuah portal yang muncul begitu saja. Pipinya segera dibanjiri tangis, kemudian orang itu berteriak, "Zeetaaa!"
Mendengar namanya dipanggil, Zeeta membalik, tapi ia segera dipeluk hingga dibuat sulit bernapas.
"Putriku... putri kesayanganku... akhirnya... akhirnya Ibu bisa memelukmu dan menyentuhmu dengan benar.... Ibu sangaat merindukanmu! Ibu sangat mencintaimu!" Alicia tak bisa lagi membendung perasaannya.
Tangis juga tiba-tiba muncul begitu saja membasahi pipi Zeeta. "Kau... Ibuku...? Benar-benar Ibuku?"
"Iya, Sayang. Akulah yang melahirkanmu dan akulah yang memberimu nama, Nak!" mata Alicia berkaca-kaca.
"Kau... hiks... benar-benar... hiks ... benar-benar-benar Ibuku...? I-ini bukan... hiks... mimpi, 'kan?" Zeeta membalas pelukan erat ibunya, membasahi bahu kirinya dengan air mata yang tidak ingin berhenti.
"Uhm! Itu benar! Lihatlah, bahkan rambut kita sama!" Alicia hendak melepas dekapannya, namun Zeeta menolaknya.
"Huaaaaahhh Ibuuuu!! Ibu... Ibu... Ibuuuu!"
Hati Alicia seakan tergores mendengar tangis Zeeta semakin menjadi-jadi dan semakin mengeratkan dekapannya.
"Aku... aku selalu ... hiks... ingin bertemu denganmu! Aku... aku sudah sangat ... berjuang demi bertemu denganmu! Aku melewati banyak hal ... bahkan aku hampir kehilangan nyawa berkali-kali!
"Aku... juga rindu denganmu, Bu!"
......................
"Amukan" dengan daya hancur yang cukup besar dari akar raksasa yang melilit istana, tanpa adanya sihir dari Azure dan Mellynda, mungkin saja akan menghancurkan kerajaan Aurora sekali lagi. Akar yang besarnya berkali-kali lipat dari tubuh anak-anak itu, sangat memungkinkan merebut nyawa mereka bila terhempas atau tertimpa olehnya. Namun, hasil latihan mereka dengan Luna membuahkan hasil yang manis—setidaknya begitu diawal.
"Kenapa Zeeta tidak kunjung keluar?!" tanya Azure. Ia mulai kesulitan menahan sihirnya.
"Jangan tanya aku!" balas Mellynda, yang nasibnya sama dengan Azure.
Sejurus kemudian, Ashley bersama bangsawan utama lain tiba. Tidak ada kata tanya dari mereka, namun aksi segera dilakukan demi menggantikan peran si anak-anak.
Ashley yang menjadi pengecualian diantara mereka, segera bertanya setelah anak-anak itu mengambil napas. "Dimana Zeeta?"
Kedua anak-anak itu menggelengkan kepala. "Tidak boleh!" seru mereka, sambil menyilangkan tangan.
"Apa?!" pekik Ashley. Ia kemudian mengalihkan wajah. "Ada apa dengan mereka, disaat seperti ini pun masih merahasiakan segalanya?" gumamnya.
......................
[Sementara itu, di kediaman Alexandrita....]
Klutzie membuka matanya karena kegaduhan berskala besar ini. Tentu saja, ia tak mengingat kenapa ia ada di tempat yang asing baginya, dengan fasilitas cukup bagi pangeran sepertinya, sampai Siren menceritakan segala yang perlu diketahuinya. Ia juga memberitahu Klutzie tentang bahaya sebenarnya dari Catastrophe Seal, meskipun Klutzie sudah pernah melihatnya.
"Aku tidak bisa menggunakan senjata suci itu...? Kenapa?! Bukankah kami sama-sama Benih Yggdrasil?!" Klutzie geram.
"Aku akui, aku pernah mengatakan kaubisa sepadan dengan Zeeta saat dia menghancurkan Hollow dengan senjata itu. Tapi, Luna tidak memberitahu Zeeta tentang efek samping lain senjata itu." Siren bermimik serius.
"Efek samping lain?"
"Ya. Senjata itu memancing Phantasmal berbahaya lain menuju Aurora. Misalnya saja ... kakak perempuanmu, Suzy Nebula."
"A... apa maksudmu...? Kakakku ... sebuah Phantasmal...? Aku tidak mengerti!"
"Ingatlah. Phantasmal bagaikan buah dari pohon kehidupan dunia—Yggdrasil. Intinya yang akan kukatakan, Suzy telah menipumu."
"Jadi kauingin bilang, tujuan kak Suzy adalah menghabisi Benih Yggdrasil?" Klutzie menunduk, juga menggepit tangan.
Siren mengangguk.
"Tapi... apa hubungan dia dengan Catastrophe Seal?"
__ADS_1
"Dia akan membawa bala pasukannya menyerbu Aurora. Hollow yang Zeeta kalahkan memang mengancam, namun pasukan dibalik Suzy bisa saja sangat mengerikan."
"Kenapa kaubisa seyakin itu? Apa buktinya?"
"Nebula tidak akan senyap begitu saja, Lutz! Kautahu seberapa kuat pertahanan modernnya!"
Klutzie menguatkan cengkeram tangannya. "Sialan.... Sialan!" Ia melihat amukan akar raksasanya mulai mereda. "Apa yang akan dia lakukan kalau tahu ini? Dia sudah berkali-kali melindungi kerajaan ini dari kehancurannya. Jika apa yang kaukatakan benar, sama saja ramalan Feline jadi kenyataan!"
"Catastrophe Seal disimpan di Hutan Sihir Agung dan dijaga oleh Dark Elf, Hugo. Mengetahui bagaimana cara kerjanya, ia akan melatih Zeeta di sana demi bisa sepenuhnya memakai senjata suci itu."
"Hah...?"
"Catastrophe Seal punya tiga bentuk. Sabit, tameng, dan tongkat sihir. Untuk saat ini, tak ada bentuk yang bisa ia gunakan dalam waktu yang lama.
"Sehingga, hal ini meningkatkan kemungkinan Aurora akan terancam musnah seperti Nebula."
"Apa yang harus kulakukan... Siren?"
Siren menyeringai... seringai yang melukiskan kelicikan yang busuk. "Sederhana, Lutz...."
......................
Alicia sedang duduk memangku kepala Zeeta di pahanya. Sambil mengelus dengan lembut rambut Zeeta yang masih sesenggukan, mereka dengan perlahan menikmati waktu pertama mereka mengobrol. Seakan tidak terganggu dengan pelindung istana, mereka tengah memandangi pepohonan di halaman.
"Zeeta... maafkan aku karena sudah membuatmu mengalami banyak hal menakutkan....," ucap Alicia.
"Uuhmm...." Zeeta menggelengkan kepala. "Semua hal itu jadi pengalaman untukku, lagi pula... setelah bertemu denganmu begini, rasanya rasa kesalku seakan menguap begitu saja, heheh...."
Alicia tersenyum dibuatnya.
"Hei, Ibu...?"
"Iya, Sayang?"
"Hehehe... aku sayang Ibu!"
Hati Alicia sebagai seorang ibu segera bermekaran mendengarnya. "Aku juga sayang kamu, Nak!" Alicia kemudian mencium kening anaknya dengan tulus. Kemudian, ia mengelus lagi rambut Zeeta. "Banyak hal yang terjadi diluar dugaan kami. Tapi, berkat bantuan mereka di luar sana, kau berhasil ada di sini bersamaku. Aku tidak menduga kalau dari semua orang yang kukira akan merawatmu, adalah Arthur."
Raut bahagia Alicia berubah. "Dia tidak di sini."
"E-eh?! Apa maksudnya...?"
"Supaya kautahu, aku juga harus menceritakan padamu kenapa kami melakukan ini."
"U-uhmm... baiklah."
"Kalau begitu, bersiaplah!"
"Hueh...?" Zeeta duduk. "Untuk apa...?"
"Kita akan berlayar dalam waktu!"
Alicia kemudian menjentik anting bulannya, kemudian mereka seperti ditarik masuk sebuah lubang yang muncul tiba-tiba. "Wah?! A-apa in—" Zeeta belum sempat selesai bicara, mereka tersedot ke dalamnya.
Ketika Zeeta membuka mata, ia berada di kerajaan Aurora, dengan aktivitasnya yang ramai, ceria, dan dipenuhi senyum. Anak-anak berlarian kesana dan kemari dengan teman atau mainan mereka, sementara para remaja dan orang dewasa asyik dengan kelompoknya seperti bermain dengan mana-nya atau hanya menghabiskan waktu dengan berbelanja. Satu hal yang membuat Zeeta segera tahu ini adalah masa lalu, adalah letak istana masih terbuka lebar dan tidak ada kota di atas langit.
Mereka berdua tidak akan disadari oleh siapapun di masa itu, karena tubuh mereka tampak tembus pandang.
"Ini... delapan tahun yang lalu...?" tanya Zeeta.
"Bukan, ini sembilan tahun yang lalu."
"Apa ini kekuatan yang dibicarakan Ratu Clarissa tentang antingnya...?" batin Zeeta, "bagaimana cara Ibu bisa melakukannya...?"
"Kita akan mendengarkan alasan kenapa aku dan ayahmu harus memisahkanmu dari kami, juga alasan mengapa ayahmu tidak hadir bersamaku."
"O-oke...."
Alicia menjentik anting bulannya lagi, mereka berpindah tempat—masuk ke sebuah kamar di istana. Di sana, mereka melihat Alicia dan Hazell sedang berbincang.
......................
__ADS_1
Alicia dan Hazell tengah berdiri memandangi alam, termasuk danau di pandangannya, dari jendela kamar mereka. Di sana, Alicia mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Anak kita diramalkan menghancurkan dunia bukan tanpa alasan. Hal ini baru saja kuketahui setelah melihat sebuah pertanda, yang hanya bisa dilihat oleh garis keturunan Aurora saja," kata Alicia. Ia terlihat marah.
"Pertanda?" tanya Hazell, "apa itu juga dilihat ibu atau leluhurmu?"
"Aku tidak tahu, tapi ini sama sekali tidak bagus, Suamiku."
"Ada apa...?"
"Ini juga berhubungan dengan Yggdrasil yang informasinya kalian sembunyikan dari publik."
"Y... Yggdrasil?!"
"Ya, itu benar. Kautahu Yggdrasil mengubah bentuknya menjadi Roh untuk mengusaikan perang antara manusia dan makhluk sihir?"
"Ya, tentu saja."
"Tapi, apa kautahu apa sebenarnya yang dipermasalahkan Manusia hingga memantik perang itu? Apakah itu kekuatan? Kekayaan? Ketenaran? Atau hal manusiawi lainnya?"
Hazell menggelengkan kepala.
"Itu adalah buahnya."
Hazell semakin tidak mengerti.
"Suamiku, apakah Yggdrasil benar-benar seperti yang dituliskan catatan leluhurmu, jika ia adalah pohon yang menghidupi seluruh kehidupan?" tanya Alicia.
"Tunggu... kauingin bilang, catatan leluhurku salah?"
"Tidak, Sayang, tidak. Anggaplah seperti ini. Dalam sebuah kehidupan, ada baik dan ada jahat. Jika itu diibaratkan pada Yggdrasil, dan menganggap buahnya adalah Phantasmal, apa yang akan dilakukan Yggdrasil?"
"Tentu saja... sebagai pohon kehidupan, ia tetap menghidupinya."
"Itu benar. Lalu, di dunia sihir ini, seolah-olah hukum alam berlaku, tetapi tidak. Jika kaupikirkan baik-baik, selama ini selalu mereka yang memiliki mana besar yang memiliki segalanya, terlepas apakah mereka makhluk sihir atau manusia.
"Pernahkah terlintas di kepalamu, ada suatu kejanggalan dalam sihir kerajaan kita?"
Hazell mengerenyitkan kening.
"Semua orang tahu, ratu Aurora pertama yang bisa menggunakan sihir adalah ratu Aurora kesembilan, Clarissa. Lalu, bagaimana dengan delapan Aurora sebelumnya? Bukankah Yggdrasil adalah sumber mana? Bukankah kerajaan lain justru bisa menggunakan sihir?"
"Kalau dibilang lagi... kau benar...."
"Itulah, mengapa anak kita menjadi anak ramalan." Alicia pergi duduk di kasur. Hazell mengekorinya.
"Aku melihat pertanda. Pertanda itu menunjukkan alasan kenapa Ratu Peri meramal anak kita menghancurkan dunia.
"Terlepas apapun kebenaran dari ramalan atau alasannya, pertanda itu memang membawa keburukan bagi dunia, yang justru terlahir dari pohon kehidupan dunia itu sendiri."
"Jadi maksudmu... Phantasmal itu membawa keburukan?"
"Uhm. Memang, tidak semua Phantasmal seperti itu. Tapi itulah yang menjadi alasannya. Kita tidak berhadapan dengan makhluk sihir, tetapi kita berhadapan dengan Yggdrasil itu sendiri.
"Aku tidak tahu mengapa mereka bisa seperti itu, tetapi jika kita menyambungkan titik-titik kejadiannya, kuyakin ini ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada perang manusia dan makhluk sihir ribuan tahun yang lalu."
"Beban ini terlalu berat untuk seorang anak kecil...." Hazell mencengkeram tangannya. "Apa yang bisa kita lakukan?"
"Uhm. Itulah yang selalu kucari jawabannya sejak masih jadi tuan putri, 'apa yang bisa kulakukan?'. Tentu saja, jawabannya adalah kita akan hadir bersamanya!"
"E-eh... bukankah dalam ramalan itu, kaubilang...."
"Ya! Dalam ramalannya, kita akan mati. Andai ibuku tidak memberitahuku tentang keberadaan Axel dan Myra, ramalan Ratu Peri akan jadi kenyataan.
"Jadi...."
......................
Zeeta sedang digendong oleh ibunya untuk pertama kalinya. Meski ia merasa senang dengan hal ini, pembicaraan yang ia dengar tidak membuat apapun berubah dalam tanggung jawabnya. Ia masih akan berhadapan dengan banyak lawan yang kuat, tangguh, dan mungkin lebih mengerikan dari semua lawan yang pernah ia hadapi.
Ya, dia saat ini akan bersama orang tuanya, tetapi kekuatannya memegang kunci utama terhadap masalah dunia. Sebuah pertanyaanpun terbesit di benak Zeeta, "Apa aku mampu melakukannya dengan baik?"
__ADS_1