Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Rapat Keluarga Darurat


__ADS_3

Bulan telah menyambut hari. Pertemuan Zeeta dengan seluruh bangsawan utama serta Aria dan Ozy sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Sementara para pelayan sedang membereskan after-party dari Vivid Party, Zeeta tengah bicara berdua dengan Ashley di dalam. Mereka sedang duduk di sofa merah, yang di masing-masing pangkuan mereka ada kucing anggora peliharaan Ashley. Sambil mengelus kucingnya, Zeeta memulai percakapan. "Guru...," ucap Zeeta, "aku ingin berkunjung ke rumah kakekku."


"Hmm? Ada apa tiba-tiba begini?" tanya Ashley.


"Yah ... hanya ingin...." Zeeta menjawabnya sambil melukis senyum kecil.


"Baiklah, kusiapkan mobil. Kau sudah lelah seharian ini, 'kan?"


Zeeta mengangguk. "Uhm. Terima kasih."


......................


[Sementara itu....]


Sejak pertemuan Zeeta dan seluruh bangsawan utama digelar untuk membahas rencana penyelamatan sang ratu, Lowèn kembali ke kediamannya yang berada di Wilayah Barat. Wilayah ini memiliki estetika tersendiri. Dengan berbagai macam lukisan grafiti kreatif, yang di antaranya ada lukisan Ratu Aurora dari generasi ke generasi hingga generasi kesembilan belas.


Selain grafiti, bangunan-bangunan di wilayah ini berbeda dengan wilayah lain yang memiliki aroma kerajaan yang kental, termasuk ibu kota. Hanya di wilayah ini, warga dapat menemukan bangunan pencakar langit yang berlantaikan maksimal lima belas. Wilayah Barat adalah wilayah kekuasaan Hellenia Cloxzar, dimana hanya kediamannya seoranglah yang berbeda dengan bangsawan serta rakyat biasa lain. Kediaman Cloxzar yang layaknya istana ala Yunani Kuno kecil-kecilan yang sudah dipoles dengan selera modern itu semata-mata untuk menandakan bahwa merekalah penguasanya.


Karena Hellenia sangat modis, tentu ia tak hanya mengizinkan grafiti di dinding yang sudah ia fasilitasi, ia juga menyediakan taman mode, yang dirancang khusus untuk para pecinta mode, baik untuk rakyat biasa atau bangsawan.


Seperti pameran, mode-mode dari berbagai penjuru kerajaan dijadikan "pohon" di seluruh tamannya. Lantainya juga dihias oleh lampu kecil sehingga tampak meningkatkan nilai estetika dari masing-masing fesyen. Tak melupakan inti dari nama "taman", Hellenia memastikan terdapat ruang hijau di berbagai titik taman. Tempat ini tempat yang paling populer di wilayah ini, khususnya bagi kaum hawa.


Bangunan-bangunan di sini menyerupai apartemen, namun berdiri kokoh sendiri-sendiri. Misalnya, satu bangunan yang biasanya berenam lantai, dihuni oleh maksimal dua belas kepala keluarga. Yang membedakannya dengan kediaman milik rakyat biasa, adalah bangsawan memiliki halaman depan, bahan bangunan yang lebih mewah, dimiliki secara pribadi, serta lebih "berkilau" dengan tatanan lampu halaman yang terekstrak dari sihir. Ada batu bersinar, bola, hingga bermacam-macam bentuk. Tidak ada rakyat biasa yang menginginkan hal eksentrik seperti itu di wilayah ini.


Karena Lowèn kembali saat sore hari, tidak ada yang menyaksikan bagaimana nyentrik-nya bangsawan di sini jika malam menghidupi hari. Ia berjalan gontai dalam keramaian dengan wajah yang tertunduk. Kediaman Levant memiliki lima belas lantai, yang di atapnya memiliki ruang luas—layaknya bangunan bertingkat biasanya. Ruang utama keluarga ini ada di lantai enam, dimana semua anggota keluarga Levant ada di sini.


Setelah sampai di lantai enam melalui sihir teleportasi-ruang yang menyerupai elevator, Agatha dan Karim menunggu di ruang tengah sambil duduk di sofa hitam panjang. Karim yang gelisah tak berhenti menggerakkan kakinya ke atas dan bawah. Ayah maupun anak sama saja, bila pikirannya sedang kacau.


Ketika mendapati Lowèn datang lebih cepat dari jadwal biasa Vivid Party berakhir, Karim segera menjerit, "Ada apa denganmu?!" seluruh wajahnya tampak merah. "Pergi begitu saja tanpa izinku, lalu kembali secepat ini? Meskipun kau adalah kepala keluarga Levant, tak seharusnya kau lancang denganku!"


Lowèn yang frustrasi akhirnya meledakkan juga emosinya. "AKU!" bentaknya, "aku hanya ingin menyembuhkan Chloe, agar anak-anakku bisa tersenyum kembali seperti biasa! Aku hanyalah orang tak berguna yang kebetulan menjadi kepala keluarga!


"Aku tahu aku tak pantas!


"Aku tahu aku hanya pecundang!


"Meskipun begitu, aku tetap ingin melindungi keluargaku!"


Karim segera melunakkan emosinya. Agatha juga tak tinggal diam, dia memeluk lengan suaminya.


"Ayah juga tahu, 'kan sihir Zeeta bisa saja mengangkat kutukan itu dari Chloe? Jika aku tak cepat, dia hanya akan mati!


"Aku sudah lelah dengan keadaan ini! Bahkan gara-gara aku, reputasi Zeeta menurun. Aku pun tak ingin melakukannya ... tapi tanpa sadar aku...." Lowèn jatuh berlutut.

__ADS_1


Tak lama kemudian....


"Anu... permisi...?" Zeeta menekan bel pintu dan bicara lewat intercom.


"Zee... Zeeta?" Lowèn bertanya-tanya. "Bukankah dia seharusnya...?"


Agatha segera bergegas membukakan pintu. Ia mengira Zeeta akan datang bersama orang lain, namun tidak. Zeeta seorang diri, bahkan tanpa Luna.


"Zeeta? Ada apa? Bagaimana dengan pestanya?" tanya Agatha.


"Sudah selesai. Anu, apa Paman Lowèn ada? Aku ingin minta maaf padanya...."


"Minta maaf?" batin Agatha. "Untuk sekarang, masuklah dulu." Agatha mempersilakan Zeeta.


"Ah, uhm. Permisiii...." Dengan rasa gugupnya yang tinggi, serta jantung yang berdegup kencang karena belum pernah datang ke tempat mewah begini, ia sangat hati-hati tidak meleceti apapun yang ada di hadapannya.


......................


[Beberapa saat yang lalu....]


Zeeta berangkat diantar oleh seorang supir menuju Wilayah Barat menggunakan limusin berlogo daun maple. Di sana, ia menyihir tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ia juga meminta sang supir menjelaskan secara ringkas seperti apa Wilayah Barat dan keluarga Levant di mata rakyat biasa. Disitulah ia mengetahui rahasia di balik tindakan Lowèn yang selalu marah.


Istri Lowèn, Claudia Levant, biasa disapa Chloe, telah tak sadarkan diri selama empat tahun belakangan. Rumor diantara rakyat menyebutkan, ia dikutuk oleh sesuatu sehingga tak mampu bergerak sama sekali. Jika ia tak dibantu dengan sihir milik Levant untuk membuatnya tetap bernapas, meski tubuhnya sudah tak bisa disebut sebagai manusia, ia benar-benar akan mati. Sang supir juga menyebutkan, Edward dan Ella sebenarnya sangat sedih melihat kondisi ibu tercinta mereka seperti itu, tetapi setelah bertemu dengan Zeeta, mereka jadi kembali ceria.


Tanpa disadari Zeeta yang terbawa arus bahasan, mereka telah sampai di tujuan. "Pak Supir bisa langsung kembali saja. Aku mungkin akan menginap di sini. Tolong sampaikan pada Guru, 'setelah sarapan, besok aku akan langsung ke bengkel!'" perintah Zeeta sebelum keluar dari limusin.


"Uhm. Terima kasih!" Zeeta melempar senyum manisnya sampai membuat supir berkepala dua itu tersipu.


Setelah limusin pergi, Zeeta yang disaksikan oleh berbagai mata rakyatnya masuk ke kediaman Levant disoraki salam yang hangat. Zeeta pun membalasnya dengan salam balik dan senyum yang tak kalah hangat.


Ketika masuk, ia disambut oleh dua orang penjaga dan seorang resepsionis yang terkejut dengan kedatangan dadakannya dan tanpa pengawal seorang pun. Mereka yang tak mampu berkomentar, hanya bisa menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh Tuan Putri mereka.


"Wah, ini sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya!" celetuk Zeeta ketika melihat "elevator sihir". "Ho... ho... jadi begitu. Ruangnya disihir dengan sihir teleportasi dan akan bergerak sesuai keinginan siapapun yang masuk. Whoa...," gumamnya. "Ah! Aku harus serius!" Zeeta segera masuk dan menuju lantai enam.


......................


Zeeta yang telah meneguk satu gelas penuh cokelat panas buatan neneknya, sudah menjelaskan situasi dan alasan, serta meminta maaf dengan Lowèn karena ucapannya. Sayangnya, Lowèn mendapat pukulan keras di kepalanya sudah berbuat tak sopan di hadapan bangsawan lain dan hampir memantik kebencian antar keluarga.


"Nenek, aku jatuh cinta dengan cokelat panas ini! Ajarkan aku membuatnya, dong!" seru Zeeta. Matanya berbinar, siapapun dapat mengerti ia sangat bersemangat.


Agatha yang meleleh karena pujian cucunya segera mengiyakan, "Tentu saja! Kapanpun kamu mau, Sayang!" jawabnya sambil tersenyum lebar.


"Ngomong-ngomong, aku tak melihat Ella dan Ed daritadi. Di mana mereka?"

__ADS_1


Pertanyaan Zeeta mengundang suasana ceria seketika menjadi suram. Ia segera mengerti kenapa. "Tentang itu, aku ingin segera mencoba menyembuhkan Bibi Chloe," katanya berwajah serius.


"Eh?" ketiga keluarganya bertanda tanya.


Setelah diceritakan darimana ia tahu tentang Chloe, Zeeta bertanya siapa dalang yang membiat bibinya bernasib malang itu.


"Sebenarnya ... dialah pelakunya," kata Lowèn menjawab.


"Hah?" Zeeta memiringkan kepala.


"Kala itu, Chloe ingin membuat sihir kutukan untuk siapapun yang membuat istana terkurung. Tidak bisa kupungkiri kalau dia sangatlah menyayangi kak Alicia dan kak Hazell....


"Namun sayangnya, mana-nya justru kehilangan kendali. Sihirnya yang kuat malah nyaris menghabisi nyawanya sendiri."


Namun, tiba-tiba, handphone Lowèn berdering. Itu adalah panggilan dari Edward dan Ella. Sesaat setelah ia mengangkat teleponnya, semuanya dapat mendengar Edward dan Ella berteriak. "Papa...! Mama ... Mama ... tolong bantu Mama!" teriakan keduanya amat kencang.


Zeeta segera mengernyit. "Pegang tanganku!" pinta Zeeta. Tanpa pikir panjang, Lowèn segera memegangnya, dan secepat mata berkedip, mereka berpindah tempat ke hadapan Edward dan Ella, serta tengkorak yang terbaring di atas kasur kapuk lebar—yang diyakini adalah Chloe—yang ditutupi oleh selimut. Tengkorak tersebut perlahan-lahan berubah menjadi debu dari kakinya.


"Ed, Ella, pergi bersama Papa kalian. Aku akan mengerahkan seluruh tenagaku." Zeeta melihat saksama kondisi bibinya yang bisa dibilang tidak dapat disebut sebagai Manusia lagi.


Perasaan terkejut, bingung, dan berharap tinggi, bercampur aduk dalam benak si kembar itu. Sebelum pergi dari kamar Mamanya yang berada di lantai tujuh dengan digendong Lowèn, si kembar menyemangati Zeeta. "Berjuanglah, Kak Zee!" seru mereka bersamaan.


Karena sudah serius dengan apa yang ada di hadapannya, Zeeta tak sempat membalas mereka. Ia segera memejamkan mata dan membuat lingkaran sihir di atas dan bawah tengkoraknya. Disaat ia ingin menyihir, ia mengingat satu saran dari Luna sebelum ia ke sini.


.


.


.


.


"Sihir memang hanya perlu diimajinasikan. Tapi, coba tebak, alasan kenapa ketika kau memakai Catastrophe Seal, kau harus merapal?


"*Itu k*arena akan ada efek khusus dari ucapanmu yang akan berubah jadi tambahan keberhasilan sihir yang akan kaugunakan. Ingat, rapalan hanya perlu dipakai ketika kau sangat terdesak. Jika tidak, kau hanya membuang-buang mana."


.


.


.


.

__ADS_1


Zeeta membulatkan tekad, kemudian merapal. Disaat bersamaan, anting bulan perbaninya bercahaya. "Dengan nama Zeeta Aurora XXI, mana alam, bantulah aku menyembuhkan orang di hadapanku beserta kutukannya!"


Butiran-butiran hijau dan biru bersinar menghujani tengkorak tersebut dari lingkaran sihir atas. Zeeta sangat berharap sihirnya akan segera bekerja.


__ADS_2