Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Bibit Kejahatan


__ADS_3

Kediaman Ophenlis, di malam sebelum Zeeta akan mengadakan pertemuan di sini, Mellynda sedang berdiam diri menatap langit.


"Kenapa orang-orang justru menyukai dan merasa mereka dilindungi oleh Tuan Putri? Apa mereka tidak sadar bahwa mana besar miliknya itu bisa saja melukai kita kapanpun dia mau? Ditambah lagi... ada ramalannya Ratu Peri. Apa mereka tidak tahu, ya...?" Mellynda sedang memikirkan kejadian pagi hari saat penobatan Zeeta menjadi Tuan Putri.


Tak lama kemudian, dari jendela dimana ia menatap langit, ia bertemu sesuatu.


"Ka-kau...?!" seru Mellynda terkejut.


Sesosok yang memiliki berhelai-helai sayap, butiran-butiran mana yang jatuh dari kepakan sayap itu, datang ke hadapan Mellynda dengan wajah tersenyum.


"Apa kau membenci Zeeta?" tanya sosok itu tidak menghilangkan senyumnya.


"Benci...?" tanya Mellynda.


"Ya. Kau merasa ... ingin Zeeta hilang dari dunia ini, bukan?"


Mellynda membutuhkan waktu untuk menjawabnya. Perasaan takut dan perasaan cemasnya jika sewaktu-waktu Zeeta lepas kendali atas mana-nya, maka bisa saja dia jadi korbannya. Itulah yang ia pikirkan. "Ka-kau benar. Aku ... ingin menghilangkan Zeeta dari dunia ini!" jawabnya. Tampak ada suatu kebulatan tekad dari tatapan matanya.


"Hihihi...." sosok itu terkikih. "Bagus...! Aku akan membantumu mewujudkan keinginan itu!" sosok tersebut semakin tersenyum lebar ketika mendengar jawaban Mellynda.


......................


Kini, Zeeta dan Mellynda tengah berdiri berseberangan. Raut wajah Zeeta tak menampakkan emosi, sementara Mellynda masih dikendalikan kebencian tak beralasannya.


Gadis kecil pirang itu menyerang Zeeta dengan kristal runcing yang ditembakkannya dari tangan kanan. Kristal tersebut melesat dengan cepat ke arah kepala Zeeta, namun Zeeta berhasil menangkisnya dengan tangan kiri yang sudah diperkuat dengan sihirnya.


Kesal karena serangannya berhasil ditangkis, ia memperbanyak jumlah serangannya. Layaknya prajurit kerajaan yang hendak mengeluarkan meriam sihir, Mellynda juga mengeluarkan lingkaran sihir di belakang punggungnya. Perlahan tapi pasti, kristal besar muncul dari balik lingkaran sihir tersebut.


"Dengan begini, kau tidak bisa menangkisnya!" Mellynda menyerang Zeeta dengan kristal-kristal tersebut.


Bunyi dentuman demi dentuman terdengar hingga ke dalam ruang pertemuan para bangsawan utama, membuat mereka tak bisa fokus dengan apa yang sedang mereka bahas.


"Demi Aurora, apa yang terjadi di halamanku?" Illia yang sedang berada di kamar putrinya, penasaran dengan suara dentuman itu. Ia lantas segera pergi untuk memeriksa apa yang terjadi.


Mellynda belum bisa memastikan apakah serangan bertubi-tubinya itu berhasil atau tidak karena asap tanah yang menghalangi pandangannya. Oleh karena itu, dia menggunakan sihirnya kembali. Ia melapisi tangan kanannya dengan kristal yang dibentuk meruncing, kedua kaki yang juga dilapisi kristal untuk membantunya mementalkan diri. Ia membuat aba-aba di kedua kakinya sambil menunggu hilangnya asap dari pandangannya.


Sedikit demi sedikit... asap mulai hilang. Kepala Zeeta terlihat dari balik asap dan meneteskan sedikit darah. Mellynda terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Kenapa...?" gumamnya.


Zeeta tersenyum, tetapi ia juga menangis. Baju ala Tuan Putri-nya compang-camping, seluruh tubuhnya terluka.


"Kenapa kau tidak melindungi dirimu sendiriiii?!" Mellynda mementalkan dirinya lalu menyerang perut Zeeta dengan tangan berlapis kristal itu.


'CRRT...!'


"Ghk...," erang Zeeta menahan darah di mulutnya. Posisi Mellynda dengan dirinya yang sangat dekat saat ini, digunakan Zeeta sebagai kesempatan. Tidak untuk menyerang, namun untuk menyentuh kepala Mellynda.


"Lepaskan...!" begitu Zeeta mengucapkannya, tampak butiran-butiran mana keluar dari tubuh pewaris Ophenlis kesembilan itu.


Beberapa detik kemudian....


Kedip demi kedipan mata tampak dari Mellynda . Ketika pandangannya sudah fokus, ia melihat dirinya tengah melukai Tuan Putri. Tangannya bahkan bersimbah darah.


"Aaaaaahh! A-a-apa ini?! Ke-kenapa?!" Mellynda segera melepas tangannya dari kristal dan jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.


Begitu juga dengan Zeeta, ia jatuh dengan lutut menyangga tubuhnya.


"Astaga, Tuan Putri!" suara Illia terdengar dari sebelah kanan—pintu untuk menuju halaman belakang tempat Zeeta dan Mellynda berada.


Illia segera melesat untuk menopang tubuh Zeeta. "Bertahanlah Tuan Putri, aku akan membawa Anda—" ucapan Illia dipotong Zeeta.


"Tidak. Biar aku sendiri."


Dengan kedua tangan yang bergemetar, Zeeta berusaha melepas kristal yang tersangkut di tubuhnya itu. Tangan kirinya ia gunakan untuk menahan dan menyembuhkan lukanya, sementara tangan kanan ia gunakan untuk mengecilkan ukuran kristal itu dengan sihirnya lalu melepasnya.


Setelah berhasil, tubuhnya yang lemas memaksanya untuk terjatuh di pelukan Illia.


"Ahahah... tak kuduga dengan luka seperti ini membuatku kehabisan banyak tenaga...," kata Zeeta tersenyum kecil.


"Apa yang Anda katakan, Tuan Putri? Apa yang terjadi?" tanya Illia.


"Nanti akan kuceritakan... tapi, bisakah kau biarkan aku bicara sendiri dengan Mellynda dulu?"


"Dengan Mellynda?! Tidak! Dia baru saja melukai Anda!"


"Tidak apa.... Kumohon. Percayalah padaku."


"Ji-jika itu yang Anda minta...." Dengan terpaksa Illia menjauh dari sana.


......................


Zeeta telah merubah posisinya menjadi duduk berselonjor. "Mellynda, kemarilah," panggil Zeeta sambil mengayunkan telapak tangannya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang campur aduk, mau tak mau Mellynda mengiyakan permintaan Zeeta. Ia duduk dengan posisi yang sama.


"Kau kelelahan, bukan? Karena aku juga kelelahan, aku akan melakukan ini." Zeeta mengangkat tangan disertai telunjuk kanannya. Kemudian, ia memutar-mutar tangannya, dan dari putaran tersebut muncul sebuah kubah berwarna hijau dan menumpahkan bola-bola seukuran kelereng berwarna hijau kekuningan pada mereka yang ada di dalamnya.


Perlahan tapi pasti, luka di kening dan lecet yang ada di tubuh Zeeta sembuh dengan sendirinya. Napas terengah dari Mellynda pun juga hilang.


Merespon apa yang baru saja dilakukan Zeeta, membuat Mellynda murung.


"Apa aku boleh memanggilmu Melly?" tanya Zeeta yang sudah menghilangkan kubah hijau itu.


"Tidak tahu... aku... tidak tahu...," jawab Mellynda. Ia masih diselimuti gemetar dan panik.


"Hmm. Begitu ya...?"


"Uhm...."


Dua anak kecil itupun terdiam. Suara angin menambah suasana canggung ini.


"Kautahu? Aku ingin berterima kasih padamu," ujar Zeeta, memecah keheningan.


"Eh? Terima kasih untuk apa?"


"Aku... dibesarkan di sebuah desa di Wilayah Selatan. Semua orang di desa itu menyukaiku dan menyayangiku. Aku tidak pernah mengerti dan tidak pernah tahu apa yang disebut kebencian.


"Rowing membenciku. Ketika aku pertama kali melihat kebencian, aku merasa sangat takut sehingga aku tak bisa menggerakkan tubuhku sendiri. Lalu, karena perasaan takut itulah, teman yang sudah kuanggap sebagai kakakku terluka.


"Ketika itu, aku tak bisa mengerti lagi apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak yakin perasaanku saat itu adalah kesal, marah, ataukah dendam. Yang pasti, aku hanya ingin Rowing hilang dari hadapanku.


"Kautahu? Sama sepertimu, aku bahkan takut dengan diriku sendiri....


"Aku bisa saja melukai orang-orang yang kusayang tanpa kusadari. Itu saaangat membuatku takut. Aku tidaklah cocok menjadi Tuan Putri. Aku juga diramalkan Ratu Peri bahwa aku akan menghancurkan dunia.


"Bisakah kaubayangkan seberapa takutnya aku? Lalu kemarin ... Raksasa bernama Ozy itu bilang bahwa aku adalah Penguasa Kekelaman dan ancaman dunia...." Zeeta meneteskan air matanya, sementara Mellynda menatap dalam diam Zeeta yang mencurahkan cerita dirinya.


"Semenjak aku keluar desa, begitu banyak hal menakutkan terjadi padaku! Tapi, ibuku adalah Ratu yang dicintai rakyatnya. Kalau hanya karena ketakutan saja aku tumbang, mana bisa aku jadi Ratu seperti ibuku!


"Melly, kau membuatku semakin yakin bahwa jalanku menjadi Ratu yang dicintai rakyatnya tidaklah mudah dan masih panjang. Akan ada banyak orang sepertimu yang selalu menilaiku dari tampang luar begitu saja!"


"A-apa itu.... Kau mengejekku? Lagi pula, aku belum mengizinkanmu memanggilku Melly." Mellynda mengalihkan wajahnya.


"Ya, aku memang mengejekmu!"


"Kuuhh...." Mellynda kesal karena Zeeta benar.


Mellynda masih mengingat kejadian semalam dan siapa yang mengunjunginya.


"Tidak, aku tidak ingat." Ia memilih untuk berbohong.


"Yah... sayang sekali...." Zeeta menelentangkan diri di atas rumput.


Mellynda yang melihat pakaian Zeeta compang-camping, membuat emosinya tersulut.


"Duh, kalau kau Tuan Putri, sadarlah dengan statusmu! Kau tidak bisa membiarkan orang lain melihatmu seperti ini!"


"Hmm? Apa maksudmu?"


"Pakaianmu!"


"Nnahh... kalau itu, sih, pakai sihir juga bisa. Santai saja, santai saja...."


"Ho? Sementara aku sibuk dengan urusan egoismu, kau malah bersikap tak layak sebagai Tuan Putri, ya, Zeeta?" suara Ashley membuat Zeeta terkejut setengah mati.


"Gehh?! Gu-guru?!" Zeeta segera duduk rapi dengan melipat kaki ke bawah. "Se-selamat datang, Guru Ashley. Ta-tak kusangka Guru selesai secepat ini...." Zeeta bermandikan keringat panik.


"Ya, karena ini adalah permintaan egois Tuan Putri, dan Tuan Putri itu dengan egoisnya meminta kami duduk diam dan melanjutkan rapat sementara Tuan Putri itu terluka dan dalam kondisi seperti gelandangan begini?!


"Apa saja yang masuk dalam otakmu setelah aku mengajarimu banyak hal, dasar murid tak tahu diri?!"


"Uwaaah aku minta maaf, Guru! Lagi pula, lukaku sudah sembuh, dan Melly juga sudah baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Iya, 'kan, Melly?" Zeeta mengode Mellynda untuk mendukungnya.


"Hmph!" Mellynda mengalihkan pandangannya—menolak Zeeta mentah-mentah.


"Hmm, tampaknya Mellynda tidak dalam pihakmu. Sayang ya, Tuan Putri?" Ashley tersenyum lebar. "Bersiaplah untuk belajar etika bangsawan selama lima jam, tanpa istirahat!"


Zeeta tersadar di detik itu. Gurunya adalah guru yang tak berbelas kasih, siapapun muridnya. "Tiiidaaaakk!" ia hanya bisa berteriak pasrah.


Sementara itu, di kedalaman hutan, sosok yang sebelumnya menemui Mellynda melihat seluruh kejadian tadi di sebuah bola kristal.


"Hmm, dia memang gagal tapi dia masih bisa kugunakan. Yah, tidak dalam waktu dekat, tapi masih banyak cara agar permainanku ini bisa terus menghiburku!" sosok itu tersenyum jahat.


......................

__ADS_1


Zeeta dan bangsawan utama lain masih di kediaman Ophenlis karena Zeeta menceritakan apa yang terjadi dengan Mellynda. Sementara Mellynda , ia berhadapan dengan ibunya di kamar miliknya .


Waktu intens yang terjadi antara ibu-anak ini dilengkapi dengan emosi tinggi dari Illia.


"Ibu kecewa padamu, Nak," ujar Illia mengawali pembicaraan.


"Aku tahu, dari tatapanmu saja aku tahu. Ibu juga sangat marah padaku karena sudah melukai Tuan Putri. Aku tahu jadi tidak usah bilang apapun lagi padaku...."


Illia terdiam, lalu menjatuhkan kepala Mellynda di pahanya. Ia kemudian mengelus rambut putri kesayangannya itu.


"Ibu sayang padamu, Nak. Apa yang Ibu katakan padamu tadi pagi bukanlah ingin membandingkanmu dengan Tuan Putri. Ibu hanya ingin putriku Mellynda tidak jatuh layaknya Rowing...."


Tetes air mata terasa di paha Illia. Ia tersenyum kecil. "Tenangkan dirimu, Nak. Hari ini kau sudah melewati banyak hal, ya...." Illia tetap mengelus lembut rambut putrinya. Dengan penuh kasih sayang yang tertuang sepenuh hati, ia terus mengelus rambut putri kesayangannya itu sampai jatuh terlelap.


.


.


.


.


Sementara itu, di ruang pertemuan, Zeeta telah menceritakan pada bangsawan utama tentang apa yang terjadi dengan Mellynda. Bajunya yang rusak juga sudah diperbaiki dengan sihirnya.


"Sayangnya, Melly bilang dia tidak ingat apapun. Jadi untuk saat ini kita tidak tahu pasti siapa dalangnya," kata Zeeta.


"Lalu, kita akan melupakan kejadian ini begitu saja, apa itu yang ingin Anda katakan, Tuan Putri?" tanya Willmurd.


"Aku bilang, 'untuk saat ini', Tuan Willmurd."


Willmurd merasa malu. "Ma-maafkan aku, Tuan Putri."


"Yang aku rasakan dari mana itu adalah, sumbernya dari luar kerajaan. Oleh karena itu, aku terpikirkan suatu cara dan aku ingin meminta suara kalian.


"Kedatangan Elf, Peri, dan makhluk sihir dengan tubuh serupa atau lebih kecil dari manusia, selama ini tak dapat dirasakan oleh kita. Apa itu benar?"


"Itu benar. Lantas, apa yang ingin Anda lakukan?" tanya Willmurd.


"Jangan bilang... pelindung, kah?" tebak Ashley.


"Itu benar."


"Ta-tapi, jika kita melakukannya, rasa percaya mereka pada kita akan berkurang!" sanggah Porte.


"Tidak perlu kaukhawatirkan, Tuan Porte. Pada dasarnya Peri memang tidak diizinkan oleh Ratu Peri agar terlalu terlibat dengan masalah Manusia, oleh karena itu apapun yang kita lakukan demi kerajaan, mereka tak akan turun tangan. Kecuali jika terdapat masalah yang memaksa mereka."


"Lalu, bagaimana dengan Elf, misalnya Aria?" tanya Hellen.


"Tidak apa, karena pelindung yang ingin kubuat hanyalah pelindung sensor."


"Sensor?" tanya Willmurd. Ia memiringkan alisnya.


"Ya. Aku hanya punya insting bahwa ini bukan kali terakhirnya dalang dari kejadian Mellynda akan berhenti melakukan aksinya."


"Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Porte.


"Berikan aku peta kerajaan." Zeeta meminta.


Porte pun merubah meja kristalnya menjadi peta kerajaan berbentuk tiga dimensi. Kemudian, Zeeta pun melanjutkan bahasan rencana mereka.


......................


Matahari telah menyembunyikan setengah tubuhnya dibalik cakrawala dunia. Tak ada yang menyangka rapat mereka bisa berlangsung selama itu. Bahkan Ashley.


Zeeta dan Ashley kini sedang berjalan menuju limusin kuning kemerahan milik Alexandrita yang sudah menunggu mereka di gerbang kediaman Ophenlis.


"Uaahh punggungku sakit...," keluh Zeeta, "mulutku juga jadi bau karena kelamaan berbicara... uweekkk."


Ashley yang mendengarnya segera emosi, namun ketika mengingat Zeeta telah menjalankan perannya sebagai Tuan Putri dengan amat sangat baik, ia mengurungkan niat untuk menceramahi Zeeta.


"Kerja bagus, Nak!" Ashley menepuk bahu Zeeta.


"Uhm. Terima kasih, Guru!" Zeeta membalas Ashley dengan jurus senyuman manisnya.


"Kauingin apa? Aku akan mentraktirmu."


"Eh? Guru sudah punya banyak pelayan di rumah, untuk apa Guru mentraktirku?"


"Tak apa, sebagai hadiah karena kau sudah berjuang dengan baik."


"Yey, ternyata Guruku adalah Guru yang baik, ehehehe.... Kalau begitu, aku ingin...."


Zeeta pun menyebut apa yang ia inginkan sambil berjalan ke limusin. Hari pertama Zeeta sebagai Tuan Putri, berakhir dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2