
Lantunan jangkrik yang saling sahut-menyahut menemani tiga pasang sahabat yang sedang bersandar di tembok tua berlumut—bekas rumah Tellaura.
"Begitulah," kata Zeeta yang tengah diapit dua sahabatnya sejak kecil itu, "alasan mengapa aku berada di sini sekarang. Inilah rumah dari 'Legenda Penyihir' yang selama ini kita dengar turun-temurun. Siapa juga yang akan menyangka kalau tempat seperti ini ada di desa kita, bukan?"
Zeeta menceritakan sendiri bagaimana "petualangan"-nya di Fyrriheim, pertemuannya dengan keturunan Gala, serta apa saja yang terjadi kala ia di Tanah Kematian. Semua itu berkaitan pada satu tema; leluhur.
"Haaah~" Gerda menghela napas. "Aku heran dengan leluhur-leluhurmu. Mereka sudah lama mati, kenapa masih saja bisa berkomunikasi denganmu. Jika aku jadi kau, aku pasti bakal merasa ngeri dan ogah bertemu lagi dengan mereka."
"Uhm. Itu benar. Mereka mungkin bisa saja disebut hantu, tapi mereka sudah banyak sekali membantuku."
"Bicara tentang mereka, Zee," sahut Danny yang tidak ingin tertinggal, "Tellaura itu juga masih berada di Aurora, lho."
"Eh? Benarkah? Apa dia juga berubah jadi Manusia biasa sepertiku, ya?"
"Hanya ada satu cara memastikannya." Danny tersenyum, namun tidak dengan adiknya.
"Hentikanlah idemu itu!" gerutu Gerda, "pasti kauingin mengajak Zeeta berduaan dengan sihirmu dengan dalih 'aku akan membantumu!'
"Cuih!
"Dengar, ya, Zeeta ini tidak lev—"
"Sudah cukup, Gerda. Aku pun hanya penasaran saja. Lagi pula, malam sudah larut. Ada hal lain yang harus kulakukan daripada memastikan hal sepele itu saja. Ayo lekas kembali dan maukah kalian membantuku esok?"
"Tentu saja...." Gerda memandangi kakaknya sesaat, lalu lada Zeeta. "Apa yang ingin kaulakukan?"
Zeeta tersenyum. "Apa lagi kalau bukan ... 'bersiap'...?"
......................
Esok harinya, Zeeta dan dua sahabatnya berangkat ke ibu kota tidak dengan sihir atau kendaraan, melainkan jalan kaki. Ketiganya berangkat cukup siang—sengaja karena banyak sekali jadwal mereka di Lazuli selain bercakap-cakap. Seperti memperbaiki kedai, memberitahu penduduk tentang kediaman Tellaura, keberadaan Ratu Peri baru, serta tentu saja... pesta makan. Dengan banyaknya penduduk yang masih khawatir dengan Zeeta, seperti yang pernah dilakukan ketika putrinya berusia empat belas tahun, Arthur memasak all-out, tentunya dibantu Hellenia sebagai calon istrinya kelak, dan pasutri Recko-Grilda.
.
.
.
.
"Lagian, Zee...." Gerda berjalan gontai dibawah sengatan sang surya. "Kenapa pula harus kau sendiri yang menjelaskan hal-hal itu tadi pada rakyatmu? Bukannya kaubisa menceritakannya pada istana dan menyebarkannya saja? Langkah ini lebih mudah!
"Ih, duhhh! Gerah sekali!"
"Apa boleh buat, Gerda, ini kan musim panas! Situasi sibuk kita saja yang tidak membiarkan kita menyadarinya," balas Zeeta.
"Padahal tanah berbunga karena Vanadust ini masih berefek, 'kan? Kenapa tidak sesegar dua minggu yang lalu, sih?"
"Karena ada hubungannya dengan Jormungand," sosor Luna, Si Penumpang Ilegal yang berlindung dibalik panjangnya rambut Zeeta dan topi jerami dengan bertelungkup di bahunya.
Gerda menghentikan langkahnya sesaat, kemudian lanjut berjalan. "Oh, begitu." Ia kemudian mengeluarkan senjata sucinya. "Aku akan melakukan persiapanku sekarang, Zee. Teruslah berjalan."
"Hehe. Memang inilah incaranku." Zeeta tersenyum.
Gerda dumb-founded, tetapi segera menyeringai. "Dasar, Rune-mu itu sungguh merepotkan."
"Hei, Luna," panggil Danny, "apa kau tidak bisa memberitahu kami seperti apa Jormungand itu?"
"Tidak perlu mengetahuinya juga, saat melawannya kelak, kalian pasti mengeluarkan semua yang kalian bisa, 'kan?"
"Yah, itu, sih, sudah pasti...."
__ADS_1
"Ayolah, Luna...." Zeeta memohon, "aku juga penasaran."
"Baiklah-baiklah.
"Jormungand adalah Raksasa Ular. Dari seluruh rasnya, dia terkenal sebagai Mimpi Buruk sebab kekuatannya. Dia umumnya selalu berada di air, tetapi ia juga bisa menjadikan tanah sebagai sekutunya.
"Selain itu, tidak ada yang pernah bisa melukai sisik ataupun mendekatinya, bahkan dari rasnya sendiri sekalipun. Ia memiliki racun yang sangat mematikan."
"Terdengar sangat tangguh sekali...."
"Memang. Oleh sebab itu, jika dia sudah diterjunkan, maka Ragnarok sudah dimulai."
"Apa ada yang lebih kuat dari dia?"
"Hahaha.... Tentu saja ada." Luna menyipitkan mata, menatap tajam pula Danny.
"E-eh...?"
"Ada apa dengan keherananmu itu?
"Dia ada di depan hidungmu, dasar bodoh!"
"Duh ... Luna...." Zeeta mengelus kepala Luna lembut. "Kau terlalu menyanjungku. Daripada itu, Dan, apa kaubisa memikirkan sesuatu untuk mengatasi serangan mereka?"
Danny tersenyum lima jari, kemudian merangkul leher adiknya. "Tentu saja." Ia pun menunjukkan dua jemari "peace"-nya.
"Ugh! Lepaskan, Kak!" bentak Gerda, "sudah kubilang lagi gerah!"
Zeeta tersenyum kecut. "Yakin?"
"Hei hei, kita memiliki seseorang yang memiliki racun dan sering latih tanding dengan kita, lho." Begitu mendengarnya, Zeeta terpatung.
"Ah! Mati aku."
"Selalu, selalu, selalu, dan SELALU SAJA!
"ZEETA AURORA KEDUA PULUH SATU!!"
Aurora merasakan guncangan hebat hanya karena bentakan keras dari gadis di depan tiga-sahabat itu.
"Ma-maaf!" Zeeta berusaha membela diri. "A-aku sibuk dengan—"
"Tutup mulutmu. Aku bosan mendengarmu terus saja beralasan bodoh.
"Cepatlah. Ibu sudah menunggu. Salahkan dirimu sendiri karena tidak menyuruh sepupu-sepupumu bungkam."
"Ah!" Zeeta menganga. "Aku benar-benar tidak terpikirkan!"
Empat urat kepala timbul di kening gadis berambut hitam-biru itu. "Setidaknya kau harus merasakan sihirku, ya.... Dengan begitu kaupaham kalau aku ini sa-ngat kuat!"
"Yah, sudah-sudah." Zeeta tiba-tiba tersenyum seakan tak terjadi apa-apa. Ia juga menepuk bahu kakak angkatnya. "Mau cepat juga tidak bisa. Kami sedang bersiap-siap."
"Hah...? Bersiap...?" Azure mencoba memahaminya sendiri dengan melihat sekitar. "Ka-kalian sungguh effort dan niat sekali!" ia tak habis pikir. Azure jadi terdiam sesaat dan tampak memikirkan sesuatu. "Jadi, kauingin aku lakukan apa?"
"Katakan, Kak.... Apa kauingat saat Ozy datang pertama kali, yang dilakukannya tepat setelah ia melihatku, apa?"
Azure mencoba mengingat. "Ka-kau ingin aku melakukan itu?! Apa kaugila?!"
"Aku tidak ingin diremehkan dan terus dianggap makhluk yang tak pantas oleh kedua ras itu."
"Yah... bukannya aku tidak paham maksudmu, Zee, tapi ... bukankah Tanah Kematian sudah terlalu terbebani?"
__ADS_1
"Siapa bilang kau harus membunuh mereka?"
"Eh? Apa jadi maksudmu?" Zeeta kemudian membisikinya, yang segera disambut oleh kernyitan dahi. "Bagaimana kalau aku gagal?"
"Kaupikir kau sendirian?" Zeeta merangkul dua sahabatnya.
"Asal kalian tahu saja, ya." Luna tiba-tiba menyela, "yang harus kalian atasi saat Ragnarok tidaklah hanya Jormungand. Raksasa dan Naga ... mereka tetaplah ras terkuat yang ada di Bumi. Terlebih, selama ribuan tahun, mereka hidup di dunia yang menguntungkan kekuatannya dan ketika tujuan hidupnya selama ini ada di depan mata, tentu saja mereka takkan melepaskannya."
Azure, Danny, dan Gerda langsung terbungkam. Tapi....
"Tenang saja." Zeeta tersenyum. "Akulah yang tidak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya."
"Zeeta...." Ketiga rekannya itu tersentuh oleh kepercayaan dirinya.
......................
Usai berjalan berkilo-kilo meter dari desa Lazuli menuju pintu gerbang Wilayah Selatan, mata-mata jeli rakyat serta prajurit penjaga gerbang langsung ricuh. Ada yang menyambut gembira, was-was, dan lain-lain.
"Kita berpisah di sini sebentar, ya." Zeeta melayangkan tubuhnya di udara sambil memegangi topinya. "Aku akan bicara dengan ibu."
"Ya, baiklah!" ketiga orang yang menemani Si Rambut Perak itu melambaikan tangan mereka.
.
.
.
.
Setelah gono-gini dengan keluarga besarnya yang selama ini menginap di kediaman Levant, Zeeta mengusulkan sesuatu. Tentunya, ia bicara di hadapan para Levant.
"Izinkan aku berbicara empat mata dengan Kakek."
Semuanya terkejut. Mereka menduga, apakah itu ada hubungannya dengan "tujuan akhir" Levant adalah untuk membunuh Zeeta?
Sang kepala keluarga Levant, Lowén, mengizinkannya dengan satu anggukan mantap.
.
.
.
.
Zeeta masuk ke kamar remang yang hanya disinari lentera sihir dan lampu dengan daya yang rendah. Begitu memasukinya, ia segera menyadari lukisan yang ada tepat di hadapan kasur sang kakek. Tentunya, dia tahu apa itu sebenarnya.
"Hai, Kek, lama tidak bertemu."
"Oh...!" Karim melotot, segera meneteskan air mata. "Oh, Zeeta...! Cucuku! Maaf... maafkan Kakek... Kakek tidak bisa meli—"
"Maaf aku menyelamu, Kek, tetapi aku butuh saranmu segera." Tatapan Zeeta dan ekspresinya, segera menyadarkan pria sepuh itu kalau Zeeta sedang mencari jawaban akhir yang akan benar-benar memantapkan hatinya. "Hanya kaulah yang bisa kuandalkan untuk masalah ini."
Entah bagaimana, Karim merasa memiliki kekuatan. Dirinya yang selama ini terbaring lemah, mulai bisa bersandar. "Ja-jangan paksakan dirimu, Kek...!"
"Tidak, Zee.... Jika ini permintaanmu, aku harus dengarkan itu. Lagi pula, aku juga sudah membelot dari Sumpah.
"Jadi, apa yang ingin kaubicarakan?"
"Sebelum itu, bersediakah Kakek untuk mengatakan padaku, alasan mengapa leluhur Levant menginginkan aku mati?"
__ADS_1
Tidak perlu jawaban atau pemberitahuan pada sang sepuh tentang siapa yang memberitahu hal itu pada Zeeta. Yang ia keluarkan dari mulutnya, ialah....
"Ambillah lukisan itu dan bawakan ke sini. Kita akan melihatnya bersama."