
Apa sebenarnya yang menyebabkan Phantasmal bisa terwujud atau apa alasan mereka eksis di dunia sihir ini? Apakah ada kaitannya dengan Yggdrasil dan peperangan antar manusia dan makhluk sihir ribuan tahun yang lalu, yang akhirnya terhenti karena Yggdrasil itu memecah diri menjadi Roh? Luna akan menjawab semua itu, termasuk hal tambahan lain yang sudah dipikirkannya di hadapan semua orang yang sudah terikat oleh permasalahan ini. Mereka adalah Ratu dan Raja, para bangsawan utama, Eclipse, Axel, Myra, Arthur, dan Pasukan Crescent Void. Mereka dikumpulkan di satu ruang yang sama—ruang takhta sang Ratu.
Ruang itu dipenuhi kesunyian. Mereka penasaran apa yang hendak diungkap Luna.
“Aku mulai mengerti,” ucap Luna yang memulai percakapan. Dia memakai wujud manusia-rubahnya. Semua mata juga tertuju padanya. “Alasan mengapa Zeeta ingin menghancurkan dunia,” sambungnya. Semua yang mendengar itu segera terbelalak. Tidak terkecuali Marcus dan Colette.
“Apa maksudnya?” tanya Alicia. Ia mengerutkan kening.
“Aku telah mengamati pertumbuhan Zeeta selama aku bersamanya. Memang, aku tak bisa membandingkan pengamatanku dengan semua yang telah leluhur Aurora lakukan untuk merubah masa depan kita semua yang akan berakhir.
“Tetapi, ingat dan pikirkanlah sekali lagi dengan teliti. Entah berapa kali kalian mencoba mengubah masa depan dan menghalangi Zeeta melangkah ke jalan yang salah, arus waktu yang menuntun dunia ke kehancurannya tidak berubah.”
Arthur yang telah membesarkan Zeeta selama delapan tahun saja tidak mengerti apa maksud Luna. Dia ingin marah, tetapi lebih memilih untuk diam. Semua orang juga sama.
“Ah, benar juga. Tak ada satupun dari kalian yang melihat seperti apa masa depan kerajaan ini selain aku, Zeeta, dan beberapa leluhur Aurora....
“Baiklah. Aku akan menceritakan apa yang kami lihat di masa depan.”
Luna akhirnya bercerita tentang yang mereka lakukan disaat pemakaman Willmurd sedang berlangsung. Setelah mendengar semuanya, Danny, Gerda, dan Mellynda melihat ke tangan mereka sendiri sambil bergemetar. Isi pikiran mereka sama. “Kami saling ... membunuh...?” dan “kak Azure ... mati?”
“Perlu kalian ketahui,” Luna langsung lanjut bicara, “meskipun anak itu menjadi orang yang tangannya berlumuran darah, dia tetap menuntaskan apa yang menjadi bebannya.”
Semua orang mengerutkan masing-masing dahi.
“Beban anak itu bukanlah menjadi Tuan Putri yang pantas bagi kerajaan, bukan menyelamatkan kerajaan, bukan juga mengorbankan diri demi rakyatnya, tetapi untuk mengakhiri dunia.”
“Hei!” pekik Novalius, ia sudah tak tahan lagi. “Apa maksudmu dengan semua ini?! Jangan bercanda! Kakekku mati dengan memberikan harapan agar dunia ini cerah! Tetapi kenapa Tuan Putri justru sebaliknya? Kukira dia bukan orang yang seperti itu!
“Kalau kau mau memecah belah kami, sebaiknya bersiaplah!” Novalius berkuda-kuda dan mengeluarkan aura peraknya. Ia hendak menusuk Luna dengan tombak sihir yang baru dibuatnya.
“Novalius!” seru Alicia yang mengejutkan Novalius dengan suaranya yang lantang, “kendalikan dirimu dan biarkan Luna bicara. Tidakkah kau mengerti ini situasi yang darurat? Jangan buang-buangkan waktuku dengan omong kosongmu!
“Diam dan dengarkanlah.”
Novalius segera menciut dan segera mengendalikan dirinya. “Maafkan aku, Yang Mulia, maafkan aku, Luna.”
Luna menggelengkan kepala sambil menghela napas. Ia lanjut bicara lagi. “Aku tahu jika kalimat ‘mengakhiri dunia’ bermakna meluluh-lantakkan dunia, tetapi bukan itulah maksudnya.
“Sebenarnya, keinginan ‘mengakhiri dunia’ sudah ada sejak lama. Bahkan, banyak sekali orang yang berpikir seperti itu. Hanya saja, acap kali hasil dari keinginan itu tidak terwujud dengan apa yang benar-benar diinginkan.
“Misalnya, Laura. Dia ingin dunia yang selalu menyakiti adik dan dirinya berakhir dan benar-benar terbebas dari segala kesakitan yang mereka alami, baik batin dan fisik. Tetapi ironisnya, dia justru bertemu dengan Peri nakal yang membuatnya menjadi penyihir, adiknya menjadi Ratu baru Aurora, dan mengubah dunia ini dalam sekejap mata di akhir hayatnya.
“Pikirkanlah, apakah keinginan ‘mengakhiri dunia’ miliknya terwujud? Pada akhirnya, dia mati dan tak dapat mewujudkan keinginan yang sebenarnya.”
Para bangsawan yang ada di sana tahu siapa yang Luna maksud.
“Hei hei hei... jangan bilang, Laura itu....” Arthur menebak-nebak.
Luna mengangguk. “Ya. Dia adalah kakak dari Ratu Aurora kesembilan, Clarissa. Sang ratu dan kakaknya dulunya adalah warga desa biasa.”
“Kenapa Roh Yggdrasil sepertimu bisa tahu hal seperti itu?!” pekik Arthur, “aku tahu kau adalah Roh yang menghidupi dunia ini, namun tetap saja tak cukup untuk menjelaskannya! Kau bahkan tak memiliki bukti!”
__ADS_1
“Uhm.” Luna setuju, kemudian menunjuk ke arah Myra dan Axel. “Tapi bagaimana kalau kukatakan jika ada saksi yang melihat itu semua?” Dua nama yang disebut itu memejamkan mata.
“A-apa?!”
Alicia mencengkeram tangannya. “Lalu!” pekiknya, “kenapa putriku ingin mengakhiri dunia?! Katakan saja intinya! Masalah masa lalu biar dibicarakan nanti saja!” ia terpaku dengan masalah anaknya.
Luna menatap serius Alicia. “Masa depan yang kami kunjungi, adalah dunia dimana orang-orang yang bisa memakai sihir hanyalah yang tersisa di istana itu saja. Zeeta, Gerda, Danny, dan Mellynda.”
Semuanya menganga mendengarnya.
“Meskipun..., aku tak yakin kalau Zeeta menyadarinya atau tidak,” sambung Luna, “aku tak bisa mengungkap alasan mengapa dirinya tidak pernah mau mengubah keinginan itu, entah seberapa keras kalian berusaha mengubahnya. Aku tidak tahu. Yang pasti, di dunia itu, mana alam sudah tidak ada, makhluk sihir seperti Eclipse, Ozy, Axel dan Myra, sudah lenyap dari peradaban.
“Itu artinya, ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan Zeeta mulai terbesit ingin ‘mengakhiri dunia’. Jika firasatku benar, itu terjadi ketika dia bertemu dengan Phantasmal yang sedang menuju ke sini.”
Alicia memukul pegangan kursi dengan kepalan tangannya. “Lalu apa yang kita tunggu? Jangan biarkan dia bertemu dengan mereka apapun yang terjadi. Kita semua harus—“
“Mustahil!” seru sebuah suara yang datang dari pintu ruang. Dia adalah Siren. Di sampingnya juga ada Klutzie.
“Kalian...!?” Danny dan kelompoknya bersiaga, tetapi mereka mengabaikan kesiagaan itu dan segera berhadapan dengan Alicia, dan ia membiarkan mereka berhadapan dengannya.
“Apa maksudmu dengan mustahil? Apa kauingin bilang kami tidak punya cukup kekuatan?” tanya Alicia.
“Tidak. Kuakui kalian semua sangat kuat dan tangguh. Tetapi, mungkin kaulupa, Ratu, jika Phantasmal tidak bisa dikalahkan tanpa adanya senjata suci yang hanya bisa dipakai Zeeta—khususnya yang Phantasmal yang sudah beradaptasi dan memiliki pola pikir.”
Alicia menggigit jarinya. Ia terlupakan tentang fakta itu. “Sialan. Tidak ada cara lain, kah?”
“Tidak, sebenarnya ada,” timpal Luna.
“Tidak. Zeeta HARUS hadir dalam pertempuran ini,” tukas Luna, “Siren benar. Phantasmal tidak bisa dikalahkan tanpa adanya Catastrophe Seal, tetapi kalian bisa melakukan sesuatu pada mereka yang tak memiliki keterikatan.”
“Ah, begitu, ya!” Siren paham apa maksud Luna.
“Tolong, jelaskan lebih rinci,” pinta Hazell, “apapun yang terjadi, kami harus bisa melindungi Zeeta!”
Luna mengangguk.
“Mula-mula, kalian harus paham terlebih dahulu, apa alasan dan mengapa Phantasmal bisa ada di dunia ini....”
......................
Sementara Luna menjelaskan asal-usul Phantasmal, Zeeta yang masih di kediaman Tetua para Elf, Hugo, juga dijelaskan tentang hal yang sama.
“Tanah Ephemeral adalah sebuah benua dimana segala mimpi yang ingin dilihat seseorang bisa terwujud,” ujar Hugo, yang menjelaskan asal-usul Phantasmal pada Ozy, Aria, dan Zeeta. “Itu terwujud dari keinginan Bumi ini sendiri, tanpa campur tangan Yggdrasil.
"Dengan kata lain, bersama dengan Yggdrasil, Tanah Ephemeral juga menghidupi dunia.
“Ribuan tahun yang lalu, Tanah Ephemeral adalah benua yang damai, indah, dengan segala mimpi yang ingin dilihat begitu sederhana dan kekanak-kanakan. Mimpi-mimpi itu misalnya saja seperti buah yang terasa gurih, mewujudkan senyum pada setiap orang, hingga mimpi ingin dunia selalu damai bersama dengan Yggdrasil. Mereka ... bermimpi dengan nyenyak.
“Sayangnya, lama kelamaan makhluk di dunia ini menjadi semakin rakus, dan membuat Tanah Ephemeral justru mewujudkan mimpi yang dilihatnya justru menjadi kenyataan. Pencemaran itu memang sesuatu yang tidak bisa dihindari seiring berjalannya waktu.
“Sesuai namanya, Tanah Ephemeral hanya bisa mewujudkan atau memerlihatkan mimpi yang diinginkan seseorang hanya untuk sementara waktu. Mimpi-mimpi itu hanyalah kefanaan belaka. Tentu saja ada alasan dibalik ini.”
__ADS_1
“Jika seseorang terjebak dalam masa lalu atau tidak ingin bergerak untuk mengubah kehidupannya," Aria lekas menambahkan, "maka mimpi yang dilihatnya atau sedang dikejarnya takkan pernah bisa terwujud—sama saja dengan seseorang menyiksa dirinya sendiri.”
Hugo mengangguk. “Itu benar. Dunia saja tidak ingin makhluk di dalamnya menjadi lemah. Tetapi, seperti yang kukatakan, perlahan-lahan mimpi yang ingin dilihat mulai kotor dan menyebabkan Tanah Ephemeral kehilangan jati diri yang sesungguhnya, dan melahirkan makhluk pembawa kehancuran setiap waktu, tetapi itu masih menjalankan perannya sebagai pewujud mimpi.
“Mimpi, dapat dikatakan setara dengan apa yang sangat diemosikan seseorang pada satu waktu tertentu. Misalnya Zeeta, ketika kau sangaaaat ingin menyelamatkan dunia, ada kemungkinan Phantasmal terwujud dari keinginan itu.
“Lantas, kenapa kusebut itu sebagai kemungkinan?"
Hugo mendapatkan gelengan kepala dari Zeeta.
“Sederhana. Untuk keseimbangan dunia itu sendiri. Jika dunia ini menginginkan sesuatu berubah, maka takdir yang menjalaninya ada pada seseorang. Kuberi contoh pada Lucy. Jika dunia menginginkan dia seperti itu, maka itulah takdirnya.”
Mendengarnya, alis Zeeta segera berkedut. “Hah? Jadi, kaubilang kau membiarkan itu terjadi?!”
“Ya. Ketika kau menjadi seseorang yang menanggung beban sepertiku, kau harus melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan rasional.
“Dunia ini akan berubah dan perubahan itu dibawa oleh banyak pemeran, termasuk aku, Ozy, Aria, dan dirimu sendiri.
“Jangan katakan kalau aku tidak pernah terpikirkan untuk menghentikan omong kosong ini, tetapi tetap saja... dunia terlalu besar untuk kulawan sendirian." Hugo mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepala.
“Perputaran dunia yang kejam seperti ini harus segera dihentikan. Tanah Ephemeral sudah tidak mewujudkan mimpi indah lagi pada dunia, tetapi sebaliknya. Sebagai jawaban dari ketidakwajaran itu, Catastrophe Seal ada.
“Phantasmal adalah makhluk yang tak seharusnya ada di dunia ini. Mereka yang telah beradaptasi dan berpola pikir, hanya akan mengalami hal pahit ketika tahu hal ini. Mereka tidak tahu jika mereka hanyalah perwujudan emosi atau mimpi seseorang yang tak seharusnya hidup.
"Karena itulah, keinginan mereka untuk hidup memberi mereka ikatan pada dunia yang sangatlah kuat, hingga menyebabkan bencana pada dunia itu sendiri, dan harus diatasi dengan Catastrophe Seal. Terlalu ironis, jika kuharus gamblang.
“Zeeta, aku yakin kautahu sesuatu untuk mengakhiri dunia sihir yang kejam ini, ‘kan?”
Zeeta seakan tersengat. “I-itu….” Ia tak bisa mengatakannya.
Ozy tersenyum setelah mendengar semuanya. “Ozy...?” Aria bertanya-tanya tentang apa yang dipikirkan Raksasa ini.
“Jadi begitu,” kata Ozy, “kau memang sudah kehilangan hati, Hugo.” Ia tidak menghilangkan senyumnya.
Hugo membalas senyuman Ozy dengan lukisan bibir yang sama. “Ha ha ha, terima kasih atas pujianmu.”
Sementara Aria yang tersesat dalam benaknya, Zeeta
mencengkeram tangannya kuat-kuat. Ia tahu apa yang mereka berdua maksud, dan dia tidak senang mengetahuinya.
“Baiklah!” seru Hugo, “masih ada waktu sekitar sembilan jam sebelum Phantasmal itu sampai ke kerajaan Aurora. Sampai saat itu tiba, setidaknya kuasailah satu bentuk Catastrophe Seal. Hutan Sihir Agung juga akan bersiap jika skenario terburuk muncul.” Hugo mengangkat kaki ke luar kediamannya.
“Nah, Zeeta....” Ozy menyuguhkan tangan kanannya pada Zeeta. “Ayo mulai latihan—“
“Tunggu dulu!” pekik seorang Elf dari luar. Dia adalah
Mintia. “Jangan buat usaha keras kami terbuang sia-sia! Zeeta, kau harus ikut aku dulu. Ini tidak butuh waktu lama. Beri kami waktu tiga puluh menit!” Mintia
segera masuk ke kediaman dan menarik Zeeta, lalu lekas keluar lagi.
Melihat itu semua terjadi dengan cepat, membuat Ozy dan Aria tercengang.
__ADS_1