
Di suatu kedalaman reruntuhan dengan pencahayaan bermodal obor, sosok Lucy dan Azure terlihat. Lucy terlihat tidak mengalami penuaan. Ia persis seperti dirinya di enam setengah tahun yang lalu. Sementara Azure....
"Ada apa denganmu?" tanya Lucy. Ia menyeringai sambil duduk melipat kaki di sebuah reruntuhan tembok. "Tidakkah kau senang dengan kembalinya adikmu?"
Azure terdiam.
"Aku takkan melakukan apapun jika kauingin menemuinya sekarang, lho. Ah, tapi aku tetap memegang ucapanku enam setengah tahun yang lalu....
"Kalau kami akan menghancurkan dunia. Itu pasti terlaksana!" seringainya mencerminkan niat dari dalam lubuk hatinya.
Azure pergi meninggalkan Lucy. Tubuh pucat dan pandangan tak bercahaya darinya bahkan tak mengusik Lucy. Rambut panjang hitam-biru sepunggung terurai darinya, serta mata biru tua, ditambah set gaun hitam dan pita rambut besar berbentuk bunga bernada sama dengan matanya, semakin menambah kesan bahwa ia seakan-akan tidak peduli tentang apapun.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Setelah melihat Azure menghilang dari pandangannya, Lucy menggumam, "Aku bahkan tak menyangkanya. Dia bisa menggunakan Rune, juga mengendalikan Catastrophe Seal dalam jangka waktu yang cukup pendek ini.
"Jika ingatan anting ini benar, mengubah tiap bentuk senjata suci itu butuh kontrol yang besar, sebab jika gagal mengendalikannya, ia mampu menghancurkan ratusan kilometer dari tempatnya berdiri....
"Aku tak tahu harus menyebutmu jenius atau monster, fufufu...."
......................
Di perjalanan pulang Zeeta bersama Crescent Void, mereka hendak sampai di pintu gerbang. "Aah... sesekali berjalan pulang tanpa memakai sihir lumayan enak juga, ya," kata Zeeta, "setiap harinya aku selaluuu saja bersihir ini, bersihir itu. Apa kalian mengerti?"
Gerda memaksakan senyumnya. "Mu-mungkin kami tidak sesering memakai sihir daripadamu, tapi setidaknya aku paham apa yang kaurasakan...."
"Haaah~ sayang sekali. Oh iya, Marcus, Colette, Novalius, kalian belum pernah mencoba masakanku, 'kan?"
"E-eh?" Colette dan Novalius tersentak. "A-Anda memasak, Yang Mulia...?" sambung keduanya.
"Uhm!
"Oh, kautahu, Gerda? Ternyata, masakan Elf tak kalah menarik, lho! Resep-resepnya juga tidak terlalu berbeda dengan yang biasa kita lakukan—
"Ah, nanti setelah aku menghadap ibu, jadilah tamuku. Kalian juga. Aku ingin mendengar cerita kalian."
"Ba-baiklah...," jawab Colette mewakili.
"Kuharap festivalnya masih bisa dilan—" ketika mereka sampai di pintu gerbang, Zeeta membukanya. Begitu dibuka, kegaduhan rakyat Aurora pecah bersama petasan konfeti hingga mengejutkan mereka.
"SELAMAT DATANG KEMBALI, PUTRI ZEETA!"
"KAMI TELAH MENUNGGU ANDA!"
Zeeta membalas kegaduhan ini dengan senyuman. Ia tak menyangkanya tetapi ia tahu siapa yang merencanakan ini. Ia juga melihat wanita pedagang aksesoris yang terharu, yakni Sienna. Zeeta mendengar Sienna mengatakan, "Aku tak menyangka ini! Putri Zeeta bahkan mengajakku berbicara seolah aku adalah teman lamanya! Aku sungguh tak pantas telah berbicara dengannya!"
Zeeta terkekeh, lalu melambai tangan sambil berteriak, "Bibi! Jika ada waktu, aku akan mampir lagi!" Zeeta melempar senyum lima jarinya. Pria-pria, tidak, bahkan wanita yang ada di sekitar Sienna, terpana dengan senyumannya.
"Kyaaa! Putri Zeeta cantik sekali!" pekik para wanita di sekitarnya.
"Si-sialan, dia adalah Putri kerajaan! Kita tak mungkin punya kesempatan!" bisik para pria.
"Kalian!" bentak Sienna, "jagalah sopan santun kalian, dasar tak tahu diri!"
Zeeta meninggalkan mereka sambil terus melambaikan tangan. Ia terus menyapa semua rakyat semampunya sambil terus melaju ke istana. Tentunya, bahkan Gerda atau Danny, tidak pernah menyangka Zeeta akan seperti ini. Sejauh yang mereka pahami tentang sahabatnya ini, Zeeta akan sangat merasa terbebani dengan dirinya yang merupakan Tuan Putri kerajaan.
__ADS_1
"Kalian terkejut?" tanya Zeeta, yang sebentar lagi sampai ke istana.
"Hahaha, kaubisa menebaknya?" tanya Danny.
"Uhm. Aku juga bahkan tak menyangkanya."
"Apa maksudmu?" tanya Gerda.
"Ada satu Elf di tempatku berlatih, dia sangat mengagumi sosokku yang merupakan Tuan Putri. Pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa harus benar-benar layak dipandang rakyatku. Karena selain membuatku dihormati, aku jadi sadar, bahwa perilakuku sebagai Tuan Putri, akan menjadi panutan seseorang.
"Seperti aku yang ingin mencontoh ibuku, dan Elf itu yang mengagumiku."
Gerda dan Danny tersenyum. "Begitu, ya?" ucap Danny, "kalau begitu, aku pun mengagumimu karena kau tidak pernah berubah sejak kita kecil."
"Dia benar," timpal Gerda, "kau bahkan tidak banyak mengeluh lagi tentang siapa dirimu. Aku pun terkesan padamu."
Zeeta merona merah hingga menyebar ke telinganya. "He-hentikanlah! A-aku menceritakan ini bukan karena haus pujian! Dasar!" Zeeta berjalan tergesa-gesa, berusaha kabur dari keduanya.
Danny yang melihat ini sontak terpatung dan isi hatinya tak sengaja keluar, "Gila, dia imut banget!"
Gerda segera menatap kakaknya jijik. "Sudah kubilang berapa kali, dasar bodoh?! Inilah yang menjijikkan darimu!" Gerda "menghukum" perbuatan kakaknya yang menurutnya tak pantas ini.
"Dia benar-benar berbeda dengan Pangeran Klutzie, ya," ujar Colette.
"Benar. Aku atau Nova bahkan heran," jawab Mellynda.
"Tidak, seharusnya kita bersyukur. Karena keputusan kita semualah, yang menghadirkan Tuan Putri yang sedang kita saksikan saat ini," timpal Novalius.
Marcus, Colette, dan Mellynda mengangguk. "Kau benar," sahut Marcus, "sungguh, siapa yang menyangka anak berusia delapan tahun yang saat itu kulihat begitu ketakutan dengan statusnya sebagai Tuan Putri, kini malah dengan bangganya mengharumkan status itu ke seluruh negeri."
......................
"...." Alicia tidak mampu mengucapkan sepatah kata. Perlahan, ia justru menghujani pipinya.
"Ra-Ratu?!" Crescent Void dan bangsawan utama terkejut.
"Ibu...," batin Zeeta. Ia ingin segera mendekap ibu yang sudah lama ia rindukan.
Hazell yang memahami situasi menggantikan posisi istrinya. "Kuucapkan selamat datang kembali, Putriku Zeeta. Aku dan Ratu juga bersyukur kalian pulang dengan selamat, Crescent Void."
"Kata-kata Anda terlalu baik untuk kami, Yang Mulia!" balas Crescent Void serentak dengan suara lantang.
Zeeta berekspresi serius lagi, menyadari posisinya saat ini. "Terima kasih, Yang Mulia Raja. Aku, Zeeta Aurora XXI, telah menuntaskan latihanku dan siap menghadapi takdirku!" ia mengucapkannya sambil bertekuk lutut dan memosisikan tangan kiri di dada kiri, sama yang dilakukan Crescent Void.
Mendengar ucapan Zeeta yang tegas ini, membuat bangsawan utama, terutama Ashley tersentak. Ia menganggap bocah itu sudah dewasa, dalam pikirannya.
"Ketetapan hatimu kuterima dengan jelas, Putriku. Sekarang, kau mungkin mengetahuinya, festival Evergreen masih bisa dilanjutkan. Apakah kau masih ingin menikmatinya, sebagai pesta penyambutanmu?"
Zeeta hening sejenak. "Kuterima dengan senang hati tawaran Anda, Yang Mulia."
"Baiklah...." Hazell menghirup napas dalam-dalam. Ia kemudian berdiri lalu mengibaskan jubah rajanya. "Oh rakyat pemberani dan kebanggaan kami! Kita semua sudah merasakan jatuh bangun Aurora, demikian pula jatuh bangun Zeeta, pahlawan kerajaan ini!
"Untuk sekali lagi, tanpa sepengetahuan kita, Zeeta telah menyelamatkan kita dari ancaman yang selalu mengincar Aurora! Sebagai rakyat, termasuk aku, aku ingin membuat Putri—anakku tercinta tersenyum!
"Dengarlah, rakyatku! Khusus bulan ini, festival Evergreen diperpanjang tiga hari! Nikmatilah waktu bersenang-senang kalian, karena kalian tahu apa yang akan menunggu kita!"
__ADS_1
.
.
.
.
"YAAAAA!!" jeritan semangat dari rakyat terdengar hingga ke dalam istana.
"HIDUP PUTRI ZEETA!
"HIDUP RAJA HAZELL!
"HIDUP RATU ALICIAAA!!"
......................
Lima belas menit setelah itu, suasana kerajaan menjadi tenang namun ramai. Kegaduhan bersemangat dari rakyat tidak terdengar, tetapi canda tawa rakyatlah yang kini terdengar.
Zeeta, dilain sisi, diberikan waktu sendiri bersama keluarganya. Ketiganya saling berpelukan dan menjatuhkan air mata.
"Ada apa dengan rambut itu...? Bukankah... bukankah ini...?" Alicia tak sanggup menerima fakta bahwa rambut yang dimiliki Zeeta saat ini sama dengan kisah Luna tentang Zeeta Sang Penguasa Kelam.
"Ibu tenang saja! Percayalah padaku jika aku masihlah aku! Aku masih memiliki kalian, dan aku juga masih memiliki rekan-rekanku. Karena aku telah bertekad takkan mengakhiri takdirku seperti ramalan itu!"
"Tentu saja Ibu percaya! Tapi ... tapi...."
"Zeeta," panggil Hazell. Zeeta menoleh ke ayahnya. "Ingatlah. Apapun yang terjadi, kau tidaklah sendirian. Jika....
"Jika....
"Jika skenario terburuknya kami tak bisa melindungimu, janganlah lupakan bahwa kau adalah—"
"Uhm! Aku tahu! Penyihir Harapan!"
Hazell tersenyum. Ia menjatuhkan sekali lagi titik air matanya. "Kau benar-benar putriku yang sangat kusayangi! Kuharap kami bisa meluangkan waktu lebih banyak untukmu!"
"Aku tak apa. Aku takkan bermanja seperti aku yang dulu. Ibu, Ayah, aku tahu ini mendadak dan aku baru saja pulang bertemu kalian.... Aku juga sangat ingin menghabiskan waktu bersama, tapi...."
Hazell dan Alicia menunggu Zeeta yang ragu mengucapkan isi hatinya.
.
.
.
.
"Aku harus pergi ke kerajaan Nebula."
......................
Azure membenarkan posisi rambut sampingnya yang tertiup angin dengan mengaitkannya ke telinga kanan. Ia berada di hamparan bukit yang memungkinkannya melihat kerajaan Aurora.
__ADS_1
"Aku harus menemui Zeeta segera... jika tidak ...." gumamnya. Ia kemudian menghilang melalui sihir portal hitam keunguannya.