
Awan hitam yang terus menyambarkan petir ungu, kuning, terkadang biru dan putih, tak membuat Zeeta dan rekan-rekannya yang ada di sana gentar. Ya, mereka takut, tapi jika bukan mereka, siapa lagi?
Albert yang mengetahui kondisi parah Ashley, merasa semakin panik dengan situasinya. Benar ia adalah seorang komandan pasukan kerajaan, tetapi ia belum pernah dihadapi situasi seperti ini. Menerima saran dari Maisie sang Dryad, ia beserta Willmurd mundur ke kerajaan untuk pengobatan total Ashley.
"Jika begini terus, kerajaan akan ditelan oleh kepanikan dan semuanya akan kacau!" gumam Hellenia. Ia juga tak tahu harus berbuat apa, apakah harus membantu Ozy yang terus mencoba menyerang Hell Hydra dengan sihir bertuliskan tulisan unik miliknya, atau ikut mundur dan mengatur rakyat agar tidak mengalami panik dan ketakutan lebih jauh. Di saat itulah Zeeta datang bersama dengan Maisie dan Aria.
......................
"Nona Hellenia ...," panggil Zeeta.
Ketika Hellenia menoleh, ia sedikit tersentak. Raut wajah Zeeta, sangat berbeda dengan saat-saat ia mendengarkan kisah darinya. Raut wajah yang sebelumnya dipenuhi dengan keceriaan dan rasa penasaran yang dalam tentang sekitarnya, kini berubah total. Zeeta fokus dengan apa yang ada di depannya, namun pandangannya kosong. Tidak hanya itu, Hellenia yakin bahwa Zeeta tidak ingin melakukan ini semua. Namun, karena ia merasa bertanggung jawab, ia melakukan segala apa yang ia bisa, meskipun itu bertentangan dengan keinginannya.
Saat itulah Hellenia tersadar, bahwa Zeeta sebenarnya adalah anak perempuan yang sederhana. Ia tak perlu dimengerti untuk bisa menjalani kewajibannya, juga tak perlu dimanja seperti anak bangsawan biasanya. Tetapi, disitulah letak lubang di hatinya. Karena Zeeta tak merasakan didikan dan kasih sayang yang layak sebagai seorang anak bangsawan—bahkan sebagai Tuan Putri—Zeeta ada di titik ini, maju yang terdepan, dan memikul beban yang sangat berat diusianya yang masih belia. Bahkan seharusnya, ini adalah hal yang tidak mungkin diemban oleh seorang anak perempuan delapan tahun.
Hellenia merasakan ada dinding yang tidak bisa ia lewati untuk merangkul Zeeta. Zeeta sudah bukan anak yang hanya memikirkan keegoisannya, ia sudah bertekad bulat untuk menjadi Tuan Putri untuk sebuah kerajaan. Lantas, atas semua hal itu, tidak ada yang mengerti apa yang membuat Zeeta berubah seperti ini. Apakah itu karena garis keturunannya? Kedudukannya? Atau karena ramalan dan pertemuannya dengan berbagai makhluk sihir di usianya yang masih belia sehingga memicu jalan pikir yang baru?
"Iya, Tuan Putri?" tanya Hellenia.
"Kembalilah ke kerajaan bersama seluruh prajurit dan lindungi Labirin Cremlyn!" perintah Zeeta.
"A-apa yang Anda maksud...? Apa Anda ingin melawan makhluk itu sendirian?"
"Tidak, aku tidak sendiri. Tenang saja." Zeeta menunjukkan senyumnya.
"Ta-tapi...."
"Tenanglah, kami akan mengatasinya."
Dengan perasaan terpaksa, Hellenia tunduk pada perintah Zeeta. "Tolong, jangan lakukan tindakan gegabah, Tuan Putri!" batin Hellenia. Tak lama kemudian, setelah menerima pesan mundur dari sang Marchioness melalui telepati, para prajurit yang sebisa mungkin sedang menembakkan sihir mereka pada Hell Hydra, menuruti perintah yang diberikan.
Menyadari pergerakan Manusia-Manusia bergerombol bagaikan semut yang tiba-tiba mundur dari tembok kerajaan, Hell Hydra mendapati Zeeta sudah siap dengan tekad bulat dan senjata suci yang terpasang di jari tengah kirinya.
Ketika ia melihat cincin tersebut, Hell Hydra mendadak mengamuk dan menghancurkan segalanya. Tanah meledak, alam sekitar dan rumah-rumah di Wilayah Timur yang hangus terbakar oleh api hitam, dengan sekejap semuanya terjadi begitu saja. Tak sampai disitu, dengan ekornya yang kuat, ia membanting Ozy hingga menghancurkan seluruh lapisan pelindung Zeeta dan menghancurkan beberapa bagian dalam kerajaan. Perintah mundur dan mengungsi dari Zeeta, sudah tepat.
Ozy menyadari kegeraman Hell Hydra, lantas ia pun melihat kehadiran Aria dan Zeeta yang memakai cincin itu. Ia segera membuat sesuatu dari sihirnya yang ia munculkan dari lingkaran sihir di dinding tepat di sebelah Zeeta. Ia membuat golem berukuran mini dan membuatnya naik ke bahu Zeeta.
"Mundurlah ... Ozy ... yakin ... Tuan Putri tidak bisa ... mengalahkannya!" seru Ozy melalui golem mini itu.
"Tidak, Ozy. Ini hanya bisa dilakukan olehku," balas Zeeta.
Ditengah-tengahnya mereka berbicara, Hell Hydra melancarkan satu serangannya lagi. Ia menyemburkan api hitam dari sembilan kepalanya sekaligus untuk menghanguskan Ozy saat itu juga. Dari kaki hingga ujung kepala, Hell Hydra membakar Ozy dengan api hitamnya.
Melihat kejadian itu di depan mata mereka, tentu membuat Aria dan Zeeta terbelalak. Seketika, golem mini di bahu Zeeta hancur menjadi abu. Ozy bahkan tak mampu mengucap sepatah katapun sebelum benar-benar hangus.
"Kalian, berhati-hatilah, kukuu!" Maisie membuat penghalang agar panas api hitamnya tidak mengenai mereka.
Hell Hydra itu menghentikan semburan apinya setelah ia merasa puas. Api hitamnya tak padam meskipun ia sudah menghentikan semburannya. Tak ada apapun yang tersisa dibalik api hitam tersebut, termasuk setidaknya sisa abu dari Ozy.
"Sihir kuno Rune miliknya, cukup membuatku kerepotan. Tapi kini, dia akhirnya lenyap dari hadapanku.... Selanjutnya, adalah giliran kalian!" dengan suara yang tetap terus berubah dari wanita menjadi pria atau sebaliknya, sembilan kepala dari makhluk itu siap menyemburkan apinya lagi.
Diwaktu yang sama, rakyat Aurora di kedalaman Labirin Cremlyn yang melihat melalui sihir layar, merasa semakin terpojok dengan ketakutan dan keputusasaan. Ozy si Raksasa yang sebelumnya mampu memanggil meteor dan terlihat mampu mengganggu pergerakan Hell Hydra, dilenyapkan begitu saja. Tak ada satupun di sana yang berbicara. Mereka benar-benar kehilangan harapan, bahkan Azure dan Gerda juga.
Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Aria jatuh di tempat sambil menutup hidung dan mulut dengan kedua tangannya. Tak terima. Ia tak terima atas apa yang baru saja terjadi. "Ozy ...? Ini bohong, bukan...?" rintik air matanya mulai berjatuhan.
"Kenapa... kenapa ini bisa terjadi...? Padahal ... padahal kau sudah berjanji... kau sudah berjanji ingin berteman dengan Zeeta!"
Tanpa Aria sadari, Zeeta ikut meneteskan matanya dengan deras sambil menundukkan kepala dan mencengkeram kedua tangannya erat-erat.
......................
Zeeta berada di dalam ruang yang sangat gelap. Ia sendirian di sana tanpa ada yang menemani. Terlihat sebuah lubang di hatinya dan darah mengalir dari matanya.
"Aku adalah anak yang penakut. Aku takut keluargaku di desa Lazuli tidak ingin lagi bersamaku setelah mengetahui kekuatan besarku....
"Bangsawan adalah orang-orang yang menakutkan. Mereka tanpa segan ingin mendapat apa yang mereka inginkan seenak mereka sendiri, bahkan jika nyawa adalah harganya....
"Aku takut ... bahwa kenyataannya aku juga adalah seorang bangsawan. Aku takut akan merenggut kebahagiaan orang lain. Aku takut akan melukai orang lain. Aku takut ... jika aku bukan aku lagi.... Dan sekarang? Inilah hasilnya. Aku sudah membuat Ozy kehilangan nyawanya!"
"...."
"Apa itu Peri? Apa itu Elf? Apa itu Raksasa? Apa itu Dryad? Aku ini ... apa?
"Aku diramalkan akan menghancurkan dunia. Kenapa mereka mengatakan hal sejahat itu? Kenapa aku tidak diizinkan menjadi ... anak yang biasa saja....?
"Aku ... tidak ingin menjadi Tuan Putri!
"Ah ... kenapa semua orang selalu berharap padaku? Aku hanyalah anak perempuan delapan tahun, apa yang bisa kulakukan?!"
Anting bulan Zeeta tiba-tiba bersinar terang. Begitu terang sampai ruang itu mendadak berubah warna menjadi kuning cerah dan mengobati tangis darah dan lubang di hatinya.
Seorang wanita berambut ungu gelap panjang sepinggang, bermata yang sewarna dengan rambutnya, beranting bulan, muncul entah dari mana. Ia bertolak pinggang di hadapan Zeeta.
"Halo, keturunanku yang kedua puluh satu!" seru wanita itu. Ia tersenyum lebar, mencoba meluluhkan suasana.
__ADS_1
Zeeta mengangkat kepalanya, lalu mengerutkan kening. "Kali ini siapa lagi?!" teriaknya.
"Uhm. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi lihatlah dulu apa yang ada di sekitarmu."
Zeeta bisa dengan jelas melihat kerajaan Aurora sudah mulai dibanjiri dengan api hitam yang menyebar cepat dari tempat Ozy dihanguskan. Para prajurit kerajaan dan Hellenia juga berusaha semampu mereka untuk memukul mundur api yang sudah mendekati pintu masuk Cremlyn dengan segala sihir air yang mereka bisa. Jika ia terus seperti ini, Aurora akan benar-benar hancur.
"Gawat!" seru Zeeta.
"Kau benar. Ini adalah waktu yang saaangat gawat. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu tapi akan kulakukan itu nanti. Jadi, ikutilah instruksiku. Kita akan menghancurkan makhluk itu!"
Merasa wanita berambut ungu itu bisa dipercayai, Zeeta lantas mengangguk.
"Senjata suci itu, Catastrophe Seal, adalah senjata yang dibuat oleh sosok tertentu yang belum kau temui—tidak—dalam kasusmu mungkin sudah kautemui." Wanita itu menunjuk cincin di jari tengah kiri Zeeta. "Percaya padaku, mereka bukanlah musuhmu, oke?"
Zeeta mengangguk lagi.
"Tidak perlu ambil pusing dengan rakyat yang ada di Labirin Cremlyn, segera musnahkan makhluk itu sekarang juga."
"A-apa yang harus aku lakukan?"
Wanita itu tersenyum, kemudian menjawab, "Merapal."
......................
Zeeta tampak serius. Ia sudah kembali mendapatkan tekadnya. Ia menyihir tubuhnya untuk terbang, kemudian menghalang jalan Hell Hydra yang ingin menyemburkan apinya pada dirinya, Aria, dan Maisie.
Zeeta memulai rapalannya. Ketika ia merapal, anting birunya ikut bersinar. "Dengarlah aku, wahai penguasa kehidupan mistik. Patuhilah aku sebagai tuanmu yang akan memusnahkan bencana di depanku. Segel ... dilepas!"
Cincin itu bersinar kemudian merubah wujudnya menjadi sabit. Setelah itu, di sekitar Zeeta muncul butiran-butiran mana berwarna emas dengan jumlah yang sangat banyak. Kala itu, rambut Zeeta juga melawan gravitasi dengan melayang pelan. Pantulan cahaya dari butiran mana tersebut membuat Zeeta tampak memukau. Seakan tak ingin meninggalkan panggung untuk bersinar, anting bulan di telinga kiri Zeeta juga bercahaya biru. Disaat yang sama, Aria dan Maisie menatap dalam decak kagum. Mulut mereka menganga.
"Zeeta benar-benar mampu melakukannya?!" batin Aria.
"A-apa?! Bagaimana kaubisa memakainya?! Kau hanyalah Manusia rendahan!" teriak Hell Hydra. Kemudian ia menyerang Zeeta dengan ekornya, namun ada sebuah medan penghalang dari sabit itu yang melindunginya. Ia kemudian menyerang Zeeta dengan semburan api dari sembilan kepalanya.
"Fufufufu...." Hell Hydra dengan percaya dirinya merasa serangannya berhasil. Ia melukis senyum di sembilan kepalanya.
Tetapi, senyum yang sangat percaya diri itu mendadak berubah menjadi melotot. Ia justru mendengar rapalan dilanjutkan.
"Dunia ini adalah dunia yang diciptakan untuk kedamaian. Dunia ini bukanlah dunia yang pantas untuk engkau tinggali. Oh, wahai makhluk yang tersesat, kembalilah menuju kehampaan!"
Sabit itu bersinar emas. Pandangan Hell Hydra terganggu olehnya. "Sial! Seharusnya Manusia tidak bisa menggunakan senjata itu! Siapa kau sebenarnya!?" teriaknya.
Tanpa menjawab musuhnya yang sudah di ambang ajalnya, ia memfokuskan pandangannya ke titik tertentu di tubuh lawannya. "Catastrophe...." Ia menarik sabit itu ke belakang sampai ia berpose seperti berkuda-kuda, lalu beraba-aba untuk serangan akhirnya.
Setelah siap dengan serangan akhirnya, Zeeta menebas Hell Hydra itu dengan seluruh tenaga dan mana yang ia miliki, yang tebasannya membentuk huruf "Z". Waktu tampak berhenti sesaat, kemudian perlahan, butiran mana berwarna emas yang mengelilingi Zeeta, masuk dengan cepat ke bagian Hell Hydra yang tertebas, kemudian....
"Seal!!"
Sesaat setelah ia mengatakannya....
'DDBUUMMM!!'
Ledakan besar berwarna emas terjadi seraya mengembalikan Bumi ke suasana hati yang cerah. Tidak hanya itu, mana emas yang masuk ke dalam tubuh Hell Hydra tadi, kembali berhamburan lalu memadamkan seluruh api hitam di bawah.
Rakyat Aurora yang melihat aksi Zeeta, menatap dalam diam. Mereka sama sekali tak menduga dengan apa yang dilakukan Tuan Putri mereka. Ada satu pertanyaan yang muncul dikala mereka mengagumi perbuatan Zeeta, yaitu, apakah itu tadi murni kekuatan Zeeta? Ataukah itu kekuatan dari makhluk sihir lain yang ada bersamanya? Namun, begitu mereka merasa sedikit tenang dengan lenyapnya ancaman kehancuran mereka, mereka dibuat terkejut lagi dengan Zeeta yang jatuh setelah kehilangan kesadarannya. Untungnya, Aria dan Maisie menangkapnya. Sementara itu, seorang bangsawan cukup muda yang yang menjadi dalang sihir layar di labirin, dan bersembunyi dalam gelap, tersenyum. Ia lalu menggumam, "Huuh, syukurlah...."
......................
Di alam bawah sadarnya, Zeeta kembali bertemu dengan wanita yang menyebut dirinya adalah leluhur Zeeta. Mereka duduk berdampingan sambil menyilangkan kedua kaki ke samping.
"Kerja bagus!" wanita itu melempar senyumnya. Entah kenapa, Zeeta merasakan kehangatan dari senyum itu.
"Uhm, terima kasih." Zeeta tersenyum, kemudian bertanya, "lalu ... apa yang akan terjadi padaku setelah ini?"
"Hei! Sebelum itu, bukankah seseorang harus memperkenalkan diri terlebih dahulu?"
"A-ah, uhm. Maaf...."
"Ahahaha." Wanita itu mengelus kepala Zeeta. "Namaku Clarissa. Clarissa Aurora IX."
Zeeta terkejut mendengar nama itu. "E-eh?!"
"Hmm? Ada apa?"
"Ti-tidak... tidak apa...."
"Aku tahu apa yang kaupikirkan, lho. Kau pasti sudah mendengar banyak cerita tentangku dari orang yang punya hubungan dengan Aurora, bukan? Contohnya seperti ... Alexandrita!"
"Ke-kenapa Anda bisa tahu?"
"Yah, bisa kita sebut sebagai kekuatan garis keturunan."
"Ja-jadi, kalau begitu, apa Anda juga tahu apakah ibuku...?"
__ADS_1
Clarissa tersenyum. "Berusahalah sedikit lagi, oke? Usaha itu pasti akan sangat manis!"
Mata Zeeta tampak berbinar. "Benarkah?!"
"Tentu! Bukankah kau sendiri pernah bilang, bahwa ada suara yang membisikimu untuk terus membantu orang-orang?"
"Ah! Ternyata itu benar-benar...?"
Clarissa mengangguk. Kemudian, Zeeta berlinang air mata.
"Aku ... sudah jadi anak nakal. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak dengan kekuatanku ini. Tapi... jika kekuatanku bisa menyelamatkan orang, dengan senang hati aku akan memakainya!"
Clarissa menarik Zeeta ke dalam pelukannya lalu mengelus kepalanya. "Zeeta, wahai keturunan tersayangku, kau tidak perlu terlalu berlebihan memikirkan dirimu terbebani dengan tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai Tuan Putri. Katakan padaku, sebagai seorang Zeeta, apa yang ingin kaulakukan untuk rakyatmu?"
Sebelum menjawab Clarissa, Zeeta terdiam sesaat. "Aku berbakat dalam memasak. Aku senang ketika orang-orang tersenyum oleh masakanku. Seperti ketika Edward dan Ella memakan masakanku, aku ingin melihat rakyatku tersenyum seperti itu."
"Oh? Jika aku masih hidup, dengan senang hati aku ingin mencobanya!
"Lalu, apa itu Tuan Putri untukmu, Zeeta?"
"Tuan Putri ... adalah orang yang harus melindungi dan berkorban demi rakyatnya, untuk senyum mereka, harapan, serta kehidupan mereka."
"Meskipun itu bertentangan dengan keinginanmu?"
"Uhm."
Clarissa mengalihkan pandangannya, kemudian tersenyum. "Aku dulunya adalah penduduk asli desa Lazuli, lho. Setelah mengalami kejadian ini dan itu, akhirnya aku menjadi ratu untuk Aurora."
Zeeta melepas dirinya dari dekapan Clarissa. "E-Ehhh...?!"
"Kau tahu legenda penyihir yang mengutuk dunia atas kebenciannya terhadap perlakuan manusia di sekitarnya?"
"U-uhm. Semua orang sepertinya tahu itu."
"Penyihir itu adalah kakakku, Laura."
"Eeh? Kakak?!"
"Yah, bicara itu kapan-kapan saja, ya. Lagi pula aku bertemu denganmu bukan karena ingin membicarakan itu. Pada intinya, banyak sekali hal yang bertentangan dengan keinginanku, dan sekarang di sinilah aku berada.
"Kau tak perlu merasa hanya kau yang perlu menanggung itu semua. Keselamatan, harapan, dan senyum rakyat tidak hanya kaupikul sendiri. Lihatlah sekitarmu, ada yang mengkhawatirkanmu, ada juga yang berharap untuk kebahagiaanmu.
"Menjadi keluarga kerajaan bukan berarti kau harus melupakan kebahagiaanmu. Menjadi keluarga kerajaan ... memiliki arti yang lebih besar dari yang kaukira, Zeeta."
"Arti yang ... lebih besar?"
"Ya. Kau akan mengetahuinya bila saatnya tiba."
"Tapi ... dengan kekuatanku ini ... aku sudah merenggut sosok yang berharga untuk orang lain...." Zeeta memandangi kedua tangannya.
"Katakan padaku, apakah itu Ozy si Raksasa?"
"Eh? Kenapa Anda lagi-lagi tahu?"
"Hahaha, tentu saja aku tahu. Pertanyaan itu tak perlu kujawab, karena kau akan mendapatkan jawabannya sendiri."
"A-ah ... baiklah."
"Oh iya, waktuku sudah tak cukup banyak. Zeeta, dengar ya, alasanku bertemu denganmu adalah...."
Mendengar seluruh penjelasan yang ditegaskan leluhurnya, termasuk alasan Hollow-Hollow itu menyerang Aurora, membuat raut wajah Zeeta sangat marah. Benar-benar marah.
"Tapi, itu bukanlah titik akhir perjalananmu. Kau masih punya banyak waktu. Akankah kau benar-benar menjadi orang yang menghancurkan dunia seperti yang diramalkan Ratu Feline atau kau justru menjadi pemutus rantai ini.
"Jawaban itu tidak perlu segera kaucari. Apapun keputusanmu, sebagai leluhur aku akan menghargainya."
"Apa Anda ... juga percaya padaku jika aku akan berhasil?"
Clarissa mengalihkan pandangannya lagi.
"Kau masih delapan tahun, bukan? Masih ada banyak hal yang belum kautemui dan menjadi bagian dari pengalamanmu. Artinya, aku tidak percaya kau akan berhasil.
"Kau hanyalah anak perempuan yang kebetulan mendapat kekuatan besar. Tapi, jangan pernah kau mengutuk kekuatan itu. Itu hanya akan membuatmu semakin menderita.
"Yang ingin kukatakan, ini bukan masalah tentang percaya atau tidak percaya. Seseorang selalu punya batasannya. Daripada bertanya apakah aku percaya atau tidak kepadamu, aku akan bertanya ini kepadamu.
"Zeeta, apakah kau mampu?"
Zeeta sedikit terkejut mendengarnya. Ia baru pertama kali mendengar jawaban seperti ini.
"Yah seperti kataku, ini juga tergantung denganmu ketika sudah bertemu dengan banyak hal dan mengalami banyak pengalaman. Temukan jawaban itu ketika kau sudah siap." Clarissa melempar senyumnya lagi.
Zeeta membalas senyuman leluhurnya. "Uhm, aku mengerti!"
__ADS_1