Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kengerian yang Merangkak Keluar


__ADS_3

Yggdrasil, dikatakan itu adalah sebuah pohon kehidupan dunia yang memberikan mana pada seluruh makhluk di daratan. Mana yang diperlukan sebagai salah satu katalis untuk mewujudkan sihir selain imajinasi, sudah disalahpahami oleh Manusia darimana sumbernya berasal.


Dahulu kala, Yggdrasil dijaga oleh banyak makhluk sihir seperti Peri, Raksasa, dan Naga. Manusia, menginginkan sesuatu dari Yggdrasil sehingga menyebabkan perang antara mereka dengan makhluk sihir. Untuk menuntaskan perang tersebut, Yggdrasil turun tangan sendiri, dengan "menghancurkan" tubuhnya menjadi pecahan-pecahan Roh ke seluruh lapisan dunia.


Masih banyak hal yang tak diketahui Manusia mengenai dunia sihir yang mereka tinggali. Misalnya seperti, jika Yggdrasil pernah ada, mengapa hanya sedikit sekali dari mereka yang tahu akan sejarahnya? Mengapa Peri yang tinggal berdekatan dengan mereka tak mengatakan apapun tentang Yggdrasil? Sebenarnya apa yang menyebabkan anting bulan milik keluarga kerajaan bisa membawa pemiliknya melihat sejarah tersebut? Lalu, yang paling penting, jika apa yang dikatakan Scarlet tentang Zeeta akan menghidupkan kembali Yggdrasil, apakah itu ada hubungannya dengan ramalan Ratu Feline yang mengatakan Zeeta akan menghancurkan dunia?


Apakah dengan membangkitkan Yggdrasil akan menghancurkan dunia itu sendiri, meskipun Yggdrasil adalah pohon kehidupan dunia? Selain itu... apakah Zeeta benar-benar akan melakukannya?


......................


Saat ini, Zeeta sedang menjadi pusat mata berbagai orang. Baik itu pemilik penginapan Neko's Inn serta pegawainya, sepupu kembarnya, Gerda, dan para pelanggan. Baju lengan panjangnya ia lipat hingga ke atas siku, ia juga memakai celemek yang dibuat dari sihirnya.


Di hadapan Zeeta saat ini, ada bahan-bahan seperti bawang putih, madu, dua lapis daging sapi, selada, rosemary, merica, dan berbagai rempah lain. Ia akan membuat makanan utama khas A n' Z, Roasted Honey Beef, ala Zeeta Aurora XXI.


"Zee... Zeeta...?" panggil Gerda. Ia dibuat cemas setelah melihat bahan-bahan yang disiapkan Zeeta.


"Hmm? Apa?" Zeeta mulai memantik kompor.


"Kauyakin bisa sendiri?"


"Ya, kenapa?" Zeeta menaruh sihirnya di berbagai tempat, seperti daging sapi dan bawang. Keduanya diolah berdasarkan sihirnya. Setelah bawang putih diiris tipis-tipis, potongan bawang tersebut melayang dan masuk ke wajan yang sudah diberi minyak goreng untuk ditumis dengan rempah lain, daging sapinya diiris sedikit agar memberi ruang agar bumbu meresap nanti.


"Se-sejak kapan?! Padahal ketika kau membuat kue, kau butuh bantuanku!"


"Ehehehe, tentu saja kau tidak tahu, aku kan selalu berlatih! Jangan terkejut kalau aku jago, ya!" dengan senyum percaya dirinya, Zeeta terus lanjut memasak.


Layaknya Zeeta ketika dulu melihat Arthur memasak dengan bantuan sihirnya, mata Edward dan Ella berbinar. Mereka merasakan kehebatan yang terus keluar dari Zeeta.


"Baunya harum!" tukas Ella.


Semua pelanggan di sana juga tersihir oleh bau harum yang mengundang rasa lapar mereka.


"Hei, Kak Zeeta?" panggil Ella.


"Ada apa?" jawab Zeeta, sambil mengolesi madu di atas daging sapi yang sudah ditumis sebentar dengan bawang dan rempah lain.


"Kenapa daging ditambahkan madu?"


"Oh? Kau penasaran?" Setelah melapisi dagingnya dengan madu, ia menyihir daging itu—dengan butiran sihir yang ditabur seperti garam, kemudian memanggangnya.


Ella mengangguk berkali-kali sambil ditemani matanya yang terus berbinar.


"Lebih baik kau merasakannya sendiri,


"Ah, nama kalian kalau tak salah... Ed dan Ell?" tanya Zeeta. Ia belum benar-benar tahu nama mereka.


"Uhm, dia Ella," jawab Edward sambil menunjuk adiknya.


"Dan dia Edward," jawab Ella sambil menunjuk kakaknya.


"Nah, kalau begitu, tunggulah bersama pelanggan lain. Sepuluh menit lagi makanannya siap!"


"Baaiiikk." Mereka berjalan menuju sebuah meja yang kosong.


......................


Kemudian, setelah sepuluh menit daging dipanggang....


"Ta-dahh!" Zeeta menyajikan masakannya.


Di meja, terhidangkan dua piring dengan masing-masing sebuah daging sapi panas yang berlumer madu dan yang diiringi dua lembar selada, serta dua lapis roti.


"Waaaahhh, terlihat enak!" ujar Edward dan Ella.


Semua pelanggan yang melihatnya juga lagi-lagi menelan ludah. Mereka tak tahan dengan bau sedap yang terus bocor dari dagingnya.


"Kalian bisa memakannya begitu saja atau menjadikannya seperti sandwich, kurekomendasikan agar kalian mencicipinya begitu saja terlebih dahulu, lalu memakannya dengan set sandwich."


Mengikuti rekomendasi Zeeta, Edward dan Ella memotong sebagian kecil dari dagingnya. Ketika mereka mengirisnya, mereka terkejut dengan betapa lembutnya daging tersebut. "Selamat makan!" ucap Edward dan Ella bersamaan, kemudian menyantapnya.


Baru satu kunyah, mereka terbelalak. Tak tahan dengan rasanya, mereka mempercepat kunyahannya, lalu menelannya dengan penuh nikmat.


"Aaahh... kenapa ini bisa sangat enak...?" keduanya benar-benar takluk oleh masakan Zeeta.


Dengan senyum smug-nya, Zeeta menjelaskan alasan masakannya bisa selezat itu. "Huhuumm, tentu saja itu enak! Madu bermanfaat untuk mengeluarkan seluruh lemak yang ada di dalam daging, membuatnya jadi semakin lunak, dan mempererat kenikmatan rempah yang kugunakan. Tidak hanya itu, madu itu juga berguna sebagai saus untuk menemani rasa gurih dari dagingnya!"


"Wah, aku tahu madu memang bermanfaat, tapi aku tidak tahu bisa sampai ke panggung memasak seperti ini!" ujar salah satu pelanggan.


"Nah, Ed, Ella, sekarang makan itu dengan rotinya!"


Tak sabar dengan rasa yang akan meledak dalam mulut mereka, Edward dan Ella segera mengiyakan perintah Zeeta. Setelah mengunyahnya, mereka terbelalak kembali.


"Manis dan lembut...," ujar Ella.


"Gurih dan renyah...," ujar Edward.


"Aku ingin segera menghabiskannya!" mereka mengucapkannya bersamaan.


"Uhm. Tentu saja seperti itu. Jika dibuat seperti sandwich, madu yang melapisi daging teresap ke dalam roti, dan rasa gurih dari dagingnya akan menetap, sementara madu yang kuoleskan setelah daging ditumis akan jadi inti kelezatannya.

__ADS_1


"Dengan begini, rasa lapar kalian akan terbang begitu saja!" Zeeta melempar senyum manisnya.


"Waahh, Tuan Putri sangat hebat! Aku ingin coba sekarang!" ujar pelanggan A.


"Aku juga!" teriak pelanggan B sambil mengangkat tangan.


"Aku juga sudah tak sabar!" lalu diikuti dengan pelanggan lain yang satu suara dengan pelanggan A dan B.


"Zeeta... dia seperti orang yang berbeda.... Kapan dia bisa semahir ini dalam memasak? Apa ini juga resep dari paman Arthur?" batin Gerda yang melihat dalam-dalam masakan Zeeta.


"Hmm? Ada apa, Gerda? Kau juga lapar?" tanya Zeeta. Ia menyadari tatapan Gerda.


"Ti-ti-tidak! Mana mung—" ucapan Gerda terputus oleh bunyi yang tak asing.


'Kruyuuukkk'


Perut Gerda yang kelaparan tak bisa diajak sehati dengan ucapannya barusan. Perut itu lebih memilih kenikmatan tiada dua daripada jual mahal.


"Ahahaha! Segera panggilkan Danny ke sini, kita akan berpesta!" seru Zeeta.


Merasa tak ada pilihan lain sambil merona merah semerah tomat, Gerda memanggil kakaknya dengan sangat terpaksa.


Melihat Gerda sudah naik ke atas, Zeeta memanggil pemilik penginapan. "Ah, Tuan Pemilik!"


Pemilik penginapan mendekati Zeeta lalu membungkukkan badannya sedikit, kemudian bertanya,"Ya, Yang Mulia?"


"Karena aku yang bilang akan berpesta, tagihannya serahkan padaku."


"A-apa Anda yakin, Yang Mulia, tanpa persetujuan Grand Duchess?"


"Tentu saja tidak baik! Aku pasti akan kena marah!"


"Lalu...."


"Aku ingin melihat semua yang ada di kerajaan ini tersenyum. Kalau hanya dimarahi karena tanpa izin menggunakan uang, itu hanyalah batu kerikil."


Pemilik tersenyum, ia merasakan ketulusan dari Tuan Putrinya. "Baik!"


"Ah, karena aku butuh tenaga dan bahan, tolong segera siapkan!"


"Dengan senang hati, Yang Mulia!"


......................


Suasana Neko's Inn begitu meriah. Sementara batang hidung Recko dan Grilda tak tampak sejak Zeeta datang, para pelanggan yang sedang menginap di sana, tampak sangat gembira dengan "cara dadakan: masakan spesial ala Tuan Putri!" itu.


Dikala Edward dan Ella asyik menikmati kelezatan demi kelezatan sandwich yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, Zeeta membantu para pegawai memasak, ditemani Danny dan Gerda.


Zeeta yang melihat sosok Marcus berdiri memojok di pintu dapur, segera menghampirinya.


"Oh, Marcus! Tampaknya guru Ashley sudah mengetahui apa yang kulakukan?" tanya Zeeta. Ia tersenyum seolah tak memiliki kesalahan.


"Mari kita kembali, Yang Mulia. Kenapa Anda harus melakukan ini semua di sini, padahal di kediaman Alexandrita, semuanya bisa diatur?" tanya Marcus.


"Ah, itu karena aku dan mereka...." Zeeta menunjuk sepupu kembarnya. "Tidak tahu di mana dapur Alexandrita dan mereka juga sedang bertengkar dengan Tuan Lowèn Levant, ayah mereka."


"Geh?! Tuan dan Nona Muda Levant?!" Marcus mengenali wajah anak-anak itu.


"Oh kautahu mereka?"


"Ya, aku tahu."


Zeeta membalik tubuhnya sesaat ke dapur untuk memberitahukan sesuatu, "ah, kuserahkan pada kalian, ya. Kalian sudah tahu caranya, 'kan?" Zeeta meninggalkan dapur, lalu diikuti oleh Marcus.


"Ah, baik, Yang Mulia! Terima kasih atas bantuannya!" seru para pegawai.


Berbeda dari para pegawai yang mengucapkan terima kasih dari dalam hati, Danny sangat menyesali kepergian Zeeta. Ia tak terima waktu berharganya menghabisi waktu bersama Zeeta lenyap begitu saja. Sementara Gerda..., untuk kesekian kalinya ia harus merasa kesal pada kakaknya, hanya karena ia tak suka dengan apapun yang diucapkan Danny ketika membahas Zeeta. Sebuah bengkak di kepala pun mendarat di kepala Danny.


"Aduh! Aku ini Kakakmu, tahu!" teriak Danny.


"Tak peduli! Salahkan dirimu yang membuatku kesal!" balas Gerda.


......................


Zeeta dan Marcus mengambil sebuah meja, setelah sepasang pelanggan memberi mereka meja setelah peka terhadap Zeeta sedang ingin membahas sesuatu dengan seorang prajurit berzirah Alexandrita.


Setelah duduk, Zeeta menghilangkan celemeknya lalu membersihkan beberapa bagian pakaiannya yang terkena cipratan minyak dan lain-lain, serta merapihkan rambutnya yang acak-acakan setelah bergerak kesana kemari, baik ketika memasak untuk sepupu kembarnya, atau ketika ia membantu para pegawai penginapan.


"Aku sering melihat Levant mengunjungi Grand Duchess, sebelum Anda datang dari Wilayah Selatan."


"Oh... begitu." Zeeta tersenyum.


"Kak Zee!" Edward dan Ella pamer jika sudah menghabiskan sandwich mereka dan melambaikan tangan.


Zeeta membalas lambaian tangan mereka, sementara Marcus melihat dengan dalam Zeeta yang ada di hadapannya.


"Maaf atas kelancanganku, Yang Mulia, tapi menurutku, Anda tidak terlihat seperti anak berusia delapan tahun," ujar Marcus.


"Eh?" Zeeta menolehkan kepalanya ke Marcus.

__ADS_1


"Anda dan sepupu Anda hanya berbeda dua tahun, namun Anda sama sekali tidak terlihat seumuran dengan mereka. Jika aku boleh jujur, Yang Mulia, Anda boleh, lho, bersikap lugu seperti mereka."


"Lugu, ya...?" Zeeta mengingat kembali apa saja yang telah dilaluinya sampai di detik ini. "Kautahu, Marcus? Aku adalah anak yang cengeng, lho. Aku juga penakut. Aku ini sama seperti mereka. Tapi, disaat yang sama, aku juga berbeda.


"Aku lahir sebagai Tuan Putri. Aku lahir dengan mewarisi nama Aurora XXI. Aku juga lahir dengan kekuatan sihir yang besar. Apa Marcus bisa tahu seberapa takutnya aku jika aku gagal melakukan kewajibanku dan membuat semua orang terluka karena sihirku?"


Marcus membisu.


"Aku ingin kembali ke masa dimana aku hanya bermain dengan teman dan keluargaku di desa Lazuli. Tapi, jika itu kulakukan, aku akan membuat ibu dan banyak orang sedih....


"Aku tidak ingin itu terjadi, sehingga aku memutuskan untuk terus berusaha menjadi Tuan Putri yang baik dan membuat semua orang di negeri ini tersenyum.


"Inilah aku. Inilah Zeeta Aurora XXI. Apa itu memberatkanmu untuk menerimanya ... Marcus?"


Marcus terdiam seribu bahasa. Jawaban dari Zeeta sama sekali tak terduga olehnya. Ia sedikitpun tak menyangka, akan mendengar kata-kata seperti itu dari Tuan Putri berusia delapan tahun.


Namun, Tuan Putri itu tiba-tiba saja terjatuh dari kursi bersama dengan napas yang terengah dan wajah yang pucat pasi.


"Tu-Tuan Putri! Anda baik-baik saja?" Marcus segera membopong Zeeta.


Pelanggan serta Edward dan Ella tampak cemas dibuatnya.


"Mana ini... bahaya! Mereka merusak ... alamnya!" tegas Zeeta. Ia berusaha meskipun napasnya berat dan kesadarannya seakan ingin terbang darinya.


"Alam?"


"Marcus, segera ungsikan penduduk. Jangan banyak tanya, aku akan menemui guru Ashley." Setelah Zeeta berdiri sendiri, ia mendekati sepupu kembarnya. "Maaf, bersenang-senangnya sampai di sini dulu, ya." Zeeta memeluk si kembar lalu berteleportasi.


Setelah Zeeta berteleportasi, Marcus berjalan ke pintu masuk. "Kalian dengar? Kita tidak boleh panik. Ungsikan diri kalian sendiri dengan tenang. Aku akan melapor ini pada Tuan Albert agar menyiapkan Glass Port."


Para pelanggan yang tampak ketakutan itu menenangkan diri dengan mengatur napas masing-masing.


"Demi Tuan Putri!" kata salah satu pelanggan. Mereka pun lekas satu suara.


......................


[Sementara itu, di hutan....]


Aria dan Ozy—yang tengah mandi di bawah arus air terjun, merasakan kengerian yang Zeeta rasakan.


Dengan tubuhnya yang bergetar hebat setelah cekikikan bersama Ozy, Aria lekas bertanya, "Ozy.... Ini sangat gawat, alamnya tiba-tiba hancur.... Sebenarnya makhluk apa yang mendekati Aurora?"


Ozy menaruh Aria di sisi air terjun lalu menjawab, "Hollow." Raut wajah Ozy sangat tidak bersahabat. "Zeeta ... dalam ... bahaya!" Ozy lekas berlari menyusul Zeeta.


"He-hei! Apa itu Hollow? Tunggu aku, aku juga—"


"Tidak! Ini ... sangat berbahaya!" Bentakan Ozy membuat Aria terjatuh. "Hollow ... tidak mungkin dihadapi ... siapapun!" setelah mengatakannya, Ozy lekas berlari kembali.


"A-apa itu...? Aku tak pernah melihat Ozy seperti itu!" gumam Aria. "Perasaanku tidak enak, aku harus segera kembali ke Hutan Sihir Agung!" Aria merubah bentuknya menjadi sesosok Peri dan terbang ke arah berlawanan dengan Ozy.


......................


Zeeta telah sampai di hadapan Ashley. Ketika ia sampai, seluruh Levant dan Ashley sendiri berwajah serius.


"Zeeta, kautahu apa yang harus kaulakukan, 'kan?" tanya Ashley.


"Melindungi rakyatku," jawab Zeeta. Zeeta melepas pelukannya, lalu Edward dan Ella segera berlari ke gendongan Agatha sambil berwajah cemas.


"Kau benar. Bahkan sebelum kita sempat memasang sensor, kita sudah kedatangan tamu tak bersahabat. Kami dan bangsawan utama lain akan mencoba menghadapi siapapun yang datang ini. Kau, dengan kekuatanmu, lakukan apapun demi melindungi rakyatmu!"


Zeeta mengatur napasnya. "Ayahku di mana?" tanyanya.


"Sudah mengungsi."


"Baiklah, jaga keselamatan kalian." Zeeta berteleportasi kembali.


"Nak Zeeta... jangan paksakan dirimu!" batin Agatha.


Disaat yang sama, makhluk-makhluk hitam keunguan bermata merah itu sampai di titik akhir, yaitu Wilayah Timur, di desa berpalang nama "Falls". Masih ada banyak orang yang belum sempat mengungsikan diri atas mendadaknya ancaman ini. Sementara, Porte sendiri, sebagai penanggung jawab Wilayah Timur tidak hadir di sana setelah menerima panggilan darurat Ashley.


"A-apa-apaan kalian ini?!" seorang lelaki berlari terbirit-birit setelah melihat alam yang mati.


Sosok hitam keunguan itu—Hollow—terus berjalan tanpa peduli apapun yang ada di hadapannya. Dengan kecepatan yang lebih cepat dari lelaki yang ada di hadapan mereka, lelaki tersebut "dilahap" ke dalam tubuh mereka. Tak butuh waktu lama, lelaki itu mati dengan menyisakan tengkorak dan pakaiannya saja. Orang-orang yang terhenti berlari, segera panik dan berlari berhamburan.


"Dimana Tuan Porte disaat seperti ini?! Bukankah kristalnya bisa melindungi kita?!" teriak salah satu dari mereka.


"Tak ada waktu untuk mengeluh, segera ungsikan diri kalian! Aku akan menghalangi mereka dengan sihirku!" seorang pria berdiri dengan gagah beraninya mencoba menghalangi Hollow.


"Kepala Desa, jangan gegabah! Mana mungkin sihir dari kita berhasil!" seorang pria dari mereka terhenti.


"Tak akan ada yang tahu jika tidak mencobanya! Tuan Putri Zeeta pasti akan melakukan ini!" tegas Kepala Desa. Ia menyiapkan sihir air di telapak tangannya.


"Aaahh, dasar! Kalau mati ayo mati bersama!" si pria menyiapkan sihir es di telapaknya.


"Sekarang!" Kepala Desa membanting telapaknya di tanah, diikuti si pria.


Setelah air menghantam Hollow, es itu segera mengurung mereka dalam beku. Namun sayang, asap hitam yang terus keluar bak miasma dari tubuh mereka, memudahkan mereka untuk mendekati manusia di hadapannya dengan melahap sihir itu.


"Heheh, inilah akhirnya." Kepala Desa dan pria itu tenggelam dalam asap dan menjadi tengkorak.

__ADS_1


Di dunia serba sihir ini, sihir tak bekerja untuk melawan Hollow. Bagaimana Zeeta bisa melindungi rakyatnya dari ancaman mereka? Bagaimana Ashley dan rekan-rekan bangsawannya bisa menumpas Hollow?


__ADS_2