
Datang dari lini masa yang berbeda, Penguasa Kekelaman menyebabkan beberapa kekacauan yang untuk saat ini masih bisa diredam. Kekacauan tersebut adalah kehancuran Grandtopia dan menjadikan kekaisaran Seiryuu sebagai “tempat bermainnya”. Namun, Reina yang melihat melalui pohon Chronos, tangis yang menetes usai Penguasa Kekelaman melihat kedatangan Luna, ia jadi harus memutar otak. Apa sebenarnya tujuan dia ke sini? Apakah hanya sesederhana untuk mendatangkan kekacauan di dunia yang “menyambutnya” sebagai tamu ini, seperti yang diduga oleh Hugo? Sayangnya, sebelum benar-benar bisa mendapatkan jawabannya, salah satu korban dari Penguasa Kekelaman—yang seharusnya sudah mati dengan tubuh yang bersimbah darah—hidup kembali seakan tak terjadi apa-apa.
Disaat yang sama, Luna, Colette, dan Lloyd berada di ruang dimensi ciptaan Penguasa Kekelaman. Mereka membahas bagaimana Luna bisa tahu apa yang sedang terjadi di dimensi terpisah dari dunia nyata ini.
“Katakan padaku, apa kaubisa bersihir Rune?” tanya Luna.
“Uhm,” jawab Penguasa Kekelaman, sambil mengangguk.
“Pernahkah kau mencobanya pada dirimu sendiri?”
“Ha... hah?” bahkan Penguasa Kekelaman pun dibuat bingung.
“Ya! Itulah yang dirimu versi dunia ini lakukan. Sangat gila sekali, bahkan aku yang menjadikannya Wadah saja TIDAK menyangkanya!”
“Tapi ... itu tidak berarti Putri Zeeta memakainya untuk yang pertama kali, bukan?” tanya Colette, “maksudku, dia bahkan bisa membaca pergerakan dan pikiran orang lain karena Rune yang dipasang di dirinya sendiri.
“Dia juga memakai lebih dari satu Rune untuk melawan Lucy. Memangnya ada yang aneh dari itu?”
“Kau benar,” jawab Luna, “tapi, kau harus mengerti terlebih dahulu tentang dasar bagaimana dia menggunakan Rune. Untuk bisa menggunakan setiap huruf Rune, dia bisa memakai dua pilihan. Memakai mana alam ataukah mana-nya sendiri.
“Rune yang digunakan untuknya agar bisa membaca pergerakan dan pikiran orang lain, yaitu Rune Kaunaz, tak begitu menyedot mana. Oleh sebab itu, khusus untuk Rune ini, dia selalu memakai mana-nya sendiri.
“Namun, saat melawan Lucy—dia memang memakai lebih dari satu Rune—tapi dia menyeimbangi pemakaiannya dengan menggunakan mana alam dan mana-nya sendiri, sehingga itu tak akan menjadi beban berlebih untuk tubuhnya. Apa lagi, setelah itu dia juga memakai Catastrophe Seal.
“Tapi, harus kaucatat pula, bahkan untuk Zeeta sekalipun, mana-nya memiliki batas. Kalau mana-nya sendiri menipis, otomatis dia tidak akan sanggup memakai mana alam. Karena itulah, saat-saat sebelum dia memakai Catastrophe Seal, para Elf membantu menyembuhkannya dari kejauhan.
“Sekarang, masalahnya adalah Zeeta memakai Rune Ansuz pada dirinya sendiri—sebuah Rune yang bahkan belum pernah dipakai sebelumnya. Memang, tiada salahnya untuk menulis Rune pada diri sendiri—dengan catatan—tidak melebihi batas. Tapi, Rune Ansuz ... merupakan Rune yang mampu ‘memerintah’ alam untuk mewujudkan diri dan berkomunikasi dengannya."
“Komunikasi yang kumaksud di sini adalah komunikasi antar-dunia.
"Alam terbentang luas di segala dunia. Mereka saling tersambung satu sama lain, yang juga memungkinkan para Elf dapat membantu Zeeta dari belakang—sebagai salah satu contohnya.
“Setelah kita mengetahui ancaman Seiryuu yang ingin mengumpulkan Batu Jiwa untuk membuka Jötunnheim, dia menyembunyikan fakta bahwa ada mana aneh yang dirasakannya tiba-tiba saja muncul jauh di suatu tempat di dunia ini. Karena itulah, dia berpikir untuk menggunakannya."
Luna melihat ke arah Penguasa Kekelaman.
“Rune Ansuz membuatnya mampu untuk mengetahui apapun yang ingin diketahui penyihirnya," sambung Luna kembali menjelaskan, "bahkan jika Si Penyihir ingin bertanya tentang kematiannya sendiri. Tapi, sesuai dengan kemampuan Rune ini, bayarannya tidaklah sedikit. Kalau Zeeta sampai terlalu lama memakainya ... akibatnya sangatlah fatal.
__ADS_1
“Dan kautahu apa yang dia katakan saat itu dengan mudahnya?”
Luna bersiap bicara sambil meniru gaya bicara Zeeta. “'Lagi pula, dengan cara ini, kita akan bisa menghemat banyak waktu dan bisa menyangkal kemungkinan terburuk dari sesuatu yang baru saja muncul ini. Toh, ada dirimu bersamaku. Kau pasti bisa melakukan sesuatu kalau nanti malah aku sendiri yang terpojok.'”
"...." Luna terdiam sesaat sambil mencengkeram erat tangan kanannya. "UGH ANAK ITU ... BENAR-BENAR, DEH!" empat urat di pelipisnya timbul.
......................
Emosi Lloyd langsung timbul begitu mendengar penjelasan lengkapnya dari Luna. “Bocah itu.... Apa dia tidak mengerti kalau Rune sangat berisiko untuk digunakan pada diri sendiri?! Terlebih, Rune yang belum pernah dipakainya?
“Bukankah Ozy sudah mengajarkannya tentang itu?!”
“Itu dia, Nak Elf!” sahut Luna, “Aku, sebagai Roh Yggdrasil-nya, sudah mengingatkannya tentang bahaya itu, tapi isi kepalanya keras sekali bahkan lebih keras dari sisik Naga!”
“A-anu... memangnya, apa risiko itu...?” tanya Colette.
“MATI!” jawab Luna dan Lloyd bersamaan.
“E-eh?!?!”
Lloyd kemudian menambahkan. “Pada awalnya, Rune adalah metode sihir kuno yang hanya dipakai oleh Raksasa untuk pertempuran mereka melawan Naga. Tidak heran, bila masing-masing dari huruf Rune itu sendiri, memiliki kekuatan yang berada di level yang sangat gila.
“Bahkan aku sendiri pun sempat ragu jika Zeeta akan mampu menguasai Rune, karena dia hanyalah Manusia! Tapi, setelah mendengar sejarah yang dia lihat saat kembali dari kematiannya, kurasa aku bisa menerima fakta itu.”
“Kenapa kau mesti bertanya? Tidakkah hal ini juga berlaku padamu?” Lloyd masih memandang Penguasa Kekelaman dengan kebencian yang dalam.
“Tidak, Nak Elf.” Ekspresi Luna serius. “Sudah kukatakan, dia datang dari lini masa yang berbeda.
“Koreksikanlah aku jika aku salah. Kekuatan bulanmu ... tidak pernah bangkit, bukan?”
Penguasa Kekelaman mencengkeram tangannya.
“Eh...?” Colette mengernyit. Sama dengan Lloyd.
“Lalu, bagaimana kaubisa memakai sihir kuno Rune?”
Penguasa Kekelaman menggigit bibirnya. Ia perlahan mundur sambil menundukkan kepala. “Aku tidak datang ke sini untuk diceramahi oleh orang-orang yang sudah mati!” ia lalu menjentikkan jemarinya, kemudian menghilang dari sana.
“Anak itu...!” tidak menduga dia akan kabur, Luna tergesa-gesa. “Nak Elf, bersiaplah untuk hantaman!”
__ADS_1
“Serahkan saja padaku!” jawab Lloyd cepat.
“E-eh? A-apa yang terjadi?” Colette benar-benar dibuat bingung.
‘CLANK!’
Langit dan tanah tampak seperti pecah. Bahkan untuk Colette yang terbilang masih baru di dunia yang segala disekitarnya adalah sihir dengan level yang berbeda, dia mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. “Astaga...,” ucapnya.
‘ZRAAANNGG!’
Dimensi itu runtuh seutuhnya seperti kaca yang pecah—menjatuhkan ketiganya dan memaksa mereka untuk merasakan adrenalin dadakan yang ingin mencopot jantung, meluncur bebas di angkasa. Dan kala inilah, Lloyd dan Colette sadar akan sesuatu. Mereka tidak lagi berada di perbukitan saat mereka menemukan gua yang dihuni oleh Diablo—melainkan tanah bersalju yang sedang terjadi pertempuran di sana.
Lloyd yang mampu merasakan aliran mana—tidak seperti Colette—langsung tahu siapa yang sedang bertempur. “Mereka...? Mintia dan yang lainnya!”
Binar mata langsung terpampang jelas pada Colette. “Hei! Apa di sana juga ada Marcus? Apa Marcus baik-baik saja?”
Lloyd menyipitkan mata untuk bisa membedakan aliran satu dengan yang lainnya, baru kemudian menjawab. “Ya, bisa kupastikan dia baik-baik saja.”
“Astaga, kalian ini,” ujar Luna, “apa kalian lupa kita sedang jatuh dari langit? Bukankah di sini seharusnya kalian panik, terutama kau, Nak Colette?”
“Hehe ... karena aku tahu Marcus baik-baik saja, aku pun begitu!”
“Haaah.... Manusia memang makhluk yang unik, kapanpun zamannya….”
......................
Sesuai rencana Marcus pada dua rekannya, saat ini dia sedang menjadi umpan sambil membawa kristal peledak yang melayang dengan sihir di belakang punggungnya. Sambil berlari mendekati Phantasmal berpenampilan seperti Raksasa, dia membatin. “Setelah aku berhasil menyulut atensi mereka dengan kristal ini—kristal yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja dibiarkan tanpa pengawasan—dengan kata lain, mereka menjebak ‘kami’ untuk memakai ini. Mereka pasti akan memusatkan seluruh penyerangan pada ‘kami’ yang sudah terjebak.
“Kuserahkan sisanya pada kalian, Mintia, Nova!”
Tetapi....
“Marcuuuuusss!”
Dia mendengar suara kekasihnya dari suatu arah. Diapun bertanya-tanya, “Apa aku barusan dengar
suara Colette? Apa lagi-lagi aku...?”
“Marcus, di atasmu!”
__ADS_1
Begitu Marcus mendongak, ia terbelalak. “Uwah, Colette?!”
‘GUBRAK!’