Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Amarah Lloyd


__ADS_3

Di dimensi dimana reruntuhan batu jatuh dengan kecepatan yang sangat lambat, langit berwarna kelabu, udara dipenuhi abu, Sang Penguasa Kekelaman sedang menikmati waktu bermainnya bersama Diablo. Suatu permainan yang disebut menggelapkan pikiran dan hati seorang gadis bernama Colette. Selangkah lagi, ia akan mencapai kemenangannya.


 “Apa kauingin tahu siapa penyebab semua ini?” tanya Penguasa Kekelaman.


Pandangan Colette yang sebelumnya ke bawah, perlahan menatap lurus Si Wanita. Pandangan itu terlihat kosong—seakan tak lagi memiliki cahaya.


“ZEETA!”


Colette terbelalak. “A-apa maksudmu...?!”


“Ingatlah, Colette! Siapa lagi selain dia yang menyarankan kalian untuk mengamankan Batu Jiwa, hmm?”


Colette mengingat-ingatnya lagi. “Dia benar, tapi … bagaimana dia bisa tahu...?” pertanyaan itu sempat terlintas di kepalanya, tetapi....


“Kau benar, ini semua ... gara-gara Putri Zeeta….”


“Menang!” Di permainan ini, pemenangnya adalah dirinya. Begitulah pikir Penguasa Kekelaman.


.


.


.


.


“JANGAN TERTIPU OLEHNYA, COLETTE!”


Pandangan kosong Colette sebelumnya, kembali bersinar setelah suara Lloyd terdengar.


“Manusia busuk ini telah berbohong padamu, hanya untuk memenuhi kepuasannya! Semua orang yang dia sebut, MASIHLAH BERJUANG!


“Ingatlah, kita semua, baik manusia dan Elf, telah bertekad untuk melindungi Zeeta dan terus hidup bersamanya!


“Kita semua tahu Zeeta tidak bisa ditinggal sendiri. Dia butuh bantuan kita semua. Oleh karena itu....


“MEREKA TIDAK AKAN SEMUDAH ITU UNTUK MENYERAH DAN MATI!”


‘KRAK!’


Retakan pada sihir berbentuk salib yang mengekang Lloyd muncul di bagian pergelangan tangannya.


“Apa?!” Penguasa Kekelaman tidak menduga Lloyd bisa melakukannya.


Aura hitam meledak dari tubuh Lloyd. Hanya dari ledakan aura itu saja, mampu membebaskannya dari kekangan sihir salib seutuhnya—juga membebaskan Colette yang segera terkulai lemas. Meski terkulai lemas, ia masih bisa untuk duduk melipat kaki. “Lloyd...,” ujarnya pelan.


Ledakan aura Lloyd tidak hanya membebaskan mereka dari sihir salib, itu juga bisa membuat Diablo mundur—seakan ketakutan. Penguasa Kekelaman dibuat kebingungan. Apa, kenapa, bagaimana, sangat ingin dilontarkannya.


“Ingatlah, Manusia Busuk,” ujar Lloyd, sambil menunduk dan berjalan mendekat dua musuhnya. Langkah kakinya, juga membuat cetakan kaki di tanah kerikil dan menerbangkan kerikil-kerikil itu. “Aku ataupun Tetua Hugo, tidak pernah melawan Zeeta secara serius. Aku tidak tahu bagaimana caramu bisa ke sini, tapi aku takkan memaafkanmu karena sudah mengancam Grandtopia.

__ADS_1


“Jangan pikir hanya karena kau memakai topeng, aku—kami para Elf—tak bisa mengenali identitasmu.”


“Cih!” Penguasa Kekelaman menjauh dari Diablo. “Tak perlu lagi menahan dirimu, mengamuklah, Diablo!”


Bibir tebal dengan gigi-gigi tajam melingkar Diablo seakan mekar. Bahkan, kata “dagu” seolah tidak berguna baginya. Dari bawah dagu yang terlihat seperti mekar tersebut, menjulur lidah panjang dengan diselimuti mana racun.


“Sekarang, setelah aku tahu siapa dirimu, aku tidak perlu waspada tentang siapa yang akan kulawan—meski itu makhluk ciptaanmu sekalipun!” seru Lloyd, yang dilanjutkan dengan berkuda-kuda. Dia lalu terbayang seperti apa pertarungannya dengan Zeeta saat pertama kali bertemu.


“Pusatkan sihir di telapak kakiku—karena ini akan membuatku dapat bergerak suuuper cepat. Pukulanku juga berkonsep latihan yang sama. Ini sudah diajari oleh guruku Ashley, hanya saja ... baru kali ini aku benar-benar mempraktikannya... hehehe....”


Dengan konsep sama, namun dengan kapasitas kekuatan yang jauh berbeda....


Lloyd muncul tepat di depan Diablo yang mulutnya terbuka lebar itu. Tapi, tidak hanya muncul di depannya saja, seperti memperlambat waktu, cetakan kaki di tanah berkerikil itu muncul belakangan bersama dengan jejak api yang membara. Angin kencang juga menghembus sebagai dampak kekuatan Lloyd yang dijuluki sebagai Elf Terkuat Nomor Dua itu.


Setelah muncul di depan Diablo, Lloyd langsung melapisi pukulan kanannya dengan mana hitamnya, untuk menembus tubuh karnivor creepy di depannya ini.


‘BBWWUUMMM!’


Perut Diablo terlihat mencekung oleh lengan Lloyd, tapi, disaat yang sama, bunyi meleleh juga terdengar. Walau terkena pukulan telak dari Lloyd, Diablo tetap bisa melawan balik.


Masih bersembunyi dibalik topengnya, Penguasa Kekelaman tersenyum. Tapi, seakan-akan Lloyd membaca pikirannya, dia memelototinya sambil menjerit, “Jangan pikir kalau aku tidak bisa mengetahuinya!”


Bunyi meleleh sebelumnya, terdengar semakin keras dan semakin keras, membuat Diablo mengerang dengan lantang. Kemudian, menyusul lelehan itu, ledakan keras mementalkannya dari Lloyd. Cipratan darah hitam keunguan menyelimuti setengah tubuh Lloyd.


“Kenapa...?” akhirnya Sang Penguasa Kekelaman dibuat terpojok. “Kenapa kaubisa sekuat ini?! Diablo-ku itu kubentuk dari mana-ku dan Flakka, lho! Tiada serangan yang seharusnya bisa mendarat padanya!”


“KAU BODOH!” jerit Lloyd, membuat Penguasa Kekelaman sedikit tersentak. “Sudah lupakah kau, siapa itu Elf, Penguasa Kekelaman?!


“SUDAH LUPAKAH KAU TERHADAP LUCY?!”


Penguasa Kekelaman yang terdiam dari bentakan-bentakan Lloyd yang terbakar emosi, akhirnya membuka suara.


“Daritadi apa yang kaumaksud?!


“Semua nama yang kausebut, aku bahkan tak mengenalnya!”


Urat kepala langsung timbul di pelipis Lloyd. “Hah...?!” aura hitamnya semakin menebal dan meledak-ledak. “Jangan bermain-main denganku, Bocah…!


“Tidak mengenalnya...?!


“Omong kosong macam apa itu?! Kau telah memperalat dua Manusia dari Seiryuu untuk menjadi pionmu dan menyerang Grandtopia!


"Apa aku sebodoh itu, untuk dipermainkan oleh kata-kata seperti itu?!”


Reruntuhan-reruntuhan batu raksasa yang menghujani langit, mulai berantakan alur jatuhnya. Atas meledaknya aura Lloyd—menyebabkan mana tubuhnya berkesinambungan dengan alam dan mampu meledakkan segalanya. Bahkan, letusan-letusan lava juga mulai muncul di sekitaran mereka.


Colette, di lain sisi, berada diantara mengerti dan tidak dengan yang sedang terjadi. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi apa? Dia sendiri tidak yakin bisa menenangkan Lloyd.


Saat itulah....

__ADS_1


“Ya ampun, kacau sekali.... Tenanglah dulu, kalian semua!” Seekor siluman rubah berekor dua tahu-tahu, muncul berjalan dari belakang Penguasa Kekelaman.


“A-Anda...?!” Lloyd langsung bisa menenangkan sedikit ledakan amarahnya.


“Ap... a...?” Penguasa Kekelaman juga kaget.


“Disaat aku disuruh berjaga, kejadiannya malah seperti ini. Kau memang selalu membawa masalah kemana pun kau berada, Zeeta.”


Terpaku, Penguasa Kekelaman tak bisa melepas pandangannya dari siapa yang baru datang—Luna.


“Roh yang Agung, Luna!” seru Colette, yang akhirnya memiliki harapan untuk bisa mendekati mereka. “Bagaimana Anda bisa...?”


 “Mudah.


“Keberadaan orang ini.” Dengan melakukan gerakan jentikan, Luna menghancurkan topeng Penguasa Kekelaman.


Colette yang sebenarnya sudah menduga, terkejut ketika melihat mata dibalik topeng itu menangis. Sehingga, mau tidak mau, iapun bertanya. “Apa orang ini benar-benar... Putri Zeeta?”


“Aku tidak tahu,” jawab Luna.


“Eh...?” Lloyd dan Colette tidak percaya.


“Sudah pernah kuceritakan, bahwa saat kukunjungi masa depan Zeeta kala ia menjadi Penguasa Kekelaman, yang bisa menggunakan mana saat itu hanyalah dia, Danny, Gerda, dan Mellynda.


“Itu artinya, sebagai Roh Yggdrasil yang memilihnya sebagai wadah, aku tahu seperti apa aliran mana darinya. Terlebih, gadis ini tidak berambut perak, tapi hitam.”


Lloyd dan Colette memandanginya secara saksama.


“Memang, sih, wajah Putri Zeeta melekat padanya...,” ujar Colette yang melihat dari atas hingga bawah, “terlebih, dadanya... Cih...!”


“I-ini hanyalah teori dariku,” lanjut Luna, “tapi gadis ini berasal dari dunia yang tiga ratus enam puluh derajat berbeda dari kita dan masa depan yang telah diriku dan Zeeta intip.


“Memanipulasi mananya sendiri untuk menciptakan dimensi seperti ini, mempermainkan mana manusia lain seakan-akan itu mainan, juga menciptakan monster gila di belakang sana. Dilihat dari mana pun, tiada yang bisa melakukan hal semacam ini selain Zeeta, tetapi Zeeta yang kita tahu tidaklah sekejam ini.”


Penguasa Kekelaman yang sedari tadi menangis, mengusap air matanya. “Kenapa ... kaubisa tahu kalau ini aku?” tanyanya.


“Aku mengetahuinya? Tentu saja tidak.


“Yang paling mengerti dirimu, hanyalah dirimu sendiri.”


Penguasa Kekelaman mengernyit. “Aku?”


“Katakanlah padaku. Kaubisa menggunakan Rune?”


“Uhm.”


“Pernahkah kau mencobanya pada diri sendiri?”


“Ha... hah?” bahkan Penguasa Kekelaman pun dibuat bingung.

__ADS_1


“YA. Itulah yang dirimu versi dunia ini lakukan. Sangat gila sekali, bahkan aku yang menjadikannya Wadah saja, tak menyangkanya!"


__ADS_2