
Dunia sedang diambang kehancurannya. Lautan, gunung, dan tanah, mereka semua meletuskan "amarah" yang dahsyat. Tanah bergemuruh dan mendatangkan jurang-jurang baru bagi Bumi, lautan menyergap mereka yang ada di daratan dan mengacaukan mereka yang ada di kedalaman, sementara itu gunung memuntahkan lavanya dan semakin memperparah kondisi di daratan.
Memperburuk keadaan yang sedang terjadi, di langit, terdapat robekan dimensi yang memerlihatkan banyaknya mata, suara, bahkan semburan api dengan bermacam warnanya. Mereka mencoba melakukan apapun untuk membuka lebih lebar robekan tersebut.
Disaat-saat seperti ini, selalu ada yang mengharapkan pertolongan. Tapi, memangnya siapa yang bisa menolong mereka disaat seperti ini? Penduduk Bumi sudah menganggap dunia akan berakhir. Sementara itu, sebagian kecil darinya masih berharap ada seseorang yang bisa menghentikannya—masyarakat kerajaan Aurora.
Mereka yang sekarang sedang berlindung dibalik kubah sihir hasil gabungan kekuatan bermacam ras yang tersimpan di balik tanah—Töfrahnöttur—berharap dan berdoa tentang keselamatan Tuan Putri mereka, Zeeta, dan keberhasilannya menyelamatkan dunia.
Sementara itu, di sisi lain, Scarlet dan Alicia sangat cemas. Mereka yang mengetahui sedikit latar belakang tentang Southern Flare, berdegup kencang. Kapan mereka akan turun tangan? Jika lebih lama, mungkin saja Zeeta tidak selamat.
Mereka seketika terbelalak, merasa dugaannya malah menjadi kenyataan. Bahkan mereka merasakan mana Zeeta yang meledak sebelumnya, terus menyusut dan tidak menunjukkan tanda berhentinya.
Tetapi kala itulah, mereka semua, bahkan seisi Bumi yang masih selamat, melihat sebuah titik cahaya hijau. Tanpa diketahui mereka, di sumber cahaya tersebut berasal, ada enam orang dari berbagai ras di satu tempat yang sama. Mereka berkumpul di udara—mengelilingi bola yang sebelumnya bersinar biru dan kini menjadi hijau tersebut.
"Inilah saatnya, semuanya!" seru seseorang, yang merupakan Benih Yggdrasil. Ia mengucapkannya lantang dan segera direspon positif oleh mereka yang ada di dekatnya, juga mereka yang tersampaikan melalui telepati dari ras lain—Lloyd dan Siren.
Grandtopia, penduduk Elf-nya telah bersiap dengan berbaris diri sambil menyentuh pohon Chronos. Demikian pula dengan Hugo. Sementara itu, para Elf yang ada di Hutan Elf hanya menyentuh pohon yang ada di sana. Ketika aba-abanya diberikan melalui telepati Lloyd, pohon-pohon dan tubuh mereka ikut bersinar hijau.
Mendengar telepati dari Siren, Xennaville memberitahu Cynthia untuk mengalirkan mananya pada lautan. Pun dengan Wadahnya, Hitomi Reiko yang mengalirkan mana alamnya pada tanah. Ketiganya berada di pantai.
Senada dengan mereka yang di udara—Lloyd, Klutzie, Siren, Titania, dan Elbrecht, serta Arata—mereka juga mengalirkan mana alamnya pada udara. Mengecualikan Titania, Siren, dan Klutzie, yang sudah memiliki perannya sendiri.
Titania menunggu aba-aba lagi dari Klutzie dan Siren. Ia menunggu apakah sudah waktunya beraksi atau belum. Ia berdegup tak karuan, juga tak terbayang bisa ikut andil dalam hal besar seperti ini.
Sama halnya dengan Arata. Baru beberapa waktu yang lalu ia mengira akan mati, namun sekarang justru membantu menyelamatkan dunia. Ia merasa harus menyelesaikan ini apapun yang terjadi kepadanya.
Klutzie mengingat sejenak apa yang dikatakan kakaknya.
"Lutz.... Kita berdua, ayah, dan ibu, memang merupakan keturunan Matahari. Namun, tidak ada dari kita yang mewarisi kekuatan tersebut kecuali para leluhur.
"Untungnya di sini, Aurora memiliki keturunan Matahari yang asli, dan bisa kukatakan aku bersyukur tidak mewarisi kekuatan itu.
"Mereka memiliki 'rantai pengekang' yang tidak mengizinkan mereka menyelamatkan rakyat mereka sendiri bila dunia tidak benar-benar terancam akan berakhir. Jika hal itu dilanggar, maka mereka akan kehilangan hak kekuatan tersebut dan menjadi Manusia biasa yang lemah.
"Namun, semua keturunan Matahari sepakat dan merasakan ini di dalam jiwanya. Bara semangat yang terus saja membara yang tidak bisa dipadamkan untuk tetap bisa menyelamatkan mereka yang berharga.
"Teruslah nyalakan bara itu bahkan ketika semuanya sudah berakhir."
.
.
.
.
Di sisi lain, Aurora, sambil terus melihat ke arah cahaya hijau itu berada, Suzy berharap adiknya bisa selamat dan menuntaskan apa yang hendak dicapainya. Tidak lama kemudian, cahaya yang hanya berasal dari bola bersinar itu saja—Vanadust—perlahan merambat ke seluruh bangunannya. Meresponnya, alam perlahan menenangkan dirinya. Semua yang terjadi secara bersamaan pada alam, melandai secara perlahan begitu bangunan berbentuk tongkat sihir itu bersinar hijau.
__ADS_1
"Masih belum cukupkah?!" jerit Reina pada Lloyd.
"Sudah cukupkah, Benih Yggdrasil?!" teriak Lloyd menyampaikan.
"Ya, sekarang waktunya, Titania!!"
Titania mengangguk mantap. Ia memegang kalung pemberian ibunya, kemudian membesar. Penduduk Nebula menyaksikan keajaiban kala itu dari jarak yang sangat dekat.
......................
[Sementara itu, disaat yang bersamaan....]
"Ayo mundur, Nona!" seru Keenai yang telah terpojok oleh situasi.
"Jangan bercanda, Keenai!" balas Zeeta Alter garang, "aku takkan mundur hanya karena kedatangan Raksasa saja!"
Tiba-tiba....
'BWHAKKK!'
Zeeta Alter tersungkur di tanah, sedang Aria ada di atasnya. Ia meninju wajah gadis berambut hitam itu dengan tangan kosong. Matanya pun tidak memantulkan cahaya. Hanya ada kegelapan yang mencerminkan apa yang ada di dalam benaknya.
"Zeeta. Aku tidak akan memaafkanmu. Tidak akan pernah." Ia terus memukuli Zeeta Alter. "Kau sudah berencana untuk membunuh para Elf, tidak... kau bahkan sudah membunuh mereka.
"Kau tentu tidak melupakan fakta kalau aku paling membenci orang-orang yang seperti itu, 'kan?
"Aku tidak peduli dengan apa yang sudah kaulalui, tapi jika keluargamu, teman, dan mereka yang percaya kepadamu tidak bisa menghentikanmu....
"Aku, High Elf Bellaria, bersama dengan Zeeta dan dunia ini ... akan memusnahkanmu!"
Lalu, seisi Galdurheim dan mereka yang mengintip dari Drékaheim dan Jötunnheim melihatnya. Bagaimana seorang Raksasa yang memiliki tinggi dua kali lipat dari biasanya, sedang mengangkat tongkat sihir bersinar hijau itu.
TEPAT setelah Titania mengangkatnya atas perintah dari Klutzie, semuanya melihatnya. Dalam sekejap mata dan sangat cepat, mereka melihat kilauan pohon Yggdrasil.
.
.
.
.
Di sisi kerajaan Aurora, sebagai salah satu saksi mata, Suzy, menatap dengan decak kagum. Ia mengingat percakapannya dengan Ashley yang terasa baru seperti kemarin.
"Jika Catastrophe Seal ditempa oleh mana manusia dan Roh Yggdrasil selama ratusan tahun, juga mewarisi kepercayaan dan harapan banyak orang, maka Vanadust memiliki mana tidak hanya dari satu ras.
"Aku percaya, suatu hari nanti, peran Vanadust dan Southern Flare—Nebula... adalah....
__ADS_1
"Mendatangkan kesempatan agar 'bencana' yang hendak dihadapi dunia itu agar benar-benar bisa disegel.
"Temboknya yang banyak bercorak tulisan Rune, bangunan tinggi yang berasal dari bantuan Naga, serta kekuatan yang didapat melalui Peri dan Manusia, dan tentu saja berkat bantuan ras lainnya....
"Semua itu demi hari itu tiba. Demi memperkuat kesempatan kita untuk bersama-sama mewujudkan keinginan luhur yang sudah lama dinantikan!"
.
.
.
.
"Ibu...," batin Suzy yang masih dalam decak kagumnya, "apa di Tanah Kematian kaubisa melihatnya? Bagaimana kami semua bersama-sama menciptakan secercah harapan bagi dunia?
"Aku selalu mengagumimu. Tidak, kuyakin Lutz pun sama.
"Gadis Berhati Baja yang telah berani berjalan keluar dari ketakutannya, kini mendatangkan cahaya terang benderang seperti ini.
"Terima kasih!
"Terima kasih karena sudah melahirkan kami ke dunia yang indah ini!"
......................
"Kabulkanlah permohonan kami!" Titania merapal. Ia telah diberitahu Ozy tentang ini. "Datangkanlah angin sejuk sebelum semuanya memasuki babak akhir!
"Sihir Pohon Dunia!
"Glimmer Of World!"
Titania menancapkan lagi tongkat sihir besar itu ke tanah dan selanjutnya, saksi mata kala itu melihat lagi kilauan Yggdrasil secepat kilat. Disaat yang sama pula, dari pangkal tongkat sihir yang digenggamnya tumbuh secara cepat dan masif hamparan rerumputan berbunga yang tidak memandang apa yang melewatinya, meskipun itu adalah bangunan yang masih kokoh.
Semua yang telah dirusak oleh alam, kembali lagi seperti semula karena alam. Namun, nyawa yang terebut karenanya, sayangnya tidak bisa kembali.
Sesaat, benar-benar sesaat sebelum hamparan tersebut menyentuh tanah di sekitar Zeeta Alter dan Aria, wanita Elf itu mendengar, "Maafkan aku...." Ia tentu saja terbelalak, tetapi lantas dibuat bingung karena ia dan Keenai hilang secara bersamaan.
"Apa...." Tangan berlumuran darahnya bergemetar. "Apa maksudnya itu...?!"
Aria benar-benar dibuat geram. Teramat sangat geram!
Tidak hanya menumbuhkan hamparan hijau dan bunga, serta memperbaiki kerusakan alam, tongkat sihir itu menutup rapat lagi gerbang dua dunia yang menjadi ancaman. Melihat kesempatan ini, Ozy, yang tetap berada di Hutan Elf, menuliskan Rune Jera di "jahitan" gerbang tersebut.
"Fuuuh...." Ozy menghela napas lega. "Untuk saat ini, semuanya kembali aman...."
__ADS_1