Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kekuatan Penuh Ashley 2


__ADS_3

"Mana mungkin aku membiarkannya!!" Zeeta menebas Lucy dengan sabit Catastrophe Seal-nya, namun ia berhasil menghindar.


"Catastrophe Seal?!" Lucy terkejut, dilanjutkan dengan senyum. "Kalau begitu coba serang aku!"


Tak perlu terprovokasi lebih banyak lagi, Zeeta menyerang Lucy dengan segenap kemampuannya. Serangan demi serangan yang dilancarkan Zeeta, tak ada satupun yang berhasil mendarat di tubuh Lucy meski sesekali ia terlihat terkejut dengan kecepatan, kekuatan, dan keakurasiannya, mengingat ia masih anak kecil berusia delapan tahun.


"Harus kuakui, meskipun kau hanyalah anak kecil tapi kau kuat. Ditambah lagi, kau adalah orang langka, karena kau satu-satunya Manusia yang bisa memakai Catastrophe Seal, sejauh yang kutahu. Tapi ... diamlah dulu sebentar." Lucy menjentik kening Zeeta hingga membuatnya terpental.


"Zeeta!" pekik Azure khawatir.


"Ups, apa ini saatnya mengkhawatirkan orang lain?" Lucy memerangkap Azure di dalam sihir berbentuk kotak transparan.


Azure tak menerimanya begitu saja. Ia melakukan apapun yang ia bisa dengan sihir kegelapannya, namun usahanya nihil.


"Percuma," ujar Lucy, "sihirmu ada jauh di bawah—kkhk...?!" ia tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. "Cih...."


"Lepaskan...."


Lucy melihat ke arah Zeeta.


"Lepaskan Kak Azure!!"


......................


Ledakan dahsyat yang membentuk menyerupai pohon bercincin di batangnya, dapat dilihat membumbung tinggi—menunjukkan seberapa besar kekuatan ataupun dampak yang dikeluarkan sihir matahari dari Hazell Levant. Hazell melihat sosok istrinya yang jatuh tersungkur, meratapi kematian Willmurd, sambil mengumpulkan abu-abu dari sisa tubuhnya dengan mana yang masih tersisa. Setidaknya, itu harus ia lakukan ketika nanti bertemu dengan anggota Dormant lainnya. Hazell kemudian turun untuk menenangkan dan membantu istrinya, sementara Ashley dan bangsawan lain bersiap penuh.


“Lakukan sesuai rencana. Jangan terbawa emosi dulu, kalian paham?” tanya Ashley. Meski begitu, ia mencengkeram tangannya erat-erat.


“Siap, Grand Duchess!” jawab semua bangsawan utama itu. Hellenia juga sudah menghapus air matanya. Tekadnya sudah tampak bulat di wajahnya. Ia akan melakukan apapun yang ia bisa dengan sihirnya untuk membantu Ashley.


“Count Will..., kau adalah bangsawan hebat dan kebanggaan kerajaan ini ... sekaligus temanku yang paling berharga.... Aku berjanji, akan kubuat kerajaan ini memiliki setidaknya secercah harpan terang, seperti yang selalu kaudambakan!” batin Ashley. “Ayo.” Ashley menteleportasi diri, juga para bangsawan utama di sana dengan kilat petir biru.


Mereka sampai di tengah-tengah hutan yang telah berubah menjadi gurun yang gersang. Tidak hanya itu, sihir matahari tersebut mampu membuat lubang yang menampakkan isi bumi, yaitu lautan lava yang setiap beberapa menit menyemburkan panasnya. Mereka merasakan mana Lucy masih ada di sekitar sana, tetapi tak dapat menemukan wujudnya.


“Apa yang terjadi…?” gumam Rey. Ia melihat ke sekitarnya.


Ashley kemudian memejamkan mata, yang disusul oleh kedatangan petir yang menggelegar di balik awan hitam di tengah-tengah gurun yang gersang seperti ini. Debu dan pasir berterbangan kemana-mana, memaksa para bangsawan utama itu melindungi mata mereka dengan lengan.


“Pakailah aura kalian dan jaga jarak dariku,” kata Ashley, “ini akan memberatkan untuk kalian.”


Tak mempertanyakan kalimatnya, para bangsawan utama mundur beberapa jarak ke belakang setelah melapisi tubuh mereka dengan mana yang memiliki warnanya masing-masing.


Kilat-kilat petir yang terus bergemuruh di langit kemudian menjalar hingga ke tanah. Sambaran petir itu memunculkan empat buah serigala yang seluruhnya petir di sisi Ashley, namun mereka bermata merah. Mereka segera melolong dan mencari ke segala arah dengan kecepatannya yang dahsyat. Tak butuh waktu lama, salah satu dari empat serigala petir itu melolong tinggi, dan Ashley berteleportasi ke sana. Apa yang ia lihat di sana sedikit mengejutkan untuknya.


“Kuhahahahah....” Lucy menyeringai. “Tak kusangka, salah satu dari kalian bisa melukaiku sampai seperti ini.”


Ashley mendapati Lucy hanya tersisa setengah badan, namun tubuh itu menunjukkan tanda-tanda akan beregenerasi dengan waktu yang tidak begitu lama. Tanpa ragu lagi, Ashley segera menusuk tubuh yang sedang beregenerasi tersebut dengan tombaknya. Namun....


“Keh!” Lucy melebarkan  seringainya. “Sudah kuduga kau akan melakukannya, Alexandrita!” Lucy menyerap petir yang ada di tombak itu ke tubuhnya dan semakin mempercepat regenerasi tubuhnya. Walau ia terbelalak, ia tidak tinggal diam, Ashley mematahkan tombak itu dan membuat lagi tombak yang baru dengan mengangkat tangannya.


Lucy pulih seperti sedia kala, yang tentu saja membuat siapapun di sana merasakan takut dan cemas, setelah apa yang dikorbankan mereka, terlihat tidak begitu mempengaruhinya.


“Aku tahu apa yang Ratu dan Pak Tua yang jadi abu itu lakukan padaku. Kupuji kalian karena berhasil membuatku terpojok seperti tadi, tapi….


“ITU TIDAK CUKUP!!!


"Meskipun kalian membuatku tak bisa mengerahkan seluruh tenagaku, aku masih ada di atas kalian!”


‘SWUISHH’


‘ZDDARR!!!’


Ashley mendaratkan tendangan kaki kanannya di perut Lucy setelah muncul tiba-tiba di hadapannya. Tendangan itu berhasil membuatnya terpental dan menggelinding beberapa meter.


“Jangan besar kepala, Nona Leluhur,” kata Ashley. Ia menancapkan tombaknya ke tanah. “Atas dasar apa kaupercaya itu? Lihatlah tubuhmu.”


Lucy bangun dengan gemetar hebat di tubuhnya. Ia melihat ada lubang di perutnya. “Hahahah.” Ia


malah tertawa.


Ashley mengernyitkan mata. “Dia menyembunyikan sesuatu,” batinnya.


Tiba-tiba….


‘SRRAATTT!!’


Robekan di langit muncul, memaksa semua yang ada di tanah mendongak ke sumber suara.

__ADS_1


“A-apa yang?!”


Seseorang keluar dari sana, membawa seorang anak kecil yang dikurung dalam sihir berbentuk kotak. Tidak lama setelah kedatangannya, ia disusul oleh teriakan seorang anak kecil lagi, yang membawa sabit di tangannya sambil meneteskan mata.


“LEPASKAN KAK AZUUREE!!”


‘ZRINGG’


Orang itu menangkap sabitnya dengan kedua jarinya, yang tentu saja membuat orang-orang di bawah dibuat kebingungan dan berkali-kali melihat ulang. Ada dua Lucy di tempat yang sama.


“Harus kukatakan berapa kali, Nak? Kau sudah kupuji memang kuat dan sangat langka. Hanya kaulah Manusia yang mampu memakai Catastrophe Seal.” Ia tidak bergeming meski wajah Zeeta yang penuh dengan amarah dan tangis itu. “Tapi kau belumlah cukup kuat! Hanya dengan kekuatanmu yang seperti ini, kau tidak akan bisa mengalahkanku, atau bahkan menyelamatkan siapapun!”


Zeeta terbelalak.


“Lihatlah apa yang ada di bawahmu,” sambung Lucy. Zeeta pun mengiyakannya.


“Me-mereka…?”


“Ya, mereka adalah bangsawan di kerajaanmu. Salah satu dari mereka sudah besar kepala hanya karena bisa membuat lubang di klon-ku, padahal dia sudah tahu kalau aku bisa menyamar persis seperti dia dan bisa sampai di titik ini.” Lucy kembali menunjukkan seringainya. Lucy yang ada di tanah perlahan-lahan lenyap seperti debu.


“Gu-Guru Ashley…?” Zeeta memfokuskan matanya ke wanita berlapis zirah petir itu menunduk dan mencengkeram kuat kedua tangannya.


“Oh, harus kukatakan juga padamu, Nak. Salah satu dari mereka ada yang mati, berubah menjadi abu hanya karena ingin membuatku tak bisa mengeluarkan seluruh kemampuanku.”


Mendengar itu, Zeeta bagai tertusuk pedang. Begitu juga dengan Azure yang ada di dalam sihir kotak yang mengurungnya. Ia terbelalak.


“A-apa…?


“Ma-mati…?”


.


.


.


.


‘SLASH!!’


Punggung tangan yang menangkis sabit itu terpotong, dan Ashley membawa Zeeta mundur. Ia kembali ke hadapan Lucy lagi ditemani gemuruh petir yang semakin mengamuk.


‘ZRING ZRING ZRING’


Tangan dan kaki Lucy ditebas dengan cepat, membuat ekspresi Lucy yang sombong itu berubah terkejut dan tak menyangka jadi seperti ini.


Ashley menggerakkan tangannya seperti melempar sesatu dari atas—mendatangkan sambaran-sambaran tombak petir yang menusuknya hingga membuatnya terbanting dan terperangkap di tanah.


Saat Azure mengedipkan mata di tengah-tengahnya ia menyaksikan semua itu tepat di depan mata, ia menyadari dirinya sudah di kelilingi bangsawan utama yang melindunginya. “Ce-cepat sekalI!” batinnya.


“Selalu ada langit di atas langit. Haruskah aku mengingatkannya padamu, Nona Leluhur?” Ashley berjalan dengan pelan. Kakinya menghantarkan kilat kecil di tanah.


“Seorang Aurora dengan kekuatan gila selalu jadi rekan latihanku. Kau tak bisa terus-terusan berbesar kepala hanya karena kau memiliki kekuatan bulan dan tangan mengerikan itu.


“Ini adalah kesekian kalinya kami melukaimu. Jangan berani katakan kalau klon tadi tidak membawa dampak padamu. Aku cukup tahu bagaimana sihir bulan bekerja.”


Lucy menggertakkan giginya. Ia berusaha beregenerasi, namun gagal. Ia juga berusaha bergerak dari sana, tetapi juga tak mampu.


“Kau juga harusnya sadar diri, Alexandrita! Dengan kekuatan penuh seperti itu, akan segera habis dengan cepat. Jika seperti itu, kalian takkan mampu mengalahkan—“


Ashley tiba-tiba datang di hadapannya, melotot padanya sambil mencekiknya. “Lalu ... apa…?”


Tatapan dari Ashley membuatnya berkeringat dingin dan mengingat suatu kejadian di masa lalu.


......................


“Hal tabu yang telah kaulakukan tak bisa diampuni! Apa kau sadar apa yang sudah kaulakukan?! Kenapa kau tak berdiskusi dulu dengan kami?!” Seorang wanita berambut merah gelap panjang tengah berdiri bersama seorang pria yang mencengkeram tangannya. “Kenapa kau tidak bisa berpikir panjang dampak yang telah kaulakukan?!”


“Ma-maafkan aku... Aku ... aku hanya ... aku hanya ingin membantu....”


“Itulah kenapa kukatakan, kenapa kau tidak mau berdiskusi dengan kami dan langsung bertindak gegabah seperti ini?!”


Setelah mondar-mandir tak kunjung henti, akhirnya wanita itu memutuskan. “Mary, kita akan mengeluarkan anak dalam kandungan itu dengan sihir!”


“Ha... hah...? Tidak! Aku tidak mau! Aku akan membesarkan anak ini apapun yang terjadi!”


“MARY!” sang pria membanting meja hingga hancur lebur. “Kau kuusir dari keluarga kerajaan dan jangan berani menatap wajah kami lagi!”

__ADS_1


Si Wanita terkejut. "Sa-sayang...? Apa yang kaukatakan...?”


Tangis menetes dari mata. “Baiklah jika itu yang kau mau! Kau bahkan tak pernah sekali pun menganggap aku adalah putrimu dan hanya mementingkan pekerjaan saja! Dimana sosokmu ketika kami, tidak—AKU MEMBUTUHKANMU?!


“Inilah isi hatimu yang sebenarnya, ‘kan?! Dasar sialan! Aku takkan pulang lagi ke rumah busuk seperti ini!”


......................


“Aku … aku hanya….”


.


.


.


.


“AKU HANYA INGIN MEMBUAT MASA DEPAN KITA CERAH!!!”


Aura merah gelap mementalkan Ashley yang ada di dekatnya dan menghempaskan awan dan serigala petir di sana. Lucy pulih lagi, meski kini ia terengah-engah. Ia mengaktifkan tangan kanan monsternya lagi, tetapi saat ia melihat tangan itu, ia semakin terlihat marah dan menguatkan mana-nya.


“Dunia sihir ini memang telah busuk! Kalau tak ada yang mau memusnahkannya, tak peduli apa anggapan orang terhadapku, aku akan melakukannya!


“Dan kalian orang-orang yang telah melukaiku, adalah pijakan utamaku!”


“LAKUKAN SEKARANG, SEMUANYA!!” pekik Ashley.


Lucy yang terkejut karena Ashley tiba-tiba berteriak, tak mampu menghindar sihir yang ditembakkan para bangsawan utama padanya. Tembakkan itu tak menghasilkan luka, tetapi berhasil membuatnya semakin marah.


“Kkkkhhh…. Sialan sialan sialan sialan sialan sialan sialan sialan….


"Sialan sialan sialan SIALAN SIALAN SIALAN SIALAN!!


“SIALAAAANN!!”


Satu demi satu, Lucy meninju dan menusuk dengan kuku tangan kanan di bagian vital bangsawan utama, termasuk Ashley. Ia mampu melakukannya karena sebagian zirah petir Ashley lenyap. Mereka yang berlumuran darah tak mampu melakukan apapun saat dia mengambil Azure yang ketakutan. Zeeta juga tak bisa berhenti melihat betapa bergemetar tubuhnya, melihat sekelilingnya jatuh tak berdaya, sementara Azure dibawa oleh Lucy dan membuatnya pingsan.


“ZEETA!" jeritan Lucy membuat Zeeta melihatnya dengan takut.


"Camkan ini di kepalamu baik-baik!


“Kau adalah keturunanku!


“Kau adalah sumber kekacauan!


“Kau adalah monster sepertiku!


“Masa depanmu tidak akan jauh sepertiku!


“Akan tiba saatnya aku datang menjemputmu dengan kekuatanmu yang sudah sempurna!


“Tujuh tahun! Tujuh tahun dari sekarang aku akan kembali. Dan setelah itu, bersama-sama kita akan menghancurkan dunia ini!”


Lucy menghilang bersama Azure dengan sihir portalnya.


Kata-kata yang selalu membuatnya takut, momen-momen yang selalu ia hindari untuk terjadi, semuanya terjadi tepat di depan matanya.


Takut, gelisah, cemas, bingung. Itulah yang Zeeta rasakan.


“Menghancurkan dunia…? Memang itulah masa depanku...?


“Aku... adalah keturunannya .. ?


“A ... apa yang sebenarnya terjadi...?


“Ba-bagaimana....


.


.


.


.


“Bagaimana caraku menghadapi ini semua…?”

__ADS_1


Zeeta kehilangan kesadarannya.


__ADS_2