
Sepasang kornea runcing di dalam ruang hampa nan gelap, memejamkannya beberapa saat, lalu membukanya lagi. Zeeta ada di depannya.
“Wanita itu mustahil kau kalahkan, dengan kondisimu yang sekarang,” ujar sang pemilik mata, Ifrit.
Zeeta juga, yang hanya bisa melihat Ifrit dari matanya, tidak begitu memikirkannya. “Kenapa?” tanyanya.
“Sesuai namanya, tanah ini akan membuat sihir dan mana siapapun yang masih hidup menjadi lemah. Jika kau tidak berhati-hati....”
Zeeta tersenyum, kemudian bilang, “Uhm, baiklah! Terima kasih, Ifrit!”
[Tetapi, beberapa saat kemudian....]
Zeeta datang lagi ke hadapan Ifrit. “Bisakah kau membantuku dengan kekuatanmu?”
Ifrit mengernyit. “Apa yang ingin kaulakukan? Sudah kubilang tempat ini hanya akan merugikanmu!”
“Aku tahu. Tapi wanita itu ... harus kubuat mengerti betapa berharganya Melly dan kak Azure bagiku.”
Ifrit menyadari kepalan Zeeta yang bergemetar.
“Tidak ada jaminan kekuatanku bisa menandingi dia. Jika aku membantumu, risikomu kehilangan mana akan jadi lebih tinggi. Oleh karena itu, aku hanya akan memberimu sebagian kecilnya saja.
"Terlebih ... ini adalah pertama kalinya kau akan menggunakan kekuatanku.” Ifrit kemudian menjulurkan telunjuk kiri berkuku tajam, yang di atasnya terdapat bola api kecil.
Saat tangan itu semakin dekat dan terus mendekat … mendadak Ifrit berhenti, membuat Zeeta tersentak.
“Gunakanlah api ini untuk melindungi, bahkan jika itu harus mengorbankanku.”
Zeeta terbelalak begitu mendengarnya, kemudian disusul dengan tatapan serius. “Tentu saja!"
.
.
.
.
Ledakan api yang terjadi di Tanah Kematian—yang berbentuk seolah mangkuk terbalik, menghempaskan angin kencang ke segala penjuru arah. Kendati demikian, para Flakka yang bersembunyi dibalik lebatnya hutan kering, tidak bergeming. Tetapi tidak untuk Porte dan Scarlet yang sampai di dua lokasi berbeda. Arah dimana ledakan itu terjadi dan siapa pelakunya, mudah bagi mereka untuk mengetahuinya.
Menyusul ledakan apinya, mana yang beberapa saat sebelumnya berdentum, kini berdentum lagi—bahkan tekanannya terasa sangat menyesakkan untuk Porte dan Scarlet—yang berada jauh dari lokasi dimana mana tersebut berada. Jika sebelumnya ledakan api tidak menggemingkan para Flakka, tetapi sekarang adalah kebalikannya. Mereka bergerak mundur—menjauhi mana tersebut.
“Kita baru saja sampai di sini...,” batin Porte, sambil menahan matanya dari ledakan mana dengan lengan kanan, “tapi ini ... sudah pasti Putri Zeeta. Apa yang terjadi di sana...?”
Sementara itu, Scarlet, yang mengaktifkan sihir di kedua mata untuk melakukan pencarian, juga membatin, “Jangan sampai kau melakukan hal sembrono, Zeeta....”
Dilain sisi, di suatu tempat tak begitu jauh dari dua ledakan itu, ada tiga orang yang sedang duduk menatapi beberapa danau. Dua diantara mereka tembus pandang, satu diantaranya adalah seorang kakek-kakek bertongkat dan memakai jubah hitam. Mereka seakan tidak peduli dengan yang terjadi di sekitar.
“Jadi begitu...,” ujar suara seorang gadis. “Tidak peduli di mana tempat dan waktunya, Aurora memang menyebalkan. Iya, ‘kan, Melly?”
“Me-menyebalkan...?”
“Ya. Hanya satu orang yang kutahu sejauh ini yang mentalnya sekuat Rune, dan itu adalah nek Scarlet.”
__ADS_1
Gadis bernama Mellynda itu kemudian tersenyum. “Dan sekarang, dua Aurora itu masih ingin menyelamatkan kita, yang pada dasarnya sudah mati. Bagaimana kita bisa membalasnya...?
“Kau mungkin benar. Aurora memang menyebalkan.” Ia menutup kalimatnya dengan tetap tersenyum.
Si kakek yang mendengar percakapan mereka pun ikut tersenyum. “Andai gadisku juga memiliki orang-orang seperti kalian....”
Mellynda dan gadis di sebelahnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Azure, saling menatap. Mereka lalu sepemikiran dan saling mengangguk.
“Serahkan itu saja pada kami, Tuan Edouard!” seru Mellynda.
“Ya. Setelah mendengar semua hal penting tadi darimu, tidak mungkin Zeeta tidak akan merubah pikirannya.”
“Kalau begitu ....
“Kupercayakan putriku pada kalian.”
“Ya!” balas mereka bersamaan.
......................
Dikala yang sama, di suatu tempat antah-berantah—dimana langit “dihujani” oleh bebatuan raksasa. Ada yang berlumut, ada juga yang tidak. Yang jelas, ukuran batu-batu tersebut ada yang bisa melebihi besar gunung. Namun, walaupun disebut “hujan”, waktu bebatuan itu tertarik oleh gravitasi super lambat. Langitnya juga bukan biru, melainkan kelabu—juga disertai oleh abu yang berterbangan.
Sebelumnya, Lloyd dan Colette diserang oleh seekor monster setengah-banteng setengah-manusia yang bernama Diablo, dan atas perintah seseorang, mereka dipindahkan ke suatu dimensi. Dinensi yang dimaksud adalah tempat ini.
“Ngghh....” Kesadaran Colette mulai kembali. Perlahan-lahan, matanya bisa fokus lagi. Melihat pemandangan penuh dengan abu dan bebatuan yang berjatuhan, iapun memastikan ulang apa yang telah terjadi. Saat sudah mengingatnya, ia langsung terbelalak. Tetapi, begitu ia hendak menggerakkan tangan, ada yang menghalangi pergelangannya. Begitu juga dengan kakinya.
“A-apa ini...?”
Colette mendapati dirinya diikat di sihir berbentuk salib di atas tanah berkerikil. Ia juga kemudian melihat Lloyd bernasib sama dengannya, tetapi belum sadarkan diri.
“Hei, Lloyd!
“Bangun!”
Tidak berhasil dengan mulut, lantas dia mencoba dengan sihir. Ia lagi-lagi dibuat kaget. “Ke... kenapa...? Sihirku...?” Panik mulai menyerang Colette. Ia benar-benar dibuat bingung dengan segala yang terjadi. Satu-satunya rekan yang bisa menemaninya, justru tidak sadarkan diri.
“Marcus ... apa yang harus kulakukan...?”
Seolah semakin memperkeruh keadaan, Diablo datang menghampiri mereka. Namun, Colette menyadari ada seseorang di bahu kanannya. Dia seorang wanita berambut hitam panjang dan memakai topeng.
“Hai!” sapa Wanita Bertopeng, saat sudah berseberangan dengan Colette.
Colette tidak menjawab. Dia hanya menatap keduanya sambil waspada.
“Keinginanku bertemu denganmu hanya singkat, Samantha Colette,” ujar wanita itu.
“Bagaimana kautahu namaku...? Lagi pula, siapa sebenarnya—“
“Tidak usah pusing masalah itu. Waktu yang akan menjawabmu.
“Yang lebih penting, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu tentang apa yang sedang terjadi.”
Colette mengernyit.
__ADS_1
“Diablo. Tunjukkan itu.”
Setelah Diablo mengangguk, matanya bersinar. Menyusul sinar tersebut, Colette melihatnya—kondisi rekan-rekan seperjuangannya.
Diawali dari Serina dan Gerda. Mereka tersungkur di tanah di dalam badai pasir yang teramat tebal. Dari pandangan Colette, seakan-akan itu bisa me-zoom sendiri. Setelah dalam jarak sangat dekat, diketahuinya bahwa itu bukanlah badai pasir, melainkan semacam makhluk sihir serangga.
“Astaga!” teriak Colette. Ia lalu menutup matanya erat-erat. “Serangga-serangga itu... memakan mereka...?”
Tapi, setelah dia membuka matanya kembali, ia melihat rekan-rekan lainnya, yaitu Jourgan dan Danny.
Mengambang di lautan, tubuh Danny dipenuhi dengan luka. Baik itu memar, sayatan, tebasan, dan lainnya. Air di sekitar tubuhnya juga berubah merah. Tak ada tanda pergerakan darinya.
Di dalam sebuah istana kedalaman laut, ada tiga orang di ruang yang sama. Mereka adalah Jourgan, Cynthia, dan L’arc. Sambil menggertakkan giginya, Jourgan mencengkeram erat tombak dengan satu tangannya. Di belakangnya, ada Cynthia yang sudah tergeletak bersimbah darah. Jourgan sendiri juga dalam keadaan sangat genting. Dengan Batu Jiwa yang berada di dekat L’arc dan tangan kirinya yang sudah dihabisi, benar-benar tidak menguntungkan baginya.
“Danny ... Jourgan...,” batin Colette.
Kemudian, dilanjutkan oleh Azure dan Melly—yang telentang bermandikan darah di seberang desa “hantu”. Tubuh keduanya juga sudah memucat.
“Tidak mungkin ... bahkan Putri Azure dan Melly juga...?”
Terakhir, ada tiga orang yang berdampak paling besar baginya.
Pecah berkeping-keping dalam bentuk es.
Itulah nasib Mintia dan Novalius. Mustahil jika ingin dibentuk kembali. Namun, bersama mereka, tidak ada tanda-tanda Marcus. Tapi....
“Co... lette... maaf....”
‘ZRSHT!’
Darah menyembur kencang dari dada dan punggung Marcus setelah sesuatu yang runcing dan panjang
menujahnya. Ia berada di gerbang depan kerajaan Aurora, yang nasibnya juga tidak kalah buruk. Mereka diserbu makhluk sihir semacam slime dan kini kerajaan benar-benar dalam kehancuran.
Tangis deras. Itulah reaksi pertama Colette.
“Ti... tidak....
“I... ini bohongan, bukan?”
Wanita bersama Diablo menyeringai dibalik topengnya. “Apa kauingin tahu siapa penyebab semua ini?”
Pandangan Colette yang sebelumnya ke bawah, perlahan menatap lurus Si Wanita.
“ZEETA!”
Colette terbelalak. “A-apa maksudmu?!”
“Siapa lagi selain dia yang menyarankan kalian untuk mengamankan Batu Jiwa, hmm?”
Colette mengingat-ingat. “Dia benar, tapi ... bagaimana dia bisa tahu...?” pertanyaan itu sempat terlintas di kepalanya, tetapi....
“Kau benar, ini semua ... gara-gara Putri Zeeta....”
__ADS_1
Seringai Si Wanita dibalik topengnya semakin melebar....