
Di suatu tempat dengan langit jingga yang dihiasi oleh ratusan bintang jatuh, di hamparan hijau sejauh mata memandang, seorang pria dan wanita tengah duduk di bangku taman berwarna perak sambil memandang langit. Si pria berambut lurus cokelat kehitaman, sementara si wanita berambut violet yang dibiarkan tergerai.
"Waktunya sudah tiba, ya," kata Si Pria.
"Apa dia akan memaafkan kita setelah delapan tahun ini?" tanya Si Wanita.
"Aku tidak yakin...." Si Pria menggenggam tangan pasangannya. "Tapi, selama ini kau selalu melindunginya, kau lebih tahu jawaban itu daripada aku."
"Anak itu... adalah kebanggaanku, harta karunku, dan juga darah dagingku...." Wanita itu mulai menangis. "Aku tidak pernah menggendongnya, menciumnya, atau bahkan mengelusnya....
"Aku sangaaat ingin memeluknya dan segera hidup bersamanya...."
"Aku tahu. Bersabarlah sedikit lagi, Alicia. Bulan baru akan datang besok."
"Uhm. Akhirnya.... akhirnya...."
......................
Azure, Gerda, Mellynda, dan Danny sedang bertemu dengan Zeeta. Untuk kesekian kalinya, Azure menceramahi orang yang sudah dianggap adiknya sendiri itu dengan hal yang sama. Ia tidak sendiri, dan dia punya teman yang bisa diandalkan.
Setelah diceritakan tentang latihan yang dilakukan keempat temannya, Zeeta tersenyum. "Terima kasih, semuanya! Aku akan berusaha untuk jadi Tuan Putri yang lebih baik lagi!"
"Bersama dengan kami!" pekik Danny dengan senyum lima jarinya.
Namun, setelah itu, Zeeta tiba-tiba kehilangan fokus dan tak sadarkan diri.
"Zeeta?!" semua temannya langsung panik dan berusaha melakukan apapun yang mereka bisa.
[Sementara itu....]
"Halo!"
Zeeta bertemu dengan Velvet di ruang serba putih dan sedikit hamparan bunga. Ia duduk di dekat hamparan bunga itu.
"Maaf, ya, memaksamu bertemu denganku disaat membahagiakan seperti itu," sambung Velvet.
"Uhhm...." Zeeta menggelengkan kepala. "Entah kenapa hatiku sedang gembira, jadi tidak apa!"
"Begitu, ya? Hehehe, baguslah kalau begitu." Velvet duduk di sebelah Zeeta. "Sebentar lagi kau akan bertemu dengan orang tuamu."
"E-eh?! Kenapa bisa tahu?"
"Sesuatu yang kausebut kekuatan garis keturunan, tidak, mungkin lebih ke... insting wanita?"
"Kak Velvet... seriuslah!"
"Hehe, maaf, tapi begitulah.
"Dengar, Zeeta. Besok adalah fase bulan baru. Di fase ini kau akan kehilangan seluruh kekuatanmu. Kau akan jadi manusia biasa, tanpa memiliki sihir sedikit pun."
"A-ada apa ini...? Kenapa tiba-tiba...?"
"Supaya kau tidak terkejut dan panik, aku memberitahukannya. Untuk saat ini, hanya itu yang harus kuberitahu."
__ADS_1
Perlahan, ruang serba putih itu pudar.
"Tu-tunggu! Aku tidak mengerti apa maksu—"
Zeeta tiba-tiba terbangun dengan bermandikan keringat, di lantai atas rumah Arthur. Di sampingnya ada keempat temannya yang khawatir.
"Zee?! Kau tidak apa?" tanya Gerda.
Zeeta yang masih terengah, mengangguk. "Iya.... Aku tak apa...."
Mendengar pekikan Gerda, Hellenia dan Arthur yang ada di bawah segera berlari ke lantai atas.
"Zeeta!" teriak Arthur.
"Tuan Putri!" teriak Hellenia.
"Aku tidak apa. Hanya mimpi sa—" Zeeta melihat tatapan mata Azure yang mengetahui ia akan berbohong. "A-aku melihat leluhurku lagi."
"Apa?!" semua yang ada di sana terkejut.
Setelah itu Zeeta menceritakan apa yang ia saksikan di "mimpi"-nya.
"Manusia biasa? Seolah legenda penyihir itu...," batin Hellenia. Ia kemudian melirik Arthur, sepertinya dia juga berpikir apa yang ia pikirkan.
"Maaf semuanya, aku ingin sendiri dulu. Tidak apa, aku butuh menenangkan hatiku saja," pinta Zeeta.
"Aku tetap di sini. Ada sesuatu yang mau kukatakan," balas Azure.
......................
"Jujurlah padaku, Zee," kata Azure.
"Soal apa?"
"Kau telah melewati banyak hal sejak kau jadi Tuan Putri. Sangat banyak. Kau pun belajar dan tahu banyak hal baru, tentang hal baik atau buruk di dunia sihir ini...." Azure membuka jendelanya, lalu angin berhembus dengan kencang meniupnya. Ia berbalik ke Zeeta lalu kembali bertanya. "Tidakkah kau muak dengan dunia ini? Apakah kau terpikirkan untuk menghancurkan dunia?"
Zeeta terbelalak, tetapi ia segera tersenyum. "Uhm. Aku pernah." Jawaban Zeeta tak terduga oleh Azure. "Saat itu aku sedang bicara dengan Ratu Clarissa tentang dunia ini.
"Pembicaraan itu berakhir dengan Beliau menyerahkan keputusan itu di tanganku, bila waktunya tiba.
"Apakah aku harus melindungi dunia ini, berakhir menghancurkan dunia ini, atau menjadi Penguasa Kekelaman seperti yang ditakutkan Ozy.
"Tapi, mereka semua sudah percaya aku tidak akan berakhir seperti itu. Mereka juga membiarkanku memilih aku ingin hidup seperti apa, dan aku sudah memutuskannya.
"Aku ingin hidup dan menghabiskan waktuku bersama kalian. Aku juga ingin melihat ibuku, memeluk ibuku, dan masih banyak lagi. Tetapi, itulah tujuanku untuk saat ini. Aku masih harus mengalami banyak hal dan memikirkan masalah menghancurkan dunia itu untuk belakangan saja!
"Dunia ini luas dan indah, Kak. Bermacam makhluk yang tinggal di dunia ini. Kalau kau bertanya masalah itu padaku yang masih sering menangis, itu tidak wajar, hehehe!"
Azure tersenyum, lalu menghampiri Zeeta. "Begitu, ya.... Syukurlah, kecemasanku yang berlebihan sudah mulai hilang sedikit." Ia mengelus kepala Zeeta.
......................
Kala itu, malam tengah ada di puncaknya. Aktivitas seluruh kerajaan pun beristirahat selama beberapa jam ke depan. Lampu-lampu yang bagaikan pengganti matahari pun tak kalah terang menerangi kerajaan yang sepi tersebut. Disaat itulah, suatu rencana mulai dijalankan oleh seekor makhluk sihir.
__ADS_1
Siren yang kini menemani Klutzie yang masih tak sadarkan diri, tidur dengan duduk di bangku sambil bersila tangan dan mengaitkan kaki kiri ke kaki kanan. Ia bermimpi melihat seseorang.
"Apa yang ingin kaulakukan?!" tanya Siren.
Dari pandangannya, ia melihat siluet seorang gadis berambut panjang berdiri mencengkeram tangan dengan sekitarnya hancur lebur dan dikelilingi asap.
"Aku sudah muak," balas gadis itu.
"Eh?"
"Semuanya berakhir karena sesuatu yang disebut sihir itu merenggut banyak hal yang berharga!
"Meskipun aku akan menjadi penjahat, meskipun aku akan dimusuhi banyak orang, bahkan meskipun aku harus mati, aku akan mengakhiri dunia ini!!"
Ketika gadis itu berteriak, Siren melihat anting bulan yang bercahaya biru. Lantas setelah itu, ia terbangun sambil terengah dan keningnya bermandikan keringat. "Apa yang...?" gumamnya. Ia melihat tangannya bergemetar. Ia kemudian mengatur napasnya, lalu melihat ke langit, dimana cahaya bulan hanya tampak sedikit.
"Kalau mimpi ini benar, maka aku harus...." Siren terlihat serius. "Maafkan aku, Luna...."
Sementara itu, di bagian lain kerajaan, si kecil Zeeta sedang terlelap di kediaman Arthur, bersama dengan teman-temannya, kecuali Danny, yang tidur bersama Arthur.
Walau rencana "lovey-dovey" Hellenia yang disusun oleh Selen gagal, tetapi mereka setidaknya mendapatkan kepastian tentang perasaan Arthur.
Disaat inilah, Zeeta bertemu seseorang melalui "mimpi"-nya lagi. Ia adalah sosok pria berambut lurus cokelat kehitaman.
Zeeta terbangun di sebuah tempat yang hangat, meskipun musim dingin akan segera menyambut. Ia menemukan langit-langit dan ruangan yang tidak ia kenal sama sekali. Semuanya terbuat dari batang pohon. Ia pun berselimut hangat dan tebal dan berada di kasur yang tidak begitu keras, juga tidak begitu empuk. Di dekatnya pria yang sedang mengarahkan kedua tangannya pada perapian.
Pria itu menengok ke arah Zeeta, lalu tersenyum. "Halo, Zeeta!" sapanya.
Zeeta tidak merespon. Ia terpaku dan mencengkeram selimut itu. "Aku... harus segera bangun," katanya.
"Kenapa?"
"Aku bahkan tidak tahu harus berbicara apa saat bertemu dengan kalian! A-aku harus mempersiapkan hatiku juga!
"Kalau tiba-tiba seperti ini.... Aku tidak ... bisa ... menahan... hiks... tangisku...."
"Sepertinya kau sudah tahu sebagian, ya.... Tapi yang pasti...." Pria itu bangun dari duduknya dan segera memeluk Zeeta.
"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, Putriku Zeeta. Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu melewati banyak hal berat.
"Ketidakpastian dari kami-lah yang membuatmu mengalami itu. Jadi... maukah kau memaafkan kami?"
Zeeta tak mampu berkata apa-apa. Ia langsung membalas dekapan itu dengan sangat sangat erat. Hatinya terasa hangat dan beban berat yang selalu ia pikirkan terasa ringan. Ia sangat tahu dan bisa tahu begitu saja. Pria yang didekapnya—ayah kandungnya—sangatlah mengkhawatirkannya.
Ia pun merasakan apa yang tidak bisa ia rasakan ketika bertemu dengan leluhur-leluhurnya. Sementara para leluhurnya terasa hampa, ayahnya terasa sangat nyata—memiliki kehangatan, detak jantung, juga kekuatan yang besar.
Lantas, ia jadi terpikirkan....
Apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya?
Mengapa istana dililit oleh akar raksasa?
Mengapa ia harus hidup di luar istana, bila kenyataannya orang tuanya masih hidup...?
__ADS_1