
Jeritan putus asa terdengar di segala penjuru Bumi. Mereka yang tidak hancur menjadi tumpahan darah akibat Alter adalah yang beruntung ataupun yang memang kuat. Gerda, sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang berada di markas untuk diobati, melihat semuanya, bahkan tubuhnya pun berselimutkan darah karena mereka yang di dekatnya menjadi korban. Tidak hanya Gerda, namun Reina pun demikian. Melihat pemandangan seperti ini untuk pertama kalinya, memaksa Reina mual dan mengeluarkan semua isi perutnya.
"Zeeta...!" Gerda hanya bisa membatin benci "teman"-nya itu sambil mengepal tangan kencang.
Disaat yang sama, di salah satu pulau layang, tempat tinggal para bangsawan, terdapat keluarga yang dapat melihat secercah cahaya keemasan di bawah sinar matahari pagi. Mereka semua berkumpul di halaman kediamannya.
"Lowén! Segera pergi aktifkan Töfrahnöttur!" Karim memerintah dari kursi roda.
"Segera!" secepat yang ia bisa, Lowén pergi ke darat supaya bisa menghampiri ruang bawah tanah raksasa mereka.
"Bahkan jika Töfrahnöttur diaktifkan sekarang," celetuk Edward, "memangnya itu bisa melindungi kita? Kenapa sejak awal tidak diaktifkan saja demi bisa melindungi rakyat?!"
"Kita tidak tahu situasinya akan seperti ini." Agatha membalas. "Sejauh yang kita lihat, pertarungannya hanya antara Seiryuu, Nebula, Aurora dengan Drékaheim dan Jötunnheim. Hutan Peri pun memiliki situasinya sendiri.
"Ini semua diluar dugaan, Edward."
"Daripada menyesali yang sudah terjadi, Kak," ucap Ella, "sebaiknya kita paksa semua yang masih hidup untuk mundur. Lihatlah itu." Dia menunjuk ke arah Jormungand yang gerak-geriknya aneh. Di dekatnya terdapat pula secercah cahaya ungu gelap. "Perasaanku buruk. Ayo!"
"Ya!" Edward mengangguk mantap. Keduanya menyelimuti tubuh dengan aura merah. Mereka juga beraba-aba untuk melontarkan diri. Sebelum benar-benar pergi, ibunya berpesan.
"Berhati-hatilah, kalian berdua...."
Anak-anak kembar itu tersenyum. "Ya, Mama!" usai menjawabnya bersamaan, keduanya pergi secepat kilat.
......................
[Sementara itu, di pertarungan Zeeta dan Alter....]
Zeeta tidak bergerak saat Alter mengurungkan niatnya untuk menebasnya dengan sabit Catastrophe Seal. Alih-alih menebas, dari pandangan Alter, ia mampu melihat Jormungand yang menatap tajam keduanya. Gadis berambut hitam itu memutuskan untuk berteleportasi ke atas kepalanya dan menuliskan Rune Wunjo pada enam bola matanya.
Disaat itulah para Levant melihat gerak-gerik aneh dari Raksasa tersebut. Tidak lama setelahnya, Jormungand menghempaskan racun dengan cakupan yang cukup luas. Meski sudah demikian, Zeeta masih diam saja.
"Hei, ini bahaya!" mereka yang ada di Seiryuu kepanikan dan segera berhamburan. Seakan tidak peduli dengan mereka yang sudah menjadi darah, penduduk yang masih selamat mencari tempat berlindung walau jalan mereka tertatih. Tidak seperti Zeeta, Klutzie yang dalam mode Spirit Warble-nya bergerak cepat demi rakyatnya. Kondisinya tidak lebih baik dari subjeknya sendiri—babak belur akibat tekanan gravitasi sebelumnya. Ia menciptakan bebatuan melingkar untuk melindungi mereka dari racunnya yang semakin mengancam.
Langkah Klutzie disusul dengan bantuan dari beberapa Elf yang ada di sana, termasuk Hugo dan Lloyd. Mereka melapisi bebatuan tersebut dengan air dan menjauhkan paksa Jormungand dari posisinya dengan hentakan sihir tanah.
'DWHOMM!'
"Hei hei, jangan begitu, dong!" Alter tetap menyeringai walau mereka terlempar ke udara. Dia menyeimbangkan kembali posisi terpentalnya Jormungand dan menghempasnya dengan kedua kakinya tepat pada Nebula.
__ADS_1
'DBWOOMM!!!"
Para Elf dan Klutzie tetap berusaha agar pelindung mereka tidak roboh karena alasan apapun. Racun dari tubuhnya begitu mematikan hingga tanah pun berubah putih—mirip seperti abu. Demikian pula dengan sihir mereka. Namun, semakin lama mereka bertahan, semakin terkuras pula mana mereka, sehingga menyebabkan hidung yang mimisan dan mata yang menangis darah.
"ZEETA...! APA YANG SEDANG KAULAKUKAN...?" batin Klutzie seraya menggertak gigi.
"Aku akan membantumu, Nak!" setelah merasa tenaganya sudah pulih, Eizen segera membantu pertahanan mereka.
Disaat mereka sedang berjuang sampai berdarah-darah itulah, Zeeta....
......................
Zeeta berada di alam lain yang segalanya tampak keemasan. Langitnya, airnya, tanahnya, bahkan bunganya. Namun, di sana sama sekali tak ada satu pun tanda pepohonan ataupun bangunan. Di sana, ia bertemu dengan sesosok gadis berambut pirang dengan pakaian kuno. Ia pernah melihat pakaian tersebut sejak ia berada di Fyrriheim.
"Selamat datang di Ujung Dunia, Zeeta Aurora XXI." Gadis itu tersenyum lembut menyambutnya.
"Ujung Dunia...?"
"Uhm! Ini adalah tempat dimana kau akan beristirahat."
'DEG!'
"Bisa juga kausebut ini sebagai Avalon. Sebuah pulau yang akan menjadi tempat beristirahat setelah perjuangan lamamu.
"Iya dan tidak...."
"Aku akan jelaskan sedikit tentang Rhongomyniad padamu. Kenapa penduduk desa yang telah terbantai itu diperlukan untuk aktifnya tombak ini, kenapa pula harus tombak ini yang dipakai untuk mengakhiri segalanya.
Zeeta menyimak baik-baik gadis tersebut.
"Desa Rhongomyniad adalah mereka yang jiwanya tak memiliki dosa, katakanlah suci. Kenapa demikian?
"Mereka tak pernah mengenal dunia luar dan selalu hidup dalam kedamaian. Mereka mengutamakan kebaikan, kejujuran, dan rendah hati. Mereka pun tahu kelak hidupnya akan memiliki arti besar bagi dunia, makanya mereka tak pernah meragukan sedikitpun alasan kenapa mereka tak perlu ke luar desa.
"Namun, mereka tidak pernah mengetahui ketakutan akan kebencian ataupun sosok yang sudah termandikan oleh perasaan tersebut. Walaupun Belle salah karena sudah membantai penduduk desa, namun Rhongomyniad juga memerlukannya.
"Jangan berpikir bahwa kehidupan mereka malang. Itu tidak sopan dan sama sekali tidak menghargai. Arti hidup mereka adalah untuk bersamamu mengakhiri semuanya."
"....
"....
__ADS_1
"Aku mengerti."
Gadis berambut pirang itu tersenyum. "Apa yang kaulihat dengan Rune-mu sudah berbeda. Apakah ada diantara teman-temanmu yang menghunuskan sihir mereka padamu?"
Zeeta yang tertunduk segera mendongak lagi.
"Seperti yang kubilang, aku adalah katalis tombak ini. Sama seperti penduduk desa tersebut, tiada yang bisa memakainya kecuali kau yang sama-sama berhati suci. Catastrophe Seal yang kaupakai telah beresonansi dengan Rhongomyniad. Ini adalah senjata paling kuat yang hanya bisa dipakai dirimu.
"Memang, kau pernah menginginkan balas dendam dan lain sebagainya, namun itu adalah salah satu bentuk dari perjuanganmu. Kau pun tidak melakukannya.
"Begitu kau melepaskan cahayanya, ia akan menembus apapun, terlebih mereka yang jahat. Ini adalah pertarungan terakhirmu dan sebentar lagi dunia yang kaudambakan akan terwujud. Tenang saja. Tidak akan ada pengkhianatan di dunia ini."
"....
"....
"....
"Baiklah."
"Tanpa belajar apapun, kau pasti bisa memakai Tombak Suci itu dengan benar."
"Uhm." Zeeta mengatur napas untuk terakhir kalinya sebelum pergi dari sana sambil memejamkan mata.
.
.
.
.
"Tombak Suci, aktifkan...."
'BWMMM!!'
Segala mata yang masih berfungsi melihat ke secercah cahaya emas yang sejak tadi tidak bergerak, tetapi tiba-tiba menjulang tinggi. Sesaat sebelum pilar cahaya emas itu terlihat dengan mata telanjang, mereka pun dapat melihat pohon raksasa meskipun dalam sekejap. Jika dilihat dari dekat, Zeeta sedang mengangkat tombaknya ke udara. Tubuhnya yang sejak lama berkilau dan berselimutkan aura emas, terlihat semakin menawan karena butiran emas yang terjatuh dari tombak.
"Lepaskanlah cahaya Ujung Dunia...."
"Cih...!" Alter menggertak gigi. "Ini jauh berbeda dari duniaku!"
__ADS_1
"Rhongo... myniad...."