
Di bawah cemerlangnya bulan hampir penuh, di halaman istana milik kerajaan Southern Flare, terdapat empat orang yang sedang saling berhadapan. Mereka tidak duduk, namun berdiri. Tiga diantaranya sedang memasang telinga dan mata untuk menyimak baik-baik apa yang hendak dikatakan pria bergelar Pangeran tersebut.
"Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka jika aku akan bertemu secara langsung lelaki yang sudah menjadi incaran ayahanda sejak dua puluh tahun silam," kata Pangeran Eizen, mengawali informasinya.
"Kenapa Raja Gala menginginkannya?" tanya Ashley.
Eizen menatap Barghest marah. "Ayahanda ingin lelaki ini menjadi penerusnya."
"Pe-penerus...?" Barghest bingung. "Apa maksudnya? Aku hanyalah seorang anak dari rakyat biasa!"
"Oh, kau sudah tahu tentang itu? Baguslah. Ini mempersingkat cerita." Eizen mengambil napas panjang—seakan butuh persiapan sebelum mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Aku sangat benci mengakuinya, tetapi aku tidak mewarisi kekuatan Matahari dari ayahanda. Aku tidak paham! Kenapa seorang rakyat biasa sepertimu, yang setelah bertahun-tahun dibuang oleh orang tuamu sendiri, malah ingin dijadikan penerus oleh Raja!? Kau bahkan menerima kutukan dari seekor Naga, bukan?!"
Ketiga lawan bicaranya tersentak, demikian pula seseorang yang sedang mengawasi mereka dari dalam istana.
"Biarkan aku luruskan informasi yang telah kita ketahui. Bolehkah aku, Pangeran?" tanya Ashley.
Setelah melihat reaksi mereka, Eizenpun mengiyakan.
"Barghest adalah keturunan manusia biasa—dengan kata lain orang tuanya bukanlah seseorang dengan mana yang tinggi. Apa ini benar?"
"Benar."
"Dia dibuang orang tuanya sebab ia menerima kutukan Naga. Jika demikian, bagaimana cara bangsawan sana mengetahui semua itu? Apa lagi, ia dibuang saat dirinya masih bayi."
"Tanda."
"Tanda...?"
"Keturunan Matahari memiliki tanda di punggung mereka. Tanda itu tidak bisa dihapus dan muncul begitu saja saat pewarisnya memasuki usia dua belas tahun. Tanda tersebut juga memiliki fungsi untuk mengenali rekan seketurunan, walau mereka berbeda asal."
Scarlet dan Ashley jadi mengernyit. Mereka juga saling tatap sesaat.
"Bersumpahlah atas nama kerajaanmu, Pangeran Eizen!" bentak Scarlet, "apa Anda benar-benar mengatakan hal yang sesungguhnya?!"
Barghest tidak mengerti mengapa emosi Scarlet mendadak naik. Ia hanya menatap dalam diam dari belakang.
"Apa maksudmu?! Tentu saja aku jujur!"
"Kau bersungguh-sungguh jika informasi itu didapatkan dari ayahmu?!"
"So-soal itu...."
Scarlet menggertak giginya. "Katakan yang sesungguhnya, kalau Anda tidak ingin kerajaan Gala hancur, Pangeran Cupu! Apa Anda tidak mengerti mengapa kami bertiga repot-repot datang ke negeri orang hanya untuk menghadiri pesta teh konyol yang akan berakhir dalam beberapa jam saja?!"
Scarlet menarik kerah tuxedo Eizen hingga ia kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh.
"Ha-hancur...? Tunggu, apa maksudnya itu?!" Eizen mencengkeram tangan Scarlet dan menepisnya.
"Oke, oke, tenanglah, Pangeran, Scarlet...." Ashley menengahi keduanya dengan berjalan ke antara mereka.
"Kau pun tahu mengapa aku begini padanya, Ash! Jangan anggap aku yang—"
"Haaah~ bersabar untuk sesaat tidak akan merugikanmu, Scarlet. Biarkan aku yang menjelaskannya."
"Cih!" Scarlet melangkah mundur dengan wajah cemberut.
"Tidak, Ashley." Pandangan Scarlet dan Ashley tertuju pada tangan Barghest di bahu kiri Ashley. "Karena ini berhubungan dengan asal kelahiranku, Pangeran Eizen pun berhak mengetahuinya dengan benar."
Ashley tersenyum kecil, lalu mengangkat kedua tangannya. "Baiklah. Akan kubiarkan kalian berdua. Tapi jangan pikir mata kami akan lepas dari kalian!"
Barghest balas tersenyum. "Ya, tentu saja."
Kemudian, Ashley menarik Scarlet untuk menjauh dari Barghest dan Eizen, demi membiarkan dua pria yang seumuran itu berbicara empat mata.
"Tak kusangka," ujar Eizen.
"Apa?"
"Meski penampilanmu seperti bisa mengamuk kapanpun, kaubisa bersopan santun, bahkan pada seorang wanita."
"Apa itu berarti kauingin aku mengamuk?"
Eizen menyeringai. "Hah!" ia lalu melipat tangan dibalik ketiaknya. "Tidak heran kaubisa bertahan hidup di hutan selama dua puluh tahun. Sifatmu seperti itu!
"Baiklah. Kesampingkan candaannya, aku serius, ada apa dengan kerajaanku?"
Setelah itu, Barghest menceritakan tentang Hollow yang disaksikannya.
......................
"Lalu...." Pelipis Eizen tampak berkeringat. "Apa kaubisa menentukan kapan makhluk itu akan sampai di Gala?"
__ADS_1
"Sayangnya tidak. Oleh sebab itulah Tunanganku itu begitu tak sabaran."
"Tu-Tunangan...?!" Eizen bolak-balik memandangi Scarlet dan Barghest.
"HAH?! APA YANG KAULIHAT, DASAR PANGERAN CUPU?!" jerit Scarlet yang sudah di penghujung kesabarannya.
"Bersabarlah sedikit lagi, Scarlet. Kumohon." Barghest melempar senyumnya.
Scarlet segera memalingkan wajahnya yang merona. "Yaa~hh, kalau itu maumu, sih...."
"Uhm. Terima kasih."
"Gi-gila...!" Eizen terpukau pada lelaki yang dalam sebuah artian telah menjinakkan kebuasan itu.
"Jadi...." Barghest kembali ke mode serius. "Dari mana kaudapatkan informasi tentang tanda yang sempat kausebut tadi itu?"
Eizen masih terlihat agak ragu untuk mengucapkannya, tetapi pada akhirnya ia memberanikan diri. "Seorang mantan Benih Yggdrasil."
"Benih Yggdrasil? Apa itu?"
"Kau tidak tahu?"
Barghest menggeleng. Lalu, giliran Eizen-lah yang menceritakan apa itu Benih Yggdrasil.
.
.
.
.
"Begitu." Barghest memejamkan matanya. "Apa kau juga mengetahui kutukanmu dari orang yang sama, Putri?" Barghest mendongakkan kepala.
"EH?!" semua yang ada di dekat Raja Buas itu segera menatap ke arah tatapannya.
Sekilas, Scarlet mendapati rambut keemasan yang cepat-cepat bersembunyi.
"Ke-kenapa semuanya jadi semakin rumit begini...?" Eizen menghela napas.
Ashley dan Scarlet lalu menghampiri keduanya. "Sejak kapan kausadar dia ada di sana, Barghest?" tanya Ashley.
"Apa maksudmu? Tentu saja sejak awal."
"KENAPA KAUTAK MENGATAKANNYA SEJAK—"
"Ssst!" Barghest langsung berjalan membelakangi keduanya. Tatapannya serius, marah, korneanya pun berubah. "Apa kau ... yang disebut L'arc?"
"Tu-Tuan L'arc?!" Eizen terkejut.
.
.
.
.
Kesunyian yang timbul tiba-tiba di sana menambah ketegangan bagi dua wanita dan seorang lelaki dari negeri yang jauh itu.
.
.
.
.
'Prok....
'Prok....
'Prok....
'Prok....'
Seakan muncul dari balik udara, L'arc muncul terang-terangan. Ia juga bertepuk tangan sembari menunjukkan seringainya yang terlihat sangat puas dan terpukau.
"Ya ampun, ya ampun. Sudah sejak lama aku tidak terhibur seperti ini! Berkatmu, Barghest, aku kembali mengingat seperti apa rasanya kesenangan!"
Barghest diam—tak membalas sepatah katapun pada L'arc. Namun, angin perlahan menghembus di sekitarnya, menerbangkan rambut panjangnya yang menutupi wajah yang sedang menunduk.
Kemudian....
__ADS_1
'POWWW!!'
Sebuah pukulan keras mendarat di hidung L'arc dan berhasil mementalkannya jauh hingga menembus tembok pagar istana.
Barghest lalu menarik napas kuat. "BAWA PERGI PUTRI EMAS ITU JAUH DARI SINI, SEKARANG JUGA!"
Bunyi dentuman yang segera disusul teriakan Barghest, seketika menghebohkan seisi istana.
"Barghest?!" Scarlet yang kebingungan tampak takut dengan ekspresi yang dipasang tunangannya. "Ada apa ini sebenarnya?"
"Kita sudah dijebak."
"Dijebak?!"
Eizen tersenyum lebar. "Tepat seperti kata Tuan L'arc, kau benar-benar berbeda dari yang lain! Bahkan dua wanita itu juga tidak—"
"Apa memang seperti itu?" Ashley berdiri tepat di belakang Eizen dengan bilah sihir di punggung tangan kanan yang siap membelah mangsanya kapanpun.
"Ha ha ha...." Pangeran itu tidak gentar. "Bunuhlah aku kalau kau mau, Wanita. Tetapi jangan harap kalau Hollow yang sedang menuju Gala bisa kalian hancurkan!"
"Jadi ternyata kau...." Ashley tetap bersiaga dengan bilah sihirnya.
Tak lama kemudian para bangsawan beserta Raja dan Ratu berhamburan keluar.
"A-ada apa ini sebenarnya?!" jerit Raja.
Scarlet melemaskan leher, punggung, dan jemarinya. "Ashley, aku akan memakai sihir itu."
Ashley yang paham maksudnya, ia balas dengan, "Aku akan menjagamu."
"Tolong."
Ashley mengangguk menjawabnya, lalu Scarlet menghampiri Raja dan Ratu. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan, tetapi yang pasti, Southern Flare sedang dalam bahaya. Kita tidak bisa berlama-lama di sini."
"Tidak, tidak, tidak, ini adalah negaraku, aku berhak—"
"Turuti saja, Papa."
Semua mata di sana terpaku dengan kedatangan wanita berambut emas sepanjang mata kaki. Tidak hanya karena rambutnya, demikian juga dengan parasnya.
"Satu....
"Dua....
"Tiga."
Gadis itu menghitung, namun tak ada yang mengerti mengapa. Kemudian....
.
.
.
.
'BWHAMM!'
Tempat sebelumnya gadis itu berada, meledak sangat kuat, menghempaskan puing-puing ke segala arah.
"Di-di sana...." Raja kehabisan kata-kata.
"Itu benar, Papa. Karena mereka, aku bisa selamat. Nanti akan kukatakan apa hang sebenarnya terjadi, tapi untuk saat ini, turuti saja mereka."
"Ba-baiklah...."
"Tapi asal kautahu, Putri Aurora, aku tidak sudi pergi begitu saja tanpa membalas. Aku dan tunanganmu itu kurang lebih tahu apa yang harus kami lakukan. Jadi...."
"Tidak, Putri!" sanggah Barghest, "simpanlah kekuatanmu." Ia menunjukkan kepalan kanan berjempolnya.
Gadis berambut emas itu dibuat bingung beberapa detik, tetapi senyum segera menyambutnya. "Aku tak bisa mengendalikan kekuatanku, lho."
"Baiklah, kumulai, ya!!!" jerit Scarlet. Ia menciptakan sebuah lingkaran sihir di tanah hingga mencakup ke dalam istana. Para bangsawan beserta Raja dan Ratu tak menyangka dengan kapasitas mana yang bisa dikeluarkan Scarlet sebesar ini. Lingkaran sihir itu menyilaukan pandangan semuanya, hingga beberapa saat kemudian mereka lenyap dari Southern Flare—mengecualikan istananya.
Nah, saat ini, di istana itu, hanya menyisakan Ashley, Barghest, dan Eizen yang masih terpojok.
"Apa begini cara kalian hidup?" Eizen masih tersenyum.
"Apa yang kaumaksud?" tanya Ashley.
'DDUAARR!!'
Ledakan terjadi di arah dimana L'arc terlempar sebelumnya. Hal itu membuat Barghest dan Ashley melotot. Ledakan itu terjadi di tempat padat penduduk....
__ADS_1