
[Sebelum dua Zeeta bertemu....]
"Wahai alam, aku pinjam kekuatanmu demi kebaikan dunia. Bersihkanlah kejahatan di hadapanku ini dan bawakan ketenangan baginya.
"Songs of Zero!"
Gerda merapalkan sihir yang mamu melenyapkan segala sihir kegelapan yang ada di daratan. Sihirnya begitu kuat dan beresonansi dengan Bumi itu sendiri. Dia hampir bisa memenangkan pertarungan Aurora melawan Fenrir dan pasukannya tanpa menumpahkan sedikit pun darah, namun seseorang mengganggunya. Seseorang yang sudah lebih "senior" daripadanya dalam penggunaan mana alam—Zeeta Alter. Dia merusak sirkuit sihir Gerda hingga membuatnya menghitam seakan terkena kutukan dan denyut nadi yang berkedut-kedut ibarat hendak meletup.
"SIALAN KAU, ZEETA!" umpat Gerda dengan wajah bencinya. Rasa sakit yang luar biasa dirasakan dari dalam tubuhnya, tetapi pikirannya masih bisa berjalan. "Dengan sihir kegelapannya, dia mencemariku!"
"Aria!" jerit Mellynda panik, sebab kondisi Gerda. "Kita harus segera mundur dan mengobati Gerda!"
"Aku tahu!" balas Aria, "tapi di situasi seperti ini...." Aria bimbang. Bagaimana tidak, di hadapannya ada Fenrir dan mereka sudah mulai dikepung oleh Hollow.
"Oh? Sihir kegelapan, kah?" seorang wanita datang dengan santainya dari belakang mereka. Begitu mereka menoleh, ketiganya segera terkejut, terutama Aria. "Itu adalah keahlianku!" wanita itu berambut hitam panjang, bermata kuning, dan memakai anting bulan di telinga kanannya.
"Ka-kau...?! Ba-bagaimana bisa?!" Aria bertanya-tanya.
"Fufu. Cepat bawa gadis itu pergi. Jangan banyak bicara, perbanyaklah aksinya!"
Aria tersenyum lebar. "Baik!"
Sementara Mellynda membantu Aria membopongnya kembali ke dalam istana untuk dibawa ke markas—kediaman Alexandrita—dia terus merasa bingung dengan yang sebenarnya terjadi. Gadis itu tahu siapa wanita tadi berdasarkan cerita, tapi mengapa DIA bisa ada di sini?
......................
Wanita yang sudah pasti keturunan Aurora itu mulai melemaskan tubuhnya. Fenrir merasa ada yang aneh dari wanita itu. Entah karena itu dari aroma tubuhnya, mana-nya, atau penampilannya, sang Alpha melihat situasinya terlebih dahulu. Setelah merasa yakin, ia segera mengaum—sebuah tanda bagi para Omega-nya untuk menyerang bersamaan.
Wanita itu tentu besarnya jauh berbeda dari mereka, tetapi tiada tanda kegentaran darinya. Ia justru menyeringai. "Semakin banyak jumlah keroco hendak menyerang, itu pun menandakan seberapa lemahnya mereka!" ia menarik kaki kanan ke belakang untuk berkuda-kuda, menekuk tangan kiri, dan menarik tangan kanannya ke depan wajah. Tangan kanannya segera berubah serupa dengan tangan monster dengan warna merah kehitaman.
'BWASSHHH!'
Hempasan api berwarna serupa dengan tangannya membakar Omega yang hendak mengepungnya, demikian pula dengan para Hollow sampai habis tak tersisa. Api itu membumbung tinggi dan mengubah skema warna sekitarnya yang sedang terselimuti oleh awan hitam ledakan lava di belahan Bumi lain, menjadi semakin gelap di sekitaran Aurora.
Api tersebut dapat dilihat mereka yang berada di balik tembok dan yang ada di markas, termasuk tiga gadis yang mundur sebelumnya.
"Gi-gila!" Gerda berkomentar, "itu adalah sihir kegelapan?!"
"Gerda!" seorang Elf berambut cokelat pendek mengomeli. "Kau itu sedang terluka! Bukan saatnya terpukau oleh sihirnya orang asing!" dia sedang mengobatinya dengan mengoleskan sesuatu dari tumbuhan pada pasiennya.
"Tidak, bukan hanya sekadar orang asing, Reina! Dia adalah ... Marianna Aurora!"
__ADS_1
Reina terkesiap. "Ha... hahhh?!?! Yang benar saja!"
"Oho?" seorang berambut hitam dan biru panjang menghampiri. "Guruku kembali dari kubur? Sungguh menakutkan!" ia menyeringai. "Tak mungkin kejadian waktu itu kubiarkan begitu saja tanpa penjelasannya!" ia menyeringai dan segera meregangkan tubuhnya.
"Ka-Kak Azure...?" Mellynda berfirasat buruk.
"Zeeta pun sudah menyentuhkan sihirnya pada Gerda. Tak mungkin aku tidak membalasnya." Kemudian, tanpa menunggu balasan apapun dari yang mendengarnya, Azure segera melesat pergi. Tetapi, kala ia hampir mencapai garis depan yang kebetulan lagi-lagi membumbung tinggi api merah kehitaman, seorang wanita berambut ungu menghadangnya.
"Kaupikir kau mau ke mana, hmm?" wanita itu menyilangkan tangan. "Aku tahu betul apa yang kaupikirkan, Putriku. Namun, kau adalah aset penting untuk pertahanan kita. Serahkan dulu padanya. Jika memang ia butuh bantuan, kuizinkan kau turun."
"Ehh?" Azure kecewa berat. "Tapi aku ingin tahu kenapa dia bisa hidup lagi, Bu!"
"Memangnya harus kautanya langsung? Lihatlah dulu situasinya."
"Cih, baiklaaah." Tak lama kemudian, pergelangan tangannya diikat dengan rantai sihir lawan bicaranya, Alicia. Ia mengikatnya pada pergelangan tangannya sendiri. Gadis dua puluh tahun itu melihat wajah senyum menyindir dari sang ibu.
"Kaupikir aku akan membiarkanmu, hmm? Cepat hilangkan sihir di kakimu itu."
"Ba-bagaimana caramu bisa tahu...?" Azure berkeringat dingin.
"Kaukira aku ini siapa?" Alicia menekan suaranya, mengancam si putri.
'DBUMM!'
"Mengerti?"
"Ba-baik, Ibu...."
.
.
.
.
[Sementara itu....]
Banyak Omega yang sudah terkapar di tanah dengan luka bakar serius, tetapi tiada diantara mereka yang tewas, kecuali para Hollow.
"Grrr...." Fenrir menggeram, disaat Marianna tersenyum tanpa meneteskan keringat sedikitpun. "Siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
"Aku?" Marianna mengembalikan kondisi tangan monsternya. "Hanya seseorang yang ingin membalas budi kepada keturunannya." Ia tersenyum tulus.
"Kau tidak membunuh prajurit-prajuritku. Aku tidak mengerti. Dengan kekuatanmu itu, kaubisa—"
"Kasihan mereka yang ada di Tanah Kematian. Kedatangan kalian semakin mengacaukan keseimbangan tiga dunia, mana mungkin aku merepotkan mereka."
Fenrir memejamkan mata. "Begitu." Fenrir mengeluarkan kuku dari cakarnya. "GROAARR!" keduanya segera bertarung satu lawan satu.
Disaat yang sama, ada Novalius dan Danny yang sedang melawan pasukan Raksasa Badai Salju. Mereka tersengal-sengal dan sebagian seragam mereka sudah rusak. Keduanya tak sendirian. Ada pasukan yang membantu dan kehadirannya sangat membawa keuntungan, tetapi tidak sedikit yang tewas dalam pertempurannya.
"Bajingan...!" umpat Danny, "mereka tangguh sekali!"
Belum ada satu pun dari pasukan Snjór yang terkapar, kendati mereka memang terluka.
"Percuma saja, Manusia!" seru Snjór yang berada di barisan belakang pasukannya. "Entah seberapa besar perjuangan kalian demi menang dari kami, Manusia tetaplah Manusia. Takkan mungkin kalian bisa menang dari Rune."
"Cih ... padahal sudah kucoba serangan andalanku yang mampu memenangkan pertandingan melawan pangeran Klutzie, tapi mereka kembali bangkit seperti tak terjadi apa-apa!"
"Jangan bercanda! Sudah sejauh ini perjalanan kita dan janji dengan Axel, mana mungkin kita jatuh dari mereka!" Danny semakin mengeratkan genggamannya pada senjata suci.
"Lalu, apa kaupunya rencana?"
"Ada. Tapi ulurkanlah waktu."
"Yakin bisa mengalahkan mereka?"
"Kuharap bisa."
"Baiklah." Novalius menjauh dari Danny dan segera memimpin pasukannya. "Kita akan memberi waktu bagi Danny! Setelah dia mengeluarkan serangannya, segeralah mundur! Harus kita akui tak mungkin kita bisa menang dari Raksasa!"
"Baik, Tuan Nova!" balas para pasukan.
Mendengar teriakannya, Snjór terbahak. "Bwahahaha! Mundur? Mana mungkin kubiarkan! Serang mereka!"
Hentakan-hentakan kaki dari pasukan Badai Salju menciptakan kristal es di tanah. Untuk mengatasinya, Novalius dan pasukannya melapisi kaki dengan sihir api dan mulai menyerang. Para prajurit mengincar tumit dengan sihir dan persenjataan mereka untuk melumpuhkan lawannya ke tanah dan memberi kesempatan bagi Novalius untuk menggorok leher targetnya.
"Lebih cepat lagi! Lewati batasan diri kalian saat ini juga!!!" jerit Novalius, yang dengan mulusnya menebas satu demi satu kepala lawannya.
"RAAAHHH!" teriakan semangat membarakan gerakan para pasukan Aurora.
Sementara itu, Danny sedang mencengkeram dua belatinya dengan bilah yang terbalik. Poni panjangnya menutupi sebelah matanya, namun pandangannya lurus pada Snjór. Aura merah menyelimutinya, belatinya berubah kebiruan dengan hawa panas mengelilingi.
__ADS_1
Dari pandangan Snjór, ia menyipitkan mata, merasa melihat sesuatu yang aneh. Dua ekor Naga seakan ada bersama Danny, dengan taring yang siap mencabiknya. "Schrutz...? Orsted...? Tidak mungkin!"