
Hari itu, langit cerah yang seakan ikut merayakan penobatan Zeeta yang akan segera digelar, tiba-tiba menjadi langit yang begitu mencekam dan gelap untuk semua orang.
Orang-orang yang melihat Tuan Putri mereka bergerak maju mendekati Raksasa itu membarakan secercah harapan dan rasa penasaran mereka ... apa yang akan Tuan Putri lakukan?
Namun, dua hal tersebut sirna dalam sekejap setelah mereka melihat dan mendengar jeritan keras dari Raksasa, yang tak lama kemudian, gemuruh mendadak terdengar bukan dari tanah—melainkan dari langit, membuat siapapun panik dan segera melihat ke sumber suara.
Wajah panik mereka ketika Raksasa dan gemuruh suara dari langit datang, berubah menjadi wajah putus asa.
"Inikah akhir dunia?"
"Inikah akhir dari hidupku?"
"Jika aku tahu hari ini adalah hari terakhirku hidup ... aku ingin mengungkapkan perasaanku pada orang yang kucinta...."
Akhir.
Hanya itu yang terlintas di kepala mereka begitu melihat apa yang datang dari langit. Tidak terkecuali pada Mellynda, Azure, Gerda, dan warga Lazuli lainnya yang ada di situ. Meteor yang amat sangat besar yang sudah memasuki lapisan ozon sehingga menimbulkan api di bagian bawahnya, tentu saja membuat semua orang putus asa. Namun, ketika ada keputusasaan, tentunya akan lahir sebuah harapan.
"PRAJURIT, KELUARKAN MERIAM SIHIR!" sebuah teriakan dari orang yang sangat dikenal oleh rakyatnya, yang belum pernah terbayangkan oleh mereka, bahwa ia dapat mengeluarkan suara yang begitu menggelegarpun terdengar.
Terpaku oleh rasa takut yang sangat dalam dan tak berujung, rakyat tak menyadari bahwa Albert, dengan pakaian jas berjubah berwarna cokelat hitam yang kontras dengan warna mata biru air dan rambut peraknya, berada di depan barisan pasukan keamanan kerajaan dengan memasang wajah yang serius.
Pasukan keamanan kerajaan yang dipimpin langsung oleh Albert telah berbaris vertikal searah dengan berkumpulnya rakyat di satu tempat itu. Di sana, juga ada Marcus yang sebenarnya merasa takut, namun telah dilatih agar di waktu-waktu seperti ini, ia bisa mengatasinya.
Sedikit berbeda dengan meriam yang menggunakan peluru dan harus berada di darat, meriam sihir muncul dari lingkaran sihir masing-masing prajurit. Melalui pemandangan ini, orang-orang terpukau karena keberanian mereka saat ini, dibarengi dengan pantulan cahaya dari lingkaran sihir masing-masing prajurit yang seakan memberi cahaya harapan ditengah gelapnya keputusasaan.
Meriam sihir yang sudah siap pada tiga ratusan prajurit yang berbaris vertikal tersebut tinggal menunggu perintah dari Albert untuk menembakkan sihir yang jauh lebih kuat dari meriam biasa pada meteor raksasa yang semakin lama semakin mendekat itu. Namun, Albert melihat sesuatu di seberang—di dekat si Raksasa yang terlihat terkejut atas seseorang di depannya.
"Tuan Putri? Apa yang Anda ingin lakukan?!" batin Albert. "PASUKAN, TAHAN MANA KALIAN!" teriaknya memberi perintah.
Albert melihat ada yang janggal dengan gelagat Zeeta. Tubuh Tuan Putri itu mendadak mengeluarkan aura berwarna biru dan berlapis putih. Layaknya merespon Zeeta, alam seakan setuju dengan apa yang hendak dilakukannya. Butiran-butiran mana berwarna-warni yang keluar dari pepohonan, rerumputan, air, tanah, dan hewan dari segala penjuru kerajaan dan luar tembok kerajaan—bahkan dari Raksasa yang pada dasarnya bagian dari alam, terkumpul di satu titik.
"Ma-mana macam apa itu?!" batin Albert terkejut.
Tidak jauh berbeda dengan Albert, orang-orang yang menyaksikannya dari jarak jauh, termasuk Ashley dan bangsawan utama lain, tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mereka hanya bisa melotot dan menganga sambil berpikir, "apa yang sedang kulihat ini benar-benar nyata?"
Tidak hanya dari pihak bangsawan, namun mereka yang ada di jalanan, juga merasakan hal yang serupa. Salah satunya adalah Mellynda. "Apa... apa-apaan dia? Apa dia monster? Dia ... dia adalah Tuan Putri kerajaan ini?! Yang benar saja!" batinnya, yang merasa campur aduk.
Mana yang terkumpul dari alam itu terlihat lebih besar daripada meteor yang akan menghantam mereka. Kumpulan mana tersebut belum tercampur, jadi itu terlihat seperti ratusan—bahkan jutaan butiran mana yang menggerombol.
"Alicia ... dalam hidupku selama ini, mungkin ini pertama kalinya aku melihat seorang keturunan kerajaan memiliki potensi—tidak, kekuatan sihir yang begitu besar seperti ini...." batin Ashley yang tak percaya apa yang ia lihat saat ini.
......................
[Beberapa saat sebelum orang-orang melihat apa yang Zeeta lakukan....]
Aria yang marah terhadap Ozy, sadar bahwa pergerakan mana di sekitar Zeeta berubah. "Zee... Zeeta?" panggil Aria yang tidak direspon oleh Zeeta.
"Akan kubuktikan! Akan kubuktikan bahwa semua ramalan dan semua prasangka makhluk sihir itu salah!" Zeeta merasa cukup dengan apa yang selalu ia dengar dari orang lain.
"Jika apa yang dikatakan Ratu Peri benar ... jika aku benar-benar dicintai oleh alam... maka, aku ingin meminta bantuan kalian!" Zeeta menutup matanya untuk mengambil fokus.
Kala itu, perlahan-lahan aura biru berlapis putih muncul seiring terkumpulnya mana dari alam. Aura tersebut muncul dari kaki lalu melapisi seluruh tubuhnya.
Ketika Zeeta berusaha fokus untuk apa yang ingin dilakukannya, ia mengingat segelintir pelajaran yang ia terima dari Arthur dan Ashley.
Pertama, ia mengingat ucapan Arthur ketika mereka masih di desa Lazuli.
"Mana dari alam tak akan pernah bisa menyatu dengan mana manusia, tetapi hal itu tidak berlaku untuk orang yang dicintai oleh alam, seperti penyihir yang ada dalam legenda," ungkap Arthur. "Air, tanah, pohon, rumput, hewan, langit, salju, daun ... semua itu memiliki mana. Namun, tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi jika mana dari alam digunakan."
Kemudian Zeeta mengingat perkataan Ashley beberapa waktu yang lalu.
"Mana dari alam? Tentu saja aku tidak bisa menggunakannya! Tetapi, Nak... jika aku jadi kau, hal pertama yang akan kuingat adalah perasaan untuk melindungi orang. Apa yang harus kulakukan tak berubah. Apa yang menjadi kewajibanku tak berubah. Maka dari itu, jika alam menjadi sekutumu ...."
Zeeta membuka matanya, merasa bahwa ia telah berhasil mengumpulkan mana alam dari berbagai penjuru kerajaan. Tangan kanan yang diangkat ke depan dengan telapak yang dibuka, menunjukkan bahwa semua mana yang berpusat di depan telapaknya, ada di kendalinya.
"Tetaplah ingat bahwa kau adalah Tuan Putri yang memiliki tanggung jawab untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan!"
Tetes air mata keluar dari Zeeta. "Jangan remehkan aku! Aku adalah Zeeta Aurora XXI, aku itu terlahir untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan! Jangan seenaknya memutuskan bahwa aku akan menghancurkan duniaaa ... dasar kalian bodoooh!!"
Zeeta merapatkan telapaknya—membentuk jemarinya layaknya "bilah pedang", lalu mengayunkan tangannya. Ketika ayunan tersebut dilakukan, mana dari alam itu berkumpul menjadi satu gumpalan bola kecil, menuju ke tengah meteor lalu meledak dengan arah horizontal—searah dengan ayunan tangannya saat itu juga, tanpa menyisakan sedikitpun kepingan yang jatuh.
"Ah! Aku lupa!" tegasnya mendadak.
Agar angin kencang yang timbul sebagai dampak ledakan tidak menghempaskan orang-orang yang ada dibawahnya, Zeeta memperbesar dan mempertebal lapisan transparan di atas rakyatnya. Namun sayang, justru ia sendiri yang terhempas dan terlempar dari tembok kerajaan.
__ADS_1
"Kyaaaa!" pekik Zeeta ketika terhempas.
"Zeeta!" Aria mengeluarkan sayap dengan sihir tiruannya, berusaha untuk menangkap Zeeta yang sudah terlempar, namun ia terhenti begitu saja. Ternyata Ozy sudah menangkapnya terlebih dahulu.
"Aduh duh duh...." Zeeta memegangi bokongnya yang kesakitan. Ketika ia melihat ke bawah, ia sadar ia ada di atas batu. Kemudian saat ia mendongakkan kepala, ia melihat kepala Ozy begitu dekat dengannya. Zeeta lantas berdiri, lalu bertolak pinggang.
"Aku ... aku berhasil membuktikannya! Jadi, jangan pernah menyebutku sebagai Penguasa Kekelaman dan ancaman dunia lagi, kau mengerti?!" katanya berteriak dikala bertolak pinggang.
Ozy mengembalikan Zeeta ke atas tembok kerajaan. Ia kemudian berkata, "Ozy ... minta maaf. Ozy ... takut kalau dunia ini ... hancur. Maafkan ... Ozy ... Tuan Putri."
Zeeta tersenyum. "Uhm. Tapi, Ozy juga harus membuktikan padaku!"
"Hmm?"
"Jadilah temanku!"
"Te... teman?" Ozy sedikit bingung.
"Ya, teman! Kau tidak tahu apa-apa tentangku makanya kau takut, bukan? Aku juga tidak tahu apa-apa tentangmu dan karena itu aku hampir saja membencimu!" Zeeta mengatakannya sambil tersenyum.
"Zeeta...." Aria hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ozy melihat ke arah kerumunan di dalam kerajaan yang masih belum bergerak di balik lapisan pelindung Zeeta. Tampaknya, Zeeta jujur. Itu yang dirasakan Ozy. Jika Zeeta tidak membencinya, tak ada alasan baginya untuk mempertahankan lapisan pelindung itu lebih lama dari ini.
Ozy pun membulatkan keputusannya. "Baiklah. Ozy ... sudah lama ... ingin punya ... teman lain ... selain Aria. Ozy ... akan berteman ... dengan Zeeta!"
Zeeta semakin melebarkan senyumnya. "Uhm! Kalau begitu, tunggulah di sini. Kami akan mengadakan pesta penyambutan untukmu!"
Seperti habis disambar sihir pengejut berkekuatan tinggi, Aria mengeluarkan emosinya. "Ha?! Apa kau serius?!"
"Hmm?" keduanya melihat ke arah Aria.
"Aku tidak keberatan dengan Ozy yang memiliki teman lain, tapi apa kau serius ingin mengajak Ozy ke kerajaanmu?!" ungkap Aria mengatakan alasannya emosi.
"Hahaha, apa kau bercanda, Aria? Tidak mungkin Ozy masuk ke dalam kerajaan! Tubuhnya sangat besar, jika dia masuk, semuanya akan hancur!"
"Grr... itu yang kumaksud, dasar manusia!"
"Tenanglah Aria. Kau ini ... selalu saja emosi tentang banyak hal, ya? Ozy, aku memang serius ingin mengundangmu ke pesta. Tapi tampaknya aku membutuhkan waktu. Rakyatku masih dalam kondisi ketakutan...."
Ozy melihat lagi ke arah rakyat yang disebut Zeeta. Matanya bersinar biru. Dari pandangannya, apa yang ia lihat ter-zoom ke tiap-tiap wajah itu. Dan ya, sekali lagi, Zeeta jujur padanya.
"Bagus! Kalau begitu, bisakah kau kembali ke tempat dirimu berasal? Oh ya, apa ada cara untukku agar bisa memanggilmu bila kami sudah siap?" tanya Zeeta lagi.
Ozy menunjuk ke anting bulan Zeeta. "Panggil ... Ozy ... sambil ... pegang ... itu."
"Uhm. Baiklah, terima kasih Ozy!" Zeeta melempar senyum manisnya.
"Sa... sama-sama." Setelah itu, Ozy pun berjalan menjauh dari kerajaan Aurora.
Aria memandangi Zeeta yang masih tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ozy.
Sadar akan pandangan mata itu, dengan polosnya Zeeta bertanya, "Hmm? Kenapa? Kau ingin reuni dengan Ozy?"
"Kenapa ...." Aria justru balik bertanya dengan kepala yang tertunduk. "Kenapa kau tidak marah? Kenapa kau tidak membenci Ozy? Dia hampir saja menghancurkan kerajaanmu!"
Zeeta tersenyum. Namun, senyum itu tampak dipaksakan.
"Ih, Aria ... kau memang orang yang emosian, ya? Tentu saja aku marah. Tidak mungkin aku tidak marah. Mengapa kau bertanya sesuatu yang sudah pasti, Aria?"
Aria merasakan sesuatu yang beda di dalam hatinya. Ia belum pernah merasakan ini. Dia tak tahu mana yang benar. Sedih? Marah? Kesal? Simpati? Ataukah kecewa? Yang pasti, ia membisu.
"Aku kembali, ya. Ozy pasti akan senang jika kalian reuni setelah ratusan tahun. Sementara itu, kami akan melanjutkan acara kami di sini." Zeeta meninggalkan Aria yang membisu itu sendirian.
.
.
.
.
"Dasar... meskipun kau hanyalah seorang anak kecil...," gumam Aria tersenyum kecut.
......................
__ADS_1
Semua orang yang menyaksikan aksi dadakan dari Zeeta terkejut. Begitu banyak hal yang terlintas di pikiran mereka, tetapi semuanya terjadi begitu cepat.
Diawali dengan kumpulan mana alam yang terpusat di depan Tuan Putri mereka. Ashley dan bangsawan-bangsawan lain yang mengetahui itu adalah mana alam, tak dapat memercayai hal bersejarah yang mereka saksikan saat ini. Sementara rakyat jelata, mereka tahu dengan samar itu bukanlah mana dari Tuan Putri, tapi mereka tahu Tuan Putri dalam kendali penuh atas mana tersebut.
Dilanjuti dengan ledakan dari mana alam itu dan tindakan cepat Zeeta untuk melindungi mereka, Albert hanya bisa menganga. Sementara prajurit yang ada di belakangnya, sudah menghilangkan lingkaran sihir mereka dan mengucapkan, "Wah, gila sekali! Inikah Tuan Putri kita?!"
Sementara rakyat yang dilindungi, akhirnya bisa bernapas lega. Namun sayangnya ... Mellly tidak merasa seperti itu. "Tidak mungkin ... mana itu ... bukanlah mana biasa! Ada apa dengan orang-orang ini? Mengapa tak ada yang merasa takut?!" batinnya.
Lalu dilanjuti dengan perginya Raksasa dari kerajaan dan menghilangnya lapisan pelindung dari Zeeta. Semua orang, seperti para prajurit, Arthur, Gerda, Azure, warga Lazuli lain, juga para bangsawan utama, bersorak ria dengan penuh semangat dan gembira.
"Tuan Putri berhasil melindungi kitaaaa!" teriak pria A yang menitikkan air mata.
"Ternyata meskipun dia masih kecil, dia sudah sangat hebat!" pria B merasa terpukau.
"Aaah... aku jadi tenang sekarang!" wanita A malah sudah menangis lega.
"Hei hei, jangan lupa kita masih belum mengadakan pesta sambutan untuk Tuan Putri! Bukankah kita bisa membuat pesta itu lebih meriah lagi?!" pria A memberi saran.
"Huh? Pesta sambutan?" Arthur yang mendengar itu bertanya pada pria A.
"Ya! Grand Duchess menyuruh kami penduduk ibu kota agar menyambut pulangnya Tuan Putri dengan pesta yang meriah. Tapi, karena kita belum melakukannya karena kejadian ini, jadi kupikir lebih baik diadakan lebih meriah!"
Arthur pun masuk dalam delusinya....
"Heheheh... Ayah, aku sangat senang hari ini! Terima kasih sudah menyambutku dan menepati janjimu!" Zeeta melempar senyum manisnya. "Aku saaaayang Ayah!" kemudian Zeeta memeluk Arthur.
Arthur kembali ke dunia nyata....
"WOOOGGHHH! AYO KITA LAKUKAN ITU!" dengan penuh bara api semangat demi mendapatkan delusinya, ia menyertakan diri.
"Yaaaa!!" Orang-orang pun juga ikut terbakar bara semangat yang tersambar dari Arthur.
Melihat Arthur dari kediaman Alexandrita, Hellen merona merah. "Aah... andai saja aku bisa ikut dengannya...." Kemudian, Hellen juga berdelusi.
......................
Zeeta kembali ke alun-alun ibu kota dimana rakyat, prajurit, dan para bangsawan sudah memberi ruang untuknya. Zeeta yang kembali dengan menyihir tubuhnya, mendarat dengan sambutan meriah, lambaian tangan, senyum dari rakyatnya, juga ucapan terima kasih dari mereka. Namun, diantara riang gembira penuh kehangatan itu terjadi, Zeeta menyadarinya. Tatapan takut dan benci yang mulai tumbuh dari Mellynda yang berdiri di sebelah Porte.
Ashley mengode Zeeta agar mendekat ke arahnya—tempat dimana para bangsawan utama itu berdiri. Dengan posisi ini, Zeeta jadi semakin yakin bahwa Mellynda menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Ehem." Ashley berdeham setelah mengaktifkan lingkaran sihir di depan mulutnya. "Karena waktu kita sudah menjelang tengah hari, aku akan mempersingkat waktu agar penobatan Tuan Putri dilakukan saat ini juga," sambungnya.
Zeeta mengatur napasnya dan berdiri saling berhadapan dengan Ashley. Hellen membawa mahkota kecil di atas sebuah bantal dengan kedua tangannya. Di sekeliling mahkota tersebut dihiasi oleh permata-permata kecil berwarna hijau zamrud.
"Zeeta Aurora XXI, Engkau yang merupakan darah daging dari Ratu Alicia Aurora XX. Sebagaimana aturan dan hukum kerajaan yang tertulis dalam Kitab Besar Aurora, satu; apabila Ratu Aurora tidak dapat memerintah kerajaan lagi, dengan alasan tewas, sakit, dan sebagainya, maka Tuan Putri akan melanjutkan kekuasaannya. Apabila Tuan Putri belum cukup usia, yakni tujuh belas tahun, maka Raja yang akan menggantikannya.
"dua; apabila terdapat masalah pada Ratu dan Raja, serta Tuan Putri belum cukup usia untuk menjadi penguasa selanjutnya, maka Grand Duchess selaku bangsawan tertinggi setelah Raja, berhak menjadi penguasa sementara.
"tiga; apabila Tuan Putri mengalami masalah sebelum usianya delapan tahun, maka Grand Duchess harus menobatkannya sebagai Tuan Putri yang sah, dengan syarat ia harus memiliki artifak kerajaan.
"Dengan ini... Zeeta Aurora XXI, Engkau adalah Tuan Putri sah dari Ratu Alicia. Anting bulan yang terpasang di telinga kiri itu merupakan artifak kerajaan yang hanya akan merespon keluarga kerajaan saja. Oleh karena bukti tersebut sudah nyata adanya, sebagai Grand Duchess, kunobatkan Engkau menjadi Tuan Putri Aurora Kedua Puluh Satu!" Ashley memakaikan mahkotanya pada Zeeta.
"PRAJURIT! HORMAT UNTUK TUAN PUTRI!" Atas perintah dari Albert, prajurit yang kini sudah disebar di alun-alun, memberikan hormat mereka pada Zeeta.
Bersamaan dengan hormat tersebut, tepuk tangan dari semua orang yang hadir di sana pun menggema tepat setelah mahkota dipakaikan pada Zeeta.
"Apabila ada yang ingin Anda katakan, silakan gunakan kesempatan ini, Yang Mulia," kata Ashley tersenyum. Zeeta membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Ehem." Zeeta mengatur napasnya. "Aku tahu ini mendadak, tapi aku ingin kita mengadakan pesta penyambutan untuk Ozy Si Raksasa!" Zeeta mengatakannya sambil tersenyum.
Semua orang terdiam, berusaha untuk mencerna apa yang baru saja Tuan Putri mereka katakan.
"Zee... Zeeta, apa yang baru saja kau katakan ... serius?" Ashley memaksakan senyumnya.
"Uhm, tentu saja aku serius! Lagi pula, aku sudah berjanji dengannya!"
Orang-orang masih terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
"Yang Mulia Zeeta, izinkan aku berbicara...." Willmurd mendekatinya.
"Hmm? Apa, Tuan Willmurd?" tanya Zeeta.
"Pesta penyambutan untuk Raksasa? Bukankah ... bukankah Raksasa itu hampir menghancurkan kerajaan kita?" Willmurd berkeringat.
"Hmm, kau benar. Tapi, aku sudah berbicara dengannya. Tenang saja, Ozy tidak akan melakukan hal seperti itu lagi, aku yang menjaminnya!" Zeeta tetap tersenyum.
__ADS_1
"Tapi...." Senyum itu berubah menjadi tatapan serius. "Jika dia berbohong, aku akan melindungi kalian."
Kala itu, semua orang tahu melalui ekspresi wajahnya. Tuan Putri mereka bukanlah hanya anak atau Tuan Putri biasa. Meski ia baru berusia delapan tahun, ia megambil keputusan yang tidak gegabah. Ia merupakan Tuan Putri yang bisa diandalkan.