
Hidup di kalangan bangsawan, terkadang harus memilih jalan ekstrem untuk menapaki tujuan yang hendak dicapai, meski itu berarti mereka akan dicap sebagai penjahat. Segala cara dihalalkan untuk mendapatkan yang diinginkan. Entah itu kekuatan, cinta, kesenangan, dan masih banyak lagi.
Namun itu semua bukanlah hal yang asing di telinga. Setiap individu Manusia, tidak hanya dari kalangan bangsawan saja, pasti memiliki hasrat seperti itu. Mereka ... ingin berkuasa. Mereka yang telah terjun ke jalan ekstrem tersebut, kerapkali membuat bangsanya sendiri tersiksa dan mereka justru menikmatinya. Setiap rintihan, setiap jeritan, dan setiap korban yang berjatuhan karena mereka, itu semua menjadi kesenangan.
Kemudian, disaat semuanya sudah memuncak, "pohon sejarah" akan menjulurkan tangannya. Orang-orang akan balik melawan untuk menggugurkan "penguasa" tersebut, atas nama "keadilan". Setelah itu? Rantai yang serupa akan terjadi lagi seiring berjalannya waktu.
Pertanyaannya, jika ada Manusia yang hidupnya sudah ratusan tahun, melewati banyak kepahitan hidup, apakah ia masih bisa disebut sebagai Manusia?
Tidak.
Bangsanya sendiri PASTI akan mengecapnya sebagai "monster".
Itulah busuknya sifat Manusia. Tidak hanya seorang saja, namun demikianlah Manusia. Kita takut dengan apa yang tidak bisa diterima akal sehat.
......................
L'arc Darnmite. Seorang Manusia yang saat ini—empat puluh dua tahun silam—telah hidup nyaris lima ratus tahun bulat. Kendati demikian, penampilannya seperti pria berusia tiga puluhan dengan janggut dan kumis tebal. Selain fakta bahwa ia adalah Mantan Benih Yggdrasil, ia merupakan sosok yang misterius.
Usai ledakan terjadi di wilayah padat penduduk kerajaan Southern Flare, Ashley dan Barghest panik. Seumur hidup, kejadian seperti ini belum pernah dirasakan keduanya.
"Kenapa dia melakukan itu?!" jerit Barghest melotot pada Eizen.
"Fufufu. Kenapa kautak memikirkannya sendiri...?" Eizen tersenyum. "Bukankah kau sangaaat pintar hingga hampir bisa menebak apa yang terjadi dengan dirimu dan Putri Southern Flare?"
Ashley yang kesal karena sejak tadi pria ini sama sekali tidak bergeming, menggunakan kekuatan otot lengan dan kakinya untuk memberi jera—menghalangi darah tersirkulasi ke otak.
"Ghhh...," erang Eizen, "lakukanlah apapun yang kaubisa, kau takkan bisa menghentikan kami!"
Ashley menggertak gigi. "Barghest, pria ini biar aku yang atasi, kau pergilah ke sana sebelum lebih banyak orang yang tak bersalah mati!"
"Baiklah!" Barghest yang masih dalam wajah paniknya, segera melontarkan diri ke tempat L'arc berada.
"Keputusan yang ... bodoh...." Eizen mulai kehabisan napas. "Pria itu ... bukanlah tandingannya!"
Muak, Ashley membanting Eizen di tanah. Sudah tidak merasa ada batasan lagi yang harus dipertahankan, gadis ini membelenggu seorang Pangeran dengan pasung di kedua tangan dan lehernya.
"Kau tahu?" ujar Ashley, "aku memiliki seorang senior yang bertugas menjadi Kepala Penjara. Darinya, aku belajar sesuatu yang sangat penting untuk mengorek informasi dari Manusia semacammu. Meskipun kau sudah berlagak sombong dengan 'rencana' dan rasa percaya diri, kami pasti bisa menghentikan kalian!" Ashley mengeluarkan Buku Sihirnya, lalu segera membuka halaman yang ingin dipakainya.
Di bawah langit malam, Ashley mulai "menginterogasi" Eizen....
......................
Scarlet menteleportasikan para penghuni istana ke suatu tanah luas dengan beberapa tumbuhan mengelilingi. Dari sini, mereka bisa melihat istana kebanggaannya. Para bangsawan terpesona dengan paras Putri Southern Flare—yang sama sekali tidak seperti rumor yang tersebar luas. Sementara mereka sedang terpana, Scarlet yang nyaris kehabisan mana segera jatuh terduduk. Kendati demikian, ia tetap menyaksikan apa yang terjadi di depannya.
__ADS_1
Tinggi semampai, bulu mata lentik, serta yang paling membuat mereka bertanya-tanya adalah rambut keemasannya itu menimbulkan gemerlap cahaya warna yang sama. Padahal, kedua orang tuanya berambut hitam. Ia memakai gaun tidur dan tanpa alas kaki.
"Apa Anda... benar-benar Tuan Putri...?" tanya bangsawan A.
"Itu benar, apa ada masalah?" jawab Sang Putri. Jawabannya yang seakan menatap rendah, justru dianggap menawan bagi banyak bangsawan.
"Ta-tapi, rumornya...." Bangsawan B masih skeptis. Pun dengan banyak bangsawan lainnya.
"Oh." Tuan Putri tersenyum. Tubuhnya kemudian bersinar keemasan—memaksa semua mata di sana untuk ditutup rapat-rapat.
Tidak lama kemudian....
"Apa ini yang kalian maksud?"
"Maaya!" bentak Ratu.
"Apa yang kaulakukan?!" sambung Raja, dengan nada yang serupa.
Para bangsawan membeku saat melihat Tuan Putri yang baru dilihatnya itu berubah menjadi "siluman" kera. Paras cantiknya hilang begitu saja.
Maaya mengabaikan bentakan orang tuanya. Dia bertolak pinggang sambil tersenyum. "Atau ini yang kalian maksud?"
Ia mengubah lagi wujudnya menjadi "siluman" harimau dengan dua taring tajam yang timbul dari mulutnya.
Semua yang ada di sana kehabisan kata-kata. Sepatah katapun tak bisa dikeluarkan.
"Tapi, mereka tidak pernah tahu kalau Putrinya ini sudah tahu beberapa rahasia keluarga kerajaan."
Raja dan Ratu Southern Flare itu membeliak mendengarnya.
"Oleh sebab itu...." Maaya menghampiri kedua orang tua yang tingginya hanya sebahunya. "Kalian tidak perlu khawatir tentang perjanjian itu dan kalian tidak perlu merasa bersalah dengan kutukan ini." Gadis berambut emas itu memeluk kedua orang tuanya.
Scarlet yang sejak tadi duduk dan menatap dalam diam, bersama dengan yang lain, kaget dengan ledakan di dalam Southern Flare.
"Kalian!" seru Maaya, "lindungilah Raja dan Ratuku! Aku akan membereskan ini bersama dengan para Aurora." Ia menatap Scarlet—memastikan keselarasan tujuan.
Scarlet membalasnya dengan senyuman dan anggukan mantap. Itu segera membuat Maaya senang.
"Aku memang belum menceritakan semua yang terjadi, namun ... camkanlah satu hal ini.
"Aku tahu di antara kalian ada yang ingin berbuat buruk pada orang tuaku di kesempatan yang sempit ini. Sampai saat aku kembali ternyata mereka kenapa-napa, jangan harap aku akan mengampuni kalian!
"PAHAM?!"
__ADS_1
Pelototan serta suara melengking dari Maaya segera dipatuhi. "BAIK!" jawab para bangsawan bersamaan.
"Sekarang, menjauhlah."
Ratu mengelus lembut pipi Maaya. "Sejak kapan Putriku tumbuh seperti ini...?" titik air mata perlahan nampak.
Maaya tersenyum kecil. "Mama, maaf sudah membuatmu terus menerus menangis. Tapi saat ini, kupastikan tangisan itu akan berubah menjadi senyum. Aku akan berusaha!" senyum kecil itu berubah menjadi senyum lebar lima jari. Sebuah senyum yang tidak pernah dilihat baik ibunya atau ayahnya.
"Ayo." Raja memegang bahu kiri Ratu. "Kita akan bicara lagi nanti."
"Uhm." Titik air mata dari Ratu juga berubah jadi tetes deras. Ia terharu.
Kemudian, bersama dengan para bangsawan, Raja dan Ratu Southern Flare Kedua Puluh Sembilan, pergi menjauh.
Setelah mereka menjauh, raut wajah Maaya berubah drastis. "Katakan padaku apa maksudmu tentang tanda itu, Scarlet." Ia seperti diselimuti oleh kegelapan dari dalam hati. Ia mencengkeram kedua tangan, bahkan keningnya menampakkan urat—tanda bahwa ia sangat marah.
Scarlet agak terkejut dengan perubahan sikap itu, tapi ia tetap fokus pada tujuannya.
"Eizen bilang seorang pewaris kekuatan Matahari akan memiliki tanda di punggungnya sejak ia berusia dua belas tahun, tetapi Barghest tidak memilikinya.
"Bagaimana denganmu, apa kau memilikinya?"
"Tentu saja tidak. Lihatlah sendiri." Maaya menunjukkan punggungnya yang putih bersih. "Bagaimana caramu tahu tentang tanda itu? Kau adalah keturunan Bulan, bukan?"
"Apa yang kauduga dari Aurora? Kami memiliki pewaris kekuatan Matahari yang asli, meskipun tidak banyak orang yang tahu."
"Itu berarti... Eizen telah menjebak kalian!"
"Ya, aku tahu." Scarlet menjawabnya tenang dan itu tidak membuat Maaya sepaham.
"Kenapa kaubisa setenang itu?!" hardik Maaya.
"Aku percaya sahabat dan tunanganku bisa mengatasi mereka untuk beberapa saat. Apa yang terjadi selanjutnya, kupikirkan itu nanti. Sementara itu, aku ingin pastikan satu hal darimu.
"Dari rahasia yang kausebut tadi, apa ada nama Sephiroth?"
Maaya mengernyit. "Kenapa kaubisa tahu nama itu?"
"Dengarlah, Maaya. Ini memang masih dugaanku saja, tetapi Eizen saat ini pun sedang diperalat oleh pria yang tiba-tiba muncul itu."
"Kudengar nama dia adalah L'arc."
"Aku tahu, tapi itu tidak penting sekarang!
__ADS_1
"Aku juga tetap tidak tahu apa motif Gala mengincar Barghest yang notabenenya bukan lagi rakyat mereka, aku pun tidak tahu mengapa ia hadir di pesta tehmu, tapi kemungkinan besar....
"Ini adalah untuk pembalasan dendam L'arc."