Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keseharian Aurora yang Kembali Damai


__ADS_3

Burung bernyanyi merdu dengan kicaunya. Pagi cerah pun menyambut setelah Bumi menangis satu malam


penuh. Tanah masih basah, pun dengan dedaunan. Meski mentari turut serta mengusap tangis Bumi, suhu yang dingin tidak bisa ditampik begitu saja. Kendati demikian, Manusia, makhluk sihir, hewan, dan tumbuhan satu hati tentang satu hal; hari ini adalah hari yang berbeda dari kemarin. Maka dari itu, sambutlah hari dengan semangat dan senyum yang lebar.


Tatkala dunia sedang menyambut hari dengan senyum, hidup, serta harapan baru, sementara itu Zeeta, di suatu tempat yang telah lama tidak ia kunjungi—dunia layaknya tidak berujung dan memiliki butiran-butiran cahaya seperti kunang-kunang dengan langit merah muda transparan—sedang bertemu dengan leluhur-leluhurnya.


Leluhur-leluhur tersebut adalah Clarissa, Velvet, dan dua orang yang belum pernah ia temui secara langsung, tetapi ia tahu dari suatu ingatan dengan kekuatan Rune. Kesemua leluhur itu—di masing-masing salah satu telinga mereka—terdapat sebuah anting bulan. Walau Clarissa ada bersama mereka, wujudnya tetap seperti apa yang selama ini Zeeta lihat, yaitu seorang wanita berambut ungu panjang hingga nyaris ke mata kaki.


“Senang bertemu kalian, oh Leluhur-Leluhurku,” sapa Zeeta tersenyum dan memberi hormat ala bangsawan.


“Ya, kami pun merasa senang bertemu denganmu,” balas Clarissa, mewakili putri-putrinya.


“Salam kenal, keturunan kami yang kedua puluh satu, Zeeta. Namaku adalah Iris,” sapa seorang dari dua leluhur yang baru Zeeta lihat di “dunia kunang-kunang” ini. “Kukira aku harus mengenalkan diri karena mungkin ini pertama kalinya kau melihatku,” sambungnya.


Senada dengan Iris, wanita berambut merah di sampingnya juga melakukannya. “Aku juga akan memperkenalkan diri. Namaku adalah Roze.”


“Sangat terhormat bagiku bertemu kalian, Nyonya Iris, Nyonya Roze. Aku yakin ini pertama kali kita bertemu, tetapi sebenarnya aku sudah pernah melihat kalian,” jawab Zeeta, “sepertinya ini akan berbeda dari yang biasanya kulihat. Terakhir, adalah saat Kak Velvet menghiraukanku tentang Mary enam setengah tahun lalu.”


“Huh?! KAK, katamu?!” Iris dan Roze kompak memelototi Velvet dengan "death glare". Velvet hanya bisa diam berkeringat dingin dan tertawa pelan.


“Ya, itu benar,” jawab Clarissa, “karena ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir.”


Zeeta terlihat murung sambil menjawab, “Begitu, ya....”


Keempat leluhurnya saling menatap. Mereka tak mengira akan reaksinya.


“Jujur saja,” kata Zeeta, “aku selalu merasa kalianlah yang selalu mendorongku agar menjadi Aurora


yang dapat melindungi—bukan menghancurkan. Karena aku pernah bertukar kata dengan Clarissa dan Kak Velvet, aku jadi tahu ingin kuapakan kekuatan gilaku ini.


“Meskipun aku baru bertemu Nyonya Iris dan Roze sekarang, tapi setelah melihat dari ingatan Mary, aku sadar bahwa keberanian kalian berada jauh diatas daripadaku.


"Aku sangat menghormati dan sangat terbantu. Walau ada jarak dua ratus lima puluhan tahun kita bisa bertemu melalui kekuatan Bulan seperti ini, aku sangat bahagia dan senang memiliki leluhur seperti kalian!”


Keempat leluhurnya membalas Zeeta dengan senyuman hangat. Roze kemudian maju dan menepuk kepala Zeeta. “Kami pun bangga dengan keturunan sepertimu!” ia melemparkan senyum lima


jarinya. “Kau telah melewati banyak hal sejak berusia delapan tahun dan kini usiamu sudah empat belas tahun. Apa yang telah kau lewati sudah pasti lebih berat dari apa yang pernah kami alami seusia itu.


“Namun, perjalananmu belumlah usai. Ini adalah kisahmu, dimana kau adalah pemain utamanya. Hiduplah dengan bangga, tak peduli apa pandangan dunia terhadapmu!


“Sejak awal, sihir adalah senjata berbilah dua.


“Satu sisi, ia sangat tajam hingga bisa melindungi apa yang ingin kaulindungi, dilain sisi, ia sangat tumpul untuk melindungimu dari pandangan orang lain.


“Kau mungkin tidak perlu lagi mendengarkan ceramah dari orang mati, tetapi aku ingin kauhidup dengan bangga, seperti halnya aku bangga akan diriku sendiri, yang merupakan putri dari adiknya pengembali keberadaan sihir, Clarissa Aurora!”


Iris mengikuti langkah Roze, lalu ia mencengkeram kedua bahu Zeeta, memaksanya saling bertukar pandangan. “Tak perlu selalu menjadi tangguh, Zeeta! Manusia adalah makhluk yang lemah dan rapuh. Kapanpun kau boleh menangis, meratapi nasib, atau tidak menyukai sesuatu—bahkan membenci dirimu sendiri.


“TAPI!


“Hanya sebatas itu, kau dengar aku?


“Manusia selalu melangkah maju. Apapun ombak yang menghantam mereka, manusia akan selalu mencoba mengarunginya.


“Zeeta, seperti kata Roze, ini adalah kisahmu. Bila kau ingin berhenti dan menyerah dari semua yang harus kauemban, maka tidak ada masalah, karena kau hanyalah manusia biasa. Hanya saja, takdirmu mengatakan kau adalah penyihir yang sangat kuat.


“Maju atau berhenti, kaulah yang menentukannya!”


Setelah itu Velvet maju, langsung mendekapnya erat-erat. “Aku hanya ingin mengucapkan satu hal padamu.


"Terima kasih!


"Aku sangat berterima kasih atas semua yang kaulakukan demi Mary.”


Zeeta menyadari Velvet menitikkan air mata. Ia kemudian membalas pelukannya. “Uhm. Sama-sama, Kak Velvet.”


Ketiga bersaudari kemudian mundur, digantikan oleh Clarissa. “Karena salam perpisahannya sudah usai, aku akan menjawab keraguanmu setelah mengetahui banyak fakta dunia sihir ini dari Ozy dan Elf, sebelum kita benar-benar berpisah.


“Kau ragu dengan keberadaan sihir yang hilang dan sejarah yang mengatakan kalau aku menyebut bahwa kakakku yang membuat dunia bisa bersihir seperti sekarang, bukan?”


“Tidak. Aku tidak ragu." Zeeta menggeleng kepala. "Hanya saja ... aku ingin tahu kebenarannya. Kalian mungkin juga tahu apa saja yang telah kualami berkat anting bulan ini, tapi....


“Aku melihat Aurora pertama—tidak, manusia pertama, bagaimana ia bisa mendapatkan sihir. Aku menebak bahwa alasan ‘hilangnya’ sihir ada sangkut pautnya dengan dia. Tapi, daripada menebak, aku ingin tahu darimu langsung, Clarissa. Izinkan aku!


“Karena ... aku yakin itu juga akan membantu diriku di masa depan untuk memutuskan hal itu.”


Clarissa menatap lurus Zeeta, lalu mengangguk. “Baiklah.”


......................


Langit-langit dengan chandelier menyambut pemandangan Zeeta. Ia kemudian menyadari dirinya berada di atas kasur queen size lengkap dengan bantal dan guling yang amat empuk, juga selimut yang tidak membiarkan dirinya kedinginan atas suhu yang masih terasa dingin setelah hujan semalaman.


“Eh...?” dirinya linglung. Tak heran, ia hanya mengingat dirinya jatuh terkapar setelah berpisah dengan Marianna. Melihat kanan dan kiri, juga dengan kualitas kasurnya, ia menebak ia pasti berada di istana.


Setelah itu Zeeta menyingkap selimutnya, lalu duduk selonjor, dan melihat kedua tangannya. Tak ada lagi gemetar hebat, juga tak ada lagi rasa sakit di bahu kiri. Bahkan, tumbuhan yang ia pakai sudah tak lagi di tempatnya. “Meski baru tertidur satu hari, kenapa

__ADS_1


semuanya bisa hilang?” begitulah Zeeta dibuat keheranan. Tidak hanya itu, Zeeta merasa suasana terlalu sepi, sehingga ia memutuskan untuk turun dari kasur dan memeriksanya dari jendela.


Kaget....


Bukan hanya itu saja yang dirasakan Tuan Putri Kedua Puluh Satu tersebut, melainkan heran juga.


Ia yakin pertarungannya dengan Marianna yang disadarinya dengan jelas sudah MENGHANCURKAN banyak bagian di sekitar kerajaan—terutama karena sihirnya. Namun, kehancuran yang diyakininya telah terjadi, justru tak menanggalkan bekas apapun. Malah, kerajaan tampak indah, tenteram, dan damai seperti biasanya.


Apa yang terjadi dalam satu hari ini?


Iapun memutuskan untuk keluar dan memastikannya secara langsung. Ia mengganti piyama yang dikenakannya dengan gaun sederhana melalui sihirnya. Warna biru melapisi bahu hingga dada, sementara bagian bawah dada hingga mata kaki adalah putih. Sesudahnya, ia mengikat satu rambutnya, lalu menata poninya. Terakhir, ia memakai sandal putih.


Setelah yakin penampilannya pantas, ia lantas melangkahkan kaki mendekat pintu, namun....


“Kaupikir kau mau kemana?” sebuah suara menghentikan langkahnya.


Zeeta melihat ke sumber suara, yang berada di sebelah kirinya. “Eh...? Luna? Sejak kapan?” ia mendapati Luna dalam mode rubahnya.


“Baru saja. Aku merasa kausudah sadar setelah satu minggu lamanya,” balas Luna.


“SA-SATU MINGGU?!”


“Apa? Kau merasa baru satu hari?”


“Ya-yah... begitulah....” Zeeta membuang pandangannya.


“Tidak heran. Mana-mu tipis sekali begitu usainya pertarunganmu dengan Marianna.”


“Oh..., pantas saja....”


“Dasar, walau kau adalah Wadahku, nekat itu ada batasnya, tahu!


“Apa kautahu seberapa cemasnya aku saat kau mengaktifkan Catastrophe Seal?!”


“Yah, hasilnya sepadan dengan perjuangannya, jadi tidak usah dipikirkan berlebihan, dong, Luna. Yang penting, aku selamat, kau selamat, iya ‘kan? Hehe....”


Luna ingin memarahi Zeeta, tetapi ia mengurungkannya. “Haaah... kurasa kali ini aku akan membiarkannya.”


“Yeeey, terima kasih, Luna!” Zeeta melemparkan senyum manisnya.


“Duduklah!


“Aku akan memberitahumu apa yang terjadi setelah kau pingsan!”


‘kruyuuukkk’


Rasa lapar berkata lain.


“Hehehe, maafkan aku.” Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tidak heran.” Luna melompat ke atas kepala Zeeta. “Aku akan menceritakannya sambil berjalan. Apa yang ingin kaulakukan? Dimasaki atau memasak?”


“Huhuhum... apa kau harus menanyakannya?”


“Hahaha, sudah kuduga.”


......................


Selama perjalanan Zeeta menuju dapur istana, ia bertemu dengan beberapa pelayan dan penjaga istana dan mengharuskannya mengucap sepatah dua patah pada mereka, sehingga mengganggu rencana Luna untuk menceritakan apa yang telah terjadi selama satu minggu ini pada Zeeta.


“Kalau kutahu bakal seramai ini, seharusnya tak kubawa kau ke istana, tapi ke tempat Arthur!” celoteh Luna.


“Moh... tenang saja! Aku tidak akan melakukan apapun selain makan. Kaubisa menceritakannya setelah itu.” Zeeta hanya bisa tersenyum.


“Baiklah, baiklah.”


Tak ada pelayan dan penjaga istana yang menyapa Zeeta tanpa senyuman dan rasa hormat yang tinggi. Tetapi seperti biasa, Zeeta tidak ingin diperlakukan demikian. Hal itu justru membuat rasa hormat dari mereka semakin tinggi—meski mereka tetap melakukan apa yang diminta Zeeta; tanpa perlakuan khusus dan bantu ketika dia membutuhkan saja, karena di istana ini, menurutnya, semua adalah keluarga yang saling menjaga satu sama lain.


Atas kejadian kecil yang dimulai dari sapa-menyapa tersebut, rumor tentang Zeeta yang luas hatinya tersebar begitu cepat ke seluruh pelayan dan penjaga di istana, hingga membuat dapur istana dipenuhi oleh mereka yang ingin tahu seperti apa sosok Tuan Putri yang mereka layani sedang memasak.


Koki-koki yang berada di dapur itu juga turut membantu Zeeta, setelah dirinya memutuskan untuk membuat porsi besar karena ia sadar banyak yang mengintipnya melalui celah pintu. Saat-saat dimana dirinya memotong bahan dengan cepat layaknya koki profesional—bukan seorang Tuan Putri—sudah membuat kagum mata yang mengintipnya. Tidak hanya itu, saat-saat dia menumis, menggoreng, juga memanggang dengan sihir, juga membuat mereka berbinar dan menambah decak kagum.


Koki-koki istana pun memuji Zeeta dengan berkata, “Anda sungguh hebat sekali, Nona Zeeta! Sebenarnya


dari siapakah Anda belajar memasak hingga lihai seperti ini?”


“Hehe, benar, bukan?” balas Zeeta, “sebenarnya memasak adalah impianku. Aku senang melihat senyuman mereka yang memasak masakanku, apalagi puas terhadapnya. Ayah—maksudku Arthur


dari desa Lazuli-lah yang mengajarkanku!


“Walau kalian memujiku, Arthur masih lebih hebat dariku, loh!”


“Heeeh... Arthur yang menaklukan Nona Hellenia itu, ya? Pantas saja!”


“Uhm!

__ADS_1


“Nah, sekarang adalah last touch-nya! Ayo akhiri ini dengan cepat dan mari kenyangkan perut mereka yang sudah tidak sabar!”


“Yaaaa!!”


......................


Lima belas menit telah berlalu, dapur istana dipenuhi oleh antrian mereka yang tak sabar mencicipi masakan Zeeta yang tampak akan langsung menghangati tubuh mereka yang dingin atas cuaca, bersama dengan kenyangnya perut.


Seafood Risotto.


Adalah masakan yang dimasak Zeeta. Porsi segunung yang dibuatnya bukanlah hal mustahil.


“Yang sudah dapat dan ingin porsi kedua, jangan sungkan, ya! Kami buat banyak!” seru Zeeta sambil melambaikan tangan yang masih memegang spatula. Mata pelanggannya yang bersinar langsung menjawabnya. Senyum puas pun terukir di wajahnya.


Luna yang terus hinggap di kepalanya menghela napas. “Bukankah kauingin makan? Kenapa justru kau yang melayani mereka?” tanyanya.


“Hehe, kapan aku tidak senang saat pelangganku memasang wajah seperti itu? Rasanya, laparku malah hilang!” jawab Zeeta tanpa menghilangkan ukiran senyumnya.


“Tidak tidak! Walaupun kaubilang begitu, aku ini mengkhawatirkanmu!” Luna memukul-mukul kepala Zeeta. “Hei koki!”


Koki di sebelah Zeeta kemudian menoleh. “I-iya, Roh yang Agung?”


“Kauurus yang di sini. Apa kalian lupa tujuan Zeeta ke sini apa? Jangan buat Tuan Putri kalian yang malah melayani bawahannya!”


Wajah-wajah lesu dan tersadar baru muncul ke semua yang sedang mengantri, juga koki, setelah Luna mengingatkannya.


“MA-MAAFKAN KAMI, PUTRI ZEETA!!”


“Moh... Luna kau terlalu khawatir! Aku baik-bai—“


‘kruyuuukk’


“DENGARLAH ITU! Apa kau masih ingin membantahku, hmm?!” Luna memukul-mukul lagi kepalanya. “Dasar! Manusia! Tak! Sayang! Diri! Sendiri!”


“A-aduh! Aduh-aduh! Baiklah baiklah! Aku minta maaf!”


Setelah Zeeta mengambil bagiannya, “kuserahkan sisanya pada kalian, ya!” perintah Zeeta.


“Se-serahkan pada kami, Nona!” jawab koki A.


“Silakan nikmati makanannya!” balas koki B.


“Uhm. Kalian juga jangan sampai tidak kebagian, ya! Daaah!” Zeeta lalu memakai sihir teleportasinya untuk kembali ke kamar.


Hela napas panjang segera keluar dari mereka yang mengantri dan para koki. Mereka lega, juga merasa senang.


“Hei ... baru kali ini aku melayani seseorang seperti Putri Zeeta.... Entah kenapa rasanya...,” ujar koki A.


“Ya, aku mengerti perasaanmu. Bahagia, semangat... bekerja bahkan tak terasa seperti bekerja!” timpal pelayan A.


“Aku sudah melayani istana sejak Nyonya Scarlet masih menjadi Ratu,” kata penjaga A, “tapi baik Nyonya Scarlet dan Ratu Alicia... keduanya sungguh berbeda dengan Putri Zeeta!”


“Aku tahu!” balas penjaga B, “sungguh... Aurora sangat beruntung memiliki keluarga kerajaan seperti mereka!”


Kebahagiaan memenuhi dapur dengan mereka yang “menggosipi” atasannya, sampai seseorang datang dengan aura yang mencekam.


“Oh...?” sebuah suara darinya langsung memecah bahagia menjadi kecemasan. "Kukira ada apa kalian


berkumpul begini, tetapi yang kudengar justru....


“Kalian tahu cucuku yang nekat itu sudah siuman dan tidak memberitahukan kami...?


“Ternyata selama belasan tahun kutidak ada di sini, kalian jadi lebih bernyali, ya....”


“Nyo-Nyonya Scarlet?!” mereka yang sedang menikmati masakan Zeeta segera berdiri tegap dengan keringat dingin mengucur deras.


“Hmm?” Scarlet menyadari masakan porsi segunung yang masih tersisa setengahnya. “Siapa yang memasak itu? Untuk siapa memangnya?”


“Tu-Tuan Putri Zeeta, Nyonya....”


Urat kepala langsung muncul pada Scarlet. “APA KATAMU?!” jeritan Scarlet membuat seisi dapur bergetar. “Kalian tidak lupa kalau Zeeta selamat setelah pertarungan ganas itu, ‘kan?!”


“Te-tentu saja tidak, Nyonya!”


“Lalu kenapa?!”


“Pu-Putri Zeeta yang menginginkannya!


“Be-Beliau bilang kalau memasak adalah impiannya, Beliau juga bilang kalau sangat senang bisa melihat senyum dan puas dari mereka yang memakan masakannya! Ka-karena itulah kami tidak tega menghentikannya!”


“Impiannya...?” batin Scarlet, “memasak...?” ia memegangi dagunya. Emosinya yang memuncak segera menurun setelahnya. “Baiklah,” ujarnya, “nikmatilah, tetapi jangan lupa tugas kalian. Bawakan masakan itu ke ruangku. Jangan terburu-buru, aku tidak ingin mengganggu.”


“Ba-baik, Nyonya! Akan kami segerakan!”


Scarlet angkat kaki sambil terus memikirkan ucapan mereka tentang impian Zeeta. Ia akhirnya sadar ada yang janggal dengan masa-masa kecil Zeeta.

__ADS_1


__ADS_2