Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ancaman yang Dipatahkan


__ADS_3

“Aku mengerti kalau kau mengagumi kakekmu sendiri, tuan Willmurd, tapi aku tidak senang jika tekad orang sepertinya dicatut sebegitu mudahnya tanpa mengerti arti sesungguhnya dari tekad itu—bahkan jika orang itu adalah cucunya sendiri.


“Tapi, jangan salah paham dulu.


“Novalius, kau itu kuat, memiliki bakat, juga memiliki harga diri yang tinggi sebagai seorang bangsawan. Kaupun memiliki mimpi yang ingin kaucapai dengan kekuatanmu sendiri. Semua sihir yang kaugunakan dalam cara berpedangmu ... memiliki aura itu.


“Mengertilah dulu apa itu arti melindungi yang sesungguhnya, barulah aku akan meladenimu lagi. Tapi, tolong catat ini baik-baik. Jika kau gagal ... aku akan menghukum Dormant.”


“Do-Dormant...?” Novalius tidak bisa terima. “Ta-tapi, ini masalahku, Yang Mulia! Keluargaku tidak ada hubu—“


“Maka janganlah kecewakan aku!


“Kunantikan hasilmu, Novalius....”


......................


Ledakan aura dari Novalius yang sebelumnya memaksa Mintia untuk melindungi diri dari terpaan angin dengan menyilangkan kedua lengannya, diserap kembali oleh sang pemilik, yang kemudian disusul oleh meningkatnya mana.


“Jika Yang Mulia Zeeta tidak menekanku seperti itu.... Aku takkan bisa berdiri bersama mereka. Oleh karena itu ... akan kujawab harapan dari Penyihir Harapan dengan tegas dengan teknikku yang baru ini!”


Melihat apa yang dilakukan Novalius dari jarak sangat dekat, membuat Mintia tidak percaya Novalius hanya akan “mengancam” semua yang ada di dalam kubah kaca di arah pukul dua belasnya. “Dengan mana sebesar itu, kaubisa saja menghancurkan mereka! Apa kau sudah gila?!” seru Mintia.


“Tenang saja! Serangan ini tidak akan mengenai mereka. Sesuai perintahmu, ini hanya akan mengancam!” balas Novalius.


Dengan kuda-kudanya yang sudah siaga, Novalius melancarkan serangan “mengancam”-nya. Rapier-nya berubah hitam dan memancarkan cahaya redup berwarna ungu. Perlahan-lahan, bagian hitam yang menyelimuti keseluruhan bilahnya, juga termasuk cahayanya, terkumpul di bubuh paling ujung. Disaat yang bersamaan, langit kelabu bersaljunya perlahan ikut berubah ungu.


Satu hentakan tangan kanan ke depan.


Hanya satu hentakan ke depan sajalah yang dibutuhkan Novalius untuk meluncurkan sihir bak laser dari rapier-nya. Tapi, itu bukanlah laser pada umumnya. Begitu tertembak dari ujungnya, laser hitam bercahaya ungu itu terpecah layaknya tusukan-tusukan rapier dari tangannya sendiri. Sehingga, apa yang terjadi, kubah kaca yang menjadi targetnya terserang bertubi-tubi.


“Bo-bodoh! Kaubisa menghancurkan kubahnya kalau begitu!” Mintia geram.


“Tenang saja dan lihatlah.” Novalius masih percaya diri bahwa serangannya tak akan memberi damage yang berarti.


Begitu tusukan beruntun berbentuk laser itu berhenti, hanya asap yang terlihat oleh mata, tetapi itu tidak membutuhkan waktu lama. Selepas asapnya menguap....


“Ti-tidak mungkin! Tapi, bagaimana bisa?” Mintia tercengang.


“Masih terlalu dini untuk kaget!”


“Eh?” Mintia sadar ada yang mengganjal, tapi ia tidak tahu apa. Meliriklah dia ke sekitarnya, sekaligus mencoba membaca aliran mana. “Hilang...? Saljunya sudah berhenti....”


“Itu benar.”


“Apa yang kaulakukan barusan?”


“Yah, karena aku tidak bisa berteleportasi, ‘cara lain’ yang terpikirkan olehmu pasti tetaplah sihir yang bisa memindahkan kita ke kubah itu secara instan. Kau adalah seorang Elf yang sudah terbiasa dengan kehidupan hutan, jadi sihir yang hendak kauciptakan adalah tumbuhan yang akan melontarkan kita ke sana. Koreksikan aku bila aku salah.”


“Tidak. Tidak ada.”


Novalius tersenyum, kemudian melanjutkan penjelasannya. “Kita adalah tim dan setidaknya aku bisa menebak langkah selanjutnya yang akan kaulakukan andai kita memang melontarkan diri dengan sihirmu. Kau akan membujuk mereka yang ada di dalam kubah untuk menghentikan Phantasmal dan saljunya.”


“Dan kau juga tidak salah tentang itu.” Mintia bertolak pinggang.


“Sebelum aku berkuda-kuda untuk serangan terakhir tadi, aku memang benar-benar akan mengikuti caramu—toh caramu pun masuk akal. Tapi, setelah berkuda-kuda, aku jadi ingat latihan ulangku dengan Yang Mulia Zeeta.


“Saat dia melihat kuda-kudaku itu, dia bertanya ‘kenapa kuda-kudamu selalu kaugunakan untuk menyerang dan melakukan serangan telak? Jika kau memang benar-benar menjadikan kakekmu sebagai tujuanmu, kau bahkan tak berhak mengejarnya bila terus seperti itu! Jangan buat aku membuang-buang waktuku untuk lelucon seperti ini!’”


“E-eh...? Zeeta benar-benar bilang begitu…?”


“Y-ya... dan itu cukup menusuk untukku. Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa tahu apa yang selalu kulakukan dengan kuda-kudaku ini. Akhirnya, kuputuskan untuk bertanya pada ayahku sekaligus memintanya untuk melatihku....”


......................


[Tiga tahun yang lalu, di kediaman Dormant di Wilayah Utara....]

__ADS_1


Di lapangan latihan pribadi milik Dormant yang memiliki beberapa dummy target, seorang ayah dan anak sedang saling berhadapan, memegang rapier di masing-masing pinggangnya.


Zacht de Dormant XVII dan Novalius de Dormant XVIII. Jauh di sudut lapangannya, ada sang ibu sekaligus istri, Cecily de Dormant, yang menjadi saksi latihan keduanya. Ia adalah wanita diatas empat puluhan dengan rambut pendek cokelat beruban. Ia memiliki mata sewarna dengan rambutnya. Ia juga selalu memakai pakaian tomboy ala-ala ksatria Eropa tanpa zirah.


Usai sang anak—Novalius—melaporkan apa hasil latihan ulangnya dengan Zeeta hari ini, Zacht menyilangkan tangannya. “Jadi begitu. Itukah masalahmu selama ini...?”


“Ayah...?” Novalius mengernyit. “Apa ada yang salah?”


“Tidak,” jawab Zacht, “kutegaskan padamu dulu, meski aku melatihmu, potensimu lebih besar dariku. Tapi, setidaknya aku bisa mengajarkanmu apa yang kakekmu ajarkan padaku tentang kuda-kuda itu.”


Senyum sumringah terlukis di wajah Novalius. “Sungguh?! Terima kasih, Yah!”


Ekspresi Zacht tidak berubah. Ia tetap serius. “Nak, sekarang, katakanlah padaku, apa arti berkuda-kuda untukmu?”


“Eh...? Arti berkuda-kuda? Bukankah tujuannya hanya satu—“


“Menyerang lawan?”


Novalius kaget ayahnya bisa tahu. “Y-ya, begitulah.”


“Lalu, saat posisimu terbalik, apa yang akan kau lakukan?”


“Apa maksudmu sebenarnya? Tentu saja aku akan bertahan!”


“Haaah....” Zacht tampak kecewa. “Dengarlah aku, Nova!” ia mengubah intonasinya menjadi terus-menerus membentak. “Apa harga dirimu sebagai Dormant hanyalah sebatas itu?! Kenapa masalah berkuda-kuda saja kau tidak mengerti?! Ini adalah hal paling dasar yang bisa dikuasai oleh semua keluarga Dormant, bahkan ibumu sendiri!”


Novalius terbelalak. “A-apa-apaan? Ibu bahkan tidak bisa berpedang!”


“Ara.” Cecily ikut masuk ke dalam lapangan. “Itu karena kau hanya menghabiskan waktu latihanmu sendiri dengan keegoisanmu yang tinggi dan rasa terlalu percaya diri kaubisa melakukan semuanya dengan sempurna sendirian hanya karena kau memiliki bakat. Makanya kau tidak tahu.”


Cecily menengadahkan tangan kirinya—meminta Zacht untuk meminjamkan rapier-nya. Begitu menerimanya, ia memutar-mutar rapier itu seperti gasing, baru memegangnya dengan benar.


“A-aku tidak pernah tahu ini! Sekarang aku sudah akan kepala dua dan baru mengetahui ini? Kenapa Ibu merahasiakannya?!”


“Kkhhh...!” Novalius akhirnya mau tak mau ikut mengacungkan rapier-nya.


Cecily kemudian berkuda-kuda. Novalius sadar bahwa kuda-kuda yang dilakukan ibunya adalah kuda-kuda yang dipermasalahkan. “Nah, seranglah Ibu dengan segenap tenagamu. Terjanglah Ibu dengan niat membunuh jika kau mau. Ibu pasti akan mengatasinya.”


Sesuai permintaan ibunya, Novalius benar-benar berniat menyerang ibunya sendiri dengan tujuan membunuh. Cecily dan Zacht mengernyit, tapi hanya sebatas itu. Zacht menyingkir dari lapangan dan membiarkan mereka berdua berlatih untuk pertama kalinya.


Baik Novalius atau Cecily, keduanya berkuda-kuda yang sama. Jika tanpa pengalaman atau ada saksi awam diantara mereka, takkan ada yang paham siapa duluan yang akan menyerang. Tapi....


‘STEP!’


Novalius-lah yang menerjangkan kaki kanan untuk memberikan gaya dorong pada tubuh dan membiarkan tangan kanannya melakukan serangan mematikan.


‘SRASH SRASH SRASH!’


Novalius memberikan gerakan tusukan beruntun dengan ritme yang cepat. Tapi sayangnya....


“Ke-kenapa?!


“Kenapa tidak ada yang bisa menyentuhmu, Bu?!”


Cecily tetap diam di tempat dengan kuda-kuda yang sama dan hanya menggerakkan tangan kanannya saja untuk menangkis.


“’Kenapa’ katamu...? Tentu saja karena kuda-kudanya! Makanya kalau jadi anak, tidak usah terlalu sombong dengan bakatmu yang luar biasa itu! Apa yang akan kakekmu katakan jika kau jadi anak yang sombong yang merasa dirinya sudah hebat ini?


“Memangnya kenapa kalau kau pernah menang dari seorang Pangeran dari kerajaan lain? Apakah itu jadi prestasi bagimu?


“TIDAK!


“Prestasi yang bisa kaubanggakan adalah prestasi telah melindungi sesuatu yang berharga, dengan tekad dan keberanianmu!


“Apa kau sudah lupa tentang arti dari emblem kupu-kupu keluarga ini, Nova?!”

__ADS_1


Novalius terbelalak. Ia juga berhenti menyerang. Tidak hanya fakta bahwa ketidaktahuan dirinya tentang ibunya bisa semarah ini sambil bisa tetap mengayunkan rapier-nya dengan lihai, ia juga malu terhadap diri sendiri. Novalius kemudian jatuh tersungkur setelah menjatuhkan rapier-nya.


“Bertekad layaknya kupu-kupu ... dan menjadi berani. Kakek pernah bilang, kalau dua hal itu adalah hal terutama untuk bisa jadi sekuat dirinya. Lantas kenapa ... aku bisa melupakannya…?” ia mencengkeram rambutnya sendiri.


Zacht kemudian menimbrung. “Seperti istilahnya sendiri, kuda-kuda dipakai sebagai postur untuk memperkuat otot kakimu. Aku tak menyangka harus menjelaskan hal dasar ini padamu lagi yang sudah jadi pasukan khusus kerajaan, tapi apa boleh buat.


“Putri Zeeta sadar kuda-kudamu tak pernah kaugunakan untuk bertahan. Kau selalu menggunakannya untuk menyerang.


“Hal ini bisa dilakukan oleh siapapun yang sudah sering melihat kuda-kuda atau memakainya sendiri. Ada titik-titik otot di kaki yang berbeda saat kau hendak menyerang atau bertahan—kendati kuda-kuda yang kaugunakan selalu sama.


“Kuda-kuda sangat penting untuk keluarga yang berlatar pedang seperti kita. Janganlah pernah lagi melakukan kesalahan memalukan ini, Nova!”


......................


“Jadi, singkatnya,” ujar Mintia, “setelah latihan ulangmu yang kesekian kalinya dengan Zeeta, kau jadi bisa mengubah serangan mematikan jadi serangan bertahan dari kuda-kudamu?”


“Yap! Benar sekali!”


“Apa Zeeta yang mengajarkannya padamu?”


“Hmmm... entahlah. Yang bisa kuingat beliau selalu tidak terima kapanpun aku terlalu fokus untuk menyerang fatal.”


“Itu artinya ... Manusia di depanku ini benar-benar bisa jadi ancaman mematikan kalau Zeeta tidak melatihnya!


“Selain pernah bisa menang dari seorang Benih Yggdrasil, dia yang selalu fokus untuk melakukan serangan fatal, bisa memutar balikkan sejarah keluarganya!


“A-aku sungguh bersyukur dia tidak salah jalan...! Tapi, bukankah dia jadi semakin berbahaya karena bisa melakukan hal gila ini?!”


“Nah!” Novalius bertolak pinggang. “Karena jalan sudah terbuka, sekaligus salju menjengkelkannya sudah tidak ada, bagaimana kalau kita langsung menghampiri kubah itu?”


“Y-ya. Ide yang bagus....” Mintia membiarkan Novalius memimpin jalan.


Beberapa saat kemudian....


“Tunggu!” Mintia merasakan ada mana yang mendekat. “Mana ini ... Phantasmal yang ada di belakang kita...!”


Novalius melotot saat mendengarnya. “Ja-jangan-jangan Marcus…!”


.


.


.


.


“Heeeii!” suara seorang gadis terdengar familiar bagi Novalius.


“Huh...? Suara ini…?”


Kemudian, dari langit....


‘BWHAAMM!’


Mintia dan Novalius tertimbun oleh salju yang terpental oleh sesuatu yang besar yang telah mendarat di dekat mereka.


“Hei! Sudah kukatakan untuk mendarat perlahan-lahan, dasar Phantasmal bodoh!” seorang Elf lelaki memukul dengan tangan kanannya.


“Su-suara itu?!” sekarang giliran Mintia yang merasa kenal.


“Yo, Bocah-Bocah tengik!” seorang siluman rubah ikut muncul dari balik bulu makhluk besar berbulu lebat itu.


"Hai. Sepertinya kalian berhasil, ya!" Marcus yang dikhawatirkan juga menunjukkan batang hidungnya.


“A-apa yang sebenarnya terjadi...?" batin Novalius dan Mintia yang kebetulan sama.

__ADS_1


__ADS_2