
Tellaura sedang menggendong Clarissa lurus menuju timur laut, setelah diarahkan oleh wanita yang diketahuinya bukanlah manusia. Dalam perjalanannya, ia mengingat kata-kata si wanita tanpa nama tersebut.
“Ini adalah sihir yang hanya bisa kulakukan,” ujar Jeanne, “jadi kupastikan kaubisa selamat sampai desamu. Turutilah saja kata-kataku, meskipun di telingamu terdengar tidak masuk akal. Mengerti?”
“U-uhm.” Tellaura mengangguk. “Memangnya hal tak masuk akal seperti apa yang harus kulakukan?” batinnya.
“Begitu kau sampai di sungai, telentanglah di atasnya laksana kau sedang tidur seperti biasa. Dekaplah adikmu dan jangan sampai terlepas.” Jeanne menghampiri Tellaura, kemudian menuliskan Rune Fehu dan Algiz.
...(Rune Algiz)...
...(Rune Fehu)...
“Meskipun aku tidak mengantarmu hingga ke sungai, kau pasti akan mencapainya. Sihirku pasti membantumu.”
“Dua huruf tertulis dari jarinya! A-apa itu barusan…?!” batin Tellaura yang berdecak kagum dengan mata yang berbinar-binar saat melihat tulisan “unik” yang tertulis begitu saja melalui jari Jeanne. Dirinya menuliskan dua huruf tersebut tepat di hadapan Tellaura. Tulisan unik menurut gadis kecil tersebut begitu memukau dengan gemerlap biru yang sewarna dengan matanya.
Tellaura lalu sedikit tersentak saat Jeanne menggendong Clarissa dalam dekapannya. Tidak hanya itu, dia juga mengulurkan tangannya pada Tellaura agar menggandengnya. “Ayo. Aku akan mengantar kalian keluar dari hutan ini.”
Tellaura merasakan kehangatan di dalam hatinya. “Terima kasih, oh Wanita yang Tidak Kukenal.” Dia menerima uluran tangan Jeanne.
Mendengarnya, Jeanne jadi tersenyum. “Sama-sama, Gadis Kecil Berambut Merah.”
......................
Sang kakak yang masih dalam kondisi terlukanya, sudah sangat cukup berjasa untuk terus membawa adiknya yang selama ini tak sadarkan diri. Dengan bantuan Rune yang telah dituliskan Jeanne, menurut dirinya, dia seperti diarahkan begitu saja arah-arah yang harus dia ambil. Terkadang ia harus melewati ilalang-ilalang yang tingginya mencapai dadanya, terkadang melewati jalan bebatuan, dan terkadang dia juga harus melewati jalanan yang terjal.
Sampailah mereka ke sungai setelah lamanya sang kakak berjalan selama dua jam lebih. Kakinya tentu terasa begitu keram, sakit, dan dia juga ingin menangis disaat itu juga, tetapi entah kenapa—dia meyakini bahwa sihir yang dituliskan wanita berambut pirang padanya itu membuatnya bisa tetap berjuang lebih keras. Dia sama sekali tidak mengerti bahwa Rune yang dituliskan Jeanne hanya memberi efek keberuntungan—Fehu; keamanan perjalanan dan juga memberi bantuan arah ke tujuan yang diinginkan—Algiz.
Keduanya sampai ke hamparan rerumputan yang ditemani dengan cantiknya sejumlah hamparan bunga yang sedang menguncup. Dibalik kuncupnya para bunga, terdapat kunang-kunang yang masih dalam aktivitas hidup pendeknya.
Merasa lega karena bisa sampai sejauh ini, Tellaura meletakkan Clarissa di tanah. “Aku tak percaya ini...,” gumamnya, “aku benar-benar bisa sampai ke sungai. Aku kira aku hanya dibodohi... karena kami tak kunjung sampai ke sini...!
“Tapi...!” tangis mulai menggenangi mata Tellaura. “Syukurlah.... Syukurlah kami bisa sejauh ini!
“Terima kasih... terima kasih karena sudah membantuku!”
Mendadak, karena kelelahannya, si kakak yang sudah letih berjalan akhirnya kehilangan kekuatannya dan terjatuh telentang begitu saja di dekat adiknya. Ia menatap langit malam yang cantik ibarat permadani yang dihias dengan gemerlap permata. Lagi-lagi, tangis menggenangi matanya. Ia langsung menggertak gigi. “Kuatkanlah dirimu, Laura! Ini bukanlah saatnya bagimu untuk menangis, dan kau tidak memiliki waktu untuk melakukannya!” ia kemudian bangun untuk menyadarkan adiknya.
.
.
.
.
Setelah Clarissa terbangun dan mendapatkan informasi sedikit tentang dimana mereka sekarang berada, dia melihat tangan, luka-luka lebam yang masih tertinggal di tubuh kakaknya, serta darah yang sudah mengering di tangannya. Seketika sang adik mengingat kejadian saat dia siuman sesaat—dimana dirinya mendengar kakaknya memerintah dirinya agar tidak melihat apa yang sedang terjadi.
“Adikku. Dengarkan aku,” ujar Tellaura, yang menyembunyikan tangan penuh darah di belakang tubuhnya—meskipun sudah terlambat. “Di dunia ini, kau hanya tinggal memilikiku, dan aku hanya memilikimu. Meskipun kau selalu merepotkanku, kau adalah Adikku, yang akan selalu kulindungi.
“Mengerti?” Tellaura mengakhiri ucapannya dengan senyuman terpaksa.
Clarissa yang sebenarnya mengerti apa yang sudah dialami kakaknya terdiam untuk sesaat. “Tidak mau.”
Jawaban yang sama sekali tidak diduga akan didengar oleh sosok yang sudah sejauh ini ia lindungi hingga ia melalui semua kejadian-kejadian menyakitkan untuknya, membuat sang kakak menjatuhkan dagu dengan mata yang terbelalak. “Eh...? Dik..., kaubilang apa?”
“Aku bilang ... aku tidak mau!”
“Ke-kenapa...?!” tangan Tellaura mulai bergemetar.
“Tidak mau ya tidak mau!”
“Tsk...” Sang kakak merasa sudah cukup dengan semua “lelucon” ini.
Tellaura yang terus menunduk dan terdiam cukup lama untuk sekali lagi, membuat Clarissa bingung. “Kakak...?”
Tiba-tiba....
“KENAPA KAU TIDAK PERNAH MENDENGARKAN KATA-KATAKU?!” Tellaura membanting adiknya ke tanah dengan dorongan pada bahunya. “Kaulihat tangan ini?! Lihat betapa rusaknya tangan ini!?
__ADS_1
“Aku melakukan ini untukmu!
“Untuk melindungimu!
“Ayah dan ibu sudah mati, Risa! Jika kau tidak ada untukku, maka untuk apa aku membun—uggghhh...!” Tellaura menangis. Ia tak kuasa lagi untuk menahan semuanya dari dalam dirinya sendiri. Dia juga tidak bisa mengungkap sekotor apa perbuatan dirinya hanya untuk menyelamatkan adiknya. Dia tidak bisa dan tidak tega melakukannya.
Meskipun dirinya sudah dibanting oleh kakaknya sendiri, Clarissa tidak memermasalahkannya. Dia justru memeluk kakaknya yang masih deras dengan tangisnya itu dalam dekapannya. “Dasar Kakak ini...,” katanya, “maksudku... aku tidak mau kalau hanya Kakak saja yang melindungiku, oleh karena itu aku juga akan melindungimu, hehe!” Clarissa menunjukkan senyum gembiranya. Hal itu menyerang hati dan kepala sang kakak.
“Aku...,” lanjut Clarissa, “mendengar inti dari percakapan dirimu dan pria berambut hitam, jadi kau tidak perlu menceritakannya lagi.
“Kita mungkin adalah keturunan monster, kita juga mungkin MEMANG adalah monster, tapi....
“Kakak... kuyakin, kita pasti kuat bila kita terus bersama-sama!”
“Sialan! Kau sungguh Adik yang merepotkan!” Tellaura memeluk erat Clarissa. Posisi mereka masih tidak berubah.
......................
Setelah itu, sepasang kakak-adik itu pulang dengan metode gila. Kepulangannya ke desa asal mereka, sayangnya tidak begitu disambut para penduduk. Memang seperti ucapannya, Tellaura yakin si wanita berambut pirang yang sudah membantunya itu, benar-benar memegang kata-katanya. Sesulit apapun kehidupan mereka di desa, wanita itu tidak pernah datang membantu mereka. Bukan berarti dia berharap, tetapi bukan berarti juga dia tidak menginginkan bantuannya.
Karena....
Selama belasan tahun setelahnya hidup sebatang kara bersama adiknya, satu-satunya sosok yang ia tahu mau membantu tanpa tanda jasa untuk mereka hanyalah wanita itu saja.
Namun, dia sama sekali tidak memikirkan secuilpun tentang apa yang terjadi setelah dirinya meninggalkan Southern Flare....
.
.
.
.
Genangan darah yang sudah mengering dan menyatu menjadi tanah dan bangunan membuat orang-orang yang menyelidiki “daerah kumuh” harus menahan jijik, mual, dan rasa enggan untuk terus berada di tempat yang sama. Kondisi orang-orang di seluruh daerah tersebut habis tak bersisa dengan kondisi tercerai berai seolah-olah mereka meledak atas sesuatu.
Satu-satunya bahan ledakan yang mereka miliki hanyalah batu hiasan—kristal berwarna merah kirmizi—yang menjadi “tanda pengenal” para bangsawan. Kendati demikian, kristal tersebut hanya bisa meledak dengan panas yang amat tinggi. Dan bahkan jika meledak, tentunya akan meledakkan bangunan-bangunan para penduduk malang yang jauh dari kata kokoh tersebut.
Mereka yang menyelidiki membawakan laporan tersebut pada seorang Putri bergelar Southern Flare Keenam. “Hanya seorang anak kecil saja yang selamat, katamu?” tanya Putri tersebut, “lalu, apa kalian menemukan jejak kakanda Sephiroth?”
“Semuanya tertutupi oleh darah...? Sulit dipercaya!”
“Ka-kami berani bersumpah, itu benar-benar nyata, Putri!”
“Tak mengapa. Jangan panik begitu, Luka.”
Sang penyelidik cukup terkejut mendengarnya.
“Hmm? Apa aku berkata sesuatu yang aneh? Apa aku salah menyebut namamu?”
“Ti-tidak! Sama sekali tidak benar—ma-maksudku Anda tidak salah menyebut namaku, Putri!”
“Aturlah napasmu. Aku tidak bisa mendengar laporanmu dengan baik bila kau terengah begitu.”
Luka Si Penyelidik tersenyum lalu mengatur napasnya. “Aku akan laporkan semua yang ingin Anda ketahui, bila aku mengetahuinya, Putri!”
“Bagus.
“Di mana anak kecil yang selamat itu? Apakah ayunda dan kakandaku sudah menaruh mata padanya?”
“Sejauh ini tidak, Putri. Seperti biasanya, mereka terpaku pada perubahan negeri ini.”
“Perubahan ... kah?” Putri Keenam itu—Corynna—mengingat ucapan kakak pertamanya. “Sebuah perubahan takkan hadir bila mereka melupakan sosok kecil sepertinya.
“Bawa aku kemana dia berada.”
“Ta-tapi, Putri, dia berada di penjara bawah tanah yang—“
“PENJARA BAWAH TANAH?!” Corynna langsung emosi mendengarnya. “Apa kau tidak tahu aku sangat membenci itu?! Kau bergerak dibawah namaku, lantas kenapa dia dibawa ke tempat seperti itu?! Segera rawat dia, dan bila tabib menolaknya, katakan saja aku yang memerintahmu!”
“Si-siap, Putri!”
.
__ADS_1
.
.
.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Corynna bisa bertatap wajah dengan Hilma. Usai mengalami hal pahit dengan Olav dan Sephiroth, Hilma menggeram dengan tatapan benci yang amat sangat dalam pada sang putri keenam.
“Mata itu...,” ujar Corynna, “kau memang tahu kakanda-kakandaku, ya?”
Hilma yang kondisi mulut, tangan, dan kakinya diikat oleh kain di atas kursi, menggeliat untuk terus melawan. Namun sayang, dia kalah kuat.
“Siapa nama dia, Luka?” tanya Corynna, yang ditemani Luka sendirian di ruang perawatan.
“Maaf Putri, kami tidak bisa menggalinya.”
“Begitu.”
“Kalau begitu, Dik, apa kau benci aku?”
Tatapan tajam diberikan Hilma. Urat-urat matanya bahkan terlihat.
“Apa kau benci kerajaan busuk ini?”
Hilma menggeram. Dua orang dewasa di depannya dibuat kaget dengan mulai robeknya tali yang mengikat tangannya.
Seakan sama sekali tidak ciut oleh “ancaman” itu, Corynna justru tersenyum. “Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kau akan jadi pelayanku.”
“Pu-Putri Corynna?! A-apa Anda serius?!”
“Kakanda dan ayundaku ingin mengubah kerajaan ini dengan cara mereka sendiri. Tetapi, kerajaan ini takkan bisa diubah bila orang-orangnya tidak berganti. Cincin kebencian akan terus terpasang pada garis keturunan dan pada garis rakyat yang sama.
“Anak itu akan jadi pengkhianat yang akan terbuang oleh kerajaan dan aku akan menjadi putri terbodoh dan teramoral sekerajaan.” Corynna menyeringai. “Luka, apa kau masih ingin bekerja di bawah namaku?
“Aku tidak bisa menjanjikanmu kekayaan, kepastian nyawa keluargamu, atau bahkan menjanjikanmu tempat tinggal.
“Tetapi aku bisa menjanjikanmu untuk menguak kebenaran dunia, lewat anak kecil ini.”
Luka yang berkulit hitam serta berambut ikal tersebut mengernyit. “Maaf jika aku lancang, Putri, tetapi di mata Anda, sebenarnya apa nilai anak ini...?”
“Kau tidak menyadarinya, Kepala Penyelidik?
“Anak ini menyaksikan kebenaran tentang kakanda Sephiroth dan kakanda Olav. Saudara dan saudariku bilang kalau kakanda Olav sudah mati, sementara kakanda Sephiroth takkan lagi kembali pada kerajaan.
“Jika anak ini menyaksikan semuanya, maka tinggi kemungkinan dia tahu sebagian kecil yang telah diketahui tiga kakak-kakakku itu. Dan pasti, dari matanya yang berapi-api itu, dia memiliki dendam yang sangat besar yang takkan bisa dipadamkan bila dendam itu tak dituntaskannya.
“Dendam itu pastilah berkaitan dengan bangsawan kerajaan—keluargaku sendiri. Kendati aku seorang anggotanya, tetapi aku tidak pernah diberikan izin untuk mengetahuinya.
“Apa kautahu alasannya mengapa, Luka?”
Luka menggeleng.
“Itu karena aku memiliki ambisi.
“Ambisi untuk meruntuhkan takhta bodoh ini. Tak peduli harus seberapa lama dan payahnya itu, aku ingin meruntuhkan Southern Flare yang sudah terlalu busuk ini!
“Dan aku yakin ... cara itu tersimpan dibalik bara panasnya api dendam anak ini.”
“Ta-tapi ... bagaimana bila itu—“
“Meleset?”
Luka terdiam seribu bahasa. Corynna berhasil menebaknya.
“Jika aku meleset, maka ambisiku akan diteruskan pada orang lain yang kelak akan memilikinya, Luka.
“Aku tidak takut bila aku mati ditangan keluargaku sendiri, karena pada dasarnya, aku tahu aku diluar lingkaran mereka. Oleh karena itu, aku melakukan segala yang kubisa demi mengejar lingkaran tersebut.
“Aku lebih takut bila anak ini semakin rusak oleh kedok bangsawan yang menindas rakyatnya sendiri dengan mengatasnamakan keadilan kerajaan.
“Dik, bila mata itu melihatku sebagai sebuah ancaman....” Corynna mengambil pisau bedah lalu memotong kain yang mengikat tangan Hilma. Dia lalu menyodorkan gagang pisau bedah itu pada Hilma. “Kau boleh belah nadiku sekarang juga.”
“Pu-Putri Corynna?! Apa yang baru saja Anda katakan?!” Luka panik sepanik-paniknya.
__ADS_1
Hilma melepas kain yang menutup mulutnya. “Aku adalah pembunuh bayaran. Bayarlah aku untuk setiap keinginanmu, Corynna.”
Corynna tersenyum. “Fufu. Sepakat.”