Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Perbedaan Level


__ADS_3

[Sebelum Kembalinya Zeeta ke Aurora....]


Di hutan kolosal bernama Astray Land, Maisie sedang menuntun Zeeta ke luar. Zeeta sendiri terkagum dengan makhluk hidup yang tinggal di sini seperti burung yang bersarang di batang menjulang ke atas, atau burung berparuh besar yang terlihat mampu menghancurkan tulang dalam sekali patuk. Dengan paruh sebesar itu, tentu tubuhnya juga tidak kalah besar.


Jika harus dikomparasi, burung berparuh besar yang mampu berlari dengan dua cakar tajamnya ini, mereka jauh lebih besar daripada Maisie, atau Zeeta yang saat ini baru setinggi dadanya. Tentunya, masih ada hewan lain yang belum pernah dilihat Zeeta sebelumnya. Seperti harimau berbulu biru dan bercorak putih, kedua taringnya bahkan bisa dipakai untuk pisau Manusia. Namun, bukan ide bagus untuk mendekatinya. Harimau-harimau ini mampu mengeluarkan aliran listrik untuk bertahan atau memangsa.


Selain kedua hewan itu, Zeeta pun mendapati rusa besar dengan kaki berselimutkan "kaus kaki" es yang meruncing hingga ke atas keempat lututnya. Es itu menjatuhkan salju dan menjaganya dari suhu panas. Kesemua hewan yang dilihat Zeeta itu hanya menatap keduanya tanpa melakukan apapun. Ia sadar ada sesuatu yang aneh.


"Hei, apa hewan-hewan di sini memang tidak menyerang Manusia?" tanya Zeeta langsung pada inti.


Maisie terhenti. "Apa maksudmu? Tentu saja mereka menyerang. Lagi pula, ini kan hutan." Maisie melanjutkan jalannya. "Jika kau heran, itu karena mereka melihat kami, makhluk sihir yang sudah 'dipercayai' Astray Land untuk keluar-masuk. Kalau kau sendirian tanpa kami, bahkan rusa besar itu mampu mendadak menjadi karnivora, meskipun mereka sebenarnya herbivora."


"Aneh, kenapa?"


"Oh? Aku tak menyangka kau tidak begitu terkejut."


"Tubuh, tanduk, dan kaki mereka yang besar, membuat siapapun tahu kalau mereka berbahaya. Tatapan mereka padaku juga kurasakan tajam. Mereka sangat menolak kehadiranku dan seakan ingin segera mengoyakku dengan tanduknya yang gagah."


"Apa boleh buat. Manusia yang datang ke sini tak pernah menunjukkan niat baik mereka."


"Yah, aku tak bisa menyangkalnya."


"Tapi, kau tidak sadar bukan karena hal itu kau dilirik seperti itu oleh hewan-hewan di sini, ya? Hmmm." Ucapan Maisie menimbulkan tanda tanya besar untuk Zeeta.


"Eh? Apa maksudmu?" tanya Zeeta.


"Mereka takut padamu."


"E-eeh?"


"Mereka telah menjaga hutan ini turun-temurun. Ini layaknya rumah bagi mereka. Bayangkan, jika ada orang asing dengan kekuatan misterius yang sama sekali tidak kauketahui asal-usulnya, apakah kau akan diam saja?"


"Ah." Zeeta paham maksud Maisie.


"Ozy pun bilang padamu bukan, bahwa mungkin saja di dunia ini hanya kau dan dirinya yang bisa mewujudkan Rune kuno. Jika aku bukan Dryad yang mengetahui apapun yang terjadi di hutan, aku pun akan takut padamu."


"Jadi ini ... maksud paman Hugo dan Ozy untuk menipu ingatan siapapun yang mengetahuiku dan menekan seluruh mana-ku....


"Haaaah~ aku jadi benar-benar akan ditakuti oleh rakyatku sendiri, deh."


"Tidakkah kaulihat sisi baiknya?" Maisie sekali lagi membuat Zeeta mengernyitkan keningnya. "Kau adalah inti dari semua kejadian di dunia sihir ini. Suka tidak suka, kehadiranmu di dunia ini memengaruhi banyak hal. Entah hal itu adalah hal yang buruk, atau sebaliknya.


"Menekan mana sampai ke tingkat nol, tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Tunjukkanlah mana yang tidak wajar itu hanya ketika kau sangat terdesak.


"Kaupun memiliki banyak senjata demi melindungi apa yang jadi harta karun, dan apa yang menjadi janjimu, bukan?"


Zeeta tersenyum. Ia sadar bahwa Maisie benar. Bahkan jika itu membuat rakyatnya takut, ia tetap akan menuntaskan janjinya. Akan bohong jika dia merasa tidak cemas, tetapi ia sudah memantapkan tekadnya sejak lama. Lirikan, cemoohan, atau pendapat apapun yang ingin memojokkannya, ia akan menganggapnya sebagai dorongan untuk menjadi Putri yang lebih bisa diterima oleh mereka yang menolaknya.


......................


Kembalinya Luna ke ruang takhta, membuat para bangsawan utama di sana bertanda tanya. Bukankah ia pergi untuk membantu Crescent Void karena bahayanya lebih mematikan?


"Ada apa, Luna?" tanya Alicia, "apa kaulupa sesuatu?"


"Tidak. Aku mengurungkan niatku untuk membantu mereka." Ucapannya segera memanaskan banyak telinga.


"A-apa? Bukankah kau sendiri yang bilang mereka sangat berbahaya?!" seru Zacht.


"Tuan Zacht benar, Luna!" timpal Porte.


"Jangan buatku terus-terusan mengulanginya, Manusia!" bentakan Luna menciutkan dua ayah itu. "Aku hanya memihak pada Zeeta. Tugasku melatih mereka adalah kesepakatanku dengannya. Diluar semua itu, itu adalah masalah kalian!"


"Ta-tapi, meski begitu nyawa mere—" ucapan Porte dipotong Luna.


"Mereka akan baik-baik saja."


Alicia sempat tersentak begitu mendengar Luna, tetapi ia segera tersenyum.


"Hmm? Ada apa kau senyum-senyum begitu?" tanya Hazell.


"Tidak, hanya firasat seorang ibu."


"Hmmm?" Hazell gagal memahaminya.


"Tenanglah, Zacht, Porte. Malulah pada keegoisan kalian. Jika anak-anak kalian mendengar ini, mereka akan sangat marah, apa aku salah?"


Zacht dan Porte kembali tenang dan berdiri tegap bersama seorang Count lainnya, Rey Emeria, bersama sang Marchioness, Hellenia von Cloxzar.


"Lagi pula, menjadi pelindung kerajaan adalah kebanggaan mereka. Mereka juga pasti sadar tugas ini selalu mengancam nyawa. Sebagai orang tua, yang harus kalian lakukan adalah percaya pada mereka dan sambutlah kepulangannya!" sambung Alicia.

__ADS_1


"Ba-baik, Yang Mulia!" tegas kedua bangsawan pria itu.


.


.


.


.


Zeeta berdiri jauh di depan Crescent Void. Keenam orang di belakangnya menunggu apa yang hendak dilakukannya tanpa melakukan apapun.


"Apa yang ingin dilakukan Zeeta, ya, kira-kira?" gumam Gerda.


"Entahlah. Dia seperti patung sejak dia menyuruh kita menjauh...," balas Danny.


"Lihat! Dia mulai bergerak!" seru Mellynda. Semua mata langsung terbelalak dan fokus pada Zeeta.


Zeeta mengayun tangan kanannya sedikit ke atas, lalu memunculkan sihir kristal berkerucut berwarna ungu. Dari tangannya yang setengah ke atas itu, ia putar punggung tangannya ke kanan, dan merubah posisi si kristal. Kemudian ....


'KLIK!'


Zeeta menjentikkan jarinya. Kristal itu memanjang dan bunyi cipratan darah serta suara erangan terdengar.


"E-eh? Apa yang terjadi?" Mellynda bertanya-tanya.


"Lihat! Ada darah ... hijau di ujung kristalnya!" seru Marcus.


Perlahan-lahan, Si Ksatria mewujudkan tubuhnya yang telah terlubangi bagian perutnya. "Ba... gaimana bisa...?" tanyanya.


"Kau terlalu fokus pada apa yang kaulihat, yang secara sepihak kauanggap terlalu banyak celah untuk diserang.


"Padahal, tentu saja aku akan bergerak dari tempatku berdiri jika kau mampu memanjangkan bilah pedang itu, atau langsung menyerangku dengan gelombang ungu dari salah satu pedangmu.


"Kukatakan sekarang dan kuberi kau kesempatan. Aku tidak terlalu mahir berpedang, jadi aku akan membiarkanmu menyerangku. Jika kaupikir kaubisa melukaiku, aku akan membiarkan intimu yang ada bersama ular itu hidup dan kembalilah pada orang yang memerintahmu, lalu katakan padanya kalau....


"ZEETA AURORA XXI TELAH KEMBALI!"


Crescent Void sama sekali tidak menyangka bahwa Zeeta akan berbicara sombong seperti itu. "Apa yang sebenarnya direncanakan Zeeta?!" mereka semua membatin pertanyaan yang sama.


"Zeeta bodoooh!! Kenapa kau mengutarakan kelemahanmu?!" jerit Gerda emosi.


Si Ksatria mengingat ucapan seseorang sebelum mereka sampai ke sini.


"Camkan ini. Aku tak akan mentoleransi kekalahan dari kalian. Kalian adalah Phantasmal yang gagal, karena itulah aku berbaik hati mengubah kalian menjadi Hollow yang lebih berbahaya dari siapapun. Jika aku melihat kalian—tidak—bahkan jika aku merasa kalian takut dengan apa yang kalian hadapi, kuhancurkan kalian! Kalian takkan lagi melihat mimpi yang sangat kalian dambakan itu!"


Si Ksatria akhirnya menyetujui usulan Zeeta dengan dua kali anggukan. Zeeta menarik sihir kristalnya setelah menjentikkan jemarinya. Ia kemudian membiarkan Si Ksatria melayang di udara dengan sihirnya lagi dan langsung menyembuhkan total musuhnya sendiri.


Begitu kaki Si Ksatria menyentuh tanah setelah diturunkan perlahan oleh Zeeta. "Target dikonfirmasi, segera lenyapkan!" ia menghilang dari tempatnya dan meninggalkan jejak debu.


'ZRUATT!'


Si Ksatria menusuk perut Zeeta hingga mengotori zirah dan pedangnya sendiri dengan darah. Ia menarik pedang itu dengan bantuan kakinya, lalu ia menebasnya lagi secara menyamping dengan pedang lainnya.


Mereka yang menjadi penonton terbelalak dengan pemandangan itu. Di hadapan mereka sendiri, Zeeta terbelah dua.


"Target tereliminasi. Misi selesai." Si Ksatria mengayunkan kedua pedangnya untuk membersihkan darah lalu memasukkannya ke dalam sarungnya.


"Zee... Zeeta...?" Gerda bergemetar.


"Tenang saja, aku tidak apa!" suara Zeeta terdengar tidak hanya oleh Gerda, tetapi Si Ksatria juga.


"A-apa?!" semua mata mencari ke setiap sudut dari mana sumber suara itu berasal.


"Aku ada di sini!" Zeeta menepuk bahu Si Ksatria. Ia tersenyum.


"Bagaimana—"


"Kau boleh menantangku juga, lhooo. Aku tidak keberatan meladenimu sekarang!" pekik Zeeta.


Tidak lama kemudian, bilah-bilah merah meluncur jauh di seberang Zeeta. Selain berwarna merah kehitaman, bilah-bilah itu mengalirkan petir karena jumlah yang diluncurkan lebih dari hitungan jari. Bisa ditebak dari mata telanjang betapa destruktifnya bilah itu jika mendarat.


"Zeeta! Bilah-bilah itu bisa menetralkan sihirmu, berhati-hatilah!" pekik Mellynda.


"Kau benar! Ini bahaya!" pekik Zeeta, "tapi tenang saja!" Zeeta mengubah cincin Catastrophe Seal-nya menjadi tongkat sihir.


"I-itu?!" Si Ksatria, juga Gerda, Danny, Marcus, dan Mellynda terkejut melihat Zeeta memakai senjata itu.


"Uruz!" Zeeta menulis Rune di bilah lawan yang paling tengah.

__ADS_1


"Apa yang Zeeta lakukan?" tanya Mellynda.


"Entahlah. Tapi ... dia tidak menyihir sesuatu...," balas Gerda.


Tidak lama setelah itu, bilah yang tertulis Uruz itu meledak dan diikuti bilah lain, hingga menyebabkan rentetan ledakan besar. Ledakan-ledakan itu menyebabkan hempasan angin kencang hingga memaksa Crescent Void menutup mata dengan bantuan lengannya.


Setelah hempasan angin itu mereda, Si Ular menampakkan dirinya dengan bantuan sayap yang muncul di sisik-sisiknya.


"Uwah... makhluk sihir memang sesuatu, ya!" seru Zeeta. Setelah Si Ular pergi ke sisi Si Ksatria, Zeeta lanjut bicara. "Kalian memang Hollow yang kuat. Apakah kalian sadar kenapa?"


Keduanya bungkam.


"Satu; ilmu berpedangmu tidak terlalu hebat, karena kau hanya menerima ingatan-ingatan paksaan dari kebencian yang kauterima, kau bahkan bukan Phantasmal yang yang memiliki ilmu itu.


"Dan yang kedua; meskipun begitu, kau menerima kekuatan lebih dari orang yang membunuh—menjadikanmu Hollow. Kau bahkan tidak memiliki alasan untuk menjadi Hollow, berbeda dari semua Hollow yang pernah ada.


"Kau tidak memancarkan kebencian. Kau malah memancarkan ketakutan akan kebencian seseorang. Aku tahu semuanya, oh orang yang sedang melihatku melalui mata mereka!


"Si Ksatria ini mampu menebak sihir apa yang akan digunakan sang lawan, karena itulah Novalius gagal memakai pedang ilusinya. Sementara Si Ular, bersama dengan serangan destruktifnya, ia bisa menetralkan sihir—mengecualikan sihir yang diciptakan dari mana alam.


"Kau—orang yang memerintah dua Hollow ini—tahu bahwa Crescent Void tak mampu menggunakan mana alam. Tidak, aku salah, mereka hanya belum mampu karena tiada yang bersedia melatihnya.


"Serangan ini dikhususkan untuk melenyapkan Crescent Void, tetapi kau tidak menduga, bahwa aku, datang dengan level yang jauh berbeda dan melangkahi semua rencanamu.


"Jika hari ini aku tidak pulang, mungkin ini adalah kekalahan untuk kami. Asal kautahu, aku tahu dimana letakmu bersembunyi sekarang, karena mana-mu yang meningkat karena emosi, lho.


"Tapi, kau tenang saja. Letakmu sangat jauh dari Aurora, meskipun ke sana sekarang, aku bahkan tidak tahu apa yang akan menyambutku di sana. Itu hanya akan merugikanku jika aku langsung mendatangimu."


Mendadak, setelah semua yang dikatakan Zeeta dengan penuh percaya diri, ia terbelalak. Segeralah dirinya berteriak, "SEMUANYA BERLINDUNGLAH!"


.


.


.


.


'BWOOOMMM!'


Ledakan merah kehitaman membumbung tinggi, mengejutkan tidak hanya Crescent Void, namun juga Zeeta.


"Cih, tidak terpancing, kah?!" Zeeta mengubah tongkat sihirnya menjadi sabit. Ia segera merapal bersama dengan anting bulan dan sabit yang bersinar.


"Dengarlah aku, wahai penguasa kehidupan mistik. Patuhilah aku sebagai tuanmu yang akan memusnahkan bencana di depanku...!"


Colette yang baru kali ini melihat Zeeta memakai Catastrophe Seal, menatap Zeeta dengan mata yang penuh binar.


Sebuah monster berkaki empat tak berbentuk jelas—entah itu sebuah ular, ular berkaki, ular berkepala manusia atau manusia bersisik ular, muncul dari balik ledakan dan hendak menerjang semua yang ada di hadapannya. "RRROOOR....HHH!" erangnya.


Tanpa rasa gentar, Zeeta berkuda-kuda—menarik kaki kiri ke belakang dan bersiap mengayunkan sabitnya, begitu ia selesai merapal. "Dunia ini adalah dunia yang diciptakan untuk kedamaian. Dunia ini bukanlah dunia yang pantas untuk engkau tinggali. Oh, wahai makhluk yang tersesat, kembalilah menuju kehampaan!"


Monster Hollow itu menerjang Zeeta dan mengarahkan mulut padanya.


"ZEETAAA!!" pekik Gerda cemas.


"CATASTROPHE SEAAALL!!"


'ZRINGG!'


Zeeta berhasil menebas monster itu tepat sebelum ia masuk ke dalam mulutnya. Hollow itu berubah menjadi butiran mana emas dan kembali ke alam. Zeeta mengubah kembali sabitnya menjadi cincin.


"Apa yang kali ini kupicu muncul ke dunia ini...?" batin Zeeta. Ia menatap jauh ke seberangnya—lautan dan pegunungan.


"Zeeetaaaaa!!" Gerda berlari menghampiri Zeeta sekali lagi. "Dasar! Kau terus-terusan membuatku khawatir! Jantungku serasa mau copot! Rasa khawatirku ini lebih banyak kurasakan daripada kita kecil dulu!


"Sayangilah nyawamu, duuuhhh!"


"Hehehe, maaf membuatmu khawatir. Aku terlalu percaya diri. Ini juga strategiku untuk menggali informasi siapa dalang dari kejadian ini dan enam setengah tahun yang lalu."


"Jadi, Putri, apa Anda bisa mengetahuinya?" tanya Marcus.


"Sayangnya tidak. Aku hanya tahu dimana lokasi dia berada. Tidak kurang dan tidak lebih."


""Begitu...."


"Baiklah, karena sudah selesai, ayo kembali. Aku ingin menikmati lagi festival Evergreen ini. Ah, aku juga belum menemui ibu.... Oh! Aku juga ingin bertemu ayah Arthur!"


Melihat punggung Zeeta yang ceria mengajak Crescent Void tersenyum. Mereka mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2