
Phantasmal....
Makhluk hidup yang digadang-gadang merupakan "buah dari Yggdrasil". Hal ini disebabkan satu alasan yang perlahan-lahan mulai diketahui sebagai rahasia umum di pihak Manusia, yaitu mereka tercipta dari mimpi segala ras yang ada di dunia ini beserta dengan keinginan kuat makhluk yang ada di dekatnya. Sederhananya, Phantasmal serupa dengan mana. Mereka ada di sekitar kehidupan, namun takkan terwujud tanpa dua hal tersebut.
Pada awalnya, Phantasmal hanya ada di Tanah Ephemeral—tanah yang dikelilingi oleh hutan yang memberikan kesenangan, kebahagiaan, dan perasaan bangga ketika mimpi telah tercapai. Katakanlah tanah ini sebagai tanah yang penuh dengan ilusi dan rayuan. Sebab pada suatu waktu, tanah ini justru mewujudkan makhluk yang menjadi "lawan" dari Phantasmal, yaitu Hollow. Phantasmal terwujud dari keinginan yang "baik", sementara Hollow yang "jahat". Kata baik dan jahat memiliki makna universal tergantung siapa yang memikirkannya. Oleh sebab itu, dua makhluk ini memiliki wujud yang amat sangat beragam. Mereka pun tidak dapat tergolong dalam suatu ras, namun ada satu tempat yang menjadi "tempat pulang" bagi ratusan Phantasmal, yaitu Zephyr.
Tidaklah aneh bila otak Zeeta yang baru terbangun dari "mimpi buruk"-nya, menilai bahwa pemandangan yang ditangkap matanya, merupakan pemandangan di "after life".
"Dia sudah bangun!" ujar salah satu Phantasmal.
"Zephyr! Dia sudah bangun!" panggil Phantasmal lain.
Zeeta memosisikan tubuhnya untuk duduk lalu memegangi kepalanya. "Di mana aku?" tanyanya.
"Ini adalah rumahku, juga rumah mereka." Zephyr menjawab, seraya menghampirinya dengan tetap terbang.
"Apakah kau adalah Roh Kuno Angin, Zephyr?"
Zephyr mengangguk, kemudian menatap para Phantasmal. "Berikan ruang untuk kami. Tidak ada waktu untuk disia-siakan." Para Phantasmal segera membubarkan diri, lalu Zephyr mengistirahatkan sayapnya di tanah.
"Kau jauh lebih kecil daripada Undine dan Ifrit, ya.... Apa kaubisa mengubahnya sesuka hati?"
"Tidak. Memang seperti inilah wujudku. Apa aku membuatmu kecewa?"
Zeeta menggeleng. "Tidak, maafkan aku. Ayo lekas bicarakan tentang Ragnarok ini. Kau benar, tidak ada waktu untuk disia-siakan."
Zephyr mengangguk. "Dengan kekuatanku, aku bisa mengetahui segala yang sedang terjadi di daratan, tanpa terkecuali, apabila aku menginginkannya.
"Sejak tujuh belas tahun lalu, aku selalu mengawasi pertumbuhan kekuatanmu dan jujur saja, aku cukup dibuat terkejut.
"Hanya dirimulah satu-satunya Manusia yang memiliki kekuatan sebesar ini. Maka bukan tidak mungkin jika dirimu mampu menghancurkan dunia seorang diri.
"Syukur, berkat teman-teman dan sekutumu, dirimu bisa seperti sekarang ini. Aku tidak membutuhkan alasan mengapa dirimu berjuang sekeras ini agar mengizinkanmu memakai kekuatanku demi Rhongomyniad, tetapi aku harus tahu dunia seperti apa yang sering kaudambakan seorang diri dan hanya beberapa orang yang mampu menebaknya."
"Lalu, apa keputusanmu?"
"Sebelum menjawabnya, aku harus katakan ini.
"Mimpi yang baru saja kaulihat ada sangkut-pautnya dengan Rune Kaunaz-mu, namun seperti yang kauketahui dan sangat pahami, masa depan itu selalu bisa berubah. Menuju ke hal positif ataupun negatif, tergantung pilihan seseorang."
Zeeta terkesiap mendengarnya.
__ADS_1
"Ya, itu benar. Kekuatanku mampu melihat apa yang kaulihat. Kau adalah Penyihir Harapan, bahkan Roh Yggdrasil yang menjadikanmu Wadah, tak ingin melihatmu menderita seperti sebelumnya.
"Kau sudah mengerti apa yang menunggumu dengan kekuatan kami dan aku sudah melihat dunia seperti apa yang ingin kauciptakan dengan kekuatan Yggdrasil. Setelahnya, sisakan pada kami. Kau hanya perlu fokus pada dua hal; dirimu yang lain dan mengusaikan Ragnarok."
Zeeta berwajah serius. "Aku mengerti."
"Namun, sayangnya, Zeeta...." Zephyr mengangkat sayap kirinya ke atas—menyuruh Zeeta untuk melihat ke arahnya.
Zeeta terbelalak. Ia mendapati langit dipenuhi oleh lingkaran sihir hitam dengan Rune Thurisaz di tengahnya. Bongkahan besar menyerupai meteor muncul dari lingkaran sihir tersebut.
"Angin telah memberitahuku bahwa dirimu yang lain benar-benar telah berhasil memperparah Ragnarok."
Zeeta melihat ada satu lingkaran sihir yang sesaat lagi selesai "memuntahkan" meteornya. Ia menggertak keras bersama dengan wajah marahnya. Dia mengaktifkan Catastrophe Seal bentuk tongkat sihirnya, lalu menghancurkan meteor tersebut dengannya.
'BWHAMM!'
Angin kencang menerpa mereka semua, memaksa rambut, bulu, dan segala yang ada di sekitar tersapu.
"Aku harus segera menghentikan semua ini! Cepatlah, apa yang akan kaukatakan lagi!?"
"Biarkan kami semua yang melawan Jormungand, fokuslah pada dirimu yang lain."
"Raksasa tidak semuanya jahat, Benih Yggdrasil." Suara seorang wanita terdengar di sekitar mereka. "Sama halnya dengan Manusia, begitu pun dengan makhluk yang lain."
"Si-siapa ini?"
"Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Aku tidak berada di pihakmu, namun aku tidak ingin dunia ini hancur. Kau yang menjadi pusat atas segala yang terjadi, akan kuberi bantuan. Seperti kata Roh Kuno itu, fokuslah saja pada tujuanmu yang saat ini."
"Huuup...." Zeeta mengambil napas dalam-dalam. "Fyuuuhh...." Kemudian menghembusnya perlahan. "Apa Ifrit sudah mengizinkanku?"
"Tidak, belum." Zephyr menjawabnya.
"Begitu." Zeeta melakukan pemanasan pada seluruh anggota tubuhnya. "Luna! Ayo segera temui dia dan biarkan mereka mengatasinya!" jeritnya.
Luna lalu menghampirinya. "Kauyakin? Mereka masih dalam kepanikan, lho."
"Aku percaya pada mereka."
"Begitu? Baiklah. Meski kita tidak bisa melakukan Spirit Warble, aku tetap akan membantumu."
__ADS_1
"Ya, aku tahu dan kau pun harus ada di sana. Ada gadis cengeng yang harus disadarkan dengan kekerasan....
"Baiklah, kuandalkan kalian semua, jadi mohon bantuannya!"
Zeeta mengacungkan jempol, lalu segera hilang dengan teleportasinya.
......................
[Beberapa waktu setelah gerbang Jötunnheim dan Drékaheim terbuka, di kerajaan Aurora....]
Bunyi alarm menggema keras di seluruh wilayah Aurora. Para bangsawan utama dan beberapa bangsawan lainnya, sejak terkunci kembali untuk sesaatnya kedua gerbang penanda Ragnarok tiba, selalu mengawasi perubahan dari Rune milik Ozy. Bahkan ketika itu menunjukkan keretakannya, mereka sudah mulai waspada.
"CEPATLAH!" seru Albert yang berkeringat. "Ragnarok sudah tiba! Selamatkan diri dan keluarga kalian ke dunia dimensi milik Ratu!"
Para penduduk Aurora sangat panik ketika melihat tidak hanya satu atau dua Naga dan Raksasa, namun lebih dari segerombolan sedang mengarah pada mereka. Banyak terdengar tangisan anak-anak karena ketakutan, namun para orang tua dan orang dewasa yang mengerti tentang hal ini berusaha menenangkan mereka dan tetap berlari menyelamatkan diri.
'BLARRR!!!'
Ledakan sangat besar membuat siapapun terkejut dan segera memaksanya untuk menunduk dengan memegangi kepala. Albert yang sedang memandu para rakyatnya bersama dengan bangsawan dan sukarelawan lain, melihat ke sumber ledakan.
Medan pelindung yang tercipta dari tergabungnya beberapa kekuatan dari Manusia dan makhluk sihir, retak dengan mudah hanya dengan satu serangan dari seekor Naga saja.
"ROOAAAARR!" Naga itu mengaum, menunjukkan giginya yang tajam dan ukuran tubuhnya yang cukup besar. Karena satu sosok dan daya hancur darinya saja, mampu memaksa penduduk Aurora semakin panik dan saling dorong, membuat situasinya semakin parah.
"Jangan saling dorong atau kalian akan terluka!" jerit para bangsawan dan Albert. "Cih, ini lebih parah dari bayanganku!"
Namun....
'ZDAARR!!'
Petir ungu menyambar Naga itu walau tak ada awan gelap. Ashley datang dengan mode "Goddess of Thunder"-nya. Naga itu hangus, namun masih mampu menyelamatkan diri dengan menjauh. "Apa yang kalian takutkan, wahai Aurora?!" serunya, "sudah sejak lama kalian diberitahu tentang ini!
"Bahkan kita semua sudah bersiap untuk hari ini!
"Hanya dua hal sederhana saja yang perlu dilakukan oleh kalian!
"Dan itu adalah percaya pada kami dan menyemangati kami yang berjuang demi dunia!
"Hidup dan teruskanlah kisah di hari ini untuk anak-cucu kita, agar hari ini TIDAK PERNAH terulang lagi!"
"Ibu...," batin Albert tersenyum. "Nah, kalian sudah mendengarnya! Jangan buat Putri Zeeta yang juga berjuang demi kalian sedih karena ketakutan kalian! Kita selesaikan Ragnarok ini bersama-sama!"
__ADS_1
Dengan rangkaian kalimat dari dua penguasa besar di negeri ini, rakyat mampu digugah kembali api semangat dan keberaniannya. "YAAAA!!!"
Sementara itu, di halaman kediaman Ashley, Crescent Void sedang berkumpul secara melingkar. "Ayo lakukan ini dan kembali hidup-hidup, semuanya!" Marcus mengarahkan senjata sucinya ke tengah. Kelima anggotanya menyatukan senjata suci mereka, lalu bersama menjawab, "PASTI!"