Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Tanah Tanpa Kehangatan (1/2)


__ADS_3

“Aku sudah berkeputusan!”


Zeeta mengingat ucapan teman bangsawan pertamanya, Mellynda von Ophenlis IX. Masih terkenang dalam memorinya, seperti apa dia mencurahkan isi hatinya—yang dari sebelumnya takut, benci, kemudian menjadi teman sekaligus rival.


“Aku, Mellynda von Ophenlis akan menjadi rivalmu. Berbanggalah!”


Mellynda mengucapkannya seolah rasa takut dan bencinya pada Zeeta hilang hanya dalam beberapa hari mereka tak bertemu. Perkenalan awal mereka pun terbilang cukup buruk, dimana Morgan ikut andil dalam memantik kebenciannya terhadap Zeeta. Sehingga, hari dimana dilaksanakannya Vivid Party—pesta kebangsawanan yang digelar sekaligus untuk memilih bangsawan untuk menjadi Penguasa Wilayah oleh Zeeta—ibarat itu baru terjadi semalam.


“Untuk apa? Untuk apa kauingin jadi rivalku?” tanya Zeeta.


Mellynda tersenyum smug sebelum menjawab Zeeta. “Aku akan menjadi kuat bersamamu dan mendampingimu sebagai Tuan Putri! Jadi, jika ada kesempatan, latih tandinglah denganku!”


.


.


.


.


Ingatannya kala itu, membuat Zeeta tersenyum sekarang. Dirinya, neneknya, Porte selaku ayah Mellynda, dan Feline Sang Mantan Ratu Peri, hendak berangkat menuju Tanah Kematian. Porte yang menyadari senyum Zeeta, lantas bertanya, “Ada apa, Putri?”


Zeeta membalas pandangan Porte, kemudian menjawab, “Tidak.” Dia menggeleng. “Hanya teringat kenanganku bersama Melly.”


Porte ikut tersenyum. “Begitu, ya....”


“Uhm.”


Tatkala keduanya larut dalam perasaan, Feline kemudian bicara. Porte yang melihat arah mata Zeeta berubah pada sesuatu di bahunya, segera paham kalau si Peri sedang bicara. Iapun bungkam dan memerhatikan saksama kedua bangsawan kerajaan di sampingnya.


“Sebelum kita benar-benar masuk, ada beberapa hal yang harus kutegaskan di sini,” ujar Feline, “pertama, berbeda dengan kalian berdua yang pernah masuk Tanah Kematian melalui Fyrriheim, kita tidak tahu apakah benar-benar bisa kembali dari sana. Mengerti maksudku?”


Zeeta mengernyit sebelum menjawab. “Uhm. Penjaga Tanah Kematiannya.”


“Kau benar,” jawab Feline, “seperti ucapannya saat itu, meskipun dia seperti orang gila, dia masihlah—“


“Keturunan Aurora,” tukas Scarlet.


Porte yang mendengarnya dari bibir Scarlet mulai menebak-nebak. Apalagi, ia melihat ekspresi seriusnya.


“Kuingat, jika dilihat dari penampilannya,” tambah Scarlet, “sepertinya dia juga telah membangkitkan kekuatannya, sama seperti dirimu, Zeeta.”


“Karena dia juga berambut perak?” tanya Zeeta.


“Ya.”


Zeeta terbesit sesuatu di pikirannya, tetapi memilih untuk diam, dan malah mengalihkan pembicaraan. “Tolong lanjutkan, Feline.”


Feline mengangguk. “Kedua, untuk bisa merebut kembali jiwa dua gadis itu—ada dua caranya.


“Satu; sang Penjaga memberikan izin pada mereka untuk kembali ke tubuhnya, atau....


“Dua; merebutnya secara paksa.”


“Memangnya itu bisa dilakukan... merebut secara paksa? Bagaimana caranya?” tanya Zeeta.


Feline tersenyum. “Sudah kubilang, aku sudah membayar harga yang setimpal.”


Zeeta dibuat semakin tidak mengerti. “Apa maksudmu? Siapa lagi yang kau tumbalkan selain dirimu?”


Scarlet jadi kaget mendengar Zeeta. Dia sama sekali tak tahu apapun tentang ini. “Tu-tunggu dulu! Apa yang baru saja kaukatakan, Zee?!”


Zeeta tidak memedulikan neneknya dan tetap memojokkan Feline. “Kuharap itu bukan nenekku atau Tuan Porte, ‘kan?”


“Apa kau bodoh?” tanya Feline, masih dalam senyumnya. “Dalam kondisi dan situasi seperti ini, memangnya siapa lagi?”


Zeeta kemudian tersenyum. “Hehe. Syukurlah.”


Melihat senyum Zeeta setelah mendengarkan kedua keluarga kerajaan itu secara saksama, Porte langsung menyahut dan berteriak, “Kenapa Anda bisa setenang itu untuk merelakan nyawa, Putri?!”


Zeeta, Scarlet, dan Feline tersentak.


“Kalaupun ... kalaupun kita bisa merebut kembali jiwa-jiwa mereka, lalu ketika mereka bangun...." Ia tidak mampu menyelesaikan ucapannya.


Porte langsung dicengkeram bahunya oleh Zeeta.


“Tenang saja, Tuan Porte! Mau sesulit apapun... atau semustahil apapun rintangannya, aku percaya aku bisa melewatinya. Soalnya aku adalah ... Penyihir Harapan, Zeeta!”


Senada dengan Porte, Scarlet langsung membentak Zeeta. “Hei hei hei, Cucu tak tahu diri!


“Berani-beraninya kau mengacuhkan Nenekmu ini, ya, hmm? Setelah semua yang kita lihat di Fyrriheim, memangnya aku bisa hanya diam dan mengangguk, begitu kau mengucapkan 'tumbal' bersama Feline?!”


“Tidak,” jawab Zeeta cepat, “tapi kali ini, Nenek harus melakukannya.”


Scarlet tidak menyangka Zeeta akan menyangkalnya begitu cepat, dengan tatapannya yang serius.


“Melly adalah teman bangsawan pertamaku, Nek,” sambung Zeeta, “tanpanya, pandanganku terhadap bangsawan hanya akan tetap jelek dan terus membenci mereka.


“Sedangkan kak Azure ... aku sudah bersamanya sejak aku dipenjara di penjara bawah tanahnya Rowing. Dia sudah seperti ... tidak....


“Kak Azure ... ADALAH kakakku!


“Tanpa keduanya, Penyihir Harapan Zeeta yang ada di hadapanmu sekarang, sudah menjadi Penguasa Kekelaman dan menciptakan perang sihir. Jadi aku akan menyelamatkan mereka, kendati nyawaku adalah bayarannya.”


Scarlet mengepal tangannya, kemudian menghela napas. “Ucapanku sudah tak akan kaudengar lagi, bukan?


“Feline, hanya itukah yang harus kami perhatikan?”

__ADS_1


Feline mengangguk. “Sejauh yang kupahami sebagai mantan Ratu Peri, iya.”


“Kalau begitu, tidak usah membuang-buang waktu lagi. Antarkanlah kami!”


“Ya.”


Tiada duanya.


Itulah yang terlintas di hati Porte saat mendengar Zeeta mengatakan semua yang dipikirkannya. Seberharga itulah sosok Azure dan Mellynda untuknya. Sebagai orang tua, ucapan Zeeta sangatlah berarti untuknya. Kendati putri sulungnya pernah memiliki masalah dengan Putri kerajaan, namun sang Putri memandang putrinya berbeda.


Selama ini, ia hanyalah mengira, bahwa hubungan Mellynda dan Zeeta hanya seperti dirinya dan Alicia. Dulunya adalah teman satu akademi, tetapi sekarang bagai Bumi dan langit. Ia bersyukur dirinya salah. Namun, ia juga tidak menganggap hubungannya dengan sang Ratu salah, malah itu sudah sewajarnya. Tetapi dalam hidupnya, atau cerita dari orang tua, bahkan dari kakek atau neneknya, tidak pernah ada Putri kerajaan yang berani mempertaruhkan nyawa demi bangsawan lain atau temannya.


Keluarga Aurora mungkin mau melakukannya, tetapi yang ia tahu, kebanyakan dari mereka, termasuk Scarlet sekalipun, akan mementingkan banyak orang ketimbang satu jiwa. Mungkin saja anggapannya salah, tetapi yang terpenting saat ini ... ia terharu, bangga, sekaligus bahagia, karena telah melayani salah seorang keluarga kerajaan bernama Zeeta ini.


......................


[Daratan bersalju jauh di selatan Aurora....]


Marcus, Novalius, dan Mintia masih berada di dalam gua yang di dalamnya terdapat banyak kristal kemerahan—yang berdasar kecerobohan Novalius—kristal tersebut bisa menjadi bahan peledak yang teramat kuat.


“Terima kasih, kalian berdua,” ujar Marcus sambil menyilangkan tangannya. “Berkat kalian, aku punya ide untuk melewati Phantasmal itu!”


Novalius dan Mintia yang penasaran, segera menghampiri Marcus. Begitu mereka mendekat, Novalius langsung memukul keras bahu sang kapten Crescent Void.


“Sudah merasa baikan?” tanya Novalius.


Marcus tersenyum. “Saat ini, aku hanya bisa percaya pada Colette dan melakukan apa yang kubisa disituasi ini.


"Baiklah. Rapat strategi, akan kumulai!


“Tapi pertama… kumpulkanlah lima buah kristal-kristal ini terlebih dahulu.”


.


.


.


.


Setelah membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk menambang kristalnya tanpa menimbulkan kesalahan yang sama, ketiganya lalu melingkari bongkahan-bongkahan kristalnya.


“Mintia, tolong ingatkan aku karakteristik Phantasmal-Phantasmal tadi,” pinta Marcus, sambil memejamkan mata dan menggenggam dagunya.


Mintia mengangguk, lalu menjelaskan. “Tubuhnya mirip seperti Raksasa, tetapi tidak dengan tingginya. Tubuhnya yang dilapisi bulu lebat—mampu membuatnya tahan di suhu sedingin ini. Kulitnya keras seperti batu yang terbuat khusus, diserang dengan sihir pun tak begitu efektif.”


“Ya, tetapi serangan yang pernah kita lancarkan hanyalah sihir-sihir sederhana,” balas Marcus.


“Terlalu berbahaya untuk nekat menciptakan sihir kuat. Ada kemungkinan mereka bisa hancur, tetapi kita tidak tahu itu benar-benar bisa melepaskan kita dari ancaman mereka dan membiarkan kita mendekat menuju ‘kelompok’ yang dilindunginya, sekaligus memastikan keberadaan Batu Jiwa.


Marcus mengangguk-angguk. “Novalius, ada yang ingin kausampaikan?”


“Ada,” jawab Novalius cepat, “bagaimana kalau menghancurkannya dengan pukulan mana yang terpusat? Itu tidak membahayakan lingkungannya, ‘kan?”


“Itu ide yang bagus,” jawab Marcus, “tapi tidak. Kita akan menyimpan cara itu setelah kita menggunakan ini.” Ia menunjuk bongkahan-bongkahan kristalnya.


“Kauingin memakai ini untuk meledakkan mereka?” tanya Mintia.


“Tidak. Tidak sepenuhnya benar.”


“Lalu apa?”


“Ingatlah tujuan kita datang ke sini, kalian berdua.”


Novalius dan Mintia langsung tersentak. Keduanya teringat.


“Ya. Kita bukan bertujuan untuk bermusuhan, layaknya Seiryuu lakukan.


“Untuk melaksanakan rencanaku, aku akan menjadi umpannya, dan kalian pergilah ke ‘kumpulan’ itu. Sebelum kita mengetahui apa yang ada di sana, kita tidak bisa semena-mena dengan Phantasmal ini.


“Ada kemungkinan, mereka adalah semacam makhluk penjaga.”


Novalius dan Mintia saling menatap beberapa saat, kemudian Mintia bertanya. “Setelah memastikannya, lalu apa?”


“Tidak ada.”


Keduanya langsung bertanda tanya besar. “HAH?”


“Perhatikanlah lagi, kalian berdua.


“Saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, seperti apa reaksi Phantasmal-nya? Apakah mereka langsung menyerang, seperti Phantasmal pada umumnya?”


Gelengan kepala didapat Marcus.


“Memang, seperti ucapanmu Mintia, ada banyak risiko dari Phantasmal itu, mau seperti apapun kita mengatasinya.


“Sihir—dengan kata lain menghancurkannya; atau pengalih perhatian—seperti rencanaku.


“Tetapi, ada poin tambahan mengapa kita hanya akan memastikan saja.


“Satu; kuyakin Putri Zeeta sedang tidak di kerajaan dikala kita bicara saat ini dan pertahanan kerajaan jadi cukup lemah. Tuan Albert yang mengawasi komunikasi kita semua juga pasti akan ikut bersamanya. Jadi kita tidak bisa membuang kekuatan kita terlalu lama di sini.


“Dua, dan ini yang PALING PENTING; sebelum kita berangkat, ada penyusup lelaki yang menyebut dirinya dari Seiryuu, bukan? Entah kenapa, meskipun aku tahu nyonya Ashley dan putri Zeeta telah mengurusnya, orang itu sangatlah berbahaya.”


.


.

__ADS_1


.


.


“Kenapa kaubisa seyakin itu?” tanya Novalius.


“Tiga.


“Satu. Medan pelindung Aurora tidak hanya terbuat dari sihir dari semua bangsawan, termasuk Ratu dan Putri Zeeta sekalipun—yang sudah tersimpan di dalam tanah kerajaan—tetapi itu juga diperkuat oleh Rune dari Ozy.


“Dua. Dari kesaksian rakyat, tendangan kuat Putri Zeeta juga bisa ditahan imbang olehnya.


“Tiga. Dia sangat mencurigakan. Sangat sangat mencurigakan. Melihatnya, seolah membuatku teringat pada Hydra bertahun-tahun yang lalu.”


Mintia dan Novalius menelan liur. Keduanya tertegun.


“Pokoknya, mari selesaikan ini dengan cepat dan segera kembali!”


“Baik, Kapten!” Novalius memberi hormat.


......................


Feline telah meminta Zeeta untuk mendekat menuju pagar desa tak berpenghuni nan dingin di seberang mereka. Setelahnya, ia berdiri di bahu Zeeta, sambil mengacungkan kedua tangan ke depan, lalu bicara seolah ia merapal. “Aku, adalah Peri yang telah hidup tiga ribu tahun. Wahai tanah sunyi dan sepi yang memelihara jiwa, atas nama Feline, bukalah gerbangmu!”


Tanah di depan mereka—yang berarti sudah masuk di dalam desa—bersinar merah gelap—yang kemudian mendatangkan tiga peti mati yang “tersegel” oleh berbagai macam tengkorak. Peti itu seperti diikat dari empat sisi dengan tengkorak. Kemudian, ikatan segel dari tengkorak itu terbuka layaknya retak-lalu-pecah satu per satu dengan cepat.


Tutup petinya terbuka. Scarlet, Porte, dan Zeeta gugup dengan apa yang menanti mereka.


Peti di sebelah kiri terbuka, muncul seekor kucing hitam bermata hijau gelap. Ia lalu mengeong pada Porte.


“Masuklah, Manusia,” ujar Feline.


Zeeta meneruskan ucapan Feline. “Tuan Porte, masuklah ke peti itu.”


“A-ah... ba-baik.” Dengan gemetar, dirinya yang masih hidup, masuk ke dalam peti mati.


Serupa dengan peti kiri, peti kanan pun sama. Namun yang keluar, adalah kucing bermata merah. Tanpa disuruh siapapun, Scarlet masuk dengan biasa.


Lalu pintu terakhir, apa yang keluar dari peti di tengah, mengejutkan Feline. Scarlet dan Porte yang dari dalam masih bisa melihatnya, juga sama.


Bukanlah kucing, tetapi kupu-kupu bersinar biru.


“Ap—?! Bagaimana....”Feline kehabisan kata-kata.


Kupu-kupu biru itu mengitari tubuh Zeeta sesaat, kemudian berdiam di tempat—di depan peti, seolah menyimbolkan Zeeta untuk masuk. Tanpa ba-bi-bu lagi, Zeetapun masuk.


Ketiga tutup peti itu kemudian tertutup dan kembali tersegel bersamaan. Tapi, sebelum tertutup, Zeeta sempat sadar bahwa Feline menggigit jarinya sambil berwajah tak ingin percaya dengan yang ia lihat barusan.


“Sepertinya kautahu apa kupu-kupu ini,” ujar Zeeta, “tapi aku tidak akan bertanya. Melihat wajahmu saja membuatku tidak ingin mengetahuinya.”


Feline merasa kesal, entah kenapa. Ia menampar-nampar pipi Zeeta dengan tangan mungilnya. “Hanya karena tubuhmu sudah besar dan dadamu jadi nyaman untuk dijadikan tempat sembunyi, jangan sombong!"


Zeeta langsung merona. “Ha-Hah...?! Da-dadaku tidak ada hubungannya!”


“Berisik!”


Tidak lama kemudian, ditengah-tengah “pertengkaran” mereka, pintu peti kembali terbuka. Suasana dan hawa dingin langsung menusuk tubuh.


“Apa kita sudah sampai?” tanya Zeeta, lalu melangkahkan kaki ke tanah kering nan retak, serta diselimuti kabut.


“Ya,” jawab Feline, “langsung ke orangnya.”


“Eh?”


Zeeta yang bertanya-tanya, tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan jawaban.


“Haaaaiiiii....” Suara seorang gadis membuat Zeeta merinding. “Akhirnyaaa.... kita bisa bertemu juga, ya, rekan sedarahku.”


“A-apa-apaan ... hawa ini...? Apa ini ... mana...?” batin Zeeta.


“Tubuhmu ... terlihat kedinginan. Apakah perlu kuperintahkan para Flakka tercintaku menghangatkan tubuhmu...?”


Zeeta yang sedari tadi tidak bisa melihat seperti apa sosok pemilik suara ini, terus memerhatikan sekitar, sambil tetap mencarinya dengan aliran mana.


“Dasar... tidak menjawab pertanyaanku... kamu memang tamu yang sangat dingin, hihihi....”


Zeeta dibuat panik karena tidak juga menemukan jejaknya. Kanan, kiri, atas, depan, dan belakang. Setiap sudut telah ia coba cari baik dengan mata atau mana, tetapi tetap saja nihil.


Kenapa?


Adalah satu-satunya pertanyaan.


“Ara ara ... sebegitukah inginnya dirimu bertemu denganku, hmm...?


“Zeeta Aurora...”


Suara gadis yang tiba-tiba menempel di telinga kiri Zeeta membuatnya tersentak hingga jatuh.


Ia terpaku pada sosok gadis di sampingnya. Gigi runcing yang menghitam hingga ke bibir, mata merah darah, kulit putih pucat, dan rambut perak.


Inikah....


Inikah orang yang memiliki darah yang sama sepertinya?


Seseorang yang sama-sama mewarisi nama Aurora?


Dia...?

__ADS_1


__ADS_2