Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pertempuran Akhir 1


__ADS_3

[POV Zeeta.]


Perjalananku sampai ke titik ini begitu panjang dan sangatlah terjal bagiku. Kurelakan amat banyak hal yang kuinginkan demi dunia. Aku juga sering gagal untuk mengulurkan tangan untuk mereka yang butuh pertolongan. Begitu banyak nyawa ... yang tewas hanya karena keberadaanku.


Sampai saat ini, aku tetaplah menjadi seorang Zeeta yang cengeng dan pengecut. Begitu sering kudengar suara-suara yang mendorongku untuk menyerah, bahkan leluhurku sendiri tidak akan menyalahkanku bila kuputuskan demikian. Tapi....


Kapanpun aku berpikir untuk menyerah, aku selalu mengingat diriku yang lain, yang pernah kulihat bersama Luna. Zeeta yang itu adalah Zeeta yang berbeda denganku, atau yang sedang kuhadapi saat ini. Dia telah berhasil membangkitkan Yggdrasil, teman-teman dan mungkin orang-orang lain yang berharga untuknya pun selamat. Tetapi, Zeeta di dunia itu terasa seperti tirani. Dia telah memilih jalan yang kudapatkan sejak lama, juga berkat petunjuk dari Clarissa; yaitu untuk menghapus keberadaan sihir dari dunia.


Saat itu aku tidak tahu mengapa dunia di sana seakan mati walau Yggdrasil sudah tumbuh kembali. Namun, saat memegang Rhongomyniad yang terhubung dengan Bumi ini sendiri berkat "izin" dari tiga Roh Kuno, aku mengerti.


Di dunia itu, aku berhasil melakukan perjalananku, tetapi untuk mewujudkannya, aku harus kehilangan beberapa orang yang kusayangi ... dengan tanganku sendiri. Aku yang di sana tak dapat menanggung semuanya lagi, maka ia berperan sebagai penjahat agar ia bisa tidur dengan tenang di tangan teman-temannya. Ia tidak akan mempermasalahkan arti perjuangannya bila temannya sendiri yang membunuhnya.


Agak sulit dimengerti, tetapi intinya, aku ingin dunia yang kulindungi susah payah ini bisa benar-benar damai, apapun caranya. Ia bisa melihat masa depan teman-temannya yang bersinar terang, disaat aku sudah keruh gelap. Namun, hanya bisa mengetahui itu saja, sudah cukup bagiku. Aku sudah lelah, maka aku ingin mereka yang membunuhku. Aku juga harus minta maaf pada kak Azure karena pada akhirnya menyerah dengan cara seperti itu. Setidaknya ... walau banyak korban jiwa di perang sihir itu, walau aku dicap sebagai Penguasa Kekelaman yang membawa kesengsaraan, walau aku melenyapkan keberadaan makhluk-makhluk sihir, aku berhasil menuntaskan kewajibanku.


Untuk diriku yang ada di depanku saat ini ... sama seperti sebelumnya, karena ia pun adalah aku, maka aku bisa mengetahui apa yang terjadi padanya tanpa ia beritahu secara eksplisit. Tetap saja, masih ada banyak keraguan di dalam benakku yang harus dia jawab sendiri dan aku akan memaksanya.


Oleh sebab itu....


Mungkin ini adalah yang terakhir. Jadi....


......................


"Tombak Suci, aktifkan...." Suara yang dikeluarkan Zeeta tenang. Mata birunya bersinar, wajahnya tanpa ekspresi.


Kilauan pilar emas seakan membawa kilas balik saat Zeeta berusia delapan tahun, dimana sihirnya pernah lepas kendali di kediaman Rowing. Jika saat itu pilarnya berwarna putih dan biru, kini ia berwarna emas dengan garis-garis biru terang yang bergerak spiral mengikuti arah pilarnya.


"Engkau adalah mistik yang menghancurkan kejahatan dan menghubungkan perdamaian....


"Lepaskanlah cahaya Ujung Dunia...."


"Cih...!" Alter menggertak gigi. "Ini jauh berbeda dari duniaku!


"Jangan diam saja, ayo serang dia!"


Alter memaksa maju bersama Jormungand yang dengan mudahnya berada di bawah kendalinya. Sejak pertama berseteru dengan Nebula, ia sama sekali BELUM memiliki luka yang memaksanya dalam kondisi kritis.


Walau ada makhluk yang berkali-kali lipat besarnya dari dia, Zeeta tidak gentar, bahkan bergerak satu senti pun.


Zeeta beraba-aba untuk menusuk. "Rhongo... myniad...."


Dengan waktu yang bersamaan, Jormungand menghempaskan racun mematikan yang mampu melelehkan tanah dan sudah menelan korban jiwa dari Nebula. Alter juga membantunya dengan Bind Rune dan serangan sihirnya secara bertubi-tubi.


Namun....


'BWOOOMM!!!'


Keduanya terlempar begitu jauh karena tombak emas yang menujah hingga tembus ke balik punggung. Dari kejauhan, mereka tampak seperti bintang jatuh dengan arah diagonal.


Sementara itu di Hutan Elf, untungnya mereka semua berhasil selamat dari gravitasi Alter, meski ada dua tiga makhluk yang terluka parah dengan postur tulang dan daging yang berantakan—Serina, Ozy, dan Hitomi Reiko. Sementara itu, Xennaville berusaha untuk menyembuhkan ketiganya walau butuh waktu yang sangat lama.


"Bibi Jeanne... inikah yang kaumaksud...?" batin Reid yang matanya berbinar melihat cahaya dari Zeeta.


Para Elf lain yang ada di sana juga terpana dengannya. Sementara itu, setelah sama-sama melihat bagaimana Zeeta mengaktifkan Rhongomyniad dan melempar jauh musuhnya dengan mudah, ia terbelalak, dan segera pergi berlari tanpa seizin dan sepengetahuan yang lain. Mereka baru sadar ketika dirinya mengubah bentuknya menjadi Raksasa.


"Ti-Titania?! Sejak kapan dia...?!" Reid kepanikan.


Senada dengan Reid, Raksasa lain yang masih sibuk dengan pertempurannya sendiri, seperti Fenrir dan Surtr, kaget setengah mati dengan kemunculan tiba-tiba Titania. Mereka lebih terkejut dengan kedatangannya ketimbang Rhongomyniad Zeeta. Dilain sisi, Æsir tersenyum, dan Snjór yang mengerutkan dahi.


"Jeanne ... tak kusangka dia benar-benar melakukannya...."

__ADS_1


Melihat kedatangan Titania, Zeeta menyambutnya. Ia kemudian berdiri di bahu kirinya.


"Hentikanlah pertarungan kalian, Jötunnheim, kalian juga Drékaheim." Suara Zeeta menggema ke seluruh Bumi, bahkan hingga ke laut dalam dimana Orsfangr berada.


"Tidak perlu kukatakan pada kalian tentang Raksasa ini, bukan? Kalian telah kehilangan banyak rekan, keluarga, ataupun teman tersayang. Kami dari pihak Manusia pun sama.


"Kukatakan apa keinginanku kepasa Yggdrasil nanti. Aku tahu ini adalah keputusan paling adil untuk semuanya, maka turunkanlah senjata kalian."


Surtr yang sedang bertarung dengan Arata, Nidhogg, dan Cynthia, melenyapkan api dari tubuhnya. Keputusannya dipatuhi oleh Vulkan yang lain. Kendati demikian, ia tetap melototi Manusia-Manusia di hadapannya.


Fenrir yang kehilangan banyak Omega-nya karena keputusannya sendiri, tetap dipatuhi oleh mereka yang tersisa saat ia mengalihkan pandangannya dari Marianna ke arah Zeeta. Wanita itu pun melakukan hal yang sama.


"Zeeta, Putriku...." Alicia dan Hazell saling bergandeng tangan melihat Titania. Begitu pun dengan rekan-rekan Aurora yang lain.


Edward dan Ella yang sebelumnya hendak menyelamatkan mereka yang terancam oleh serangan Jormungand, terpaksa terhenti karena dua hal—Zeeta telah mencegah hal itu terjadi dan terhenti untuk menyimak baik-baik ucapan kakak sepupunya itu. Kendati demikian, mereka pun merasa waktu semakin berdetak ke penutup yang sama sekali tidak diinginkan.


"Keputusanku sudah bulat sejak perjalananku dimulai sembilan tahun yang lalu.


"Raksasa, Naga, ataupun Peri, akan hidup dalam bentuk Manusia."


"APA?!" para Raksasa langsung naik pitam.


"Dengan jaminan mereka tetap memiliki kelebihan dan kekurangannya, juga bisa kembali ke wujud semulanya.


"Kita akan hidup rukun, seperti halnya kala kita hidup di Tir na nÓg."


"HAL SEMACAM ITU MANA SUDI KUTERIMA!" Surtr emosi, segera membawa apinya aktif kembali dengan ganas.


'SWOOSHH!'


Api Surtr segera padam oleh tiupan mulut Zeeta.


"Gi-gila!" batin Cynthia. Ia terbelalak. "Jarak sejauh itu bisa memadamkan apinya yang bersuhu lebih dari seribu derajat itu?!"


"Eh?" Gerda yang sama-sama menyimak kaget dengan ucapan itu.


"Aku takkan mengubah keputusan ini. Jika kalian masih menolak, maka putuskanlah setelah Ragnarok ini selesai. Peranku akan segera selesai dan aku bisa segera kembali pada keluargaku."


Segera setelah ia mengucapkannya....


"MANA MUNGKIN KUBIARKAN!!!"


Langit tiba-tiba gelap, menyisakan Rhongomyniad Zeeta saja yang menjadi pusatnya cahaya. Langit tersebut bukan menghitam, namun ungu gelap yang disertai guntur dan petir. Bahkan berbagai huruf Rune di sana dan di tanah.


Zeeta tetap tenang. Ia memejamkan mata dan membatin, "Sekarang waktunya, Ratu Peri Nadéja."


Nadéja yang berada di Hutan Peri mengangkat tangan kirinya lalu mengayunkannya ke bawah. Bola raksasa yang merupakan simpanan mana itu tersebar ke siapapun yang berada di luar Töfrahnöttur. Mereka terlapisi oleh gelembung mana. Tak ada yang mengerti apa, mengala, dan dari siapa itu datang, tetapi jawaban mereka segera didapatkan tatkala langit dan tanah menyerang dengan gila.


Langit menghujani mereka dengan petir, bilah pedang dan senjata tajam lainnya, sementara tanah berusaha menelan mereka dengan keretakan yang besar. Gelembung mana tersebut melindungi total serangan-serangan tersebut, juga membuat mereka melayang.


"Lindungilah mereka hingga ke Aurora." Zeeta berkata pada Titania.


"Aku menghormatimu, Zeeta Aurora. Takkan pernah kulupakan nama dan jasamu."


Zeeta mengangguk. Ia lalu melayang menjauh dari bahu Titania yang sama-sama dilindungi gelembung yang serupa. Zeeta mengubah fokusnya pada Alter.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Zeeta melihat Alter yang menggeram dan masih bersama Jormungand. Mereka terluka, namun luka lubang bekas Rhongomyniad hampir tertutup lagi berkat Bind Rune-nya.


[POV Zeeta Alter.]


Tidak mungkin!


Apa yang terjadi di sini?! Kenapa tiada yang hancur?!


Apa yang dilakukan Keenai dan L'arc?!


Kenapa Zeeta bisa diakui Avalon dan Ars untuk memegang Rhongomyniad?! Aku sudah berulang kali memperparah zaman agar dia—agar Zeeta semakin jauh dari pengakuan dunia!


Mana mungkin kubiarkan! Jormungand, kau sama sekali belum serius! Segeralah keluar dari cangkangmu dan hancurkanlah dia!"


.


.


.


.


Zeeta mengernyit. Ia segera mengayunkan tombaknya ke atas untuk mewujudkan pilar cahaya, yang jika dia telat beberapa detik saja, ia akan tertusuk oleh puluhan bayangan hitam tajam. Kemudian, dia melihat di tanah—darah-darah dari mereka yang tak selamat akibat sihir gravitasi Alter—berubah menjadi makhluk sihir baru yang berwujud persis seperti Diablo. Mereka bergerak dengan langkahnya yang lebar ke arah Aurora dan mereka yang sedang bergerak menujunya. Tentu saja, di dalam Aurora juga muncul makhluk yang sama.


"Nah, pilihlah, Zeeta!" jerit Alter, "jika kausayang keluargamu, maka sekaranglah waktunya untuk menyelamatkan mereka!"


"Tsk." Zeeta mengklik lidahnya. Zeeta hendak mengangkat tombaknya dan itu disambut senyum oleh Alter, tetapi....


"KAK ZEETA! FOKUSLAH SAJA PADANYA!"


Zeeta terbelalak. Ia kenal suara itu. Saat menoleh ke sumber suara, ia mendapati Si Kembar. Tanpa mengucapkan apapun, ia menjulurkan jempol kirinya dan senyum lebarnya.


Alter tak percaya melihat Zeeta yang berekspresi seperti itu. "Apa kausadar apa yang akan menunggumu? Kenapa kau tersenyum pada pengkhianat seperti mereka?"


Zeeta menurunkan pilar cahaya yang melindunginya. "Kau terlalu banyak oceh, Zeeta. Aku ini orang sibuk, tahu!" ia berkuda-kuda seakan sedang memegang rapier.


"Kuda-kuda itu... miliknya Dormant?!"


Zeeta melesat dengan sihir terbangnya, membuatnya terlihat seperti roket yang meluncur berkat cahaya yang disisakan tombaknya.


Edward dan Ella tidak lagi terlindungi gelembung mana. "Lihatkah kau senyumannya?" tanya Edward.


"Tentu saja!" Ella berusaha mengusap air mata dari pipi.


"Ayo kita jawab senyuman itu! Siapa yang menyangka kalau tanda Matahari kita memecahkan gelembung mana-nya, seakan memerintah kita berdua untuk membantunya!"


"Berdua?"


"Pa-Papa?!" Si Kembar terbelalak.


"Kita bertiga akan membantunya—tidak. Semuanya sedang membantunya. Di dalam Aurora tidak lebih baik dari sini, namun aku yakin mereka bisa bertahan dengan banyak orang kuat di sana."


"Terima kasih, Papa!" seru Edward.

__ADS_1


"Jangan senang dulu. Ragnarok-nya masih belum berakhir!"


"Baik!" keduanya menjawab bersamaan.


__ADS_2