
Malam hari dengan jutaan taburan bintang di langit, setelah penobatan Zeeta sebagai Tuan Putri Kedua Puluh Satu, Danny dan Gerda yang menginap di sebuah penginapan sedang makan malam dengan orang tua mereka. Penginapan tersebut memiliki maskot berbentuk seekor induk kucing dan dua anak kucing belang, dengan nama penginapan "Neko's Inn". Di sana, mereka mendengar tamu penginapan lain sedang menggosipi Zeeta.
"Hei, bagaimana menurutmu dengan Tuan Putri Zeeta?" tanya pria A pada pria B.
"Huh? Apa maksudmu?" pria B balik bertanya.
"Tiba-tiba dia muncul, tiba-tiba dia membuktikan kekuatannya, dan tiba-tiba dia meminta kita mengadakan pesta sambutan untuk Raksasa yang ingin menghancurkan kita," balas pria A.
"Wah, kalau dipikir-pikir benar juga."
"Tidakkah kaupikir kemunculan Tuan Putri hampir sama dengan legenda penyihir itu? Mereka juga datang dengan kekuatan sihir secara tiba-tiba."
"Jadi, kaupikir Tuan Putri adalah reinkarnasi dari penyihir itu?"
"Tidak tidak... bukan itu yang ingin kukatakan. Hanya saja... aku khawatir dengan Tuan Putri. Bagaimana jika nanti dia bernasib sama dengan legenda penyihir itu?"
Gerda yang mendengar obrolan dua orang pria acak itu seketika mencengkeram tangannya. "Andai saja aku bisa melakukan sesuatu untuk Zeeta...," batinnya.
Sementara itu kakaknya, Danny, dengan perasaan yang sama seperti Gerda menggumam, "Aku ingin bertemu dengan Zeeta."
"Hmm?" Recko dan Grilda tak mengerti.
"Zeeta memang anak yang berbeda dengan aku dan Gerda," sambung Danny, "dia juga punya tanggung jawab yang tidak kami miliki... tapi ... tapi... sebagai temannya, aku merasa dia semakin jauh dengan kami!"
"Urungkan niatmu, Danny," balas Recko dengan mata yang terpejam.
Danny yang tidak paham dan merasa ayahnya tidak berpihak padanya lantas membentak, "Kenapa?! Dia 'kan keluarga dari Lazuli juga!"
Seketika, seluruh mata di dalam ruang makan penginapan tersebut melihat ke arah Danny. Sadar akan hal tersebut, Danny meminta maaf lalu duduk kembali.
"Dasar! Bikin malu saja!" Gerda menendang kaki kakaknya.
"Sakit, tahu!" Danny segera membalas tendangan Gerda. "Apa kau tidak merasa hal yang sama denganku?"
"Yah... tentu saja iya, tapi, meskipun kita ingin bertemu dengan Zeeta, dia pasti sibuk dengan urusan kerajaan...." Gerda murung.
"Gerda benar, Danny," sahut Recko, "ayah tahu seberapa dekat kalian, tapi kini Zeeta akan sangat disibukkan oleh urusan kerajaan."
"Cih...." Danny hanya bisa pasrah dengan keadaan. "Andai saja aku bangsawan!" batinnya.
......................
[Disaat yang sama, di sudut lain kerajaan....]
Beberapa prajurit tengah berkumpul dan melepas penat di sebuah bar sambil memesan minuman seperti koktail dan sejenisnya. Untuk memeriahkan, mereka membicarakan topik hangat sekerajaan saat ini, Zeeta. Dengan kondisi pikiran yang tidak berpikir lurus, para prajurit itu asyik dengan bahasan mereka.
"Hei," kata prajurit A. Merah yang terpampang jelas di wajahnya karena alkohol, sudah cukup menjelaskan kondisinya saat ini.
"Apa...?" balas prajurit B. Ia juga berkondisi yang sama dengan prajurit A.
"Aku jadi mengerti kenapa Rowing menyandera Tuan Putri."
"Hmm...? Mengapa...?"
"Karena dia gila!"
"Hah...? Apa maksudmu?"
"Itu lho ... eh? Apa yang tadi mau kubilang ya?" Linglungnya prajurit A semakin menjadi-jadi. Setelah beberapa detik kemudian, "Ah, ya, aku ingat sekarang."
"Cepatlah... aku sudah ingin muntah...."
"Tuan Putri masih berusia delapan tahun, tapi kenapa dia punya karisma sebagai pemimpin? Tidak ada jawaban lain selain gila! Tuan Putri itu gila!"
"Ugh... aku tak tahan!" prajurit B mengabaikan apa yang baru saja dikatakan prajurit A.
"Cih, padahal sedang seru...." Prajurit A kembali meneguk minumannya.
Tak lama kemudian, seseorang datang menepuk bahu prajurit A.
"Huh? Siapa kau?" dengan penglihatannya yang sudah tidak fokus, ia melihat seorang pria berbadan kekar dengan rambut diikat kuncir kuda.
"Kaubilang ... putriku gila...?" cengkeraman pria yang tidak lain adalah Arthur itu semakin kuat dirasakan Prajurit A.
Dengan perasaan yang kacau, tanpa ia sadari, sebuah pukulan telak mengenai pipi kirinya.
Malam itu, di suatu bar, satu per satu prajurit mendatangi tempat yang sama karena suatu keributan atas pria yang mengaku-ngaku sebagai ayahnya Tuan Putri.
......................
Keesokan harinya, di kediaman Grand Duchess, tepat setelah Zeeta sarapan dengan roti isi dan cokelat panas, ia diberitahu Ashley bahwa Arthur ditahan di penjara.
"Eeeeehhh?!" pekik Zeeta. Tak heran, siapapun juga akan terkejut dengan mulut menganga seperti dia saat ini.
"Ih.... Apa yang sebenarnya ayah lakukan...?" Zeeta menggerutu. "Hmm? Penjara...? Apa itu tempat yang sama dengan Rowing ditahan?" setelah berpikir dua kali, Zeeta bertanya.
"Sayangnya, iya...." Ashley hanya bisa melihat ke lantai.
"Aku harus ke sana!"
"Tidak! Tidak boleh!" cegat Ashley segera. Ia tak ingin Zeeta mengetahui seberapa mengerikan tempat yang disebut penjara itu. Untuk saat ini.
__ADS_1
"Kenapa? Ayahku bisa saja tidak bersalah!"
"Kau memiliki tugas lain sebagai Tuan Putri. Jangan bilang kau lupa bahwa kau harus menemui bangsawan utama untuk memenuhi keinginan egoismu itu!"
Zeeta merasa heran. "Hah? Egois? Ozy itu perlu kita sambut, dengan begitu kita bisa saling mengerti!"
"Itulah yang kusebut egois! Seenaknya saja memutuskan sesuatu yang belum kaubicarakan dengan kami. Pikirkan juga bagaimana respon rakyatmu!"
Zeeta mengacak-acak rambutnya karena kesal. "Aggghhhh kenapa Guru tidak mengerti, sih? Aku tidak akan repot-repot menyuruh Ozy pulang ke tempatnya jika aku benar-benar tahu dia jahat! Ozy itu makhluk sihir seperti Aria, makanya aku bisa merasakannya dengan mana-ku!"
"Meskipun begitu, Nak, kau tidak boleh pergi ke penjara. Biar aku yang mengutus orang ke sana dan menggali informasi."
Zeeta menghela napas panjang, kemudian menjawab Ashley. "Baiklah. Tapi tolong segera beritahu aku kalau Guru sudah dapat informasinya, ya. Ayah ... adalah ayahku...."
Ashley melemaskan tubuhnya yang tegang karena emosi. "Ya, aku tahu."
.
.
.
.
Satu jam kemudian, Zeeta dan Ashley berangkat menuju Wilayah Timur, dimana pertemuannya dengan para bangsawan utama akan digelar dengan sihir teleportasi.
Orang yang diutus Ashley untuk mengunjungi penjara kerajaan adalah Marcus. Ya, dia senang dipercaya Grand Duchess lagi, tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa berat hati.
"Kenapa misiku lagi-lagi ke penjara, sih?! Selain itu, sekarang penjaranya adalah penjara kerajaan! Tapi... untung saja misi ini tidak dilakukan saat malam hari. Jika kejadiannya seperti itu...." Marcus yang sedang dalam perjalanan ke penjara kerajaan dengan trem sihir membayangkan apa yang akan terjadi bila misi ini dilakukan saat malam hari.
Suasana mencekam, teriakan-teriakan dari para tahanan yang tidak tahan atas "hukuman" mereka, serta bau-bau anyir yang tersisa dari tahanan, sudah dipastikannya bahwa ia takkan mampu menjalankan misi seperti itu sendirian.
......................
Lima belas menit kemudian, Marcus telah sampai di depan penjara kerajaan. Setelah dirinya melewati berbagai inspeksi agar diizinkan masuk ke dalam, akhirnya ia bisa meregangkan tubuhnya yang tegang sesaat sebelum menemui Arthur. Tapi, begitulah pikirnya. Ia melihat tahanan-tahanan di sana sedang makan dibawah terik matahari pagi.
Ya, mereka memang makan, tapi wajah mereka tampak tak begitu nafsu. Marcus tak tahu, apakah karena makanannya yang tidak lezat atau justru suasana di penjara ini yang membuat mereka tak nafsu. Meski begitu, ia harus tetap fokus pada misinya. Ia kemudian pergi ke ruang tunggu khusus dimana tamu dan tahanan diizinkan bicara empat mata.
Begitu ia masuk ke dalam ruang tersebut, yang ia lihat pertama kali adalah sihir milik Willmurd yang gunanya sama seperti kamera pengawas yang terletak di sudut langit-langit ruang.
"Uwaahh... penjagaannya sangat berbeda sekali dengan penjara bawah tanah Rowing...." batin Marcus.
Beberapa saat berlalu, Arthur pun datang dibalik kaca pemisah antara tamu dengan tahanan. Apa yang Marcus lihat dari raut wajah Arthur hanyalah kesedihan tanpa penyesalan.
......................
Di tempat yang berbeda, Wilayah Timur tepatnya, tanpa diduga siapapun yang akan hadir di tempat itu, suasananya justru tegang tiba-tiba.
"Disaat begini, kenapa Porte sebagai tuan rumahnya justru terlambat? Apa yang terjadi?" tanya Hellen.
"Uhm, aku juga penasaran, tapi Tuan Porte bilang kita harus menunggu di sini...," balas Zeeta.
"Selain itu, Tuan Putri...." Willmurd menyadari sesuatu. "Aku sadar ini berlebihan jika dikatakan pada Tuan Putri, tapi mengingat Anda baru saja menjadi Tuan Putri kemarin, aku hanya ingin mengingatkan bahwa...."
Zeeta menelan ludahnya. "Bahwa...?"
"Jangan menjadikan alasan Arthur dipenjara sehingga membuatmu tidak bisa tenang di saat seperti ini."
"Ah...." Zeeta sedikit terkejut Willmurd mengetahuinya.
"Eh? Apa?! A-a-a-apa yang baru saja kaubilang, Kek Will?" Hellen panik. Tubuhnya terasa seperti disambar petir mendengar hal tersebut.
"Arthur dipenjara." Willmurd mengulangi ucapannya tanpa beban.
"Tiiiidaaaakkk!" Hellen semakin geger dibuatnya. "Tidak! Tidak mungkin! Apa yang telah kaulakukan, Arthur?!"
Zeeta, yang juga seorang perempuan, ketika melihat tingkah laku Hellen juga bisa tahu bahwa Marchioness Hellenia itu menyimpan perasaan pada ayah angkatnya.
"Eh? Nona Hellen ... kaukenal dengan ayahku?" tanya Zeeta yang pura-pura polos.
"Tu-Tuan Putri?! Ah, ehm... yah... agak sulit menjelaskannya... tapi...," balas Hellen tergagap, dengan rona merah di pipi. "I-iya. Aku mengenalnya."
"Hmmm...." Zeeta menunjukkan senyum smug-nya. "Nanti beritahu aku lebih jelas, ya!"
"Ti... tidak bisakah aku menolak—"
"Ti~dak! Ehehe...."
"A-aku moh—"
"Ti... dak...!"
"Ugh...." Hellen mengalah. "Baiklah...."
"Hahaha, rasakan itu, dasar murid tak tahu diri!" tampaknya, meskipun usia Willmurd sudah senja, ia masih menikmati "masa-muda" seperti ini.
"Hah?! Kau merencanakan ini, Tua Bangka?!" Hellen naik pitam karena Willmurd.
Namun tiba-tiba, pintu ruang pertemuan tersebut didobrak sehingga mengejutkan semua orang.
"Mau sampai kapan kau akan bersembunyi dibalik senyum itu, dasar Monster?!" Mellynda datang dengan sihir kristal berukuran besar di kedua tangannya yang dibentuk meruncing. Ia juga datang dengan wajah marah—sangat marah.
__ADS_1
"Melly, apa yang kaulakukan?!" Porte menyusul dari belakang sambil terengah.
"Ada apa ini, Count Porte?" tanya Willmurd sudah siap mengeluarkan rapier-nya. Ia berdiri membelakangi Zeeta.
"Oh, tenang saja, semuanya. Aku sudah menduga akan jadi seperti ini." Zeeta berdiri dengan senyum kecilnya.
Menanggapi ucapan Zeeta, Porte bertanya, "Eh? A-apa maksud Anda, Tuan Putri...?"
"Hmm... dia dan aku hanya akan berbicara banyak saja. Kamu, siapa namamu?" tanya Zeeta pada Mellynda.
"Mellynda. Mellynda von Ophenlis IX," jawab Melly tanpa mengubah ekspresi dan ukuran sihirnya.
"Uhm. Sudah kuputuskan. Guru, aku sudah menceritakannya padamu tentang ini semalam, bukan? Jadi... masalah di sini, tolong, ya!"
"Haahh...." Ashley menghela panjang. "Baiklah."
"E-eh? Ti... tidak-tidak, apa yang akan Anda lakukan, Tuan Putri?!" Porte cemas tentang kedudukan antara dirinya dan Tuan Putri.
"Mellynda sedang sangat ingin melampiaskan emosinya padaku. Aku hanya ingin menemaninya, itu saja.
"Hmm, mungkin juga butuh waktu yang lama. Mellynda, ayo ikut aku!" kemudian Zeeta mengangkat kakinya dari ruang pertemuan.
Mellynda menghilangkan kristalnya lalu mengikuti Zeeta dari belakang.
"Aaaahh... kenapa Melly-ku bisa begini?!" Porte tersungkur di lantai sambil mengacak-acak rambutnya.
"Count Porte, jelaskan apa yang terjadi pada kami!" pinta Hellen.
"Soal itu..." Porte pun menceritakan apa yang terjadi.
......................
[Satu jam sebelum pertemuan digelar, keluarga Ophenlis sedang sarapan bersama....]
"Eh? Tuan Putri hendak ke sini?" tanya Mellynda tersentak.
"Ya, kauingin menemuinya?" Porte balik bertanya.
Mellynda menguatkan cengkeraman jarinya pada sendok yang sedang ia pegang saat ini.
"Tidak," jawabnya. Matanya tiba-tiba jadi sinis.
"Melly...?" Illia bertanya-tanya atas tatapan anaknya.
"Ti-tidak, Bu. Bukan apa-apa." Mellynda melanjutkan makannya.
"Melly, biar Ibu tegaskan ini padamu. Jika kau berniat macam-macam dengan Tuan Putri, kau ahu apa yang akan terjadi pada kita, 'kan? Kita akan bernasib sama seperti Rowing!"
Mendengar ini Mellynda justru membanting meja. "Kenapa Ibu lebih memihak orang lain daripada anakmu sendiri?! Aku tidak tahan!" Mellynda meninggalkan sarapannya dan mengunci diri di kamar.
"Sayang..., apa sebenarnya yang Melly lihat kemarin?" tanya Illia dengan titik air mata.
"Seperti yang sudah kuceritakan, Sayang, mungkin dia terlalu terkejut dengan sosok Raksasa dan mana dari Tuan Putri," jawab Porte.
"Hmm.... Kelihatannya Melly butuh didisiplinkan lagi...." aura membakar dari tubuh Illia terasa oleh Porte.
"Ja-jangan terlalu kasar padanya, ya. Dia baru delapan tahun...."
"Ya, aku tahu. Aku sangat mengerti hal itu, Sayang." Illia juga beranjak dari sarapannya.
......................
"Lalu setelah Tuan Putri dan Grand Duchess tiba, Melly tiba-tiba saja berlari keluar kamarnya dan hendak menyerang Tuan Putri.... Aku dan istriku juga sudah memarahinya, tapi saat kami lengah karena dia berjanji takkan mengulangi perbuatannya, dia justru lari ke sini...," ungkap Porte.
"Heh! Masalah anak kecil biar ditangani anak kecil saja!" tukas Willmurd keras.
"Kuharap Melly-ku baik-baik saja...."
Ashley yang memejamkan mata, tiba-tiba membukanya kemudian berjalan mendekati Porte dan berdiri di belakang Porte.
'PLARRR!'
Ashley memukul dengan sekuat tenaga bahu besar Porte.
"ADUH!" erang Porte. "Apa yang Anda lakukan tiba-tiba, Grand Duchess?!"
"Fokus saja dengan apa yang diminta Tuan Putri. Tuan Putri kita bukanlah Tuan Putri biasa." Ashley mengatakannya dengan nada yang tenang.
"Ba-baiklah...."
Sementara itu, di halaman belakang kediaman Ophenlis, dua anak kecil itu sedang berhadapan.
"Hei, Mellynda," panggil Zeeta.
"Apa?" tanya Melly.
"Apa aku menakutkan bagimu?"
"Tentu saja. Jika kau bukan Monster, siapa lagi?" wajah sinis Melly belum berubah.
"Begitu, ya." Zeeta meregangkan tubuhnya. "Nah, ayo kita mulak sama pelampiasan semua amarahmu itu padaku, Mellynda!"
__ADS_1
Dengan cepat, Melly membentuk kristal runcing besar dan meluncurkannya tepat ke kepala Zeeta.