Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Demi Menjawab Harapan Sang Penyihir Harapan


__ADS_3

Di daratan bersalju jauh di selatan Aurora, atas rencana yang dibuat oleh Marcus, sang kapten Crescent Void, Mintia dan Novalius sedang menuju tempat yang dianggap Mintia sebagai pemukiman—atau kumpulan-kumpulan mana yang tekumpul di satu tempat. Sementara itu, Marcus sendiri sedang menjadi umpan para Phantasmal yang serupa dengan Raksasa. Keduanya menciptakan jubah sihir yang bisa menyamarkan diri dengan tumpukan salju, juga menghapus jejak mana. Ide ini datang dari Mintia.


“Kita memang sudah berhasil mengecoh para Phantasmal itu, tapi... apa-apaan jumlah salju ini?! Bergerak saja susah!” seru Novalius. Kakinya bergemetar hanya untuk mencoba melawan tumpukan salju yang sudah sebetisnya itu.


Mintia terdiam beberapa saat sambil memandangi saljunya. Ia kemudian tersadar bahwa ada yang aneh. “Gawat,” ujarnya, yang disambut tidak baik oleh Novalius.


“Apa?”


“Mereka sudah menjebak kita!”


“Apa maksudmu?!”


“Aktifkanlah sihir di matamu, lalu lihatlah arah pukul dua belasmu.”


Menuruti arahan Mintia, Novalius melihatnya. Sebuah kubah kaca raksasa yang terkamuflase oleh salju. “Itukah ‘kumpulan’ yang kaurasakan sebelumnya?”


“Ya. Dan menurutku, kita telah dijeba—tidak—kita memang terjebak di sini, oleh salju ini. Cobalah lagi gerakkan kakimu.”


Secara perlahan, raut wajah Novalius berubah panik. Salju telah menenggelamkan kakinya hingga bagian paha dan memustahilkannya untuk digerakkan. “Gawat sekali. Kenapa kita tidak menyadarinya? Salju ini juga bergerak dengan cepat. Siapapun dalang dibalik salju ini ... benar-benar ingin melenyapkan kita, ya…?”


“Kau benar dan kita kurang persiapan. Yang pasti, kita tidak bisa diam saja.”


“Serahkan padaku. Kita hanya harus keluar dari jebakan ini, ‘kan? Kalau setelah itu kita terbang, apa akan jadi masalah juga?”


“Kurasa sebaiknya gunakan teleportasi. Bisa?”


“Maaf, tapi aku bukanlah Yang Mulia Zeeta!”


“Baiklah. Aku ada cara lain. Pokoknya, bebaskan saja dulu.”


“Siap! Kalau begitu, akan kutunjukkan sihir turun temurun keluarga Dormant!”


‘BWOAM!'


Ledakan mana Novalius menghempaskan salju di sekitar mereka—menunjukkan kondisi kakinya dan Mintia telah membeku. Mintia sudah setengah badan, sementara Novalius sudah setengah pahanya. Begitu juga nasib rapier Novalius dan gantungannya. Untung saja, gagangnya masih bisa digenggam. Sehingga, setelah mencengkeramnya erat, aura merah melapisi bilahnya yang kemudian langsung melelehkan esnya.


Kemudian, dia menggenggam rapier dengan kedua tangan tepat di depan wajahnya. Ia menutup mata untuk fokus. Aura merah sebelumnya berubah menjadi merah kejinggaan. Tak lama setelah itu, terdapat enam bilah pedang polos tanpa gagang. Pedang itu bukan bilah biasa, tapi keenamnya bercahaya yang sama dengan rapier-nya. Setelah itu, masing-masing tiga dari keenam bilahnya....


‘SLASH!’


Keenam pedangnya menebas-tembus kaki Mintia dan Novalius—yang hanya menghancurkan esnya menjadi kepingan. Tidak berhenti di situ saja, Novalius jadi berkuda-kuda. Tangan kiri ia angkat setinggi kepala, lalu menekuk sebanyak tiga puluh derajat sikunya. Kemudian, tangan kanan yang memegang rapier-nya, juga ia angkat setinggi bahu—hendak melakukan gerakan tikaman. Kaki kiri ia mundurkan dan tekuk setengah, sementara kaki kanan tetap tegak.


“Mintia, biar kutebak cara lain yang akan kaugunakan. Itu pasti tumbuhan, ‘kan?” tanya Novalius.


Mintia menyeringai. “Ho ho, hebat juga.”


“Jadi, tiada masalah kalau kulakukan ini, ‘kan?”


“Batasilah saja sampai untuk mengancam. Oke?”


“Siap!” Novalius ikut menyeringai.


Tidak lama kemudian, seringai Novalius lenyap—berubah menjadi serius. Matanya juga menatap arah pukul dua belasnya. Ledakan aura diserap lagi ke dalam tubuhnya, yang setelah itu disusul oleh meningkatnya mana Novalius. Ia mengingat ajaran Zeeta pada suatu kala di tiga tahun sebelumnya.


......................


“Aku sudah bertanding satu lawan satu dengan kalian untuk mengetahui sendiri kemampuan dan potensi kalian,” ujar Zeeta, di hadapan Crescent Void yang sedang berbaris horizontal. Mereka sedang berada di halaman Alexandrita. “Kudengar, pemilihan kalian sebagai Crescent Void, Luna ikut andil. Apa itu benar?”


“Itu, benar, Yang Mulia!” jawab Crescent Void bersamaan dengan keras, bersamaan.


“Lalu, apakah dia melatih kalian? Jika iya, kuingin jawaban dari kalian satu-satu, apa yang telah dia latih.”

__ADS_1


Zeeta mendapatkan jawabannya. Mulai dari Marcus, hingga Colette, yang merangkak ke atas dengan penuh perjuangan hingga mampu masuk sebagai anggota Crescent Void.


“Hmm," balas Zeeta, setelah mendengar semua jawaban. Sambil menyilangkan tangan, ia menyambung kata-katanya. "Biar kukatakan satu hal. LUMAYAN!”


Ucapannya mengejutkan semua Crescent Void.


“Danny. Kau sudah dilatih dua kali oleh Luna. Pertama tentang atribut apimu, kemudian latihan untuk peningkatan mana. Sejujurnya, jika kau saja sudah bisa memakai senjata suci, kau seharusnya bisa melampaui seorang Baron—bahkan mendekati Count. Meskipun begitu, aku tak melihat tanda-tanda itu darimu.


“Pemakaian mana-mu terlalu tergesa-gesa, pikiranmu sering tidak fokus—membuat imajinasimu jadi sering runtuh. Ingatlah, Danny. Medan perang kita sangatlah berbahaya.”


Danny hanya bisa tertunduk, tapi di dalam benaknya, “Mana bisa kuserius melawanmu ... orang yang ku....”


“A-aku akan berusaha lagi.”


“Jawaban bagus. Kunanti perkembanganmu.


“Gerda. Selanjutnya kau. Caramu menyeimbangi dan menggunakan mana sangatlah luar biasa. Idemu untuk menciptakan sihir tanaman juga melebihi dugaanku. Tapi, perbaikilah bagaimana keputusanmu untuk menyerang. Kau perlu sesuatu yang akan sangat menghancurkan lawan—daripada hanya ‘mengikatnya' saja.”


“Me-menghancurkan?” tanya Gerda.


“Ya.


“Mengikat kaki lawan lalu membenturkan berkali-kali ke tanah, melempar ke langit lalu memukul kerasnya kembali ke tanah, menjebaknya di dalam tanah hingga membuatnya mustahil bernapas.


“Sejauh ini, tiga pola serangan itulah yang kaumiliki dibalik sakumu. Kuakui, serangan itu memanglah cukup baik, tapi ... itu tidak akan berpengaruh pada lawan yang nanti akan kita lawan. Menurutku, nanti akan ada lawan kita yang bahkan lebih sulit dikalahkan daripada Lucy.”


“Kalau Anda mengizinkanku, Yang Mulia, serangan seperti apa yang Anda inginkan...?”


Zeeta menyeringai. “Hah! Pertanyaan bodoh. Kaukira aku akan menjawabnya, Gadis Kasar?”


“HAH?! Apa katamu?!” Gerda langsung naik pitam.


“Gunakanlah emosi yang mudah meledak itu untuk menemukan jawabanmu sendiri, Gerda.”


Zeeta melanjutkan pengajarannya. Dia sekarang berdiri di hadapan Mellynda.


“Mellynda von Ophenlis IX. Rivalku!” ujung kalimatnya membuat Mellynda terbelalak. Juga dengan anggota Crescent Void lain.


“A-ap-ap-apa katamu...?” Mellynda terbata-bata.


“Apa-apaan serangan kristal es itu?! Jarak, daya serang, dan bagaimana caramu membuatku terpojok ... aku sungguh terkejut! Kau bahkan bisa menciptakan puluhan lingkaran sihir dalam sekali ayunan tangan!


“Kunantikan saat-saat kita bisa bertarung bersama!” diakhir kalimatnya Zeeta menggenggam bahu kiri Mellynda, diiringi dengan senyuman lebarnya.


Anggota Crescent Void lain menanggapi keberhasilan Mellynda untuk mengejar Zeeta dengan senyuman. Mereka ikut bahagia.


Matanya berkaca-kaca. “Peganglah ucapanmu! Aku juga menantikan waktu kita bisa melakukannya!” akhirnya ia mengucurkan air mata.


“Ya, tentu saja!”


.


.


.


.


Colette. Sekarang adalah gilirannya.


“Samantha Colette. Pertama kali kita bertemu adalah saat festival Evergreen. Apa kauingat?” tanya Zeeta.

__ADS_1


“Te-tentu saja aku mengingatnya, Yang Mulia!” jawab Colette gugup.


“Sekarang, aku akan mengatakan faktanya. Kausiap?”


Colette mengatur napasnya. “Aku siap!”


“Jangan terlalu sering untuk berkeputusan untuk menitik-satu-kan target. Melakukan itu, lebih cepat menghabiskan mana. Terlebih, jika kau belum bisa mengendalikan secara baik mana alam.


“Pukulanmu mematikan, kau juga memiliki dasar bela diri. Aku bahkan ingin merekomendasikanmu untuk berlatih langsung dibawah guru Ashley, tetapi kau tak akan mampu mengimbanginya.


“Jika.


“Jika kauingin lebih kuat dari dirimu yang sekarang, guru Ashley adalah tujuanmu, tetapi jika tidak ... kendalikanlah kekuatan gila itu. Bisa-bisa kau kehilangan orang berharga untukmu.”


“Baik....”


“Sungguh! Aku tak paham bagaimana bangsawan utama dan Luna bisa menemukan orang sepertimu!”


“Te-terima kasih, Yang Mulia.”


Zeeta lalu berjalan menghampiri Marcus. “Kapten,” ujarnya, “sudah lama kukenal dirimu, tapi apa-apaan sihir tadi itu?”


Marcus menjawab Zeeta dengan melukis senyum di wajahnya terlebih dahulu. “Hanya sihir air, Putri. Sihir air.”


“Yah, namanya Kapten, sudah seharusnya kemampuanmu seperti itu. Pertahankanlah sampai latihan selanjutnya.”


“Terima kasih, Putri. Akan kulakukan.”


Singkat. Hanya itu saja yang dikatakan Zeeta pada Marcus. Tak ada keluhan, tak ada juga saran. Latihan satu lawan satu yang dilakukan tanpa saksi ini, jadi pertanyaan tersendiri bagi anggota lain, seperti apa Marcus melawan Zeeta.


Novalius. Akhirnya. Dia adalah orang terakhir.


“Ancaman, tipu daya, serangan fatal, kebrutalan, tak luput juga ketajaman. Itulah yang kautunjukkan padaku. Cara berpedangmu mengingatkanku pada tuan Willmurd, tetapi meski begitu, aku juga jarang memiliki kesempatan untuk melihat aksi seriusnya.


“Novalius. Kau hebat. Melebihi dugaanku. Musuh memang bisa dikalahkan dengan semua itu, tetapi ada satu yang kurang darimu. Yaitu tekad.”


“Te-tekad... Yang Mulia...?!”


Zeeta mengernyit. “Apa? Kauingin bilang kausudah memiliki tekad?”


“Y-ya! Tentu saja sudah! Kalau tidak, aku tidak akan bisa sejauh ini!”


“Lantas, apa tekadmu itu?”


“Sama seperti kakekku ... melindungi kerajaan ini, Yang Mulia!”


“Benarkah? Aku tak merasakan tekad itu dari semua seranganmu. Yang kurasakan, hanyalah hawa ingin membunuh, juga menang.”


Novalius terdiam seribu bahasa.


“Aku mengerti kalau kau mengagumi tuan Willmurd, tapi, aku tidak senang jika tekad orang sepertinya dicatut sebegitu mudahnya tanpa mengerti arti sesungguhnya dari tekad itu—bahkan jika orang itu adalah cucunya sendiri.


“Kau kuat. Kau memiliki bakat. Kau memiliki harga diri. Kau juga memiliki mimpi yang ingin kaucapai. Semua sihir yang kaugunakan dalam cara berpedangmu memiliki aura itu.


“Mengertilah dulu apa itu arti melindungi yang sesungguhnya, lalu lawanlah aku lagi. Jika kau gagal, aku akan menghukum Dormant.”


“Do-Dormant...? Ta-tapi, ini masalahku, Yang Mulia, keluargaku tidak ada hubu—“


“Maka jangan kecewakan aku!


"Kunantikan hasilmu, Novalius....”

__ADS_1


......................


“Jika Yang Mulia Zeeta tidak menekanku seperti itu.... Aku takkan bisa berdiri bersama mereka. Oleh karena itu ... akan kujawab harapan dari Penyihir Harapan dengan tegas dengan teknikku yang baru ini!”


__ADS_2