
Hutan Sihir Agung... sebuah hutan yang mistik, megah, dan sangat bersejarah. Itu merupakan saksi terjadinya bermacam pergantian masa, perseteruan, dan buah tangan dari mereka. Terkadang buah tersebut merupakan kedamaian sesaat, terkadang pun berbentuk perselisihan. Hewan, tumbuhan, dan makhluk sihir di sana ikut menjadi tokoh utama tentang sejarah yang terus silih-berganti.
Zeeta yang ingin mengunjungi Ozy dan Aria, diketahui oleh Hugo yang telah memberinya anting khusus, yang memungkinkannya mengetahui kapanpun gadis tersebut memiliki keinginan untuk berkunjung. Ia bisa saja menjemputnya dengan sihir, tetapi ia urungkan niatan itu sebab Zeeta memiliki keperluan sampingan—mengunjungi Astray Land—sebutan bagi mereka yang tidak mengetahui nama Hutan Sihir Agung sebab mereka selalu tersesat di dalamnya. Ia ingin menyusurinya hingga sampai ke Grandtopia.
Luna bahkan bertanya mengapa ia ingin melakukan hal repot itu jika sihir saja sudah bisa membawanya segera ke hadapan Ozy dan Aria? Dan jawaban Zeeta adalah....
"Ini masih dalam bentuk persiapanku, Luna. Persiapanku untuk keputusan nanti."
Luna terbungkam, hanya bisa mendukung Zeeta dari belakang dan terus mengawasinya.
.
.
.
.
Sosok perak dari Zeeta tampak sangat mencolok di hutan yang sudah mulai gelap. Bunyi-bunyi hewan, baik dari serangga, burung, dan lain-lain, sudah mulai "menghantui"—setidaknya bagi mereka yang tidak mengenali hutan ini. Dengan Rune Kaunaz-nya, Zeeta mampu mengetahui arah Grandtopia, hutan ini pun sudah menganggap Zeeta sebagai "bagian dari hutan" karena pepohonan Chronos yang menjulang lebih tinggi dari Raksasa itu sudah mengenali mana Zeeta yang pernah cukup lama tinggal di Grandtopia. Sangat kecil sekali kemungkinan bagi gadis tujuh belas tahun ini tersesat, namun hanya satu hal saja yang menjadi pertanyaan baik untuk Hugo dan penduduk Grandtopia lainnya, juga Luna sendiri.
"Kenapa dia terus berhenti di tengah jalan dan termenung? Apa yang dia pikirkan?"
Sebagai Roh Yggdrasil-nya, Luna bisa menyadari jika Zeeta memikirkan hal yang tidak-tidak terhadap dirinya sendiri, yang dapat memungkinkannya menjadi Zeeta Alter. Biasanya jika seperti itu, Zeeta menunjukkan tanda-tanda sedih seperti tiba-tiba menangis dan wajah yang murung. Tapi kini, setiap kali dia berhenti, ia tersenyum dan beberapa kali melambaikan tangan pada makhluk sihir yang ikut berhenti memandanginya. Hal itu cukup lama, hingga akhirnya ia duduk begitu saja, meregangkan tangannya, dan para hewan kecil seperti tupai, burung, rusa, dan lain-lain, menghampirinya.
Gelak tawa Zeeta yang segera terdengar beberapa saat setelah para hewan menyambutnya, memungkinkan Luna bisa menyimpulkan satu jawaban yang ikut membuat hatinya berbunga dan hangat.
Zeeta mengelus lembut siapapun yang ada di pangkuannya. Mereka yang dielus pun tampak menikmatinya. Sebuah pemandangan yang sangat baru untuk Luna, Hugo, serta tidak lupa Reina yang dapat mengawasi lewat "mata" Chronos.
"Ya ampun, kalian ini imut sekaliii!" Zeeta terus mengelus bulu-bulu hewan di sekitarnya.
"Apa yang sebenarnya sudah kaulakukan?" tanya Luna yang menghampirinya.
"Tidak...." Zeeta menggeleng tanpa menghilangkan senyumnya. "Kautahu sejak dulu aku bisa mengetahui apa yang terjadi dengan alam melalui mana-ku, bukan? Yahh... maksudku tidak seutuhnya aku bisa mengetahuinya, tapi hanya jarak tertentu saja.
"Aku penasaran apakah mereka yang hidup di Astray Land ini bisa mengetahui apa yang kubicarakan dalam hati sembari mengalirkan mana-ku pada sekitar, ternyata beginilah hasilnya, hehe....
"Jika Vanadust bisa melakukan hal seperti ini...."
Zeeta meraba hamparan bunga-bunga di dekatnya.
"Dan jika Vanadust itu merupakan mana yang terdiri dari banyaknya ras, maka kupikir hal kecil seperti ini mungkin saja dilakukan olehku."
"Begitu...." Luna tersenyum. "Apa aku boleh tahu mengapa kauingin bicara dengan mereka?"
__ADS_1
"Aku hanya meminta maaf karena mana-ku telah membuat mereka ketakutan hingga berniat mengusirku dan memangsaku, tetapi setelah kubicarakan perlahan, mereka ternyata baik sekali.
"Maisie juga membantuku, lho, meski dia belum pulih seutuhnya. Ia menjelaskan semua yang menjadi alasanku mengamuk kala Malam Neraka itu.
"Setiap makhluk di Bumi ini ... memiliki perasaan. Bahkan untuk hewan ... juga tumbuhan.
"Oleh sebab itu, aku memohon bantuan pada mereka ketika Ragnarok nanti tiba. Mereka akan saling melindungi satu sama lain tidak peduli predator atau mangsa. Para makhluk sihir juga sama.
"Soalnya ... sebagai penentu Akhir Dunia ini, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku menumbuhkan lagi Yggdrasil. Setidaknya sampai masalah ini meredup, kuingin mereka menjadi sekutuku."
.
.
.
.
Lingkaran sihir bersinar hijau muncul di dekat Zeeta, dua orang muncul setelahnya.
"Ya, iya, itu sangat menyentuh dan bagus untukmu, tapi kau juga harus bicara dengan kami, 'kan?" suara ini berasal dari Aria. Ia datang bersama Ozy. Elf itu kembali ke sosok "anak kecil"-nya. "Lagi pula, apa kauyakin terus berada di sini?"
"Eh? Apa maksudmu?"
Zeeta tersenyum. "Nanti aku akan pulang. Aku ingin segera memastikan sesuatu dengan kalian, terutama Ozy."
"Hoo, jadi kami lebih penting daripada keluargamu? Asal kautahu, istana lagi-lagi heboh karena kehilangan lagi sosok dirimu. Kakekmu Karim, selepas kepergianmu, terlelap bagaikan telah disihir.
"Kau hanya tidak berani menatap mereka dan agar tidak menggoyahkan kemantapan hatimu, 'kan?"
Senyuman Zeeta dan gerakan tangannya yang terus mengelus, akhirnya meredup dan perlahan berhenti. Para hewan juga pergi meninggalkannya dengan agak ragu. "Tidak apa, pulanglah. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Kemudian, barulah mereka benar-benar mengangkat kaki. Zeeta lalu berdiri dan lanjut bicara. "Baik itu tiga ribu tahun yang lalu, dua ribu, seribu lima ratus, lima ratu, ataupun tiga ratus tahun silam....
"Hutan Sihir Agung selalu terlibat dalam perseteruan Manusia, Raksasa, Naga, dan Peri. Hutan ini selalu netral dan memberi keselamatan bagi siapapun yang membutuhkan, tetapi tidak ragu pula untuk menyingkirkan siapapun yang membahayakan.
"Tentu saja aku menyayangi keluargaku, Aria. Sangat menyayangi mereka. Namun sayangnya, hanya aku sendirilah pada akhirnya yang akan memutuskan, dunia ini harus seperti apa.
"Aku bukanlah Dewi, bukanlah orang yang mahakuasa, aku hanyalah Manusia.
"Agar tidak seperti diriku yang lain, aku bersiap diri—seperti keinginan Vanadust. Benih Yggdrasil yang lain pun sama. Luna juga menemaniku agar tetap bisa mengawasiku dan mendukungku.
"Ini adalah bagian dari persiapanku, Aria. Aku berbicara dengan mereka juga salah satu darinya.
"Aku menyayangi keluargaku tapi—"
__ADS_1
"Maka ajaklah mereka dan pikirkan semuanya bersama. Kau sudah berubah, bukan? Kau menyadari setiap kekuranganmu dan apa yang sangat berharga bagimu. Untuk itulah kau melakukan semua persiapan ini.
"Aku sudah mengenalmu lama, Zeeta. Kapanpun aku akan siap menjawab dan menemanimu, tetapi jika kau sudah yakin tentang keputusanmu yang itu... maka...."
Zeeta dibuat tersenyum kecil.
"Lepas saja anting buatan Tetua itu."
"Eh?"
"Untuk apa hal itu sekarang kalau kami bisa mengawasimu juga dengan kekuatan Reina? Kami akan menjemputmu jadi selesaikanlah semua urusanmu di sana atau kau akan menyesalinya."
"Baiklah.... Luna, ayo."
Luna yang melamun terkesiap. "Oh, baiklah...." Ia kemudian melompat dan hinggap di bahu Zeeta—seperti biasa. "Aku gagal...," batinnya, "aku seharusnya bisa menyadari semua yang dikatakan Aria, tetapi nyatanya.... Apa ini karena aku hanyalah bagian kecil dari Yggdrasil—" keduanya lalu hilang dengan sihir teleportasi.
Begitu keduanya sampai kembali di Aurora—tepatnya di depan istana—Zeeta segera bilang, "Kehadiranmu sudah cukup untukku, Luna. Tidak perlu kaupikirkan dalam-dalam." Ia tersenyum.
"Kau ... tahu yang kupikirkan?"
"Entah ini karena Rune atau bukan ... ya, aku tahu. Lagi pula...."
Keduanya melihat Scarlet dan Ashley yang penuh keringat dan napas yang terengah, terbelalak mendapati mereka, menunjuk, lalu berlari menghampiri.
"Aku sebenarnya sangat benci perpisahan. Sangat sakit dan mengiris hati, mengingatkanku pada pengorbanan Tuan Willmurd pada ibu dan ayah. Makanya aku lari, tetapi Aria malah menangkapku semudah ini.
"ZEEEETAAAAAAA!!!" jerit dua wanita lanjut usia tersebut.
Zeeta melirik Luna. "Oleh karena itu, karena sudah menjagaku selama ini, terima kasih, Luna!"
Luna terbelalak mendengarnya. Ia merasakan sesuatu yang baru. Kenapa Wadahnya itu bisa tersenyum seperti itu, padahal ia seakan-akan mengucapkan salam perpisahan?
Rasa itu amatlah campur aduk. Ada perasaan bersalah karena telah menyeret seorang Zeeta dalam masalah besar, tetapi hal itu tidak bisa dihindari karena sudah menjadi takdirnya. Kemudian ada pula rasa syukur karena ia bisa melihat Wadahnya tumbuh seperti ini, dan ada pula ... rasa sedih yang sangat dalam.
Lantas mengapa....
Mengapa ketika Wadahnya tahu dengan nasibnya nanti, ia malah tersenyum seakan tiada yang mengganggunya...?
Tidak. Itu salah.
Dia hanya menyembunyikan perasaannya. Makanya dia bilang ia siap. Ia menguburkan sedalam mungkin segala keinginan egoisnya. Dulu, ia sulit melakukannya, apalagi tentang mimpinya yang ingin menjadi koki. Namun sekarang, sudah bukan lagi waktunya untuk memikirkan keegoisannya.
Oleh sebab itu... Luna menggertakkan gigi dan tangannya. Ia bertekad. "Tidak akan kubiarkan hanya dia seorang yang menderita!"
__ADS_1