
"Istana Nebula adalah bukti nyata jika zaman dahulu, Manusia hidup damai berdampingan dengan semua makhluk yang ada di dunia ini, termasuk makhluk sihir yang sangat nakal itu." Penjelasan Suzy membuat adiknya semakin bertanda tanya.
"Tapi jika begitu, Kak, mengapa bangunan seperti itu tidak berada di Aurora...? Secara, keturunan Bulan seperti Zeeta dan leluhur-leluhurnya merupakan sosok yang sangat penting. Akan lebih masuk akal bila itu ada di sana!"
"Aku mengerti maksudmu, tetapi pernahkah Siren memberitahumu sesuatu yang sangat-sangat krusial tentang keturunan Bulan yang baru saja kausebut itu?"
"Hah? Tentang apa memangnya?"
"Itu—"
Tiba-tiba sebuah bulatan cahaya muncul di sebelah kiri Klutzie. Cahaya tersebut perlahan memadat dan menunjukkan identitasnya—Siren. "Biar aku yang menjelaskannya," katanya sesaat setelah mewujudkan diri.
"Kenapa kautak kunjung memberitahu Adikku hal sepenting itu? Apa kau berniat menyembunyikannya bahkan sampai ramalan itu benar-benar terjadi?" Suzy menatap tajam Siren.
"Tidak perlu kautatap aku seperti itu.
"Aku tidak memberitahu Lutz karena dia tidak pernah bertanya! Lagi pula, cepat atau lambat dia pasti akan menanyakan hal itu.
"Selama ini dia sibuk dengan kerajaannya sendiri. Aku tidak ingin menyita waktunya yang sangat ia curahkan sepenuh hati itu demi masa lalu yang sudah jauh lama terjadi."
"Siren...." Klutzie menatapi Siren yang mengalihkan wajahnya pada dinding.
"Haaahhh...." Suzy menghela napas. "Dasar makhluk yang penyayang! Kau juga seharusnya tahu kalau masa lalu yang sudah JAUH LAMA terjadi itu, adalah HAL PENTING untuk dia sendiri!"
"Ahh berisik, berisik!" Siren tidak menyangkal bahwa ia adalah sosok yang penyayang. "Lutz, aku akan memerlihatkan sejarah secara langsung padamu. Sejarah ini adalah cikal-bakal kerajaan Southern Flare dan Gala."
"Baiklah ... tapi, sebelum memulainya, aku ingin tahu, apakah Zeeta juga sudah mengetahui hal ini?"
"Sudah," jawab Suzy singkat, "seharusnya..., bila dilihat dari gelagatnya selama ini."
......................
[Beberapa menit kemudian....]
Suzy terdiam seribu bahasa kala melihat pipi adiknya basah oleh tangis yang tidak kunjung berhenti, meski matanya tertutup karena syarat dari Siren agar sihirnya tetap aktif.
Lalu, akhirnya Klutzie membuka mata. "Aku tidak menyangka sama sekali kalau istana itu... memiliki peran dan sejarah yang sangat...." Ia menyeka tangisnya. "Kak Suzy, kautahu sebenarnya apa yang menyebabkan ayah dan ibu harus menikah secara politik? Aku sangat yakin politik itu tidaklah bermakna yang demikian."
"Soal itu tanyakan saja pada ayah. Dia yang lebih pantas memberitahumu.
"Jika ada sesuatu yang harus aku beritahu, adalah alasan mengapa ibu jatuh sakit."
Klutzie mengernyit. "Apa hubungan ibu yang sakit dengan Nebula? Bu-bukankah penyakit ibu memang karena—"
"Tidak," tukas Suzy, "ibu kita sakit karena 'perjanjian' dengan leluhurnya."
"Per-perjanjian...?"
"Hoo...?" Siren menatap lurus Suzy. "Aku tak pernah tahu tentang itu meski aku selalu mengawasi kalian."
"Heh." Suzy tersenyum kecut. "Tentu saja tidak, aku saja tahu SETELAH bekerja di sini."
"Mengapa sesuatu yang berkaitan dengan ibu bisa berada di kerajaan lain...?" alis Klutzie berkedut.
"Karena yang kutemukan bukanlah hal resmi, melainkan buku harian milik suami dari Ratu Scarlet, Raja Barghest.
"Dua orang penting negeri itu menyaksikan sendiri pernikahan kedua orang tua kita. Ditambah, Raja Barghest turut terlibat dengan penyakit ibu, demikian pula dengan ayah."
"Jadi, maksudmu...."
"Yah, dengarkan aku saja dulu sambil kaulihat buku hariannya."
Ketika Suzy menghampiri rak dimana buku harian itu disimpan....
"Soal itu, kuharap kau tidak keberatan untuk turut sertakan aku." Alicia datang seorang diri dengan set lengkap ratunya.
"Pa-Paduka Ratu!" Suzy segera membungkukkan badan untuk memberi hormat. Demikian pula dengan Klutzie.
"Tidak apa. Aku kebetulan ingin memeriksa kondisimu, menggantikan suamiku.
"Aku hanya ingin dengar lebih lanjut tentang ayahku yang baru saja kausebut itu. Kau juga tahu, bukan, kalau ibuku sama sekali tidak pernah ingin memberi tahu secuil pun tentang kematian ayahku?"
Suzy mengangguk-angguk.
"Yang aku tahu, ibu hanya menyebut raja Eizen terlibat dengan kematiannya. Oleh sebab itu, ucapanmu itu sungguh membuatku penasaran."
"A-aku juga sebenarnya ingin segera memberitahu Anda tentang ini...." Suzy merasa bersalah. "Tetapi, kapanpun aku ingin melaporkannya, waktunya sering tidak tepat. Terkadang Anda disibukkan oleh urusan kerajaan, ataupun kesibukan dengan dua putri Anda...."
"Baiklah. Lain kali, jika ada apapun yang sepenting ini, jangan buat aku tahu terlalu terlambat seperti ini."
"Baik, Yang Mulia."
......................
Suzy menunjukkan buku harian tebal dengan sampul yang terbuat dari papan kayu. Sampul tersebut tampak usang karena lima buah koyakan berbentuk cakar. Di tengah-atas sampul tersebut bertuliskan "The Beast King's Diary".
"Raja Buas...?" Alicia mengernyit saat membacanya.
"Yang Mulia Ratu," panggil Klutzie, yang menganggap heran tatapan Alicia.
"Ada apa?" tanya sang Ratu.
"Apa Anda tidak pernah bertemu dengan raja Barghest sebelumnya? Maafkan aku bila salah, mata Anda seolah bicara jika Anda tidak pernah tahu tentang ini."
"Jika pertanyaannya adalah 'pernah atau tidak', maka jawabannya adalah 'pernah'. Namun, jika pertanyaannya adalah 'kenal atau tidak', jawabannya adalah tidak."
Kakak-adik itu sekarang terheran-heran. "Tidak kenal...?"
"Situasiku ketika kecil cukup ketat. Kalian tahu sendiri seperti apa ibuku.
__ADS_1
"Tidak boleh keluar istana, harus selalu menjaga tata kramaku sebagai tuan putri, juga selalu menjaga martabat keluargaku.
"Oleh sebab itu, masa kecilku selalu dipenuhi oleh kelabunya awan.
"Meskipun aku sering bertemu dan melihat ayahku sendiri, aku sangat jarang bicara dengannya.
"Di mataku, dia hanyalah pria yang tampak bengis dengan janggut dan giginya yang tajam. Matanya juga selalu menatapku dengan tatapan dingin.
"Namun ... aku tetap ingin tahu. Apa yang sebenarnya ayahku lalui selama aku tak tahu apapun tentangnya dan tiba-tiba mendengar kabar bahwa ia mati.
"Hatiku terasa campur aduk kala itu. Aku ingin sedih, tetapi aku tidak bisa mengucurkan air mata. Aku tahu dia ayahku, tetapi dia seperti bukan ayahku."
"Ratu Alicia...." Suzy dan Klutzie bersimpati dengannya.
Sementara itu, Siren yang berada di sudut ruangan dan mendengar semua percakapan merekapun berkomentar, "Tidak peduli kapanpun zamannya, Manusia selalu mendambakan hubungan yang hangat dan erat, ya." Dia juga menyelinginya dengan senyum kecil.
Alicia ikut tersenyum. "Kau benar sekali."
"Kalau begitu," suara Suzy menarik perhatian Klutzie dan Alicia. "Aku akan menunjukkan bagian yang kita bicarakan tadi. Selebihnya, silakan Anda baca sendiri, Yang Mulia. Tenang saja, aku hanya membaca hal-hal yang berkaitan dengan Nebula."
"Baiklah." Alicia mengangguk.
......................
The Beast King's Diary, Chapter V.
Aku adalah perwujudan dari segala keganasan. Aku adalah wujud dari kekacauan.
Meskipun begitu, ada seseorang yang mau menerimaku apa adanya.
Dia adalah pujaan hatiku, Scarlet. Sifatnya yang selalu optimis dan keras, membuatku sadar bahwa perlahan aku terbuai olehnya.
Aku bukanlah rakyat Aurora.
Aku bukanlah bagian dari kerajaan manapun.
Yang aku tahu, aku tumbuh di hutan bersama makhluk sihir.
Aku tahu Elf, aku tahu Minotaur, aku tahu Slime, dan banyak makhluk sihir lain yang tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Manusia.
Ingatanku selalu berkata bahwa aku bukanlah Manusia. Aku dibuang oleh orang yang seharusnya menyayangi dan sebaliknya.
Aku tidak benci diriku kapanpun melihat bayanganku di sungai. Wujudku memang menyeramkan, tetapi inilah aku. Setidaknya, hutan selalu berpihak padaku. Aku bisa berbicara dengan mereka, oleh sebab itu aku bisa bertahan selama ini.
Aku tidak butuh teman bicara.
Atau begitulah pikirku sebelum bertemu dengan Scarlet.
Aku bertemu dengannya setelah hutan memperingatiku akan adanya bahaya besar yang mengancam sebuah kerajaan.
Karena penasaran, akupun mencoba melihat apa sebenarnya bahaya itu. Mungkin saja, aku bisa membantu.
Aku salah.
Ancaman itu berasal dari sebuah makhluk yang sangat jahat. Aku tidak tahu, tapi aku merasa dia sangatlah jahat. Aku tidak melihatnya secara dekat, tetapi dia selalu menikmati apapun yang dilakukannya dengan senyuman yang mengerikan.
Aku mengakui diriku adalah makhluk yang menyeramkan yang tidak ingin didekati oleh makhluk lain, tetapi hutan benar. Dia adalah ancaman.
Makhluk itu menuju ke sebuah kerajaan yang memiliki bangunan yang sangat tinggi. Aku tidak tahu apa itu pada awalnya, sampai Scarlet menjelaskannya padaku.
Pertemuanku dengan Scarlet adalah ketika aku menyelamatkannya dari Slime yang ... tidak berkelakuan seperti Slime pada umumnya. Ia menyerap segala kehidupan menjadi mananya dan menghancurkan yang didekatnya dengan meledakkan diri. Dia bisa beregenerasi meskipun sudah tercerai-berai.
.
.
.
.
"Cih, dia beregenerasi lagi!" Scarlet muda mengumpat dengan keringat di sekujur lehernya. "Kudengar masyarakat butuh bantuan karena ada makhluk hitam-keunguan mengerikan yang menghambat mereka menjalani pekerjaan, bahkan dia sudah menelan korban jiwa... tak kusangka dia setangguh ini!
"Tapi tidak mungkin aku berhenti setelah mengetahui bahaya darimu!"
Scarlet bersiaga dengan meninju kepalan tangannya sendiri. Ia bahkan menyeringai. Aura merah menyelimuti tangannya dan perlahan pada seluruh tubuh.
Slime yang berukuran empat kali lipat darinya, berwarna biru gelap dan memiliki wajah, balik menyeringai padanya.
Scarlet melompat tinggi untuk memberi momentum pukulan keras. "TERIMA INI!!"
Namun tiba-tiba, ia terbelalak dan jatuh begitu saja. "A-apa ini...? Kekuatanku...." Ia melihat tangannya bergemetar. Untuk bangun dari posisi tengkurapnya saja, ia kesulitan.
Tubuh Hollow Slime itu berubah menjadi merah—serupa dengan aura dari Scarlet sebelumnya.
"Heh." Scarlet tersenyum dan menutup matanya, seakan pasrah. "Sungguh kesalahan fatal dariku. Tidak menyadari dia bisa menyerap mana...? Ha ha ha ha!"
Begitu Hollow itu hendak meledakkan diri....
'ZRATTT!'
Terdapat lubang tepat di tangah tubuhnya. Scarlet menganga saat melihat ada seorang pria yang dari belakang terlihat seumuran dengannya, juga memiliki rambut pirang sepanjang punggung yang diikat satu dekat tengkuk. Tubuhnya dilumuri oleh cairan Slime dan ia sama sekali tak terganggu dengannya. Bagian bawah tubuhnya tertutupi oleh kulit beruang.
Kesan wild pada pria itu segera tertanam dalam benak Scarlet.
"Kau tidak bisa mengalahkannya dengan sihir," ujar pria itu, yang kemudian berbalik badan.
Scarlet semakin menganga saat melihat cambang lebat di pria tersebut. "Tipeku sekali...!" gumamnya keceplosan.
"Halo? Kaudengar aku?" pria itu—Barghest—berjongkok di hadapannya.
__ADS_1
"U-uhm aku dengar, aku dengar!"
"Lihat ini?" Barghest menyodorkan sebuah bola—inti dari Hollow. "Kau harus menghancurkannya dalam sekali serang atau mencabutnya dari tubuhnya seperti yang kulakukan, jika tidak—"
Mendadak, Scarlet merasa marah. "HAH?! Kau meremehkan aku?
"Soal itu pun aku tahu! Jika tidak, untuk apa aku menantangnya?!"
Scarlet berbohong. Ia ingin tampil "keren" di mata pria ini.
"Aku tidak tahu juga... tapi, jika kausudah tahu tentang inti ini, aku tidak akan berada di hadapanmu seperti ini, 'kan?"
Ter-skak, Scarlet hanya bisa diam. Tubuhnya masih merasa lemas, ia telentang begitu saja. "Terserah kau saja!"
"Hmm." Barghest kemudian menghancurkan intinya dengan sekali cengkeraman. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
'Schwapp!'
Loncatan Barghest begitu cepat, hingga angin sedikit meniup rambut Scarlet. "Haaahh~" ia menghela napas. "Setidaknya beritahu aku namamu!
"Tapi....
"Belakangan ini, kemunculan makhluk seperti ini semakin kuat saja... kuharap ini bukan pertanda buruk."
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian....
Barghest berada di atas sebuah batang pohon sambil menikmati buah, kala melihat Scarlet sedang mencari "sesuatu". Ia tetap berada di tempat bahkan sampai hari menjelang malam.
"Sial!" umpat Scarlet. "Gara-gara pria itu, aku jadi tersesat! Andai aku sudah bisa sihir terbang layaknya Ashley...."
Melampiaskan kekesalannya, Scarlet menendang sebuah biji sebesar genggaman tangan secara asal.
"Kalau begitu, mau kuantarkan keluar hutan?"
"Aaah!"
Reflek, Scarlet menampar sosok yang tiba-tiba bersuara di belakangnya.
Bekas lebam berbentuk tangan di pipi Barghest segera tertinggal, tetapi lelaki itu tak menunjukkan ekspresi kesakitan atau apapun. Malah....
"Maaf, apa aku mengejutkanmu?"
Scarlet segera tergagap. "Ti-ti-tidak, sama sekali tidak!" wajar saja demikian, sebab pria yang dicarinya seharian ini muncul seperti harapannya. Yah, SETIDAKNYA.
"Kalau begitu tunjukkan kakimu."
"Ha-hah? Kenapa aku harus—"
Tanpa menunggu "iya" dari Scarlet, Barghest segera mengangkat pergelangan kakinya—yang tentu saja mengakibatkan dia jatuh. "Bangsat! Apa yang kau—" dia lagi-lagi membisu saat melihat tindakan lanjutan Barghest. Ia mengobati luka parah di kakinya hingga berdarah-darah.
"Se-sejak kapan...? Aku tidak merasakannya sama sekali."
"Biji yang kautendang itu memiliki racun. Tidak menyebabkan sakit, tetapi jika dibiarkan bisa membuatmu kehilangan kaki."
"A-apa?!"
Barghest menutupi lukanya dengan tanaman, yang tentunya menjadi tanda tanya bagi Scarlet. Saat sudah selesai, ia berjongkok di depan gadis berambut merah itu.
"Apa?" tanya gadis itu.
"Aku akan mengantarmu pulang. Dengan kaki seperti itu, apa yang bisa kaulakukan?"
Scarlet lagi-lagi merasa diremehkan. "Tidak, terima kasih!" bentaknya, "hanya luka seperti ini, takkan membuatku lemah! Cukup tunjukkan saja jalan pulangnya dan terima kasih!"
"Begitu. Baiklah." Kini Barghest menyodorkan tangan kanannya.
"Apa lagi?!"
"Pegang tanganku. Jalannya gelap, kau tidak ingin semakin tersasar, bukan?"
"Cih... baiklah!"
Terlihat menolak, namun dalam hati Scarlet sangat-sangat senang.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berhasil keluar hutan.
"Terima kasih," kata Scarlet, tersenyum pada Barghest.
Barghest tersentak saat mendengarnya. "Kau... tidak takut padaku?"
"Takut? Kenapa?"
"Penampilanku seperti ini."
"Hah? Omong kosong apa yang kaukatakan?! Kau ini baik! Kau bahkan menyelamatkanku dua kali!"
Barghest tersenyum. "Begitu, ya...."
"Ya!" Scarlet menunjukkan senyum lima jarinya.
Tanpa disadari mereka, di kedalaman hutan yang baru saja mereka lalui....
__ADS_1
"Heeeeh...." Seekor Peri lelaki tersenyum lebar. "Siapa yang menyangka...."