Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Janji Seorang Lelaki


__ADS_3

[POV Danny.]


Zeeta sudah menjadi temanku sejak lama. Ayahku yang seorang pemburu dan ayahnya yang seorang koki terkemuka di desa, adalah rekan karib. Kapanpun keduanya saling memiliki masalah, baik tentang pekerjaan atau sekadar menghabisi waktu bersama, aku dan Zeeta sering hadir di dalamnya.


Sejauh yang kuingat, kami berdua selalu bermain bersama, demikian pula dengan adikku. Berbeda dari adikku yang tangguh, Zeeta mudah menangis bahkan jika itu hal yang sepele. Apapun yang kami lakukan saat itu terasa sangat menyenangkan dan aku menghartakarunkannya.


Zeeta tidak bisa ditinggal seorang diri. Selain cengeng, dia juga sering berpikir berlebihan, yang berujung pada dirinya menjadi jatuh sakit.


Kukira aku dan adikku sangat mengerti seperti apa Zeeta. Tetapi, ketika kami tahu bahwa dia adalah seorang Tuan Putri, entah kenapa kami jadi merasakan jarak yang semakin melebar dengannya.


Kami memutuskan secara sepihak.


Jika dia memang menghargai kami sebagai temannya, dia harus meluangkan waktunya untuk kami.


Tetapi ... aku salah.


Ini lebih runyam dari apapun yang pernah terpikirkan olehku saat itu.


Zeeta harus kulindungi apapun yang terjadi! Dia harus terus hidup dan mematahkan masa depan yang dilihatnya!


Demi mewujudkan hal itu, aku bahkan berani untuk....


......................


Danny dan Ashley datang ke medan pertempuran yang sekitaran mereka hanya ada bebatuan berlubang besar dan pohon-pohon yang berserakan. Mereka juga mendapati Elbrecht—sosok yang tidak pernah dilihat tetapi bisa dirasakan dari mana-nya, sedang berusaha melawan pasukan Phantasmal dan dua makhluk berwujud mengerikan. Yang satu adalah Banshee dan yang lain adalah Grimm yang telah berevolusi sekali lagi.


Kini Grimm memiliki api kuning kemerahan di sekujur belakang tubuhnya. Ukuran tubuhnya pun semakin membesar. Keempat lengannya teralirkan api yang berasal dari belakang tubuhnya. Dia tidak lagi memegang tiga senjatanya.


"Demi Aurora... apa yang sedang kita hadapi ini...?!" Ashley tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Pasti 'kan kubunuh ... aku pasti 'kan membunuhmu ... Elbrecht...!" gumam Grimm.


Melihat kedatangan Danny yang membawa senjata berkekuatan khusus, membuat Banshee segera melengkingkan teriakannya. Untuk sekali lagi, Phantasmal yang menjadi pasukannya mati dan menjadi kekuatannya. Tubuhnya juga semakin menciut dan mengubah tubuh bagian ularnya menjadi kaki. Banshee saat ini seperti perempuan peyot yang sangat kurus dan bermata merah.


Teriakan makhluk aneh itu seketika memaksa Ashley dan Elbrecht jatuh berlutut tetapi tidak berdampak pada Danny.


"A-apa yang?!" ujar Ashley, "tubuhku tiba-tiba...." Ia merasa amat sangat lemas.


Grimm menoleh ke arah Banshee perlahan-lahan. Dia tidak senang dengan tindakannya. "Jangan ganggu aku...," katanya. Kemudian tiba-tiba, tubuh Banshee berselimutkan api. Ia terpaksa menjauh dan memadamkannya dengan teriakannya.


Banshee juga sama sekali tidak senang dengan tindakan rekannya tersebut. Kenapa dia tidak menerima bantuannya? Dia bahkan berhasil membuat Elbrecht langsung jatuh lemas hanya dengan teriakannya saja. "Biarkan saja, Banshee." Suara Suzy terdengar di kepalanya. "Kau hadapilah bocah dengan senjata itu. Dia berbahaya. Biarkan Grimm menjadi pusat perhatian si Naga." Mau tak mau, Banshee menuruti kata-kata Suzy.


Danny menyadari lawannya tidak bisa bekerja sama. Tatapan Banshee pun jadi terarah padanya. "Nyonya Grand Duchess, kusarankan agar Anda mundur. Ini situasi yang hanya bisa kuata—tidak, Crescent Void atasi. Kupikir, makhluk itu dapat menyerap kekuatan siapapun yang mendengar teriakannya. Akan sangat kerepotan jika aku harus melindungi Anda," ujar Danny.


Ashley tidak senang mendengarnya. "Cih, baru kali ini aku jadi beban di medan pertempuran. Apa boleh buat. Aku akan segera kembali kapanpun senjatanya selesai. Jangan mati 'Nak!" Ashley kemudian memakai sihir teleportasinya.

__ADS_1


"Ya. Aku akan sangat menantikan kalian, Grand Duchess. Entah kenapa, aku sangat merinding kedinginan...." Danny kemudian berkuda-kuda, mengarahkan kedua pisaunya ke bawah, searah dengan lengannya. Ia juga mengeluarkan Buku Sihirnya yang berwarna merah gelap.


Sama seperti Danny, Banshee juga beraba-aba. Ia kemudian berlari dengan sangat cepat.


"Apa-apaan kecepatannya itu?" batin Danny.


"Nak, berhati-hatilah! Dia bahkan belum menjadi Hollow!" seru Elbrecht. Ia langsung meladeni Grimm yang masih terpaku dengannya.


"Aku tahu!" Danny menghubungkan kedua pisaunya dengan semacam listrik di masing-masing gagangnya, lalu melemparnya.


Banshee menyeringai. Ia percaya dapat dengan mudah menghindari serangan yang menurutnya dilakukan asal-asalan itu. Tetapi, tentu saja ia salah. Lawannya adalah pasukan yang dilatih khusus oleh Roh Yggdrasil.


Ketika pisau itu hendak dihindarinya, Danny muncul tiba-tiba memegang pisau sebelah kanannya. Banshee terbelalak dengan kedatangannya. Danny kemudian melakukan putaran ke kiri agar pisau sebelah kiri berputar mengenai leher Banshee.


'ZRAT!'


Danny segera memberi jarak dari Banshee. "Cih! Padahal sedikit lagi!" Ia gagal melakukan satu serangan mematikan. Pisaunya nyaris menebas kepala Banshee, menyisakan sedikit bagian di leher kirinya.


"Tak bisa kauanggap sebelah mata senjata ini atau bahkan aku! Kedatanganku, adalah tanda untuk berakhirnya pertempuran ini!" seru Danny yanh sombong diri.


Banshee melihat tumpahan darah yang memandikan tubuhnya. Ia menangis tetapi tidak bisa berteriak. Amarah segera terkumpul di kepalanya, membuat matanya jadi memerah. Banshee melancarkan serangan dari jarak jauh. Telapak tangannya mengeluarkan tonggak runcing hitam panjang.


'ZWING!'


Danny berhasil menangkisnya, tetapi ia nyaris terkena. Pipinya mengeluarkan bekas sayatan yang mengucurkan darah. Ia tidak tinggal diam. Ia melapisi lengan kirinya dengan sihir, mencengkeram erat-erat tonggak itu kemudian melemparkan sekali lagi pisau kembarnya. Atas cengkeraman erat itu, Banshee tidak dapat kabur, yang memaksanya untuk melakukan hal nekat—menebas tangannya sendiri dengan tangan yang lain.


"Akan kuakhiri ini!" Tubuh Danny berselimutkan aura emas. Begitu juga dengan pisau kembarnya, lalu ia mulai merapal.


"Dunia ini adalah dunia yang diciptakan untuk kedamaian! Dunia ini bukanlah dunia yang pantas untuk engkau tinggali!


"Dengan kekuatan Roh aku akan menyegel bencana di hadapanku. Oh, wahai makhluk yang tersesat, kembalilah menuju kehampaan!"


Danny berkuda-kuda untuk serangan akhirnya. "Berakhir sudah!" Ketika dia akan menghempaskan kakinya....


'BWOOMMM!'


Ledakan besar yang menimbulkan asap pohon bercincin membumbung tinggi.


......................


Deruan angin menerjang rumah abad pertengahan yang dapat terasa oleh Gerda. Dinginnya begitu menusuk hingga ia harus bertanya, apakah yang lain merasakan hal yang sama?


"Tidak. Aku tidak merasakan apa-apa," jawab Mellynda. Gelengan kepala didapat dari Colette dan Marcus.


"Apa ini...? Firasat tidak enak apa ini yang kurasakan...?" batin Gerda.

__ADS_1


Sementara itu di ruangan khusus tempat latihan Zeeta dan Ozy berada, Zeeta merasakan mana Danny melemah dengan sangat cepat. Hal itu mengusik konsentrasinya ketika dia sedang memegang tongkat sihir untuk berlatih Rune.


"Tidak. Jangan pernah terbesit untuk keluar. Latihanmu belum selesai. Jika kau mengakhiri ini setengah jalan, semua yang telah kaupelajari tak ada gunanya. Percayalah pada rekan-rekanmu!"


"A-aku tahu! Aku akan berusaha!"


......................


Terdapat lubang besar sebagai dampak dari ledakan sebelumnya. Danny berada tepat di tengah-tengah lubangnya. "Khhh ... sialan.... Serangan dari mana tadi itu...?" Danny melihat ke sekeliling dengan segenap kekuatan matanya. Ia tak dapat menemukan siapapun. "Tetapi setidaknya ... dia sudah kubuat terluka parah. Jika terus begini dia pasti akan mati tanpa bisa berevolu—"


"Konyol sekali, bukankah begitu, Banshee?" Danny mendengar suara dari atas lubang. Ia melihat ke arahnya. Tubuh Banshee yang sebelumnya terluka parah sudah kembali normal, membuat Danny terbelalak.


"Dia menyerang tanpa pikir panjang, akankah ada sesuatu yang menghalanginya? Ini adalah medan pertempuran. Kau harus waspada dengan segala kemungkinan. Jika tidak bisa, kau hanya akan jadi pihak yang kalah," sambung Suzy.


"Lukanya sembuh? Itu adalah luka yang diberikan senjata suci, lho!" batin Danny. Ia mendapati orang yang baru tiba itu menatapnya rendah.


"Jangan bercanda! Aku sudah berjanji! Aku berjanji akan melindungi Zeeta apapun yang terjadi! Aku takkan membiarkan diriku mati sebelum janjiku tuntas!" Danny mencengkeram erat pisaunya. "Demi mewujudkan hal itu, aku berani untuk menantang kematian itu sendiri!"


Danny berusaha bangun dengan gontai. "Aku...," katanya terbata-bata.


Melihat Danny masih sanggup bangun membuat Suzy terkesan. "Hooo...." Ia tersenyum.


"Aku pasti akan melindungi Zeeta!"


Ketika Danny mengucapkan kalimatnya, Gerda datang bersama Ashley. "Kakak...!" batinnya.


"Uooggghhh!!" Buku Sihirnya bercahaya. Danny kemudian melontarkan diri ke kedua lawannya. Suzy menyeringai. Dia hendak meladeni Danny tetapi sebilah pisaunya dilempar padanya yang membuatnya harus menghindarinya ke belakang. Sebilah pisaunya lagi Danny lempar ke Banshee. Sebelum pisau itu meraih dirinya, Banshee berteriak, tetapi tidak ada guna. Pisau itu akan menebas dirinya sekali lagi tetapi tindakan tak terduga diambil Danny. Ia justru menarik lagi kedua pisaunya.


Segalanya terjadi dengan cepat. Suzy yang mendapat kesempatan untuk menyelamatkan Banshee hendak menghampirinya, tetapi ia justru mendapati kedua kakinya tertusuk oleh tanah meruncing.


"Anak ini... dia berencana melakukan ink sejak awal?!" batin Suzy.


Danny menekuk kakinya, lalu membiarkan lututnya mendarat pada kedua bahu Banshee. Tubuhnya dibalut aura emas dan merapal lagi dengan cepat.


"Dunia ini adalah dunia yang diciptakan untuk kedamaian! Dunia ini bukanlah dunia yang pantas untuk engkau tinggali!


"Dengan kekuatan Roh aku akan menyegel bencana di hadapanku. Oh, wahai makhluk yang tersesat, kembalilah menuju kehampaan!"


Usai merapal, tubuhnya menimpa Banshee sehingga memudahkannya untuk menebas kepalanya.


'ZRANG!'


Darah terciprat ke wajah dan tubuh Danny. Kepala Banshee berhasil ditebas dengan pisau kembarnya. Darah yang melumuri tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran mana emas.


"Gerda! Sisanya kuserahkan padamu!" pekik Danny, yang kemudian jatuh pingsan.

__ADS_1


Suzy yang mendengarnya justru semakin tersenyum. Dia tak menduga anak-anak itu sungguh kuat.


__ADS_2