
...
Tanpa sadar aku menahan napas, tidak percaya rencana Bayu benar-benar matang padahal dia merencanakannya baru tadi pagi. Sembari menyandarkan kepalaku pada punggung sofa, aku masih menatap Bayu dan bertanya.
“Lalu bagaimana tentang tabrakkan dan motor yang kau ambil di bengkel itu? Apa itu di rencanakan juga?”
“Kalau soal motor sebenarnya itu kebetulan saja memang motor yang sedang aku service dan akan di ambil hari ini. Dan tentang tabrakkan itu ya memang di sengaja karena mobil-mobil itu mengikuti kita, aku meminta Jack untuk membuat keributan di dekat bengkel itu. Lalu kebetulan juga Noval memberitahuku sebelum berangkat kalau dua temannya dari tim lain akan ada tugas siang ini di daerah itu, mereka setuju untuk pura-pura menyamar menggantikan kita saat kita keluar dari mobil.”
“Waahh kau beruntung sekali.” Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar penjelasan Bayu. Semua yang di rencanakannya ada faktor keberuntungan yang kebetulan.
“Itu namanya memanfaatkan situasi yang ada.” Jawab Bayu terlihat bangga dan senang.
“Lalu bagaimana dengan penawar itu? Kau belum memberikannya padaku ‘kan?”
Bayu menggeleng sembari tangannya terangkat menyentuh rambutku, mengusapnya pelan dan menyelipkannya di belakang telingaku.
“Belum. Dalam tiga jam, semua orang yang mengejarmu akan aku tangkap. Setelahnya, aku akan membawamu ke tempat yang aman. Bertahanlah sebentar lagi.” Bisikkannya terdengar seperti lagu tidur untukku.
“Maka dari itu dokter Stefan tadi memberimu suntikan agar kau bisa bertahan untuk tiga jam ke depan. Sebenarnya aku tidak ingin mengenyampingkan kesembuhanmu tapi situasi pagi ini di luar kendali. Aku benar-benar khawatir saat melihatmu tadi pagi mimisan, itu gejala kambuh. Tapi untunglah dokter Stefan sempat melakukan penelitian sebelumnya, obat itu yang dokter Stefan sebut vitamin memang bisa menahan rasa sakitmu tapi tidak bisa menyembuhkan.” Sekarang aku mengerti semuanya kenapa mereka berdua begitu khawatir aku akan kesakitan.
Mengingat lagi saat kambuh di rumah sakit, rasanya sangat buruk.
Aku tersenyum padanya, betah menatap wajahnya yang tampan. Lensa matanya hitam, hidungnya mancung, bulu matanya panjang dan rambut pendeknya yang tampak halus.
Seperti tertular dariku, perlahan senyum Bayu ikut mengembang membalas senyumanku. Aku melihat dengan jelas lesung pipi kecil di dekat bibirnya. Lalu aku bergerak mendekatinya dan mengecup pipinya dalam-dalam.
Kelopak mata Bayu melebar ketika aku melepaskan ciumannya dan berhadapan dengannya. “Terima kasih. Aku tidak mempermasalahkannya. Lakukan apapun yang menurutmu terbaik.”
“Jangan menyembunyikannya dariku kalau kau merasakan sakit, oke?” Aku mengangguk menjawabnya.
__ADS_1
Dari sotot matanya ada kelegaan yang menguap, sekarang Bayu terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Kepalanya juga ikut bersandar di punggung sofa seperti yang aku lakukan.
Karena lelaki ini tidak mengalihkan tatapannya sejak tadi, pipiku perlahan memanas dan detak jantungku juga semakin kencang. Meskipun begitu aku tidak ingin mengalihkan tatapanku, aku suka saat kami hanya diam saling pandang seperti ini karena dengan begini aku bisa melihat dengan jelas ekspresinya, bagaimana kelopak matanya mengerjap dan tatapannya yang penuh cinta.
Sangat nyaman berada di sampingnya.
“Sebenarnya sudah lama terlintas di pikiranku ingin memberikanmu perawatan wajah.” Kataku mengerutkan kening melihat lebih detail wajah Bayu.
Lelaki ini mengerutkan keningnya heran tapi tidak bertanya, menunggu perkataanku selanjutnya. “Rasanya aku hanya ingin memanjakanmu saja.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja padahal seharusnya itu suara pikiranku. Bayu tersenyum lebar dan sorot jahil di matanya muncul ke permukaan. “Ohh ingin memanjakanku?? Kenapa tidak mulai dengan ciuman seperti barusan.”
Bayu menunjuk pipinya yang membuatku terkekeh pelan kemudian aku bangkit tegak di posisi dudukku ini dan tanpa protes mencium pipinya dalam-dalam. Lelaki ini kembali duduk tegak menghadapku.
“Yang ini juga.” Dia menunjuk pipi lainnya, aku segera menciumnya juga.
“Kalau begitu yang ini.” Kali ini Bayu menunjuk keningnya dan tanpa protes aku menarik bahunya agar sedikit menunduk dan menciumnya.
“Satu lagi.” Jari telunjuknya sekarang menyentuh bibirnya, memintaku untuk menciumnya di sana.
Bayu justru cemberut kesal, bibirnya yang melengkung ke bawah membuatnya terlihat lucu. “Aku akan memberikannya kalau kau berhasil menangkap mereka semua.”
“Kau harus menepatinya!” Bayu menatapku serius yang justru membuatku tertawa lalu mengangguk.
“Ngomong-ngomong, kenapa prof. Bora belum kembali?” Sepertinya pertanyaanku menyadarkan Bayu tentang wanita itu. Dia berdiri dan melangkah mendekati jendela ruangan ini, memperhatikan situasi di luar.
“Bagaimana kalau orang-orang itu mengejar kita sampai sini juga?” Tanyaku mulai khawatir. Sebelum Bayu menjawabnya tiba-tiba suara dering telpon di meja kerja prof. Bora berdering. Kami saling pandang ragu siapa yang harus mengangkat.
“Biar aku yang angkat. Mungkin itu dari pihak kampus.” Kataku berdiri cepat dan mendekati telpon kantor berwarna putih itu lalu mengangkatnya.
“Hal—“
“Pergi!! Orang-orang itu datang ke sini mencariku. Mereka masih di lantai bawah. Bersembunyilah dulu di ruang lain dan ambil jalan ke gerbang belakang. Aku akan menahan mereka selama mungkin, mereka tidak akan bisa macam-macam di sini.” Jantungku berdetak cepat dan aku gugup mendengar suara prof. Bora berbisik di telpon, belum sempat aku menjawab telponnya sudah di matikan.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Mereka di sini! Prof. Bora baru saja menyuruh kita untuk kabur melalui gerbang belakang.” Jawabku cepat. Bayu langsung menggenggam tanganku dan menarikku tapi sebelum sampai di pintu, aku menahan tangannya.
Lelaki ini menoleh padaku, ekspresinya yang gugup tampak jelas sekarang. Ya ampun ada apa dengannya? Pagi ini aku sudah lebih banyak melihat ekspresinya yang seperti itu. Seharusnya dia lebih percaya diri.
“Jangan katakan—“
“Aku rasa kita tidak bisa terus menghindari mereka. Aku tidak mau orang lain yang susah karena kita terus menghindar seperti ini!”
“Jadi maksudmu kau ingin menyerahkan diri begitu saja?! Aku sudah bilang tidak akan terjadi apa-apa padamu!”
“Kau yang pergi! Kembalilah dan selamatkan kami dengan percaya diri. Pagi ini aku lebih banyak melihat ekspresi gugupmu. Aku bukan kelemahanmu ‘kan? Jadikan aku kekuatanmu.” Aku menggenggam kedua tangannya erat, tersenyum lembut berusaha menenangkan.
“Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. Aku sudah pernah melewati yang lebih sulit dari ini. Mereka hanya mengincar sampel darahku, sebelum mereka mengambilnya kau harus datang, oke?” Bayu ingin membantah tapi sepertinya apa yang aku ucapkan sedang dia pertimbangkan.
“Tangkap mereka semua untukku, jadilah Bayu yang keren dan percaya diri seperti biasanya. Aku akan menunggu.” Kali ini aku menangkup kedua pipinya, menatap dalam sorot matanya, berusaha untuk meyakinkannya.
Sampai saat ini, sudah banyak bantuan yang aku dapatkan mulai dari anggota tim Bayu, dokter Stefan, kakek sampai prof. Bora. Setidaknya kali ini aku ingin mencoba untuk lebih bersabar dan tidak hanya menikmati apa yang sudah terencana.
Perlahan sorot mata Bayu berubah lebih lembut, senyum kecilnya juga sudah muncul. Dia menarikku ke dalam pelukannya, memelukku erat lalu mencium keningku dalam-dalam sebelum melepaskannya.
“Aku mengerti. Kau harus menungguku!”
Aku mengangguk pasti dan segera mendorongnya ke pintu lalu berkata. “Saat nanti kau keluar, coba beritahu mahasiswa yang tadi sempat melakukan bimbingan di sini untuk datang bergantian. Bilang saja prof. Bora akan menyelesaikan bimbingan mereka hari ini. Mungkin ini akan sedikit menghambat mereka untuk membawa kita keluar.”
Bayu mengangguk dan sekali lagi mengusap puncak kepalaku sebelum dia membuka pintu dan tubuhnya menghilang di balik pintu.
Aku menghela napas keras untuk membuang perasaan gugup ini.
__ADS_1
...