EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 140


__ADS_3

...


 


 


 


Ini dia! Seperti yang di duga!


 


 


Suasana di sekitar kami berubah serius.


 


Aku ingin menatap lagi Bayu, lelaki itu sedang melirikku saat aku menatapnya. Meskipun wajahnya menampilkan ekspresi dingin dan serius tapi aku bisa melihat kekhawatiran dan kelembutan dari sorot matanya.


 


“Meskipun tidak semua orang yang saya undang di sini dari kemiliteran, tapi saya tetap ingin mengadakan arena pertarungan menembak.” Seketika hampir semuanya bersorak senang.


Sekali lagi aku melirik Bayu untuk melihat reaksinya, tapi dari ekspresinya dia tidak menunjukkan apa-apa selain diam menatap kakeknya.


“Tapi, ini tidak bisa di lakukan oleh semua peserta, hanya setengah dari tim laki-laki dan perempuan. Sisanya akan menuju tempat di bawah bukit ini menyelesaikan tugas yang berbeda,”


.


..



Aku dengan sepuluh wanita lainnya menuruni bukit saat pembagian di kelompok wanita sudah di putuskan. Ada dua orang wanita yang bukan dari kemiliteran ikut dalam area penembakan, sedangkan aku dan seorang wanita lainnya yang juga bukan dari militer memilih untuk turun.


Putri Larasati merasa bersalah karena dia memilih tugas menembak, sedangkan kami yang turun tidak tahu apa yang menunggu di bawah.


Sesekali aku melirik ke belakang mendengar suara ribut-ribut tim laki-laki yang juga turun. Sekilas di belakang, aku melihat sosok Bayu juga ikut turun, hal itu membuatku tersenyum kecil. Padahal dia bisa ikut di area tembak, aku yakin kemampuannya akan sangat membantu.


Kami di arahkan ke sebuah vila besar lainnya di tengah hutan, dari kejauhan aku bias mendengar suara air deras yang mengalir. Lalu kami semua berhenti di atas sebuah air terjun setinggi tujuh meter. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat ada banyak penjaga di bawah air terjun.


 

__ADS_1


Jangan bilang kami harus melompat dari sini?


 


Aku tidak suka dan tidak bisa berenang!


 


“Aku menyerah untuk yang satu ini.” Tiba-tiba suara Bayu mengagetkan kami semua. Refleks semua orang menatapnya dalam diam.


Aku tidak percaya dia mengatakan itu secepatnya bahkan sebelum kami mendengar apa yang harus di lakukan.


“Kenapa menyerah secepat itu?” Itu pertanyaan tetua Jeremy yang entah sejak kapan berdiri di barisan belakang kami.


Ekspresi Bayu yang dingin menatap kakeknya, meskipun di tatap tajam oleh tetua Jeremy tapi lelaki itu tidak mengalihkan tatapannya.


“Sekarang masih pagi, baru jam setengah tujuh. Tempat di sini udaranya dingin dan kalua tugas ini menyuruh kami untuk terjun, aku tidak ingin terserang flu nantinya. Di tambah kami semua belum sarapan. Lagi pula ini bukan acara yang harus kami ikuti sepenuhnya ‘kan?” Sejujurnya itu fakta yang tidak bisa di bantah.


“Jadi menurutmu, aku mengadakan acara ini untuk apa?” Bayu melipat bibirnya menjadi garis lurus, itu kebiasaannya ketika dia tidak ingin menjawabnya meskipun Bayu tahu jawabannya.


Rasanya sudah lama sekali tidak melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.


“Acara untuk bersenang-senang.” Jawabnya.


Semua orang masih diam, memperhatikan Bayu dan tetua Jeremy. Keduanya masih saling tatap tajam yang membuat suasana jadi canggung.


“Baik! Tugas ini kita batalkan saja. Semuanya silakan kembali ke vila masing-masing.” Ucapan pria tua itu membuat kami semua tercengang kaget. Tidak menyangka akan di batalkan begitu saja.


 


Kemudian kami menatap tetua yang berjalan perlahan menjauh. “Jadi kita kembali ke vila begitu saja?”


Orang-orang mulai saling berbisik, nyatanya kami memang langsung di perintahkan untuk langsung ke vila. Sekilas aku melirik Bayu yang sorot matanya tampak puas.


 


 


 


Sesampainya di vila, sarapan sudah tersedia. Semuanya mulai sibuk berbaris mengambil piring. Aku yang hendak naik ke atas di hentikan saat seorang pelayan wanita yang tadi pagi-pagi memberiku bubur. Di tangannya sudah ada nampan dengan bubur dan minuman hangat.


Aku segera menerimanya dan tersenyum terima kasih setelah mendengar kalau ini menu yang di pesan dokter Stefan. Meja dan kursi karyu di halaman vila masih kosong, orang-orang masih sibuk mengantri maka aku segera menempati salah satunya.

__ADS_1


Udaranya yang sejuk dan pemandangan yang indah di sekitar vila membuat aku merasa nyaman. Meskipun sebenarnya aku masih kenyang, tapi setidaknya aku harus menghargai makanan ini.


Aku menyendokkan sedikit bubur di ujung sendok dan masuk ke dalam mulutku tepat saat mataku melihat segerombolan wanita turun dari tempat kami berangkat tadi.


Itu gerombolan tim yang akan melakukan tugas menembak, mereka kembali sangat cepat. Apa mungkin tugas mereka juga di batalkan?


Sosok wanita yang lebih pendek dariku berlari kecil menghampiri meja. Putri Larasat seketika sudah ada di hadapanku dengan penuh semangat.


“Aku dengar di tim kalian ada yang menentang tugas tetua?” Matanya berbinar menunggu jawabanku.


“Yaa. Apa tugas kalian juga di batalkan?” Tanyaku sembari menyeruput minuman hangat yang sejak tadi menggoda hidungku. Rasa manis madunya terasa lebih dominan.


“Ya! Kami dengar kalau tugas menembak kami di batalkan setelah tugas tim kalian di batalkan. Apa tetua sedang marah? Jadi yang membatahnya adalah cucunya?”


Aku mengerutkan kening heran. “Apa kalian dari kemiliteran tidak tahu cucu tetua Jeremy?”


“Orang-orang di sini termasuk baru jadi tidak ada yang tahu wajah cucunya. Banyak yang bilang kalau tetua selalu di kalahkan berdebat dengan cucunya.”


“Yeah, kelihatannya memang seperti itu.” Jawabku mengingat lagi perdebatan singkat tadi.


Tiba-tiba Putri mencondongkan tubuhnya lebih dekat padaku untuk berbisik. “Lihat, wanita dengan rambut kecoklatan panjang di sana.”


Aku melirik arah yang di tunjukkan Putri, seorang wanita tinggi semampai dengan rambut kecoklatan lurus panjangnya sedang berjalan menuju meja tidak jauh di dekat kami. Wajahnya kecil dan cantik, dia seperti model. Aku ingat, dia tadi ada di kelompok air terjun.


 


“Kenapa?”


“Orang-orang bilang, wanita itu sengaja datang ke sini karena cucu tetua Jeremy sendiri yang mengundangnya secara pribadi. Dia adalah model selegram, Sandra, kau tahu?”


Aku menggeleng, benar-benar tidak tahu siapa dia. “Rumornya seperti itu? Lalu apa lagi?”


“Ada yang melihat seorang laki-laki yang di duga cucu tetua, tadi pagi-pagi sekali datang ke vila ini. Semua mengaitkan kalau dia datang menemui Sandra.”


“Apa yang Sandra katakan tentang pertemuan mereka tadi pagi?” Aku sekarang penasaran, belum dua belas jam aku di sini tapi gosip menyebar lebih cepat.


“Orang yang sekamar dengannya mengatakan kalau Sandra tidak membantah saat di tanya tentang pertemuannya dengan cucu tetua tadi pagi.”


Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau kesal sekarang. Tidak mungkin ‘kan sosok Bayu ada dua? Jelas-jelas aku melihatnya keluar pintu Vila dan tidak kembali, sepanjang pagi tadi aku ada di bawah dan kalaupun dia kembali menemui Sandra, aku pasti melihatnya.


 


...

__ADS_1


__ADS_2