EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 205


__ADS_3

Author sudah coba membalas setiap komenan kalian, tapi tak ada satupun yang muncul.


T.T


Kenapa ya? Mungkin eror.


 


 


 


 


 


 


...


 


 


 


 


“Kalau hanya ingin mengambil koper, untuk apa membawa pistol??!” Aku ikut bertanya kesal. Pasalnya kalau pria ini menembak acak dan salah sasaran, Bayu atau aku bisa terluka.


“Sungguh! Bukan aku!” Pria ini membungkuk ketakutan.


Melihatnya seperti itu aku jadi merasa kasihan, tapi baru saja pikiran itu terlintas dia sudah melompat bangkit dan hendak menyerangku tapi Bayu sudah lebih dulu menendang perutnya sebelum tangannya berhasil meraihku beberapa centi lagi.


Pria ini jatuh tersungkur dan kali ini tanpa ampun Bayu sudah menempelkan ujung pistolnya di kening penjahat ini.


 


“Berani menyentuh istriku?!”


“Tidak berani! Orang itu—orang itu yang mengatakan kalau ingin kabur jika berhadapan denganmu, aku hanya tinggal menyerang wanitanya.”


“Hah??! Kau kira aku gampangan bisa kau serang begitu saja!! Aku tendang baru tahu rasa!!”

__ADS_1


“Jangan menghabiskan energimu untuk dia, Boo.” Bayu mengangkat tangannya yang lain untuk menghalangiku lebih maju lagi, meski dengan satu tangan tapi dia menahanku yang benar-benar ingin menendeng pria ini.


“Katakan, kau mengenalku? Siapa orang itu yang kau maksud??”


“T—tidak ada orang itu. Sungguh!” Aku menggeram karena perkataannya tidak ada yang bisa di percaya tapi ternyata Bayu lebih dulu menjauhkan pistolnya dan selanjutnya dia memukul pria ini satu kali dengan pistol di genggamannya hingga pingsan.


“K—kenapa?”


“Tidak ada gunannya lagi bertanya. Lebih baik serahkan pada—”


 


“Apa yang sedang terjadi??” Suara kaget Talia memotong ucapan Bayu. Wanita itu datang bersama Bianca dan dua orang pengawal.


“Hadiahmu ada di sana.” Bayu menunjuk koper pada Talia.


Dia berjalan menghampiri koper yang di maksud dengan penasaran, begitu menemukan apa yang ada di dalam koper, aku melihat ekspresi Talia berubah kaget dan serius.


“Sky? Di tempat seperti ini??”


“Juga ada 3 pelayan wanita yang sebelumnya di tempat ini. Ada seseorang di balik semua ini, kau harus memeriksanya juga.” Jawab Bayu.


“Aku mengerti, lebih baik kalian kembali saja. Seharusnya malam ini jadi malam yang tenang dan bahagia untuk kalian tapi aku tidak menyangka kalian justru menemukan ini.” Talia tersenyum kecil menatapku dan Bayu.


“Baiklah, aku serahkan padamu.”


“Oh dan juga ini, pistol ini ada di koper lain, aku pikir ada penjualan senjata juga di sini.” Bayu menyerahkan pistol di genggamannya pada Talia.


“Oke. Aku akan memeriksanya juga.”


“Maaf merepotkanmu.” Kataku tidak enak karena mengganggu Talia di pagi buta seperti ini.


“Tidak tidak! Kalian yang kerepotan berhadapan dengan ini.” Talia melangkah mendekatiku untuk menepuk tanganku, bermaksud untuk menenangkanku.


 


 


 


***


 

__ADS_1


 


 


“Apa itu sky?” Tanyaku menatap Bayu yang baru selesai berbicara di telpon.


Saat ini kami sudah ada di dalam kamar vila yang sebenarnya. Kamar ini di dekorasi dengan banyak kelopak mawar bertebaran di atas kasur, lilin dan aroma lavender yang menenangkan. Tapi karena situasi sebelumnya, aku tidak lagi memikirkan malam yang romantis, justru sejak tadi pikiranku penasaran dengan kata ‘sky’ yang di ucapankan Talia.


Bayu melangkah mendekatiku untuk duduk di sampingku sebelum menjawab. “Sky adalah nama narkoba sintetik atau buatan manusia yang dibuat di dalam laboratorium. Aku pernah dengar polisi sedang berusaha mengejar sky di dalam negeri karena sky adalah produksi opioid sintetis yang muncul dalam skala yang tidak diantisipasi siapa pun. Efek obat ini 50 kali lebih kuat dari heroin dan 100 kali lebih kuat dari morfin. Obat ini telah memicu krisis opioid di AS. Rata-rata 130 orang amerika meninggal dunia karena overdosis opioid setiap hari. Benda ini pertama kali terdengar di Myanmar.”


“Myanmar adalah penghasil opium terbesar kedua di dunia setelah Afghanistan. Perdagangan obat terlarangnya telah berkembang karena tanah pegunungan dan perbatasannya yang longgar.” Bayu mengangguk mendengar penjelasanku.


“Aku ingat pernah sesekali membahas ini dengan teman kuliahku, pada tahun 2017 seorang biarawan Budha ditangkap di Myanmar dan dikaitkan dengan lebih dari empat juta pil metamfetamin yang disembunyikan di sebuah biara, lalu antara 2018 dan 2019, total 14 laboratorium obat-obatan gelap disita di Myanmar.” Aku melanjutkan.


“Aku tidak tahu kenapa ada benda itu di sini, entah memang di sengaja atau vila ini sudah lama menjadi tempat transaksi sky.  Talia dan tim nya akan mulai memeriksa, tamu yang di undang orang tua kita pasti tidak senang dan akan menimbulkan banyak spekulasi, sedangkan pagi ini aku harus berangkat kerja.” Katanya cemberut di akhir kalimat.


Aku tersenyum kecil mendengar penjelasn Bayu. Aku mengerti maksudnya, dia mengkhawatirkanku. Tamu yang tidak senang dengan investigasi Talia pada mereka akan menargetkanku.


Aku menarik kedua tangannya dan menggenggamnya dengan erat sembari berkata. “Tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja. Ingat? Sekarang aku adalah nyonya muda dari keluarga Jeremy dan putri tersembunyi keluarga Evano, aku lebih dari cukup kuat.”


Bayu tertawa kecil mendengar ucapanku, dia kemudian menarikku dan membawaku ke dalam pelukannya. “Sungguh tidak apa-apa? Bukannya tadi kau sedang kesal karena orang-orang itu mengganggumu?”


“Karena kau berjanji untuk membelikan samsak tinju, aku sudah tidak kesal lagi.” Ucapanku membuat pelukan lelaki ini lebih erat lagi, pipi kirinya menempel di telinga kiriku, kepalanya bersandar nyaman di sana. Aku memejamkan mata, menikmati setiap momen kecil ini.


“Buat kamu yang lagi dalam masalah, berada dalam posisi yang enggak pernah kamu inginkan, berada dalam situasi yang enggak pernah kamu bayangkan. Duduk sebentar, berpikir sejenak, mungkin saat ini kamu beum bisa menerimanya tapi suatu saat kamu akan sadar, rencana Tuhan tidak pernah salah dalam hidup kamu. Rencana Tuhan tidak pernah gagal dalam hidup kamu, waktu Tuhan selalu tepat.” Bisik kan lembut Bayu seolah membuai telingaku. Menghipnotisku untuk lebih tenang.


Mataku terpejam, semakin mengeratkan pelukanku padanya. Sungguh tidak rela membiarkannya pergi dari pelukan ku.


“Sekarang lebih baik kamu tidur. Nanti pagi kau akan langsung berangkat kerja.” Kataku mengingatkan.


“Benar, aku lumayan ngantuk.” Jawabnya sembari menguap kecil.


Aku segera melepaskan pelukan kami dan menatapnya yang kini menampilkan wajah lelah dan mengantuk. Kedua matanya juga hampir terpejam. Terlihat lucu.


Tanpa kata, aku segera berdiri dan menuntun nya untuk berbaring. Tepat ketika kepalanya menyentuh bantal, kedua mata Bayu sudah terpejam sembari mulutnya bergerak dan berbicara. “Tapi aku belum ganti baju.”


“Kau bisa mandi dan ganti baju nanti sebelum berangkat kerja, yang penting sekarang adalah istirahat dulu, waktu keberangkatanmu tinggal beberapa jam lagi.”


“Baiklah, aku akan menuruti kata istriku.” Jawabnya dengan suara yang semakin pelan di akhir kalimat pertanda dia sudah hampir terlelap.


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2