EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 46


__ADS_3

...


Akhirnya aku ikut ke dalam rombongan anak-anak ini setelah mereka berbincang singkat.


Kami di antar menuju rumah panggung, seperti rumah panggung besar yang isinya hanya terdapat meja dan kursi. Seperti apa yang dikatakan pria itu, kami menunggu dan dua orang wanita mulai mengantarkan makanan untuk kami semua. Hanya piring yang sudah di isi nasi dan lauk pauk. Empat orang berjaga di sekitar kami dan meminta kami untuk segera makan.


“Siapa namamu? Aku Icha.” Ucapanku mengagetkan gadis di hadapanku ini. Anak-anak tampak tenang memakan makanan mereka meskipun wajah mereka masih cemberut dan ketakutan.


“Ka Icha bisa berbicara?” Aku mengangguk kecil, tidak berniat untuk menjelaskan lebih lanjut.


“Halo salam kenal Ka, saya Gia.”


“Bagaimana tadi? Apa anak-anak masih menangis?” Tanyaku sepelan mungkin agar para penjaga ini tidak menguping.


Gia mengangguk pelan masih menatapku penasaran. “Maaf Gia kira ka Icha memang tidak bisa berbicara.”


Aku tersenyum kecil dan menjawab. “Ka Icha hanya sedang sakit tenggorokkan tadi. Tapi sudah lebih baik dan bisa


berbicara lagi meskipun tenggorokkan masih sakit.” Ucapanku tidak sepenuhnya berbohong.


Gia mengangguk pelan dari tatapannya dia tampak lega menatapku. Kami kembali makan meskipun aku sama sekali tidak berselera dan sepertinya bukan hanya aku, semua anak-anak ini dan Gia juga tampak lesu.


Kelopak mataku terasa berat seolah aku bisa tertidur dalam sekejap. Aku benar-benar merasa sangat lelah dan ingin berbaring. Hembusan napasku juga terasa panas. Akhirnya aku menyerah dengan sendok yang aku pegang, meletakkannya dan bersandar sembari menatap anak-anak ini.


“Ka Icha engga makan? Makanannya masih utuh.” Aku menggeleng pelan, membenarkan ucapan Gia karena aku hanya sanggup memasukkan makanan itu setengah sendok makan saja.


“Sari, kenapa kamu engga makan? Ayo habiskan, kita harus punya tenaga untuk pulang nanti.” Bisikan Gia mengalihkan pandanganku. Gadis ini sedang berbicara pada gadis kecil di sampingnya. Gadis yang duduk di sampingku saat di kereta sedang cemberut dan tidak menyentuh makanannya sama sekali.


“Sari ingin pulang! Sari rindu ibu.” Ucapan gadis itu mendapat perhatian kami semua termasuk para penjaga.


“Kita pasti akan pulang. Sabar ya sayang.” Gia mengusap kepala Sari namun di tepis cepat oleh gadis itu.


“Engga mau! Sari maunya Ibu! Ka Gia dari tadi bilangnya kita akan pulang terus tapi kita engga pulang. Hiks Hiks.”


Gia mulai menangis kencang dan hal itu membuat anak-anak yang lain ikut bersedih.


“HEI! BERHENTI MENANGIS!” Salah seorang penjaga itu menghampiri kami dan menodongkan pistol besarnya. Anak-anak mulai menjerit ketakutan dan keluar dari bangku mereka untuk memelukku atau Gia.

__ADS_1


“Tolong jauhkan benda itu. Anak-anak akan semakin menangis ketakutan!” Aku berkata tajam. Lelaki itu bukannya


menjauhkan pistolnya dia justru menodongkannya padaku.


“Tenangkan mereka dalam lima menit kalau tidak aku tembak kamu yang tidak berguna!” Pekikannya semakin membuat anak-anak menjerit ketakutan.


Jantungku yang berdetak cepat takut dengan cepat merangkul anak-anak dan mengusap punggung mereka agar berhenti menangis.


“Sstt.. Tenang. Jangan menangis. Kita pasti pulang.” Nada suara Gia yang bergetar ketakutan tak urung membuatku semakin ketakutan.


Tanganku yang bergetar masih terus mengusap mereka, menenangkan mereka meskipun dalam hatiku aku tidak tahu apakah kami benar-benar akan bisa keluar dari sini secepatnya? Menyadari akan bantuan saja belum terlihat sampai sekarang. Ucapan Bayu tadi tentang kami bisa keluar dari sini malam ini tidak terbayangkan olehku apa yang sebenarnya akan terjadi nanti.


“BERHENTI MENANGIS! BERHENTI!!”


Sekarang keempat penjaga ini berteriak kesal pada kami sambil menodongkan pisau lipatnya. Hal itu justru


membuat anak-anak lari ketakutan keluar dari pelukan kami dan mereka mencari tempat aman di bawah meja.


Suasana yang awalnya tenang berubah ricuh. Anak-anak yang berlarian ini membuatku dan Gia khawatir. Aku melihat keempat penjaga ini mengeluarkan pistolnya dan mulai mengacungkan untuk menembaki anak-anak ini.


Meskipun jantungku berdetak sangat cepat, aku ketakutan dan tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi tapi


 


 


 


DOR!! DOR!!


 


 


Terdengar dua tembakan terlepas di udara, aku yang kaget setengah mati mencari anak yang terluka. Tapi aku tidak menemukannya, anak-anak yang ada di bawah meja meringkuk ketakutan.


“HEI DIA KABUR! TANGKAP ANAK ITU!” Teriakkan pria di luar tempat ini membuat aku dan Gia melotot tidak percaya.

__ADS_1


Sekarang suasana semakin ramai dan aku bisa mendengar orang-orang mulai saling memanggil untuk menangkap anak yang kabur.


“Gia, amankan anak-anak. Aku akan menyusul!” Ucapanku langsung di angguki gadis itu. Meskipun keempat penjaga ini sempat menghalangiku tapi aku yang dengan gesit berlari menghindari mereka bisa kabur dan menyusul orang-orang yang berlarian.


Tidak. Anak itu tidak boleh terluka. Anak itu menunggu ibunya dan ibunya menunggu kepulangannya!


Aku berdo’a dalam hati agar anak itu mendapat perlindungan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi padanya ketika ada belasan penjahat mengejarnya. Aku yang terus berlari mengejarnya hingga langkah semua orang yang mengejar berhenti di depan gudang.


Anak yang berlari adalah Sari, gadis kecil itu menjerit ketakutan saat seorang pria mengangkatnya tinggi-tinggi.


Sial!!


Lelaki itu Mike.


 


“Kamu mau kemana, gadis manis?”


“Lepaskan! Sari mau Ibu! Sari mau pulang!” Sari memberontak di gendongan Mike. Semua orang yang menonton tampak lega dan hanya melihat saja. Benar-benar mereka semua sudah gila.


“Ya ampun Sari berani sekali ingin kabur dari sini. Tempat ini di tengah hutan loh. Kamu tidak takut dengan harimau?” Mike yang berbicara pelan namun terdengar sangat menyebalkan di telingaku mendapat sambutan gelak tawa orang-orang ketika lelaki itu menirukan suara harimau di akhir kalimatnya.


Sari yang masih menjerit minta di lepaskan membuat emosi Mike tersulut. Lelaki itu tiba-tiba berbalik dan melangkah cepat membawa gadis itu.


“Kamu harus di beri hukuman sayang.”


“Mike lepaskan Sari!” Aku berteriak mengejarnya tapi dua orang pria menahanku. Lelaki itu sudah menghilang di belakang gudang. Aku semakin panik memikirkan bisa saja Mike melukai Sari.


Orang-orang yang penasaran mengikuti Mike dan karena dua orang yang menahanku juga sepertinya penasaran, mereka membawaku untuk ikut melihat.


“Lepaskan! Sari engga mau!! Sari mau pulang!!”


“DIAM!!”


Teriakkan Mike di susul dengan suara sesuatu masuk ke dalam air membuatku memberontak semakin kencang untuk lepas. Dengan jurus andalanku yang menendang tulang kaki mereka hingga terlepas segera berlari menembus pria-pria ini untuk melihat lebih jelas apa yang Mike lakukan.


...

__ADS_1



__ADS_2