
...
Hanya ada roti, telur dan sosis yang mampu aku sajikan karena aku belum beli bahan makanan untuk minggu ini. “Aku harap ini cukup. Kalian sudah bekerja semalaman.”
“Tidak apa-apa, aku rasa kami akan cukup puas dengan hasilnya.”
“Benarkah? Senang mendengarnya! Lalu apakah hari libur kalian akan di perpanjang mengingat kalian harus bekerja di masa liburan kalian?”
“Tidak! Tidak pasti. Kau tahu –pekerjaan kami harus selalu bersiap setiap saat. Yang aku tahu, di antara anggota lain dari angkatan kapten, hanya dia dan Benny yang selalu memenuhi tugas dan selalu siap jika di panggil untuk tugas kapanpun, bahkan mereka hampir tidak pernah mengambil cuti sebelum kapten Bayu menjadi kapten kami. Maka dari itu banyak yang meremehkan dan sirik karena Bayu bisa memimpin tim khusus di usia mudanya. Orang-orang juga sering mengaitkannya karena dia memiliki ayah dan ibu dari militer.”
Aku mengerutkan kening heran. “Kenapa? Apa ada yang mengganggumu? Tiba-tiba saja kita membahas Bayu.” Jack tersenyum salah tingkah saat dia seolah sadar arah bicaranya.
“Katakan saja, kau bisa menceritakannya padaku.” Desakku memintanya untuk duduk di kursi di samping kananku ini. Jack menurut dan duduk, sesaat dia melirik ke sekeliling kami untuk memastikan keadaan sebelum melanjutkan.
“Aku hanya sedikit khawatir. Kami memang satu tim dan anggota lain juga menyadari perubahannya.” Jack menutup mulutnya seketika seolah dia kembali ragu untuk mengatakannya padaku.
“Perubahan? Perubahan siapa?” Aku berbisik tidak sabar. Perasaanku mengatakan jika apa yang akan lelaki ini katakan adalah tentang Bayu.
“Meskipun dalam pekerjaan, kapten tetap hebat seperti biasanya tapi dia berubah sejak beberapa bulan lalu jika di bandingkan dengan kami yang sudah mengenalnya sejak beberapa tahun belakangan ini. Sifatnya lebih dingin dari biasanya. Kadar jahilnya berkurang drastis dan juga seperti dia banyak memikirkan sesuatu.”
“Apa itu buruk? Maksudku orang bisa berubah ‘kan?”
“Tolong jangan tersinggung, tapi kami tidak mempermasalahkan itu namun setelah kasus Alfred kemaren, saat misi penawar racun itu, aku pikir dia terasa lebih mengerikan.”
“Bisakah kau menceritakannya padaku? Tentang pengambilan penawar racun itu. Bagaimana kalian bisa berhasil? Aku belum ingin menuntutnya untuk bercerita saat ini, tapi karena kau sedang membicarakannya jadi—“
“Kami juga tidak tahu!” Jawaban Jack justru membuatku semakin mengerutkan kening bingung.
“Kami semua tidak ada yang tahu bagaimana kapten mendapatkannya! Pada malam itu, kami berpencar sesuai rencana awal dan setibanya kami berkumpul kembali di titik pertemuan, dia sudah membawa penawar itu. Dia hanya mengatakan akan melaporkannya langsung pada atasan. Kami hanya mendengar singkatnya saja jika
__ADS_1
salah satu pengawal kepercayaan Alfred memiliki penawar racun itu dan kapten mengambilnya begitu saja.”
“Hanya itu?”
“Yaa! Lihat! Kau saja yang warga sipil biasa curiga kan? Apalagi kami! Maksudku kita sedang membicarakan Alfred di sini. Tidak mungkin dengan mudah di dapatkan.”
Kecurigaanku mengatakan jika apa yang Rey katakan saat dia menculikku benar, bahwa Bayu tidak bisa mendapatkan penawar racun itu. Lalu bagaimana bisa? Kalau di lihat dari sisi bisnis, apa yang harus Bayu serahkan sebagai ganti penawar racun itu?
Perasaan bersalah tiba-tiba menyerangku. Lelaki itu sudah terlalu sering mengerti dengan keadaanku, tapi aku tanpa sadar tidak memperhatikannya.
Apa yang dia rasakan? Bahagia? Marah? Sedih? Atau apa yang dia lalui hari ini? Aku sama sekali tidak tahu. Memikirkannya saja membuat tenggorokkanku sakit. Sepertinya aku terlalu tenggelam dalam masalahku sendiri.
“Terima kasih Jack!” Ucapku benar-benar tulus, senang rasanya mendengar ada orang lain yang juga peduli pada Bayu.
“Apa? Padahal aku tidak melakukan apapun.” Aku hanya tersenyum lebar menatap lelaki ini.
Obrolan kami terhenti saat suara ketukan pintu terdengar. Aku cepat-cepat berdiri dan menahan Jack yang akan membukakannya untukku. “Biar aku saja. Tolong periksa yang lain apakah sudah selesai? Kalau sudah panggil mereka untuk segera sarapan ya.”
“Siap!”
“Icha! Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” Aku sempat mengerutkan kening, heran dengan reaksi dokter Stefan.
“Aku sudah lebih baik. Dokter masuklah dulu.” Aku mempersilakan pria ini untuk masuk. Meskipun demam satu jam yang lalu masih aku rasakan tapi setidaknya sekarang aku bisa beraktifitas dan tidak tertahan di atas kasur.
“Aku dengar kau demam. Bagaimana sekarang? Wajahmu juga pucat.”
Apa make up yang aku pakai tidak bisa menutupi wajah pucatku ya? “Aku sudah lebih baik dok. Kami baru akan sarapan, bergabunglah dengan kami—“
“Aku ingin memeriksa kondisimu lebih dulu.” Katanya menyuruhku untuk duduk di sofa.
Karena dokter Stefan pagi-pagi sudah datang ke sini, aku tidak bisa menolaknya, membiarkan pria ini mengeluarkan stetoskop dan alat pengukur suhu badan.
__ADS_1
“Apa Bayu dan tim nya sedang di sini?” Dokter Stefan bertanya saat kami mendengar suara ribut-ribut dari dapur.
Aku mengangguk. “Mereka sudah ada di sini sejak kemarin malam.”
Selanjutnya hanya ada keheningan di antara kami. Ingin sekali aku bertanya tentang penawar racun itu tapi—
“Kau masih demam tinggi, apa kau tidak merasa pusing? Seharusnya kau berbaring.” Dokter Stefan menginterupsi perhatianku saat dia sudah selesai memeriksa kondisiku dan menunjukkan thermometernya di angka 38,3 celcius.
Sebelum aku menjawab, suara langkah kaki seseorang masuk ke ruang tamu. Kami berdua refleks melirik dan mendapati Bayu dengan ayah berjalan mendekat.
Ayah sempat melirikku lalu menatap dokter Stefan.
“Ini dokter Stefan dari kedokteran militer.” Bayu memperkenalkan.
Dokter Stefan berdiri dan mereka saling berjabat tangan. “Dok, kau bisa ikut denganku? Ada yang harus aku bicarakan.”
Bayu melirikku dan mengajak pria berambut coklat madu ini untuk mengikutinya. Seolah mengerti kode yang di berikan lelaki itu, dokter Stefan mengangguk dan mengikuti Bayu hingga meninggalkan aku dan ayah di ruang tamu.
“Dokter militer? Kenapa ada seorang dokter di sini? Rambutnya mencolok sekali.” Ayah berkomentar untuk menghilangkan situasi canggung di antara kami.
Dengan warna rambut dan matanya yang senada dan memang terlihat mencolok tapi di dukung dengan kulitnya yang putih dan tubuh tinggi. Dokter Stefan jelas memiliki keturnan asing dalam darahnya.
“Bagaimana kondisi ayah?” Tanyaku.
“Baik.”
“Bisa jelaskan apa yang terjadi kemarin?” Tanyaku lagi tidak ingin basa basi, Ayah masih berdiri di hadapanku. Melihat gerak geriknya, dia tampak gugup menghadapiku. Sejak tadi ayah berusaha menghindar dari tatapanku.
“Duduklah.” Pintaku tapi ayah justru berjalan ke pintu dan membukanya.
__ADS_1
...