EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 219


__ADS_3

...


“Ya. Setiap hari orang yang berbeda. Tapi bukan itu poin pentingnya! Alisya enggak bisa bilang ke pacar Alisya kalau dia bodyguard, karena Alisya sedang di ikuti, nanti dia malah kabur dan enggak mau bicara sama Alisya.” Gadis ini melompat turun dari atas kasur dan berjalan mondar mandir di hadapanku.


“Kenapa enggak bicara jujur aja? Siapa tahu dia engga kabur.” Alisya tiba-tiba berubah lesu lagi dan duduk di sampingku sembari menghela napas panjang.


“Alisya enggak siap jujur sama dia, mungkin dia nanti anggap Alisya aneh.” Aku mengerutkan kening bingung.


“Sebenarnya, Alisya deketin dia karena—dia populer. Hehehe.” Dia tertawa konyol dan menular padaku. Aku ikut terkekeh pelan dan mengangguk mengerti.


“Kalau gitu, salah sasaran dong Alisya marah-marahnya?” Tanyaku menggodanya.


Alisya tertawa keras dan mengangguk. “Kalau di pikir-pikir seharusnya Alisya kesal ke orang yang ngikutin Alisya ‘kan? Tapi tetap aja! Alisya deket sama cowok ini tuh susah banget. Sayang banget kalau harus putus.”


Aku ikut tertawa dan berkata. “Ya. Setidaknya kamu harus punya pengalaman pacaran sama cowok populer di sekolah.”


Alisya mengangguk, masih tertawa, lalu dia turun dari kasur, melirik jam waker di atas meja. “Gimana kalau kita beli es krim di depan, kak?”


“Ayo!”


***


“Jadi gimana kelanjutan kalian berdua, Alisya lihat di meja makan tadi sepertinya Kak Bayu dan Kak Icha masih perang dingin.” Ucapan Alisya terdengar ringan saat kami baru keluar dari toserba membawa bungkusan cemilan dan es krim. Gadis ini sedang berusaha memmbuka bungkusan es krim coklat pilihannya.


“Ya. Kak Icha masih kesal pada Kakakmu karena dia masih saja menyimpan rahasia. Dia tidak menceritakan apa yang terjadi padanya saat meninggalkan rumah sakit hari ini hingga hasil kesehatannya tertinggal.” Jawabku.


“Mungkin masalah pekerjaan?” Tebak Alisya.


“Kalau tentang pekerjaannya, dia pasti langsung jawab. Tapi Bayu seperti menyembunyikan sesuatu. Apa memang selalu seperti itu Kakakmu?” Tanyaku penasaran melirik Alisya.


Gadis ini balas menatapku sembari mulai menikmati es krimnya. Setelah berpikir sebentar, Alisya menggeleng pelan.

__ADS_1


“Setahu Alisya, Kak Bayu bukan seorang introvert atau orang yang banyak rahasia. Tapi—Alisya ingat saat kecil dulu, siang itu, muka Kak Bayu lagi kesal banget di tambah pipinya ada memar, Alisya tanya ada apa, Kak Bayu jadi marah-marah dan pura-pura bodoh enggak ngerti sama pertanyaan Alisya dan ternyata itu untuk Alisya.”


“Apa yang terjadi? Dia berkelahi?” Tanyaku penasaran.


“Beberapa hari sebelumnya, ada anak laki-laki yang suka sama Alisya tapi Alisya enggak suka sama dia dan minta kita untuk temenan aja, tapi dia ngeselin jadi Alisya pukul dia. Ternyata Kak Bayu tahu, dia enggak sengaja liat kejadiannya saat itu dan sebelum dia ngadu sama bunda dan ayah kalau Alisya yang pukul orang, Kak Bayu yang lanjut memperingati dia untuk jauh-jauh dari Alisya, selanjutnya mereka jadi berantem. Akhirnya bunda dan ayah tahu itu, ayah potong uang jajan Kak Bayu selama sebulan dan bunda menghukum Kak Bayu untuk bantu bunda di dapur selama sebulan juga. Alisya tahu semua itu dari bibi di rumah.”


“Bantu di dapur?” Aku bertanya tak percaya. Alisya terkekeh dan mengangguk.


“Ya. Bantu memasak, bersih-bersih dan segala macam. Saat Alisya tahu Kak Bayu ngelakuin itu semua untuk jaga Alisya, Alisya tanya kenapa? Tumben banget dia kaya gitu.” Alisya tertawa kecil di akhir kalimat, aku ikut tertawa membayangkan wajah kesal Bayu saat kecil karena adik perempuan nya heran dengan tindakannya yang bukannya berterima kasih.


“Dan Kak Icha tahu apa jawabannya setelah Alisya paksa untuk jawab?” Tanya Alisya, aku langsung menggeleng.


Sebelum menjawab, Alisya tampak tersenyum lembut, menatap es krim di tangannya. “Kak Bayu jawab kalau dia tahu Alisya udah lama nabung uang untuk nonton konser band kesukaan Alisya dan dia juga tahu kalau Alisya lagi sibuk banget di sekolah ngurusin osis. Kak Bayu udah menduga hukuman bunda dan ayah untuk insiden itu. Sejak saat itu, mau se ngeselin apapun, Alisya berusaha yang terbaik untuk nurut sama Kak Bayu karena Alisya percaya, Kak Bayu mau melindungi Alisya apapun keadaannya dan Alisya enggak mau buat Kak Bayu susah.”


Aku tersenyum dan mengangguk, satu hal lagi sisi Bayu yang mempesona, dua kakak beradik ini memang sering bertengkar setiap kali aku mengunjungi rumah mereka, tapi ternyata di balik semua itu, diam-diam mereka saling melindungi. Manis sekali.


“Gimana? Baik banget ‘kan kakaknya Alisya?” Alisya menyenggol bahuku dengan bahunya sembari tersenyum lebar.


Aku ikut tertawa dan mengangguk. “Jadi jangan berantem terus sama Kak Bayu.”


“Inginnya sih kaya gitu, tapi Kak Icha paling kesal kalau Kak Icha enggak di kasih tahu tentang bahaya yang sedang dia hadapi di luar sana, setidaknya saat dia sedang berjuang, di sini Kak Icha akan terus mendo’akannya dan biar kakak mengkhawatirkannya juga.”


“Alisya kasih tahu sebuah rahasia.” Jawab Alisya lebih dekat padaku.


Aku mengerutkan kening, sangat penasaran. “Apa?”


“Ada file khusus di laptop Kak Bayu, ka Icha bisa langsung menemukannya di desktop, masukkan kata sandi love


myself. Alisya yakin, Kak Icha akan puas membaca isinya. Bunda dan ayah enggak tahu soal ini.”


“Dan file tentang apa itu?”

__ADS_1


“Itu tentang—Hei!” Alisya berteriak sembari berbalik cepat.


Aku yang kaget mundur satu langkah dan ikut berbalik, melihat apa yang membuat reaksi Alisya kaget seperti ini.


Seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi dan masker juga hitam berjarak dua meter di belakang kami. Pria ini berdiri diam menatap kami dengan kedua tangan ada di saku jaketnya.


“Kau terus mengikuti kami sejak dari toserba tadi. Ada perlu apa?”


“Aku? Mengikuti kalian? Tidak! Aku hanya lewat.” Suaranya tertahan oleh masker tapi terdengar jelas, aku mengerutkan kening, sepertinya familiar dengan suara pria ini.


“Ada apa??” Tiba-tiba suara Zac datang dari belakang kami, sosoknya sudah muncul di ikuti seorang pria lain yang pernah aku lihat di vila, salah satu orang ayah Evano.


“Kau? Dari tadi kalian mengikuti kami juga??” Alisya menuntut penjelasan pada Zac.


“Tidak, kami baru saja menemukan kalian. Ayah nona Alisya baru mengetahui kalian keluar rumah dan segera mengutus kami berdua untuk mencari—tapi ngomong-ngomong ada apa? Apa orang ini mengikuti nona Alisya?”


“Ya! Dia mengikuti kami.” Alisya kembali memfokuskan perhatiannya pada pria asing ini.


“Tidak. Aku bilang tidak! Aku hanya berada di arah yang sama dengan kalian.”


“Kau ada di toserba bersama kami.” Tuntut Alisya menginginkan jawaban.


“Ya!”


“Tapi kamu tidak membeli apapun?”


“Karena tidak ada barang yang aku cari.”


“Dan apa yang kau cari?”


...

__ADS_1


__ADS_2