
...
“Oh! Icha! Selamat pagi.” Jawabnya penuh semangat.
Aku tersenyum lebar dan segera duduk di hadapannya. Tante Kenzie masih memakai piyamanya dan rambutnya yang biasa rapih, kini tergulung asal-asalan. Meski begitu, kencantikan wajahnya tidak pudar.
“Maaf Icha tidak menyapa dan menemui tante, padahal Icha sudah menginap di sini dua malam.”
“Tidak tidak! Tante dan Giliant baru datang kemarin malam dan memutuskan menginap di sini setelah tahu kamu juga menginap. Bagaimana? Betah?”
“Belum sepenuhnya merasakan suasan rumah karena kemarin Icha ada di luar seharian.”
“Begitu? Hari ini kamu ada rencana apa?”
“Mmn... Belum ada rencana.”
“Kalau gitu, bagaimana kalau hari ini temani tante keluar.” Tante Kenzi yang sedang menyantap sarapan rotinya menatapku penuh harap.
“Kemana tan?”
“Palingan kamu di ajak dia untuk keliling ke agensi artis atau minta di temenin ke pasar tanaman hias.”
Paman Kenzo yang baru masuk justru menjawab pertanyaanku. Dia sudah rapih dan segera duduk di samping saudara kembarnya.
“Oh! Selamat pagi, paman.”
“Pagi Cha.”
“Tanaman hias?” Tanyaku mengerutkan kening, kembali ke topik pembicaraan.
Paman Kenzo mengangguk sembari mengambil beberapa roti dan mulai mengolesinya dengan selai coklat, hal itu mengingatkanku pada piringku sendiri, aku masih belum mengambil apapun untuk di makan sedangkan sarapan yang di sediakan cukup beragam. Selain roti, ada nasi goreng juga.
“Akhir-akhir ini Kenzie sedang terobsesi dengan tanaman hias. Coba lihat di halaman belakang, dia membeli banyak jenis tanaman dan menanamnya di pot-pot, kalau tidak di hentikan ayah, mungkin di dalam rumah akan di
hiasi banyak tanaman.” Paman Kenzo menatapku, mengabaikan tatapan tajam di sampingnya.
Karena di acuhkan, tante Kenzie memukul lengan saudara kembarnya dan berkata, “kalau kau yang mengatakan semua itu terdengar seperti aku yang gila dan tak terkontrol dengan tanaman hias.”
Aku tersenyum kecil menanggapi pertengkaran kecil mereka sembari meraih dua lembar roti dan selai coklat. Tapi sebelum aku memakannya, tante Kenzie menatapku sembari berkata, “aku ingat membeli tanaman hias yang cocok untukmu, Cha.”
“Hah? Untukku?” Aku tidak menyangka tante Kenzie akan memberikannya.
Masih dengan mode semangat, wanita itu segera berdiri dan berbalik keluar dari ruang makan.
“Dia sudah membelikanku 5 tanaman hias. Kau tahu, semuanya, dia mengatakan itu cocok untukku.” Paman Kenzo menggeleng, “jadi jangan percaya kalau dia mencocokkan pribadimu dengan tanaman hias.”
__ADS_1
Aku terkekeh kecil dan mengagguk, “sepertinya tante Kenzie sudah mengoleksi semua jenis tanaman hias.”
“Belum. Ada satu yang dia tidak suka, bahkan pantang untuk menyebutkannya.”
“Oh? Tanaman apa?” Tanyaku penasaran.
Pria di hadapanku ini melirik sekilas ke ambang pintu, memastikan kembarannya belum kembali, lalu dia berbisi, “kamboja.”
“Kenapa?”
“Kenzie paling takut dengan hal-hal mistis dan gaib.” Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Ngomong-ngomong, Bayu pergi tugas berapa lama?” Paman Kenzo mulai mengganti topik pembicaraan. Aku yang
sedang mengunyah roti gigitan pertama segera menelannya terlebih dahulu sebelum menjawab.
“Enam bulan.”
“Lama sekali. Kau tidak berencana untuk datang mengunjunginya?”
“Sebenarnya, aku baru kepikiran kemaren malam kalau mau mendatanginya dan tinggal beberapa waktu di sana.”
Pria ini mengangguk setuju, “paman masih selalu berpikir, kalian baru menikah tapi sudah harus di pisahkan jarak karena pekerjaan, sangat di sayangkan. Kedua keluarga punya utang liburan untuk kalian, mengingat pernikahan kalian bahkan harus di adakan mendadak karena kepentingan keluarga juga.”
Paman Kenzo tersenyum lembut padaku, “merasakan sengatan cinta di pagi hari, membuat sepanjang hari ini pasti akan lebih indah.”
Kami berdua tertawa bersama hingga suara langkah kaki di ambang pintu mengalihkan perhatian. Ternyata nenek dan kakek sudah datang.
“Selai coklat untuk mama, dan selai nanas untuk papa.” Paman Kenzo meletakkan dua selai itu di samping piring yang akan di gunakan nenek dan kakek.
“Mana Evano? Kenapa dia belum turun sarapan?” Tanya nenek setelah melirik piring-piring yang sudah di gunakan.
Sebelum aku dan paman Kenzo menjawab, tiba-tiba paman Felix, kepala pelayan di rumah ini menghampiri nenek dan kakek, dia berkata, “Nyonya, tuan Evano sedang ada di ruang kerjanya bersama Wildan dan Diana. Mereka berdua sudah datang dari tiga puluh menit yang lalu dan sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.”
“Apa masalah keluhan yang di internet itu? Masih belum selesai?” Tanya kakek.
“Sepertinya masalahnya tambah rumit.” Jawab Paman Kenzo.
Diam-diam aku berpikir, kalau kedatangan Wildan dan Diana pagi kemarin pasti karena masalah itu juga.
“Apa masalahnya sangat rumit?” Tanpa sadar pertanyaan itu meluncur keluar dari mulutku tanpa di rencanakan.
Ketiga orang yang sibuk dengan sarapan mereka seketika menghentikan gerakan mereka sesaat, sembari menatapku, paman Kenzo menjawab, “masalah ini datang sekitar dua minggu lalu. Cabang perusahaan retail kami di penuhi dengan keluhan konsumen di internet dan telepon karena mereka tidak puas dengan barang yang di beli. Padahal produk retail perusahaan sangat di jamin kualitasnya. Kak Evano sudah mengirim orang untuk menyelidiki cabang retail kami, tapi sepertinya laporan itu tidak sesuai dengan harapan kakak.”
__ADS_1
Aku mengangguk, sangat mengerti tentang itu karena bagaimanapun, sebelum aku resign, perusahaan di tempatku dulu bergeratk di bidang retail.
Setelah hening sesaat,
“Bagaimana menurutmu, Cha?” Tiba-tiba pertanyaan nenek membuat kami meliriknya.
“Tentu saja harus di tanggapi dan di selidiki. Keluhan itu ada karena ketidakpuasan konsumen.” Jawabku sekedarnya.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan kalau ada di posisi penjual?” Nenek menatapku dengan penuh perhatian meski tangannya sibuk mengolesi roti dengan selai campuran.
“Aku--”
“Gawat gawat gawat!” Ucapanku terpotong ketika tante Kenzie berlari kecil masuk ke ruang makan. Kali ini ada Giliant yang mengekorinya dari belakang, terlihat baru bangun tidur.
“Ck. Cepet abisin dulu sarapannya.” Nenek menyuruh tante Kenzie untuk segera duduk.
Suami tante Kenzie menyapa singkat kami semua sebelum dia duduk di samping paman Kenzo.
“Kak Evano lagi teriak-teriak marah di ruangannya! Tadi aku di halaman belakang sampai kedengeran.” Katanya yang menjawab kehebohannya.
“Kalau seperti ini, Evano tidak akan mau sarapan.” Keluh nenek, sudah mengerti sifat ayah.
“Kenzo. Coba kau lihat dia dan ajak untuk sarapan.” Kata kakek.
“Papa kan tahu, di saat seperti ini kak Evano paling enggak suka kalau di ganggu oleh kita.” Keluhnya enggan untuk berdiri.
“Ck! Kamu ini! Udah dewasa masih enggak nurut!” Tegur kakek.
“Gimana kalau Icha aja yang kesana?” Aku mendongak menatap paman Kenzo, mendengar dia mengusulkanku seketika membuatku agak merinding.
Pria ini saja tidak mau mengganggu ayah Evano, apalagi aku yang belum begitu mengenalnya.
“Tidak! Paman saja tidak mau ke sana, apalagi aku.” Tolakku.
Paman Kenzo menunjukku dengan garpu di tangannya, “Ck! Kamu ini! Udah dewasa masih enggak nurut!”
Seketika tante Kenzie dan aku tidak bisa menahan tawa mendengar bagaimana nada suaranya sangat mirip dengan kakek tadi.
Sudut mataku juga menangkap nenek tersenyum kecil dan menggeleng menanggapi, sedangkan kakek hanya mendesah pasrah, tidak ingin berkomentar.
...
__ADS_1