
...
“Kalau seperti ini darahmu harus di tes lagi. Aku akan memberikannya lagi setelah empat jam. Lebih baik kamu berbaring dulu.” Dokter Stefan membantuku beerbaring perlahan dan menyelimutiku sampai perut.
“Bagaimana dok?” Bayu datang menghampiri kami, dia berdiri di samping dokter Stefan sembari menatapku.
“Harus tes darah lagi. Pereda sakit yang sebelumnya aku berikan belum berefek.” Jawab dokter Stefan.
Suster Rini datang dengan cepat dan dia sendiri yang mengambil darahku.
Aku sadar kalau dokter Stefan hanya diam memperhatikan suster Rini, tapi tatapannya terlihat seolah dia sedang melamun.
“Aku mengerti. Tidak usah khawatir, gunakan waktu mu untuk memeriksa darahnya dok. Aku akan menemaninya.” Mendengar jawaban Bayu yang terdengar penuh makna itu membuat lamunan dokter Stefan buyar.
Dia menoleh pada Bayu lalu mengangguk. Setelah selesai semuanya, dokter Stefan dan suster Rini pamit undur diri.
Bayu mendekatiku lalu duduk di sisi ranjang, menatapku dalam diam. Seperti yang tadi aku lihat pada ekspresi dokter Stefan, Bayu juga seolah tengah melamun.
“Kenapa?” Tanyaku memecahkan keheningan di antara kami.
Dia kemudian menarik selimut lebih tinggi dan menjawab. “Jangan lakukan hal berbahaya itu lagi. Kau seharusnya menelponku dan tidak usah berlarian mencariku.”
Tapi aku yakin bukan itu yang jadi lamunannya.
Aku menarik tangannya yang dekat dengan jangkauan tangan kananku, menggenggamnya erat. “Sesaat tadi aku hanya ketakutan, mimpi itu seolah sangat nyata. Lagi pula, aku berpikir sepertinya keterlaluan ya memaki mu seperti itu.”
Bayu balas menggenggam tanganku dan tangan lainnya terangkat mengusap kepalaku. “Aku minta maaf karena menyebalkan. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana agar kamu tidak bekerja hari ini dan istirahat. Setidaknya hari ini kamu harus istirahat total dan besok juga kamu tidak boleh kerja.”
“Kenapa?!” Tanyaku cemberut karena rencana kabur ku yang sejak tadi di pikirkan sia-sia.
Bayu tersenyum kecil dan berkata. “Besok hari terakhir skors ku. Lusa aku sudah mulai bekerja jadi setidaknya aku ingin kamu menemaniku, hm?”
Aku terkekeh pelan, menatap wajahnya yang kelelahan membuatku tidak tega. Dia pasti cape sekali mengurusiku dari lusa kemarin.
“Baiklah. Tapi aku ingin keluar dari rumah sakit besok!”
“Tapi—“
“Aku tidak mau hanya diam diri di rumah. Selagi kamu tidak bekerja, aku harus menggunakan mu sebaik-baiknya ‘kan?” Sela ku berbisik seduktif.
Bayu tertawa kecil. “Ya udah aku mengalah deh.”
Aku juga ikut tertawa malu, perasaan senang dan lega ini menutupi denyutan sakit di luka jahitanku. Sepertinya tawa Bayu adalah obat yang lebih mujarab di bandingkan dengan obat pereda sakit.
__ADS_1
***
“…Hanya itu informasi yang kita dapat.” Samar-samar aku mendengar suara bisikkan Lifer saat telingaku sudah sadar dengan situasi.
Mataku di biarkan terpejam ketika aku ingat kalau sebelumnya aku memang tertidur setelah mengobrol dengan Bayu sebentar.
Aku tidak bisa langsung menggerakkan tubuhku, rasanya kaku dan butuh lebih banyak tenaga dari pada yang aku bayangkan. Entah karena luka atau racun tapi tubuhku seperti kehilangan banyak energi meski aku sudah berbaring istirahat.
“Ketika kau kembali bekerja, kita akan langsung melaksana kan nya sesuai instruksi.” Kembali aku mendengar bisikan Lifer.
Mereka seperti sedang mendiskusikan sesuatu yang penting di sofa dan kalau sekarang aku bangun tiba-tiba pastinya akan mengganggu mereka.
“Aku mengerti. Aku akan meninjau kembali informasi ini dan merencanakan beberapa strategi.” Itu Bayu yang balas berbicara pelan sekali, hampir tidak jelas jika aku tidak cermat mendengarnya.
“Seperti biasa, hanya kita berempat. Jadi masing-masing dari kita harus mempersiapkan sebaik mungkin. Ini akan menjadi tugas yang berbahaya.” Kata Ronald sangat pelan tapi penuh penekanan.
Tugas apa yang akan mereka kerjakan? Aku tidak bisa untuk tidak khawatir tapi aku juga tidak bisa membantu apapun.
“Aku tahu kau khawatir tentang dia, tapi kau tahu bahwa dia terlibat sekarang. Dia orang dalam. Dia berhak untuk tahu bagaimana bahaya orang-orang yang kau hadapi.” Bisikkan Benny yang tegas membuyarkan kesunyian di ruang ini.
“Aku mengakui bahwa bahaya yang dia hadapi sekarang jauh dari apa yang aku bayangkan. Bahkan Icha pintar dan berani, aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa aku tidak bisa meninggalkan dia. Meski demikian, aku berpikir bahwa dia tidak seharusnya terlibat dalam kekacauan ini.” Jawab Bayu kali ini suaranya bisa terdengar lebih jelas.
Jadi mereka sedang membicarakanku?
“Tapi apa dia masih punya kesempatan untuk melarikan diri? Apa kau pikir dia akan aman jika dia jauh darimu dan kasus-kasusmu?” Benny bertanya lagi.
“Aku tidak tahu.”
“Huh? Tidak tahu? Aku tidak pernah mendengar kau berkata itu.” Kata pria itu terdengar mengejek.
“Kami sudah tidak bisa di pisahkan, aku benar-benar tidak ingin dia menghadapi situasi yang sulit.” Jawaban Bayu membuat jantungku tiba-tiba berdetak kencang.
Kenapa aku jadi gugup seperti ini ketika sedang menguping?
“Tidak bisa di pisahkan? Ya ampun! Aku harus menceritakan pada Talia apa yang kau ucapkan itu!” Suara Lifer terdengar normal tidak berbisik-bisik seperti tadi.
“Ngomong-ngomong, kau hari ini sering sekali menyinggung Talia. Kamu benar-benar merindukannya? Bukan kah semalam kamu pulang ke rumah dan baru meninggalkannya pagi ini? Hanya selama tiga jam kau tidak melihatnya.” Ronald terdengar mengejek Lifer.
__ADS_1
“Apapun yang aku katakan, kalian tidak akan mengerti karena kalian belum menikah.”
“Begitu? Baiklah aku tidak akan berdebat.” Ronald memilih mengalah.
Dalam hati aku terkekeh pelan, lucu sekali Lifer selalu unggul soal perdebatan menikah dengan teman-temannya.
“Oh ya bukannya Talia akan ke sini?” Tanya Ronald lagi.
“Iya, dia sebentar lagi sampai. Ini waktunya makan siang jadi aku akan mengajaknya makan siang dulu di sini. Kalian ikut?”
“Aku akan menemani Icha di sini. Kalian pergi saja dulu.”
“Bukannya kamu belum sarapan? Ini sudah siang. Lebih baik kau ikut juga dan biarkan suster yang menjaga.” Ucapan Benny menyadarkanku tentang Bayu.
Aku benar-benar lupa tidak mengingatkan lelaki itu soal sarapan. Sejak pagi mungkin dia tidak makan dan minum? Astaga!
“Benar, kamu harus makan. Biarkan Icha istirahat, dia tidak akan kemana-mana.”
“Tapi—“
“Kamu khawatir soal dia lari mencarimu lagi seperti tadi pagi?” Tanya Benny lagi-lagi membuat Bayu bungkam seketika.
Untuk beberapa detik tidak ada jawaban dari Bayu. “Salah satunya.”
“Tapi aku pikir Icha sudah tenang sekarang. Aku yakin dia tidak akan berlari mencarimu lagi. Jadi ayo pergi.” Ajak Benny sekali lagi.
Aku merasa bersalah.
Aku terlalu egois memikirkan kesakitan ku sendiri.
“Baiklah. Ayo pergi.” Bayu akhirnya menyetujui yang seketika membuatku sangat lega.
Kemudian, tidak ada percakapan berarti dari mereka. Aku hanya mendengar suara langkah kaki dan kenop pintu yang terbuka, juga suara langkah kaki yang mendekatiku hingga aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningku.
Dari wangi parfum dan kehadirannya saja aku tahu kalau itu Bayu.
Dia manis sekali, mengecup keningku dulu lalu melangkah menjauhiku untuk bergabung dengan teman-temannya. Tidak lama, suara kenop pintu yang tertutup terdengar.
Kesunyiandan kehampaan seketika langsung terasa. Merasakan sekarang tidak ada seorang pun di ruangan ini.
Setelah beberapa saat aku memberanikan diri untuk membuka mata. Ruangan yang terang karena pencahayaan dari jendela besar di sisi kiriku menerangi kamar.
Suara detik jam terdengar keras mendominasi, sekarang hampir jam satu siang.
Tanganku terangkat, menyentuh dada kiriku di mana letak jantungku berdetak cepat. Perasaan khawatir dan bahagia ini bercampur akibat menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
...